
...Pagi-pagi ngegosip di rumah Ua...
...Eh, malah lupa di awal cerita...
...Selamat membaca kalian semua...
...Wahai readersku yang tercinta...
...Maap-maap nih ye kalau misalkan pantunnya agak nggak sinkron, soalnya mendadak aja gitu buatnya nggak mikir dulu, tinggal nyablak gampanglah. Awokawokawok. Tapi, intinya tetap nyuruh baca kok....
...***...
...
...
06:15
Ava sengaja berangkat lebih pagi, karena dirinya tahu Natalie biasanya berangkat sekitar jam segitu.
Sebenarnya apa yang akan dilakukan gadis itu?
Ava celingukan ke kanan dan ke kiri, memastikan di koridor tidak ada lalu lalang para siswa dan belum ada yang berangkat selain mereka berdua.
Setelah dirasa situasi aman, Ava masuk ke dalam kelas. Dilihatnya Natalie yang tengan mendengarkan lagu dengan Earphone terpasang di ke dua telinga.
Ava menggebrak meja Natalie, sehingga mau tidak mau gadis itu terkejut kemudian mendongak tanpa mematikan lagu dengan volume yang terbilang kecil.
"Lo mau apa?" tanya Natalie sedikit lirih, selebihnya ia ketakutan dan tidak tahu apa yang akan Ava lakukan.
"Gue mau lo jauhin Alan. Lo tahu hubungan gue sama dia, jadi lebih baik lo cari cowok lain untuk jadi sasaran. Paham?" Ava menatap nyalang dengan nada penuh penekanan.
Entah kenapa hanya melihat wajah gadis di hadapannya ini cukup membuat Ava ingin mengamuk.
Tidak tahu juga kalau Ava memang orangnya pemarah dari sananya. Galak? Sudah pasti iya.
Mata Natalie menatap tajam ke arah sekitar, mencoba melihat situasi. "Maksud gue bukan gitu, gue hanya mau berteman sama Alan," ungkapnya masih dengan nada lirih dan ketakutan.
Ava melipat tangan di depan dada, semakin menatap Natalie nyalang. "Lo bisa berteman sama siapa saja, tapi jangan sama Alan." Gadis itu menatap ke sekelilingnya, lalu ke depan lagi. "Kalau lo masih ngedeketin Alan, gue nggak akan tinggal diam gitu aja. Paham?"
Natalie hanya diam tanpa mau mendengarkan peringatan dari gadis di depannya, ia lebih memilih menatap dan mendengarkan lagu dari ke dua sisi telinganya.
Sudah ada beberapa siswa yang mulai masuk dan lalu lalang di koridor, kini Ava harus pergi karena dirinya tidak mau tercyduk melabrak seseorang.
Setelah kepergian Ava, Natalie terdiam dan masih mendengarkan lagu yang diputar sampai selesai, pandangan matanya lurus ke depan.
Detik berikutnya Natalie memaksakan dirinya untuk tersenyum, lagu acak kembali mengalun perlahan.
***
"Hai!" sapa Ava semangat pada Safira yang sudah duduk di sampingnya.
"Tumben lo berangkat sepagi ini? Biasanya lo berangkat dengan waktu lima belas menit sebelum masuk kelas?"
Ava tersenyum paksa, tidak mungkin ia cerita pada Safira tentang hal tadi. "Iya, lagi pengen berangkat lebih pagi."
Dino dan Revan masuk ke dalam kelas bersamaan, tapi Dino sendiri lebih memilih langsung duduk di kursinya. Sedangkan Revan mampir dulu ke tempat duduk Safira dan Ava.
"Tumben dia nggak mampir? Biasanya mampir dulu?" Safira menautkan satu alisnya.
"Gedek kali liat muka lo!" ledek Revan tanpa disaring dulu ucapannya.
"Ngajak ribut lo huh?!"
