
...Hai! Selamat pagi semuanya! Gimana kabarnya? Baik, 'kan? Maaf lahir dan batin, ya, buat kalian karena Aku sampai lupa ngucapinnya waktu itu. Awokawokawok....
...Readers Be Like \= Telat! Udah kelewat dua minggu yang lalu! Ogeb dan aneh banget dah ni satu orang!...
...Me \= Hehehe. Jangan marah, harus sabar....
...***...
...
...
Aras menghembuskan nafas kasar, ia juga mengacak rambutnya frustasi. "Aaaarrrrgggghhh! Ah! Lo mah sekarang nganceman jadi orang!"
Sang gadis hanya melipat tangan di depan dada. "Ya kalau tahu gue sekarang nganceman, turutin dong. Kalau nggak digituin, lo nggak bakal percaya sama gue. Katanya mau buat gue bahagia?"
"Iya, gue janji akan buat lo selalu bahagia, tapi gue yang malah sengsara."
Ava menggoda Aras dengan menaik turunkan alisnya. "Nggak mau nih? Beneran? Gue hitung, ya. Satu, dua-"
"Iya! Mau! Kapan mulai dan selesainya?" jawab Aras setengah hati setelah bergelut sengit dengan sang hati.
"Mulainya pelan-pelan aja, supaya tidak terlihat tiba-tiba. Sebelum UN juga dah selesai kok nanti."
Aras meletakkan kedua tangan di meja. "Gue ngelarang lo bukan karena apa-apa, tapi gue takut kalau lo kenapa-napa, karena itu risikonya besar banget. Selain itu juga, baru pertama lo bersikap kayak gitu. Gue juga nggak akan tinggal diam gitu aja."
"Nggak papa kok, gue bisa jaga diri. Lo pikir, gue nggak tahu kalau anak buah lo selalu ngawasin gue? Pasukan lo banyak kali. Selain itukan juga nggak ada yang tahu kalau kita dekat, karena mereka hanya tahu rumornya kalau gue menolak lo secara mentah-mentah. Hanya sahabat dan teman terdekat lo yang tahu, itu pun mereka pada tutup mulut."
For you information kalau kalian ingin tahu, Aras yang meminta pasukannya agar rumor itu disebarkan di seluruh penjuru atas keinginan dan perintah Ava. Bukan bermaksud apa-apa, tapi Ava hanya berpikir kalau ia tidak mau ada yang mengusik hubungannya dengan Aras. Biarkan Aras menjaga hatinya di sana dan Ava di sini juga menjaga hatibya. Gadis itu sudah terlalu banyak memiliki trauma dan rasa takut yang mendalam akan orang ketiga.
"Okay, tapi lo jangan sentuh pasukan gue. Kalau mau cari mangsa, yang lain aja! Kalau bukan karena gue sayang banget sama lo, gue nggak akan mau bersikap seperti itu. Karena hal itu sudah sangat cukup untuk menjatuhkan harga diri sebagai ketua Molyvdos dan mendatangkan musuh baru untuk gue.",
Gadis di sampingnya mengangguk patuh. Cukup ada perubahan semenjak keduanya perlahan menjalin kedekatan tanpa sebuah kepastian. Aras yang makin bawel dan was-was, sedangkan Ava yang lama kelamaan semakin menjadi gadis menyebalkan dan keras kepala.
Ava mendekat. "Mau hadiah apa sebagai balasannya?"
Aras langsung menyeringai seram.
"Apa? Apa? Jangan macam-macam lo!"
"Kalau cium, boleh?"
Gadis di samping Aras memasang wajah datar seraya menggulung lengan kardigan. "Mau mati, ya?"
***
"Udah, sana pulang!" usir Ava setelah diantar pulang Aras.
"Nggak mau gue mampir dulu?"
"Nggak usah. Pulang dulu abis itu mampir lagi ke sini nanti."
Aras mengangguk kemudian mendekat. "Boleh, peluk?"
