
...
...
05:45
Saat ini semua siswa tengah ada di lapangan utama. Memakai pakaian olahraga lengkap, karena akan mengikuti kegiatan senam pagi.
Meja dan dekorasinya sudah tidak ada, hanya tersisa panggungnya saja. Jadi para siswa bisa berbaris dengan teratur tanpa ada halangan apapun.
Mereka di bangunkan jam empat pagi dan di suruh mandi oleh kakak pembina, itu juga karena terpaksa.
Siapa yang mau coba di bangunkan sepagi itu?
Padahal sudah mandi tapi Ava masih saja tetap mengantuk, mungkin bukan Ava saja, melainkan seluruh siswa dan siswinya juga. Bagaimana bisa Ava tidak mengantuk, Ava saja baru bisa tidur jam tiga pagi tadi.
Ava berjongkok menutup mata dan menopang dagunya agar tidak jatuh.
Ava sangat mengantuk, tidak kah Kakak pembina punya hati? Lalu bagaimana bisa ini terjadi?
Safira yang ada di samping Ava menendang paha Ava sehingga pertahanan cewe itu runtuh. "Apaan, sih? Ganggu aja deh gue ngantuk!" kesal Ava yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
Safira menjitak kepala Ava. "Iish, sakit tahu! Apaan, sih? Ganggu aja lo, Fir ah!" Ava tambah kesal, memajukan bibirnya setengah senti.
"Ini udah mau mulai, jangan tidur mulu dong. Lo mah malas banget!" Safira memutar bola matanya malas, menarik-narik tangan Ava agar mau berdiri.
"Aaissh. Iya, iya bawel!" Ava berdiri masih menejamkan matanya, rambut nya acak acakan.
Ava tidak peduli ia sengaja tidak menyisir rambutnya sehabis mandi tadi karena kesal, kali ini dia memang sangat tidak peduli. Ava hanya ingin tidur!
Kak Risa juga kakak pembina lain berkeliling melihat anak buahnya masing-masing, sambil membawa gayung berisi air es. Entah untuk apa?
Kak Risa berhenti di depan Ava yang tidur sambil berdiri, lalu menghela nafas pelan, tanpa pikir panjang Kak Risa menyiprat-nyipratkan air es ke wajah Ava.
"Woi, apaan, sih?! Lo pengen gue tabok, ya?!" Ava berteriak keras sangat kesal karena tidurnya terus terganggu, sehingga mata siswa lainnya juga para kakak pembina tertuju pada Ava.
Ava belum menyadari siapa pelaku tersebut, karena Ava belum sepenuhnya sadar. Dengan cepat Safira menyenggol siku Ava, perlahan-lahan kesadarannya mulai terkumpul.
Ava melotot kedua tangannya menutupi mulutnya yang ternganga.
Oh ya, Tuhan, kali ini Ava benar benar akan kena masalah karena kelakuannya.
Ava menyengir tak berdosa, Kak Risa menatap datar Ava. "Skot Jump tiga puluh kali!"
Ava langsung melaksanakannya karena Ava tahu dirinya salah. Safira, Ana, Agnes dan yang lainnya menertawakan Ava.
Setelah selesai Ava berdiri nafasnya tak beraturan, tak sengaja Ava melihat Aras dkk melintas di depan barisan paling depan
"Ooh ya Tuhan, nggak jadi capek, gue ...." Ava tersenyum senang, tiba-tiba lelahbya perlahan-lahan hilang.
"Capek?" tanya Kak Risa.
"Enggak Kak, ada vitamin soalnya!" jawab Ava tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari Aras, sambil menunjuk ke depan.
Kak Risa, Safira, Ana, Agnes dan yang lain nya mengikuti arah jari Ava, dan tepat menuju ke arah Aras yang tengah mengobrol dengan Gilang.
Sedangkan cowo di belakang Ava hanya tersenyum simpul menatap Ava.
Alan.
"Yee itumah maunya lo, Ava!" Safira menonyor kepala Ava kedepan. Kak Risa menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu pergi.
__ADS_1
"Ok, kita pemanasan dulu, yaa." ucap Kakak pembina yang di ketahui bernama Irwan.
Seluruh siswa mulai mengikuti arahan pemanasan badan dari kakak pembina sampai selesai.
"Ayo, ayo, 'Three A' Ava, Ana, dan Agnes maju-maju mimpin senam," ujar Rendi sambil memegang microfon. Kakak kelas sekaligus kakak pembina yang tengil, pencilaan, dan menyebalkan.
Ava, Ana, dan Agnes yang mendengar itu langsung terkejut, sambil mencengis karena malu. Semua mata tertuju pada mereka bertiga, udah kayak slogan Miss Indonesia saja.
Tak terkecuali mata Aras yang dari tadi menatap Ava. Sedangkan Ava dengan malu malu sesekali menatap Aras.
Segan rasanya.
"Holla, holla, hallo hallo. Ayo-ayo Three A maju-maju!" ucap Kak Rendi lagi sambil memainkan microfon dan memanggil-manggil nama mereka bertiga.
"Nggak mau ah!" jawab mereka bersamaan.
"Rendi dah gila kayaknya, pengen gue tabok lama-lama!" batin Ava, "... yaa kali gue maju mimpin senam mau di taruh mana muka gue kalo, kak Aras liat?"
Para kakak pembina memaksa mereka bertiga untuk memimpin, dan jawaban mereka masih sama. Tidak mau.