"Enggak. Jangan ditonjok, karena gue ikan, gue diam." Revan memundurkan tubuhnya dengan kedua tangan di depan dada yang dijadikan sebagai tameng. "Eh, tapi kemarin gue lihat Dino nganterin Maudi pulang loh. Ada apa, ya?"
Safira dan Ava langsung mendekat, tertarik dengan pembahasan Revan. Gosip pagi-pagi begini memang sangat enak dan nikmat.
"Ngapain yah kira-kira si Dino? Apa jangan-jangan dia suka lagi sama, si Nenek Lampir?!" tukas Safira, di sini dia yang paling semangat.
Revan menghendikkan bahu, tanda ia tidak tahu. "Kayaknya enggak deh, masa Dino suka sama dia yang mulutnya kek cabe gitu?"
Ava membasahi bibirnya yang memang sedikit kering. "Pikir positif aja kali, siapa tahu Dino mau berbuat kebaikan sama orang, 'kan, dapat pahala juga."
Revan dan Safira mengangguk bersamaan, mencoba percaya dengan apa yang dikatakan Ava.
Karena sudah tidak ada bahan gosip lagi, jadi Revan beranjak kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Safira mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk bermain game.
Tapi, sebelum Revan benar-benar pergi dari sana, cowok itu bertanya, "Wah soft case lo bagus, nih? Biru sama ungu, hasil nyolong di toko depan rumah lo pasti." Langsung pergi berlari dari sana, menghindari sang iblis yang tengah mengamuk.
__ADS_1
"Gila lo, Van!" teriak Safira menggema di seluruh ruang kelas.
Ting
Ting
Ponsel Ava berbunyi, sesegera mungkin gadis itu membukanya, karena siapa tahu itu pesan dari Alan karena semalam cowok itu tidak memberikan pesan atau kabar padanya.
Tapi, ternyata tidak, itu pesan dari sang peneror. Dan, untuk yang ke sekian kalinya tubuh Ava terasa kehilangan fungsi, tubuhnya panas dingin, dan kepalanya nyut-nyutan tidak karuan.
+62 8966 ×××× ××××
Aku hanya ingin bertanya, Kau akan menyerah atau tetap bertahan?
Ava sedikit curiga dengan sahabatnya sendiri, karena setiap Ava mendapat pesan dari sang peneror itu, Safira selalu membuka WhatsAppnya lebih dulu sebelum bermain game.
Bukan Safira! Karena nggak mungkin, dia sahabat gue. Ava meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi, nggak mungkin juga gue tiba-tiba pengen lihat hp Safira, karena sebelum-sebelumnya gue juga nggak pernah pinjam atau buka hp dia.
Ava kembali menatap pesan tersebut, kemudian menghembuskan nafas kasar.
^^^Ava^^^
^^^Bodo amat!^^^
Ava yang awalnya tegang kini dibuat terkejut dengan kekehan Safira yang dirasa tiba-tiba.
"Kenapa lo?"
Safira menoleh kemudian menatap ponselnya lagi. "Nggak, bukan apa-apa. Ini lagi baca meme lucu banget."
Ava terdiam, kini kecurigaannya semakin menjadi-jadi.
***
Bel istirahat sudah berbunyi, seperti biasa Ava ke kelas X Ips 3 untuk menjemput Alan. Revan dan Safira sudah pergi ke kantin, sedangkan Dino masih ada di kelas, Diam di pojokan pula, dan entah berbuat apa.
Baik saat masuk kelas atau bel istirahat, sikap Maudi pada Dino tetap biasa-biasa saja, sama sekali tidak ada perubahan. Persis seperti tidak terjadi apa apa sebelumnya. Padahal, 'kan, kemarin Maudi diantar pulang Dino, tidak tahu juga apakah Maudi yang terlalu bodo amat atau Dino yang terlalu berharap ada apa-apa.
Apa yang Dino harapkan dari seorang Maudi?
