Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 66 ~ Di Tengah Lapangan


__ADS_3

...Note: Bacanya pelan-pelan aja jangan terlalu buru-buru, diresapi dan dihayati....


...Kalau bisa sih sambil dengerin lagu Favorite Part Of Me - Astrid S biar tambah nikmat. Diputer terus yah lagunya jangan diganti-ganti....


...***...


...



...


Setelah turun dari bus, Ava langsung berlari sekencang dan secepat mungkin karena gerbangnya sudah hampir di tutup oleh Pak Rifai sang satpam sekolah.


"Makasih, Pak!" teriak Ava sambil berlari tanpa menoleh saat sudah di dalam area sekolah.


Pak Rifai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar anak jaman sekarang."


"Sial!" umpatnya saat melihat upacara akan dilaksanakan. Pandangan mata para siswa di sana sontak langsung mengarah ke Ava yang berlari lewat barisan paling belakang, 'kan, tidak sopan jika lewat depan barisan.


Setelah menemukan barisan kelasnya Ava langsung berdiri di samping Safira dengan nafas tersenggal-senggal.


Safira hanya menggembuskan nafas, heran akan kelakuan Ava kali ini. "Ogeb lo, ya? Bisa-bisanya lo telat upacara 17 Agustus?"


Ava memakai topi yang sedari tadi ia pegang. "Ya, gue lupa kalau ada upacara, karena ini, kan, juga hari Minggu. Gue lupa buat kasih tahu Bunda supaya dibangunin, Agnes sama Ana juga nggak bangunin gue. Mereka, 'kan, pergi duluan karena mereka tahu biasanya gue naik bus sekarang," jelas Ava masih dengan nafas tersenggal.


Safira hanya mengangguk lalu menghadap ke depan. Dirinya sangat takut dan khawatir tadi jika Ava tidak berangkat karena sanksi yang diberikan tidak main-main. Siswa yang alasan sakit atau telat akan membersihkan seluruh sekolah.


Ava menoleh ke belakang, tepatnya ke arah kelas X Ips 3 untuk mencari keberadaan Alan, tepat saat sudah menemukan Alan tiba-tiba cowok itu balas menatap Ava. Bukannya terkejut, Ava malah balas menatap Alan dengan sorot mata rindu dan sendu. Tapi, detik berikutnya gadis itu menghadap lurus ke depan lagi saat melihat Natalie berbaris di samping Alan.


"Gue rindu saat lo ngasih topi lo ke gue supaya gue nggak dihukum, gue juga rindu saat beberapa waktu yang lalu lo nolongin gue dari penculik dan meluk gue sangat erat seolah lo nggak mau kehilangan gue. Gue rindu semua tentang lo, semua tentang gue, dan semua tentang kita sebelum ada gadis bernama Natalie yang berdiri di tengah-tengah dan merusak segalanya."


"Nggak akan ada lagi pelukan hangat nan menenangkan dari lo, nggak akan ada lagi wangi parfum yang manis dari tubuh lo, dan nggak akan ada lagi senyuman manis yang hanya lo tunjukan ke gue."


Andai saja Alan tahu kalau tadi malam Ava menangis ber jam-jam karena sebuah rasa rindu yang tak kunjung terbalaskan. Hal itu juga yang menyebabkan Ava telat masuk sekolah pagi ini, belum lagi Ava harus memakai banyak concealer untuk menutupi kantung matanya yang sembab dan menghitam.


"Dulu rasamu seperti hujan, deras. Namun, beberapa detik setelahnya aku baru sadar, kalau sederas-derasnya hujan pasti akan reda juga. Kalau nggak reda-reda berarti saat itu, hari itu, dan waktu itu, kiamat menghampiri dunia. Mematikan seluruh makluk hidup yang ada di bumi beserta isinya, termasuk aku dan kamu."


Harapan kalau hari ini Alan kembali lagi padanya tidak akan terkabul atau bahkan mustahil untuk terkabul.


"Tuhan, kembalikan dia padaku. Tak pernah sedikit pun terbesit dalam pikiranku kalau dia menyakiti dan meninggalkanmu. Aku harap kau mengabulkan doaku, Tuhan."


Itu lah doa Ava yang ia panjatkan sekitar jam 02:00 pagi sebelum ia menutup mata dan terlelap dalam tidurnya.


"Siaaaaaaaaaaaaaap grak!!" pemimpin upara mengomando.


Dan tepat saat itu juga upacara kemerdekaan tanggal 17 Agustus dilaksanakan dengan khidmat tanpa ada kendala apapun. Semuanya berjalan lancar sesuai rencana walaupun matahari sedang tidak bersahabat kali ini. Banyak siswa dan siswi yang mengeluh kepanasan, belum lagi amanat dari pembina upacara yang amat sangat panjang bak jembatan sakaratul maut.

__ADS_1


***


Setelah upacara selesai semua siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengabsen, dan jika sudah baru boleh pulang. Suasana sekolah sudah sangat sepi akan lalu lalangnya para siswa, hanya ada beberapa siswa yang masih berdiam diri di dalam kelas.