"Boleh, kok."
Setelah cukup lama mereka saling berbalas pelukan, Aras menaiki motornya. "Bye," pamitnya sebelum menjalankan motor untuk pulang ke rumah.
"Bersihin luka dan lebamnya, ya!" ingat Ava saat Aras belum terlalu jauh dari rumah.
"Iya!" jawab cowok itu juga berteriak.
Saat tadi pagi Aras datang kerumah, Ava sudah bisa menebak kalau cowok itu habis tawuran entah dengan siapa. Karena wajah Aras ada lebam biru keunguan di pelipis serta bibirnya. Awalnya sih Ava tidak terbiasa karena itu adalah kali pertama ia melihat Aras babak belur, tapi setelah cowok itu menyakinkannya dan itu bisa dibilang kerjaan atau hobi Aras, jadi Ava tidak khawatir lagi.
***
__ADS_1
Ava menyusul kedua sahabatnya yang tengah ada di ruang tamu menonton tv. Ia juga membawa note book dan bolpoin berbentuk wortel.
Gadis itu duduk di tengah-tengah antara Ana dan Agnes. "Mau minta tolong dong!"
"Minta tolong apa?" sahut Ana.
"Kalian berdua tolong bikinin list cowok-cowok yang sekiranya belum punya pacar. Syaratnya harus satu sekolah, selain itu terserah kalian, mau adik kelas atau kakak kelas. Oh iya! Sertain kelasnya juga supaya gampang nyarinya. Okay, gadis manis?"
Ana dan Agnes langsung cengo. "Hah? Buat apa?" serempak ke duanya bersamaan.
"Buruan! Nanti kalau udah kasih ke gue!" Ava bangkit berjalan menaiki anak tangga satu persatu. "Nanti kalian pasti tahu kok." Masuk ke dalam kamar.
"Lo tahu itu buat apa?" tanya Agnes.
Ana menggeleng. "Nggak tahu lah. Akhir-akhir ini dia emang Aneh banget sih."
Kedua remaja tersebut sama-sama menatap ke arah pintu kamar Ava.
***
Ava menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya sendu.
"Kapan ingatan itu akan hilang atau seenggaknya berkurang dari pikiran? Sudah hampir satu tahun lamanya gue hidup dalam rasa sakit."
"Secinta itukah gue sama Alan sehingga dia pun nggak pernah hilang sedetik pun dari pikiran gue? Atau, itu hanya obsesi belaka?"
Ava beralih mendudukkan dirinya, menatap ke arah pintu kamar yang sengaja selalu ia kunci. Gadis itu tersenyum kecut. Iya, tepat di balik pintu tersebut ada sebuah foto seorang laki-laki yang memakai hoodie berwarna coklat tua tengah tersenyum manis menampakkan deretan giginya.
"Bahkan, sudah hampir satu tahun lamanya foto lo terus terpajang di sana." Ava menatap lemari kecil di samping lemari pakaian. "Barang-barang lo pun masih ada. Gue di sini memang sangat bahagia karena ada Aras, tapi Aras dan gue pun tahu kalau di belakang gue masih ada bayang-bayang lo. Gue hanya berharap, lo bahagia dengan pilihan lo sendiri, karena jika lo bahagia, gue pun juga merasa bahagia. Walaupun, bahagia lo bukan gue."
Gadis itu lebih mengutamakan kebahagiaan orang lain tanpa mau mengutamakan kebahagiaan dirinya sendiri. Padahal, di dunia ini yang paling penting adalah diri kita sendiri.
Mimpi-mimpi masa lalu yang sama sekali belum hilang dan terlupakan itu kini bertambah satu. Dulu hanya mimpi teman SD yang membully kedua sahabat serta dirinya, rasa bersalah akan semua teman SMP yang pernah ia sakiti, dan kini, ditambah lagi dengan rasa sakit yang ia terima dari Alan. Itu semua adalah mimpi masalah yang belum selesai dan sama sekali belum ia maafkan dilubuk hatinya yang paling dalam. Setiap malam atau bahkan setiap tidur, Ava selalu tersiksa akan semua mimpi itu saat semua wajah orang yang pernah menyakitinya muncul sesering itu.