Dino mengacak rambutnya frustasi. "Aarrgh apaan, sih? Kok gue kayak malah jadi detektif gini, ya? Bukannya tugas gue di sini itu cuma menyukai Ava? Bukannya nyari-nyari sebuah clue?"
"Maudi!" panggil Dino berteriak agar gadis itu dengar.
Tapi tak ada tanda-tanda Maudi menoleh, bahkan teman-temannya pun juga tidak ada yang menanggapi.
"Kelihatannya, sekarang lo mulai nggak bahagia?!" teriak Dino lebih keras dari sebelumnya, dan hal itu behasil membuat sang gadis berhenti.
Maudi menoleh, bergantian menatap semua teman-temannya. "Siapa bilang gue nggak bahagia? Nggak usah sok tahu kalau lo nggak tahu apa-apa." Tepat setelah mengatakan hal tersebut, gadis itu pergi menjauh dari sana.
"Lo, ada urusan apa sama dia?" tanya Refa penuh selidik.
"Nggak, bukan urusan apa- apa. Hanya cowok aneh."
Semua teman-teman Maudi mengangguk, tidak pernah mau bertanya-tanya atau mencampuri urusan sang bos.
Dino masih menatap kepergian gadis jutek itu. "Kenapa gue jadi ingin tahu rencana dan kehidupan dia, yah?"
***
Masih di bangunan yang sama tapi berbeda kelas, Ava menggandeng tangan Alan untuk diajak ke kantin.
Gadis itu tersenyum senang, saat Natalie tidak lagi mengganggu atau mendekati Alan.
Gadis itu tengah sibuk mendengarkan lagu dengan earphone sambil membaca sebuah novel.
Tapi entah kenapa, itu malah terlihat seperti dirinya, karena Ava sendiri juga seperti itu.
"Agnes! Syarifa! Bagus! Ayo ke kantin! Yang lain udah pada di sana!" ajak Ava setengah berteriak.
Di sana mereka seperti terlibat percakapan yang cukup serius jika dilihat dari raut wajah ketiga remaja tersebut, tapi Ava tidak tahu apa itu bahasan seserius apa itu.
"Nanti gue nyusul," jawab Agnes tanpa senyum seperti biasanya.
Ava mengangguk pelan, tidak ingin terlalau mencampuri urusan orang lain, tapi jika orang itu sendiri yang mengatakannya, ya, Ava mau-mau saja.
Setelah kepergian Ava dan Alan, Natalie menengok kebelakang. Tepatnya di tempat duduk Alan, lalu kembali membaca novel.
Bukan untuk gue, gumam Natalie lirih dan hanya dirinya yang dapat mendengar.
__ADS_1
***
Alan menepuk bahu Dino pelan. "Ayo, Din!"
"Ah iya ayo."
Dino menatap ke arah tangan Ava dan Alan yang bergandengan. Ada rasa cemburu yang dirasakan Dino, tapi tidak sebesar sebelum-sebelumnya,karena kali ini rasa itu sedikit berkurang. Dino juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu, mungkin dirinya sudah mulai lelah mengejar apa yang bukan untuknya.
Cowok itu kembali menatap lurus ke depan, menghembuskan nafas kasar kemudian tersenyum samar.
***
"Yaa gue nggak tahu lah! Orang Lo bilangnya s e u m p a m a! Syarifa juga dengar kok lo bilang ada kata 'seumpama'!" Agnes mengeja dan menegaskan kata 'seumpama' tepat di depan Bagus.
"Kapan gue bilang gitu?! Perasaan nggak ada deh? Lo aja yang salah dengar! Atau emang lo nggak mau sama gue?!" jawab Bagus lebih julid dan lebih sinis.
Syarifa yang mendengar perdebatan itu pun hanya bisa menutup dan menggeleng-gelengkan kepala.
Agnes dengan wajah kesalnya beralih menghadap ke arah utara, tidak mau lagi melihat ke arah Bagus. "Ya, nggak tahu lah?! Kalau nanti lo main-main sama gue yang rugi gue dong! Karena lo dapat mainan baru!"
