
...
...
Sebelum Alan menjalankan motornya, cowok itu menoleh ke belakang, menghadap ke depan lagi kemudian menjalankan motor keluar dari area sekolah seraya menyunggingkan seulas senyuman yang memperihatkan lesung pipitnya. "Welcome back."
***
Ava duduk di meja belajarnya, ia masih memikirkan apa kata Safira tadi pagi dan Sara beberapa waktu yang lalu saat ia dan Safira ke rumah gadis itu.
Flashback On
Safira sedang di kamar mandi, karena katanya gadis itu kebelet pipis. Sara sedang mengelus-elus kucingnya yang berwarna abu-abu dengan sedikit garis-garis putih, itu kucing biasa.
"Sar," panggil Ava.
Sara mendongak menatap Ava. "Apa?"
"Kalau gue bikin cerita tentang kisah gue dan dia, kira-kira laku nggak, ya?"
Masih dalam keadaan mengelus kucing, sara menggaruk pahanya yang gatal. "Kalau menurut gue sih bakal laku dan banyak yang suka, soalnyakan dari cerita lo sendiri tadi terdengar sangat dramatis gitu. Sedikit modifikasi agar semakin nyata dan semakin dramatis. Pas SMP, 'kan, lo juga Queen of Drama, iya nggak?"
Ava tertawa renyah. "Iya juga sih, tapi gue takut kalau semua cast nya pada marah saat tahu. Soalnyakan gue juga nggak izin sama mereka."
"Nggak usah takut, just a atory. Mereka nggak akan marah asalkan lo jangan pernah ngasih tahu atau menjelaskan identitas asli mereka, kalau untuk yang lainnya, kayak sifat gitu kasih secukup aja, jangan banyak-banyak. Kalau lo bisa sih, cari cast orang lain yang fisiknya hampir sama, sama mereka, itu aja sih saran gue. Kalau mereka masih marah? Ya itu derita lo."
"Ish, lo jangan gitu dong, bikin gue takut tahu nggak!"
"Ya, bukannya bikin takut tapi, 'kan, lo juga harus memberi mereka privasi, dan kalau privasi yang lo kasih kurang,lLo juga yang harus menanggung risikonya. Karena apa? Ya karena itu karya lo." Sara menjeda kalimatnya, kemudian berkata. "Tapi, niat lo dari awalkan nggam ingin menjelek-jelekkan mereka. Lo hanya ingin membuat sesuatu sebagai pengingat kalau mereka semua pernah ada, persis kayak Dilan gitu."
Ava mengangguk pelan. "Iya juga sih apa yang lo bilang."
"Iya lah, Sara gitu loh." Seraya mengangkat dagu dan alis dengan sangat bangganya.
"Ngomongin apa, sih?" celetuk Safira dari belakang.
Sara dan Ava kompak menggeleng. "Nggak ada apa-apa kok."
Flashback Off
Ava menopang dagu sambil menatap ke luar jendela. "Kayaknya, bagus juga kalau di bikin sebuah cerita?"
Gadis itu mengambil buku kosong lebihan buku SMA dari dalam laci, menuliskan sesuatu di kertas kosong tersebut. Setelah selesai, ia menempelkannya di dinding menggunakan double tip supaya saat duduk di depan meja belajar atau saat ia sedang belajar, gadis tersebut bisa mengingatnya.
Syarat yang harus ada dan ditaati:
1) Memodifikasi secukupnya saja untuk membuat cerita itu lebih real dan dramatis.
2) Jangan pernah menjelaskan atau memberi tahu cast asli di dunia nyata.
3) Perlihatkan sifat asli atau perilaku mereka secukupnya saja, jangan terlalu banyak.
4) Kalau bisa dan mampu, cari cast yang fisiknya hampir sama dengan cast asli di dunia nyata.
5) Kejadian asli jangan diperlihatkan terlalu sama dengan kejadian di dunia nyata, harus ada modifikasi tapi tetap memiliki maksud dan inti yang sama.
6) Tambah cast palsu sebagai pelengkap agar di dalam cerita tidak terlalu banyak cast asli.
7) Jangan pakai nama asli, lebih baik pakai nama idola mereka atau kalau nggak tahu pakai nama idola sendiri supaya lebih gampang diingat.
8) Beri pengertian kepada readers bahwa hal itu tidak boleh dijonsumsi publik saat mereka bertanya tentang cast asli cerita. Dan,
__ADS_1
9) Jangan menghakimi masing-masing cast akan kejadian yang terjadi di dunia nyata.
Note: Itu semua dilakukan agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa memicu perdebatan satu dengan yang lainnya sehingga membuat mereka perlahan-lahan meninggalkan dan berakhir saling menghilang tanpa bertukar kabar.
"Rencana aja dulu, suksesnya nanti nyusul."
***
"Lo mau ke mana?" tanya Safira saat melihat Ava beranjak dari kursi.
"Mau ke kelasnya Agnes. Kenapa?"
"Belajar Ava, belajar. Lo pikir selama ini gue nggak tahu kalau lo ke sana cuma buat liat Alan? Gue tahu, Va. Kalau lo nggak belajar, kapan lo bisa move on?"