Ava sudah menyuruh semua teman-temannya untuk menunggu di post satpam saja, karena rencananya Ava ingin berbicara berdua hanya dengan Alan. Harapan Ava saat ini cuma satu, yaitu tidak ada Natalie di sisi Alan karena dengan begitu Ava lebih leluasa untuk bicara.


Setelah menunggu beberapa menit di ambang pintu akhirnya Alan lewat tanpa menoleh, menyapa atau tersenyum pada Ava, seolah itu adalah larangan yang haram Alan lakukan saat ini.


Setelah memastikan tak ada Natalie yang mengikuti Alan, Ava lantas dengan segera berlari menuruni anak tangga satu persatu untuk menyusul Alan sebelum cowok itu pergi semakin jauh.


Ana, Safira Agnes, Justin, dan Bagus yang duduk di post satpam terkejut saat melihat Ava mengejar Alan di tengah lapangan.


Saat Ana akan berniat menyusul Alan dan Ava, Justin justru mencegah Ana lalu menyuruhnya untuk tetap duduk. "Nggak usah lo susul, kita cukup duduk di sini dan lihat aja apa yang bakal terjadi."


"Tapi itu, Ava?!" Ana masih tetap kukuh untuk menyusul Ava.


Justin mengangguk pelan. "Udah, biarin aja mereka. Ava butuh waktu buat ngomong sama Alan."


Setelah berpikir lagi apa yang dikatakan Justin ada benarnya juga. Ia tak punya hak untuk ikut campur urusan Ava, jadi Ana kembali duduk bersama teman-temannya sebagai pengamat. Karena jaraknya cukup jauh jadi mereka tidak akan mendengar apa yang Alan dan Ava bicarakan.


"Alan!" panggil Ava saat melihat Alan ada di tengah lapangan menuju parkiran.


Alan tak menoleh atau membalas, cowok itu masih tetap berjalan biasa saja seperti tidak mendengar apapun.


"Alan dengerin gue dulu! Gue mau ngomong sama lo, Alan!" Ava memegang tangan kanan Alan erat-erat, kali ini ia tak akan melepaskan Alan sebelum cowok itu memberi alasan dan penjelasan yang jelas.


Ava yakin setelah ini akan ada bekas cekalan tangan yang memerah di tangan cowok itu. Ava tidak perduli itu, yang terpenting sekarang Ava harus tahu dan Alan harus menjelaskan segalanya.


Mata Ava berkaca-kaca, tidak tahu kenapa sekarang setiap Alan berbicara rasanya ada yang mengganjal dan terasa sesak di dadanya.


"Kenapa lo tiba-tiba jadi berubah ke gue? Apa salah gue sampai lo tega ngelakuin ini ke gue? Kalau gue salah, gue bakalan minta maaf sama lo, asalkan lo jangan tinggalin gue Alan."


"Gue nggak perlu jelasin semuanya sama lo, Ava." Alan beranjak ingin meninggalkan Ava, tapi sekali lagi gadis itu mencekal tangan Alan dengan erat.


"Tapi gue sangat butuh penjelasan dari lo." Saat itu juga tangis Ava langsung pecah di sana.


Alan mengerang frustasi. Ia lelah sekaligus bosan. "Lo terlalu pencemburu Ava dan gue nggak bisa bebas sama hidup gue, lo juga terlalu mengekang apapun yang gue lakuin sehingga gue mau ngga mau harus turutin apa mau lo."


"Gue capek Ava saat lo bersikap manja, egois, pengatur, pengekang, pencemburu, dan lo pun juga sering menuduh tanpa bukti yang jelas, lo selalu melihat apapun itu dari sisi lo sendiri tanpa mau melihat sisi orang lain. Selain itu, bukannya lo nggak suka anak gamers?"


Penjelasan Alan membuat Ava tersentak sekaligus bungkam beberapa saat. Dada gadis itu semakin sakit dan sesak. Apa ia memang seperti itu? Sejelek itu dia di mata Alan?


Ava memegang kedua tangan Alan semakin erat. "Itu gue lakuin karena gue sayang dan nggak mau kehilangan lo, tapi kalau lo nggak suka gue bisa rubah sikap gue sesuai apa yang lo mau. Gue emang nggak suka sama anak gamers, tapi entah kenapa kalau sama lo rasanya beda dan gue nyaman ada di dekat lo.  Kalau Natalie lebih cantik, lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih body goals, maka gue bakal lakuin apa yang dia lakuin asalkan lo jangan tinggalin gue, Alan."


Tanpa sadar apa yang Ava lakukan sekarang ini seperti merendahkan harga dirinya. Iya, gadis itu mengemis pada orang yang ia sayangi, tidak apa-apa yang tepenting usaha Ava berhasil.


Walau saat ini Alan terlihat kejam, tapi tetap saja melihat Ava menangis karenanya membuatnya tidak tega. "Gue nggak butuh lo lagi, Ava, karena rasa penasaran gue udah terbalaskan. Gue pikir, pacaran sama lo itu sangat menyenangkan dan berkesan, tapi setelah gue ngerasin sendiri ternyata rasanya sangat membosankan."