Bagus turun dari atas meja Agnes. "Halah! Lo emang nggak menghargai usaha dan nggak mau sama gue!" Pindah duduk di kursi paling belakang.
"Dasar nggak menghargai!" sindir Bagus dari arah belakang sembari sesekali menelungkupkan kepala di atas lipatan tangan.
Agnes menghadap lurus ke depan, memakai dan menyambungkan earphone ke ponselnya dengan sangat tidak sabaran. Mencoba mendengarkan musik dengan volume keras, agar Agnes tidak mendengar ocehan dan sindiran tidak berguna dari Bagus.
"Udah usaha malah gitu?! Dasar nggak menghargai!!"
"Astagfirullah! Nggak menghargai benget!!"
"Tahu gini, nggak usah usaha aja kalau ujung-ujungnya nggak dihargai!!"
"Nggak dihargai woi!! Nggak dihargai!!"
Demi Tuhan! Saat itu juga Agnes ingin membekap mulut julid Bagus dari belakang, supaya cowok itu tidak lagi membuat polusi suara di mana-mana. Karena hal itu sangat membuat Agnes bingung, kesal, dan pusing sendiri, pokoknya campur aduk lah.
"Dasar," gumam Agnes geram kemudian melipat kedua tangan di depan dada.
Agnes lebih baik diam daripada menambah keributan, ia juga tidak suka membuang suara dan tenaganya yang sangat berharga hanya karena hal tidak penting seperti itu.
Sedangkan Syarifa? Gadis itu menjadi pusing akan situasi seperti ini, ia bingung harus berbuat dan membela siapa. Jika ia membela sahabat baiknya Agnes maka nanti Bagus akan marah, tapi jika Syarifa membela Bagus maka Agnes akan lebih, lebih, dan lebih marah dengannya.
Jadilah Syarifa ambil aman saja, dan gadis itu lebih memilih menjauh baik dari Agnes atau dari Bagus dengan cara gabung bersama teman-teman lainnya.
***
Maudi dan ke enam temannya kini duduk bergerombol di meja kantin paling depan. Ada berbagai jenis makanan dan minuman yang tersaji di atas meja.
Maudi natap ke arah gerombolan Ava dkk yang duduk di paling belakang sebelah kiri. Gadis itu sangat ingin bergabung dengan mereka semua yang saat ini tengah bercanda ria bersama.
Andai ia bisa, tapi sayangnya Maudi terjebak di sini untuk beberapa tahun ke depan.
Gue ingin ada di posisi Ava sekarang. Ternyata, nggak mudah menyingkirkan lo dari sana, batin Maudi masih menatap dan sangat berharap kalau saat ini juga Tuhan memberikan keajaiban khusus untuknya.
Tuhan, saya ingin seperti mereka, bercanda dan tertawa bersama-sama. Tuhan, saya hanya ingin satu, itu saja sudah lebih dari cukup. Tolong, Tuhan beri saya itu.
Maudi menoleh ke orang yang tadi menyentuh pundaknya. "Lo kenapa? Jangan kebanyakan bengong, gila nanti."
Maudi menepis tangan Dara yang menyentuh pundaknya. "Apaan, sih? Gue nggak bengong!"
***
Di sisi lain, Dino yang sedari tadi sadar kalau Maudi menatap semua temannya yang ada di meja ini mengerutkan dahi sekaligus menaruh curiga.
Ngapain tadi Maudi natap ke sini? Apa jangan-jangan emang benar kalau dia ngerencanain sesuatu yang jahat, ke Ava?
...***...
...Kayaknya hari ini semua orang pada kesal dan marah, ya?...
...Mau tahu kelanjutannya? Tunggu dan baca kisah mereka selanjutnya....
...Nggak nyangka banget udah sampai chapter lima puluh aja, yang tetap setia terima kasih banyak....
...***...
...Ditulis tanggal 07 September 2020...
...Dipublish tanggal 08 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....