Ava menyengir kuda, ternyata selama ini Safira tahu akan hal itu. Gadis itu duduk kembali, safira menyerahkan selembar kertas.
"Ini apa?" Seraya mengambil alih kertas tersebut dari tangan Safira.
"Itu formulir pendaftaran les vokal. Gue udah cari-cari referensi di internet, setelah gue lihat, lo kayaknya bakal cocok di sana. Selain jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah, harganya yang terjangkau, dan tempatnya sangat instagramable, di sana juga pelatihannya paling aktif. Satu minggu lima kali. Lo bisa dari hari senin sampai jum'at sepulang sekolah sampai jam 18:30, tapi itu kalau lo mau belajar, kalau enggak, ya, juga nggak masalah."
Ava lansung menganga gembira tidak percaya akan apa yang dilakukan Safira untuknya. "Mau dong!" Memeluk erat sang sahabat. "Makasih banyak. Pasti kok, pasti gue mau."
Safira membalas pelukan Ava. "Syukur deh kalau lo mau. Mana bayaran gue?"
Ava mendongak menatap Safira cengo. "Hah?"
"Itu nggak gratis. Gue ke sananya pakai motor dan bensin." Safira menjeda kalimatnya kemudian berkata, "Enggak kok, bercanda. Mana tega gue sama lo."
Ava kembali memeluk Safira dengan sangat erat, raut wajah gembira Ava sudah kembali lagi. Safira yakin kalau gadis itu akan benar-benar belajar.
***
"Maudi, ko yang bayar ya," celetuk Revina dan diikuti anggukan dari ke lima gadis lainnya.
"Nanti lo yang bayar yah. Kan, biasanya lo juga yang bayarin kita makan, belanja, dan perawatan lainnya. Okay?"
Maudi hanya mengangguk seraya tersenyum, menekan tombol rekam agar berhenti, kemudian memasukkan hp nya ke dalam saku. Setiap hari, setiap hari Maudi selalu seperti itu, tepatnya setelah menjalin kesepakatan bersama Ava, ia mulai menjalankan misinya.
Maudi melihat ke arah meja Ava bersama dengan ke enam teman lainnya yang ada di pojok, gadis itu tersenyum kemudian menaikkan satu alis dengan mulut berkata, "Berhasil" tanpa suara.
Ava yang melihat dan mengerti apa maksud Maudi langsung memutar bola mata malas diiringi kekehan.
Melihat Ava yang terkekeh sendiri membuat Dino yang ada di sampingnya ikut menatap sorot arah mata Ava. Pada akhirnya cowok itu tersenyum manis saat tahu kalau arah pandangan Ava mengarah ke pacarnya.
Maudi yang sadar kalau Dino menatapnya sambil tersenyum hanya ikut menatap kemudian kembali ke manusia perempuan di hadapannya.
***
Karena terikat perjanjian dan kesepakatan dengan Safira, Ava sama sekali tidak boleh ke kelas X Ips 3 kecuali ada yang sangat penting. Jika berpapasan pun, Ava harus terus berjalan tanpa menoleh atau menunduk sama sekali, pokoknya sangat menghindari kontak apa pun dengan Alan.
Itu lah cara Safira mengajari Ava move on. Awalnya sih sangat susah, tapi dibantu arahan Safira, lama kelamaan Ava jadi terbiasa melakukan hal tersebut. Perlahan-lahan gadis itu mulai melupakan segala pikirannya yang tertuju pada Alan, walau ia sadar dan tahu jika ia belum sepenuhnya melupakan cowok itu.
Jadi, selama itulah Ava tidak pernah tahu bagaimana keadaan Alan setelah perjanjian tersebut disepakati, karena Safira juga meminta agar Ava tidak menanyakan semua tentang Alan kepada siapa pun itu. Dan, jika Ava melanggar, ancaman Safira akan benar-benar terjadi.
Bagaimana tidak takut kalau Safira saja mengancam tidak akan pernah berteman lagi dengan Ava saat Ava melanggar perjanjian tersebut, 'kan, ngeri. Jadi, lebih baik Ava melupakan cintanya daripada kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi.
"Hati-hati!" teriak Ana, Agnes, dan Safira bersamaan saat Ava menjalankan motornya lebih dulu keluar dari parkiran, gadis itu akan ke tempat les vokalnya.
"Iya!" jawab Ava ikut-ikutan berteriak.
Barulah selang beberapa detik ketiga gadis remaja tersebut benar-benar keluar dari area sekolah.
***
__ADS_1
Setiap harinya, jika ada waktu luang Ava selalu mencari referensi teknik bernyari di berbagai media atau menonton ajang pencarian bakat di televisi untuk menyusul ketertinggalannya di tempat les.
Bisa dibilang, Ava yang paling lemah dalam hal mengolah suara dan mencari teknik ciri khas bernyanyinya, karena ia tergolong baru dalam hal permusikan dan baru saja masuk beberapa minggu sejak mendaftar. Jadi, dengan tekad dan niat yang sangat kuat untuk menambah itu semua, ia harus belajar otodidak di rumah.