Dan, jika Ava dipaksa mengingat itu, hatinya begitu terasa amat sangat sakit. Saking sakitnya, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan, tak jarang pula Ava bangun dari tidurnya dalam keadaan menangis.
***
Setelah mendapat belasan list laki-laki yang Ava minta kemarin malam, gadis itu langsung pergi menuju mangsanya yang pertama.
"Nah, ini dia!" ucapnya semangat saat berahasil menemukan kelas X Ipa 1. Saat Ava membuka pintu, siswa dan siswi di sana langsung menatapnya terkejut.
"Yang namanya Adrean Mario, ke sini!" teriak Ava seraya membaca list pertama tersebut.
Cowok dengan perawakan tinggi dan berkulit sawo matang itu maju menghampiri Ava dengan gaya sok cool padahal nggak ada keren-kerennya sama sekali.
"Lo, yang namanya Adrean?"
Sang adik kelas langsung mengangguk cepat. Ia masih sangat terkejut dan tidak percaya kalau kakak kelasnya yang kini menjadi gadis tercantik di sekolah mencari dan menghampirinya.
"Mimpi apa gue semalam bisa ketemu bidadari?"
"Mulai sekarang lo jadi pacar gue, dan besok pagi-pagi lo jemput gue." Ava memberikan alamat rumah nnya yang ditulis di robekan kertas note book. "Ini alamat gue."
Adrean membelalak sekaligus menganga tidak percaya akan apa yang ia dengar dari mulut sang gadis. Cowok itu tentu menerima kertas tersebut dengan tubuh serta tangan yang gemetaran.
Ava membalikkan badannya kemudian mencoret daftar nama yang paling atas lalu melenggang pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah kepergian Ava, Adrean masih mematung dan tidak bergeming di tempat.
Beberapa siwa baik laki-laki maupun perempuan mendekati temannya yang mulai gila itu.
"Wah! Lo ngedukun, ya, semalam?"
"Wah! Gue yakin mata kak Ava lagi katarak tuh sampai dia bisa milih lo!"
"Woi lah iya! Kak Aras alumni di sini aja di tolak! Lah lo malah langsung dijadiin pacar dong!"
__ADS_1
"Siap-siap aja nanti lo digerebek sama kak Aras dan pasukannya!"
"Enggak pacar dia mah! Babu palingan!"
Adrean sama sekali tidak menggubris celaan dan hinaan teman-temannya. Ia masih sibuk menghayal akan apa yang ia lakukan bersama Ava nanti mulai dari kencan berdua, jalan-jalan berdua, ngerayain tahun baru, ngerayain ulang tahun bersama, lamaran, menikah, punya anak, sampai keduanya mulai beranjak tua.
Adrean menepuk pipinya beberapa kali. "Woi lah! Ini bukan cerita di novel atau mimpi, 'kan?" tanyanya pada diri sendiri.
Adrean memecah kerumunan yang mengelilinginya kemudian berlari mengitari kelas seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berteriak kegirangan.
"Uuuuuuuuu! Yess! Gue jadi pacarnya cewek tercantik di SMAN Tri Bakti!" Kapan lagi coba bisa pacaran sama si primadona!"
***
Kabar kalau Ava berpacaran dengan adik kelasnya pun langsung menyebar dengan cepat di seluruh penjuru sekolah. Ana, Agnes, Syarifa, Dino, Revan, dan Safira juga cukup terkejut akan keputusan Ava yang bisa di bilang tiba-tiba dan seenaknya. Saat mereka bertanya mengenai hal itu, gadis bernama Ava hanya menjawab, "Nanti lo pada juga bakalan tahu kok. Tapi, jangan marah saat tahu alasan itu." Secara santai.