__ADS_1


Saat Alan mengatakan hal itu, cekalan Ava merenggang. Gadis itu sudah sangat lemas dan ingin jatuh, kali ini Ava butuh penopang, sayangnya orang yang selama memberi kekuatan juga memberi rasa sakit yang luar biasa.


Alan melepas cengkraman tangan Ava dari tangannya lalu pergi dari sana. "Maaf Ava hubungan kita sampai di sini aja."


Saat Alan mengatakan itu hati Ava rasanya semakin hancur berkeping-keping. Mungkin jika terlihat oleh mata telanjang sudah menjadi debu yang berterbangan karena terbawa angin.


Air matanya pun juga semakin mengalir deras. Tuhan, sebenarnya apa salah, Ava?


Tapi baru berjalan beberapa langkah, ucapan Ava berhasil menghentikan langkah kaki Alan, Lagi.


"Apa semudah itu lo ngebuang gue setelah apa yang lo lakuin buat gue? Sebulan lebih kita udah sama-sama. Apa akhirnya sesimple ini? Apa ini ending yang lo mau? Lo datang cuma buat nyakitin gue dan memuaskan hasrat rasa penasaran lo, jadi apa sekarang lo puas?"


"Saat itu. Iya, saat itu adalah hari lo nembak gue di cafè, lo undang semua siswa yang dukung hubungan kita berdua. Lo nyiapin segalanya buat gue demi bikin gue bahagia. Lo tahu kenapa hari itu gue nangis dan terlihat kurang bahagia? Di saat semua orang nggak tahu dan nggak sadar apa kode dan pesan tersembunyi yang lo buat, gue justru tahu dan sadar akan hal itu." Sesekali Ava menyeka air matanya yang terus mengalir deras tanpa henti.


Tatapan gadis itu kosong, seperti tidak ada kehidupan dan kebahagiaan yang tersirat di sana. Semua kebahagian yang sudah dibangun hancur dan gilang begitu saja.


Ava tersenyum samar dipaksakan. "Lo cukup pintar ngelakuinnya. Lo pikir gue nggak tahu jenis bunga apa yang lo kasih ke gue? Itu juga bunga yang lo tatap saat di kedai Pak Makrup. Bunga Dianthus caryophyllus atau bisa juga disebut bunga Anyelir dua warna. Gue tahu Lan, apa makna bunga itu, 'Aku tidak dapat bersamamu' Gadis itu menunduk, ia sudah tidak kuasa menatap Alan. Rasa sakitnya sudah terlalu dalam kali ini, tapi ia masih sangat menyayangi dan tidak rela jika Alan pergi.


"Saat itu gue diam tanpa memberi tahu semua orang, ada rasa kecewa tentunya saat itu. Tapi, gue yakin kalau lo cuma salah ngasih bunga dan nggak bermaksud gitu ke gue."


"Saat di kedai itu, perlahan-lahan gue tahu kalau lo bakal ngelakuin apa yang udah lo rencanain sebelumnya, sekali lagi saat itu gue hapus pikiran negatif dan gue ganti dengan pikiran positif yang menyenangkan."


"Selalu Lan, selalu. Gue selalu membahas masalah lain saat gue ingat apa yang udah lo lakuin ke gue, karena itu adalah salah satu cara supaya gue lupa semuanya dan mencoba sabar ngehadapinya."


Ava mengulum bibirnya lalu menatap punggung Alan yang masih terdiam mendengarkan pengakuan panjang Ava. Gadis itu melakukan itu supaya Alan berubah pikiran lalu kembali kepadanya lagi. Gadis itu rela melakukan apa saja untuk Alan agar cowok itu merasa nyaman kembali. Termasuk menghancurkan harga dirinya tepat di depan Alan.


Secinta dan sesayang itukah Ava pada Alan?


"Hati gue sakit, saat lo tiba-tiba makin nempel sama Natalie. Apapun, Lan. Apapun yang lo mau gue bakal lakuin, asalkan lo nggak minta gue buat jauhin lo atau ninggalin lo. Tentu, gue nggak bisa karena gue sayang dan cinta sama lo, Alan, dan gue mohon jangan tinggalin gue."


Sedangkan Alan yang sedari tadi mendengarkan, tanpa terasa hatinya pun juga sedikit sakit mendengar Ava mengatakan itu semua. Tak bisa dipungkiri kalau cowok itu memang ada setitik rasa untuk Ava, sayangnya ego Alan lebih tinggi dari apa yang ia rasakan saat ini.


Alan menolehkan kepalanya ke kanan. "Tapi sayangnya cinta itu nggak bisa dipaksain, Ava." Alan kembali berjalan menjauhi Ava.


Dan lagi-lagi perkataan Ava membuat Alan bungkam, tersentak, sekaligus mematung di tempat.


"Tapi cinta juga bisa dicoba pelan-pelan, 'kan? Apa salahnya mencoba dulu? Apa lo nggak ada rasa sama, gue? Sedikit, saja?"


...***...


...Aku akan serahkan semua komen dan hujatan ke kalian semua, Readers Awokawokawok....


...***...


...Ditulis tanggal 17 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 24 April 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2