Gadis itu juga tidak lupa mencari dan mendengarkan berbagai macam lagu dari berbagai jenis genre musik agar pengetahuannya tentang musik semakin bertambah, selain itu supaya ia menemukan genre utama musik yang pas untuknya.
Makadari itu juga, Ava selalu mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggunya saat sedang latihan. Kan, malu sama teman-teman lainnya kalau Ava terus berada di titik itu tanpa berkembang.
***
Saat ini keduanya gadis tersebut sedang ada di toko yang menjual berbagai macam alat musik.
"Beneran, lo mau yang ini?"
"Iya," jawab Ava tanpa ragu sedikit pun.
"Mahal loh ini."
"Udah, nggak papa. Gue masih punya uang tabungan, yang penting, 'kan, gue nyaman."
Safira hanya mengangguk pelan sebagai persetujuan. Apapun yang Ava pilih, Safira harus suka dan menyetujui demi kebahagiaan gadis itu.
Ava memberikan sejumlah uang kepada Safira, sang sahabat lantas menuju ke kasir untuk membayar. Selama Ava belajar bernyanyi, Safira lah yang paling semangat dalam mendukungnya. Apa pun yang Ava butuhkan selalu Safira yang menyiapkan serta yang selalu menemani ke sana kemari membeli sesuatu.
Setelah berlatih vokal selama kurang lebih enam bulan lamanya, sekarang Ava disuruh memainkan alat musik sebagai iring-iringan bernyanyi. Bersyukur sekali Ava sudah bisa mengungguli teman-temannya yang dulu selalu mengunggulinya. Ava juga berharap kalau ia bisa terus lebih baik dalam bernyayi dan bermain alat musik nantinya. Ia juga sudah menemukan genre musiknya. Pop. Iya, itu genre musik yang Ava pilih sebagai genre utama dalam bernyanyi.
***
Seorang gadis remaja kini ada di kamarnya sendirian dengan sebuah gitar yang ada di pangkuannya. Sudah berhari-hari gadis itu tidak kunjung paham apa yang dipelajarinya di tempat les dalam bermain alat musik tersebut.
Ava memang mengungguli dan cepat tanggap dalam bermain vokal, tapi untuk alat musik sendiri ia justru lemah di banding yang lain. Di sana memang diajarkan semuanya mulai dari cara bermain, memegang, memposisikan jari, membaca not balok gitar, berbagai macam teknik-teknik, dan yang lainnya. Tapikan, terbatas yang mengajari karena bukan hanya Ava saja yang perlu diajari, ada puluhan anak lainnya sedangkan guru pembimbingnya cuma ada sepuluh.
"Gimana, ya? Di tempat les kurang paham, belajar otodidak juga malah semakin bingung. Kalau les alat musik lagi juga nambah biaya dan nambah waktu juga."
Gadis itu diam sejenak untuk memikirkan siapa orang bisa bermain gitar dan yang mau mengajarinya tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Hanya terlintas satu nama, yaitu Aras. Setahu Ava, selain Aras jago main alat DJ, cowok itu juga jago main gitar.
Kaki gadis itu yang tadi naik di atas kursi belajar kini diturunkan. "Apa minta tolong sama kak Aras aja? Tapi, nggak enak juga karena udah sekitar delapan bulan ini nggak ada komunikasi sama sekali. Masa tiba-tiba datang terus minta ajarin? Kan malu, itu pun belum tentu kak Aras mau. Lagian, kak Aras juga pasti lagi persiapan buat UN dua bulan lagi. Ck, gimana, ya?"
"Kak Aras sekarang gimana, ya, kabarnya? Dia pasti sekarang lagi pacaran sama cewek lain, nanti kalau gue dimarahin sama pacarnya gimana? Kak Aras juga pasti benci banget sama gue karena saat itu gue nolak dia mentah-mentah, tapi kalau bukan sama Kak Aras sama siapa lagi? Gue nggak ada kenalan orang lain lagi, dan kalau minta tolong sama teman-teman pun nggak enak karena gue udah terlalu banyak ngerepotin mereka semua."
Ava menatap sebuah kertas yang tertempel di dinding atas meja belajarnya. "Nulis? Kapan nulis?"
Ava mengacak rambutnya frustasi. "Aarrgghh! Jangan mikirin itu dulu Ava! Mikir yang sekarang terjadi aja!"
...***...
...Wah! Tiba-tiba udah berjalan enam bulan aja, nggak kerasa, ya, udah selama itu Ava nggak pernah berkomunikasi atau berhubungan lagi dengan Alan sama sekali, dan hanya fokus sama belajar dunia sekolah dan dunia musiknya yang sekarang lagi digeluti gadis itu....
...Kira-kira, Ava bisa nggak, ya, move on dari, Alan setelah semua yang ia lakukan?...
...Dan, kira-kira apa langkah Ava selanjutnya?...
...Kalau Ava pergi ke Aras, kira-kira Aras mau nggak, ya?...
...Atau mungkin juga rasa Aras untuk Ava udah hilang?...
...***...
...Ditulis tanggal 18 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 25 Mei 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....