Tak terkecuali cowok bernama Alan. Kedua sahabatnya Bagus dan Justin terus menggoda dan menanyainya apakah ia tidak cemburu dengan hal itu.
"Terakhir. Gue sama sekali nggak cemburu. Sekali lagi lo tanya, abis lo sama gue." Alan bangkit dari tempat duduk mnya dan entah pergi ke mana.
Justin dan Bagus hanya menopang dagu sambil termenung melihat Alan. Tidak tahu kenapa mereka seperti itu? Padahalkan Alan nya juga sudah lama ikhas dan tidak mau apapun tentang Ava disangkut pautkan dengannya. Mungkin juga bisa jadi kedua remaja itu masih berharap kalau Alan bersama Ava karena kalian tentu tahu kisah mereka berdua sedramatis apa. Tapikan, nyatanya kedua orang itu sudah berjalan di jalannya masing-masing.
***
Sudah sekitar satu bulan ini hubungan Adrean dan Ava berjalan tanpa ada masalah apa pun, dan hal itu tentu tak luput dari cercaan para siswa dan siswi serta pengawasan anak buah Aras. Ava sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Ia cuek dan bodoamat, hanya saja masalahnya, Ava yang biasa dan datar-datar aja, sedangkan Adrean yang begitu alay, hal itu tentu tak jarang membuat Ava muak.
Safira menghampiri Ava yang duduk di meja tengah. "Apa sih alasan lo? Itu terlihat sangat tiba-tiba dan bukan sifat lo, Ava! Masa lo tutupin itu dari gue?"
"Safira, gue, 'kan, udah bilang kalau nanti lo juga akan tahu, tapi jangan marah saat lo tahu alasan itu. Udah sana pergi! Bocah itu mau ke sini!" usir Ava dengan tega saat melihat Adrean berjalan ke mejanya sambil membawa nampan berisi bakso dan jus.
Safira pergi dari sana dengan jengkel, kembali duduk bersama ke lima temannya di meja paling pojok sebelah kiri.
"Gimana? Dikasih tahu? Gue bingung lama-lama ngeliat Ava gitu," heran Revan sekaligus mengatakan pengakuannya.
"Nggak, dia jawab apa yang selalu dia ucapkan saat ditanya seperti itu."
Nah, kalau beginikan jadi membuat teka-teki baru. Semua teman Ava pun tak habis pikir dengan gadis itu.
"Ini bakso dan jus alpukatnya!" ucap Adrean dengan sangat semangat kemudian duduk di depan Ava.
"Lo ngapain ngeliatin gue?" sinis Ava saat ia akan makan, Adrean malah menatapnya sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Lebih enak Kak Ava daripada baksonya," jawab Adrean yang berhasil membuat Ava bergidik.
Gadis itu nampak sedikit panik akan sesuatu.
Ini anak udah gila kayaknya? Buru-buru deh gue sudahi dan cari yang baru, Memasukkan satu bakso ke dalam mulut.
Apa Ava bersikap seperti ini karena ia merasa sakit hati karena Alan?
Satu syarat yang harus ditaati setiap pacar atau calon pacar Ava nanti, yaitu tidak ada kata atau panggilan Aku - Kamu, Sayang - Zeyenk, Babe, Mama - Papa, Ayah - Bunda, Mami - Papi dan sejenisnya. Mau jadi pacar atau tidak, manggilnya, ya, tetap seperti biasa. Yang lebih muda menghormati yang lebih tua dengan embel-embel "Kak". Sedangkan yang tua memanggil layaknya manusia biasa, yaitu "Lo - Gue".
...***...
...Apa sih yang sebenarnya yang Ava rencanakan?...
...Kenapa Ava juga tidak memberitahu sang sahabat?...
...Dan, apa alasan Ava melakukan itu semua?...
...***...
...Ditulis tanggal 26 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 31 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....