Siapa yang mau coba memimpin senam dengan lagu koplo, bisa bisa mereka tidak senam malah goyang bebarengan.
Kakak pembina akhirnya pasrah, tidak mau memaksa lagi. "Yaudah, yaudah. Siapa yang nggak gerak akan maju kedepan mimpin senam." teriak Kak Debi, kakak pembina berkaca mata.
Tuju kakak pembina berbaris satu banjar kesamping kiri dengan jarak satu meter. Hanya bermodalkan 3 laptop di atas meja yang berisi video gerakan senam dengan lagu koplo tersebut. Sedangkan kakak pembina yang lainnya mengawasi siapa yang tidak menggerakkan tubuhnya saat senam nanti.
Seluruh siswa mengikuti gerakan senam tersebut. Awalnya sih semangat tapi lama kelamaan bosan karena lagu dan senamnya pun terus di ulang-ulang. Lama-lama bisa hafal ini mah kalau gini caranya!
Baik siswa cewek maupun cowok yang tidak gerak akan maju ke depan. Dan saat ini sudah ada tujuh cewek dan sepuluh cowok, salah satu nya Dino, Revan, dan Games.
Dino dan Revan melambai-lambaikan tangannya ke arah Ava, dan Safira. Sedangkan Ava membuat gerakan ingin muntah.
...
...
Dengan arahan kakak pembina tujuh belas orang itu mulai memimpin senam, ada yang semangat, ada yang biasa saja, dan ada juga yang malu.
***
07:45
Setelah selesai sarapan para siswa disuruh membersihkan lingkungan sekolah. Di susul dengan pemberian hadiah kepada kakak pembina dan setelah itu upacara penutupan lalu pulang.
Ava kebagian memunguti sampah di halaman taman sekolah. Ada Ana dan Agnes juga. Safira tadi kebagian menyapu di dalam lingkungan sekolah.
"Nes, udah penuh, nih." ucap Ava kepada Agnes menunjukkan empat tempat sampah yang sudah penuh.
"Yaudah buanglah. Masa mau lo makan?" sambung Ana duduk di rerumputan taman.
"Alan!" panggil Ava melambai-lambaikan tangannya. Alan yang membawa gerobak sampah mendekat ke arah Ava.
"Nitip buangin dong," pinta Ava sangat manis, agar Alan mau.
"Temenin, gue."
"Gampang."
***
Alan dan Ava memasukkan satu persatu tempat sampah beserta sampah nya kedalam gerobak sampah. Setelah selesai mereka bersama-sama mendorong gerobak itu.
__ADS_1
"Ini gimana naiknya? Nggak ada kursi atau apa gitu?" tanya Ava celingukan kanan kiri.
Karena tempat pembuangan sampahnya sangat tinggi, itu mungkin agar bau yang di hasilkan tidak terlalu menyebar, agar muat banyak, dan nanti bila di bakar apinya tidak menjalar.
Alan pergi sebentar meninggalkan Ava, dan kembali membawa dua kursi, lalu menyusun kursi tersebut di samping tembok pembuangan.
"Naik," suruh Alan.
"Gue?" tanya Ava menunjuk dirinya sendiri.
"Iya,"
Alan membantu Ava naik dengan mengangkat badan Ava sehingga menjangkau pinggir kursi itu.
Ava berdiri dan Alan satu persatu mulai memberikan tempat sampah kepada Ava agar isinya di buang.
"Kenapa nggak lo aja, sih? Lo, 'kan, tinggi!" protes Ava.
"Kalau gue yang naik, lo mau ngangkat sampah? Lo nggak kuat tenaga buat ngangkat tinggi-tinggi,"
"Nanti, kalau jatuh lo jadi bau sampah, udah untung lo tinggal buang aja,"
Ava hanya diam sambil menirukan gaya bicara Alan. "Tapi ada benernya juga yaa, masa cantik gini bau sampah?" batin Ava mangguk-mangguk mengiyakan.
"Selesai!" sorak Ava kegirangan, mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Nanti abis ini cuci tangan, yaa," ajak Ava mengingatkan.
"Iya."
"Lo duduk," suruh Alan menatap Ava yang masih berdiri.
"Lha, ngapain mau nongkrong? Nongkrong mah di cafè kali, lha nongkrong di tempat pembuangan sampah?"
Alan menghela nafas nya pelan. "Cantik, cantik kok ogeb?"
"Kalau lo berdiri, gue nggak nyampe, gimana bisa mau nurunin, lo?" jelas Alan, Ava mangguk-mangguk mengerti dan mengikuti arahan Alan.
Ava memaju mundurkankan kakinya ke arah Alan. "Kaki lo kalau nggak bisa diam ntar kena gue."
Ava sudah berkali-kali memaju mundurkan kakinya agar mengenai Alan, dan juga sudah berkali kali Alan menghindar.
"Kalau lo nggak bisa diam gue tinggal, lo turun sendiri." ancam Alan dengan wajah datar, karena sudah kesal dengan Ava.
"Aah iya, iya."
Gila rasanya.
Ava tersenyum manis tak berdosa ke arah Alan dari bawah. Alan sedikit salah tingkah melihat kelakuan gadis di depannya ini.
Alan meraih pinggul Ava, menurunkan gadis itu dengan kedua tangannya, sedangkan Ava masih saja tersenyum manis menatap Alan, dan yang di tatap malah hanya menatap balik Ava.
"Tumben ni cowok nggak banyak omong?"
...***...
...Ditulis tanggal 20 April 2020...
...Dipublish tanggal 16 Februari 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1