
...
...
"Tadi, kok ada Dino sama Maudi ke sini? Maudi juga tadi dibonceng sama Dino, 'kan? Ada urusan apa? Ada apaan sih? Mereka pacaran? Sejak kapan?" todong Safira dan hal itu berhasil membuat Ava gelagapan.
"Assalamu'alaikum!" salam seorang gadis yang baru saja datang.
Ketiga remaja itu hanya menatap ke arah pintu.
"Duduk, Sar," suruh Ava pada Sara.
Iya, Ava menyuruh temannya ke rumah hari ini karena gadis itu juga ada di rumah dan sekalian menjelaskan semuanya agar cepat selesai dan tidak ada tanggungan lagi.
Sara duduk di samping Safira. "Ada apa sih? Kok, kayak tegang gitu?"
"Jadi, gue nyuruh kalian ke sini karena gue mau menjelaskan sesuatu dan gue juga mau kalau lo, Sara, yang jadi manager gue. Sedangkan lo, Safira, jadi editor nulis gue karena gue yakin lo handal dalam bidang ini."
"Bentar! Bentar! Editor nulis? Apa sih yang lo maksud?"
"Dan, gue jadi manager, lo? Nggak salah?"
"Iya, kalian berdua. Okay, gue bakal jelasin satu-persatu." Ava menatap kedua orang temannya tanpa memperdulikan Revan yang tengah tertidur.
"Jadi, gue sama Maudi itu udah lama baikan, tepatnya setelah gue nyeret paksa dia ke taman belakang sekolah sama Dino karena dia udah ngasih lem di bangku gue sampai bikin rok gue robek tiga tahun yang lalu."
"Di depan kalian semua gue cuma bersandiwara supaya misi gue dan Maudi terlaksana tanpa adanya halangan apapun. Dino itu udah memendam rasa suka sama Maudi, dan saat itu gue memanfaatkan keadaan supaya Maudi dan Dino saling mengetahui perasaannya tanpa memendam atau menyerah sama keadaan, karena teman-teman Maudi pada nggak suka sama pertemanan kita bertujuh waktu itu. Saat Dino cerita tentang dia yang suka sama Maudi juga kalian nggak suka dan nggak percaya. Maka dari itu, saat itu gue cuma ngajak Dino tanpa lo ataupun Revan."
Flashback On
Kening Ava berkerut. "Syarat apa?"
"Gue mau lo sama Dino jangan kasih tahu ke semua orang tentang hubungan ini. Siapapun itu, bahkan teman, dan sahabat kalian sendiri. Gue hanya nggak mau nantinya persahabatan kalian hancur karena gue. Jadi, biarin gue sama Dino ngejalanin hubungan kita tanpa ada gangguan dan berjalan di balik layar. Kalau pun teman dan sahabat kalian mau nerima gue, saat itu juga gue cuma berharap kalau mereka nerima gue apa adanya dan memaafkan segala kesalahan yang udah gue perbuat."
Ava menatap Dino. Cowok itu mengangguk tanda ia menyetujui.
Gadis itu menatap Maudi seraya mengangguk tersenyum. "Ok, gue nggak akan kasih tahu siapapun itu. Tapi, gue juga punya syarat yang harus lo lakuin supaya babu-babu lo membayar perbuatan mereka. Gue hanya nggak mau species manusia kayak mereka semakin bekembang di dunia."
"Syarat apa?" serempak Maudi dan Dino.
"Gue ingin lo merekam semua yang mereka minta ke lo. Gue ingin lo mencatat semua barang yang mereka beli dengan uang lo. Dan, gue ingin lo menyimpan semua struk belanjaan yang mereka beli dengan uang lo. Itu lo lakuin selama tiga tahun sampai kalian lulus nanti. Sanggup?"
Maudi tampak diam sejenak. Itu terlihat mudah, tapi ia bahkan tidak tahu caranya. "Sanggup. Tapi, gue nggak tahu caranya gimana?"
"Gampang. Saat mereka minta sesuatu, lo tinggal tanya balik dan rekam suara mereka. Bilang aja pendengaran lo lagi nggak beres atau lo ngga dengar mereka ngomong apa. Setelah tiga tahun, itulah waktunya lo nagih apa yang harusnya menjadi milik lo. Jangan takut, gue dan Dino selalu ada di sini untuk lo."
Maudi mengangguk. "Ok, gue sanggup dengan syarat itu saat ada kalian di sisi gue."
Flashback Off
__ADS_1
Safira menganga tidak percaya, mata gadis itu membelalak sempurna. Bagaimana dengan, Sara? Gadis itu sama sekali tidak terkejut dan hanya mengangguk saja karena ia bahkan tidak tahu masalahnya apa.
"Jadi, hubungan kalian jadi baik-baik aja setelah itu? Dan, tadi lo habis bantuin Maudi buat nagih uang yang dipakai sama teman-temannya selama tiga tahun itu? Kenapa lo nggak kasih tahu kita semua? Karena kita juga pasti maafin dan bantu dia kalau gue tahu hidupnya nggak sesempurna jika dilihat secara kasat mata. Seenggaknya, gue lah!"
"Ya, karena gue udah janji sama Maudi. Selain itu juga kalau banyak yang tahu tentang hubungan kita bertiga, rencana yang udah kita susun dari awal bakalan hancur dan ke enam babu Maudi juga nggak akan ganti rugi karena saat itu belum ada cukup bukti."
"Oke, gue masih bisa terima ini pelan-pelan. Lo udah cerita ke teman-teman lainnya? Kalau soal nulis itu apa? Gue nggak paham. Jangan sampai kali ini lebih parah dari yang tadi!"
"Gue baru cerita ke Kalian doang karena gue takut respon mereka bakalan lebih parah. Kalian semua selalu bertanya-tanya kenapa selama kelas XI dan kelas XII gue selalu di kelas dan lebih banyak di kamar mengunci diri. Itu karena gue lagi mempersiapkan kisah gue dan kisah kita semua dalam bentuk cerita fiksi remaja yang bisa dinikmati berbagai dari macam kalangan."
"Cerita yang booming dari dua bulan sebelum UN dan banyak diminati sampai sekarang itu adalah cerita yang gue bikin. Gue hanya ingin menyibukkan diri gue dengan hal yang sedikit berguna agar gue juga bisa cepat ngelupain Alan. Gue juga pernah tanya ke Sara tentang ini saat kita berdua main ke rumahnya. Iya, 'kan, Sar?"
Sara mencengis kuda. "Ah, iya. Gue baru ingat. Saat lo baru keluar dari kamar mandi kita langsung diam karena Ava nggak mau lo tahu tentang itu."
Safira bangkit dari kursi. "Kenapa lo nggak cerita?! Satu tahun yang lalu, 'kan, lo bilang masih belum bisa ngelupain, Alan! Sampai sekarang lo masih belum lupain dia? Ngapain lo cerita tentang dia dan kejadian itu?! Lo nggak ingat apa yang udah dia perbuat ke lo?! Dia udah nyakitin lo dan hampir buat lo depresi! Lo nggak ingat atau berniat ngilangin kejadian itu?! Apasih mau lo?!"
Ava ikut bangkit. " Ya gue nggak cerita sama lo karena gue yakin lo bakalan marah sama gue! Lo pasti menganggap kalau gue nggak bisa lupain Al-"
"Tapi emang iya, 'kan, kalau lo nggak bisa lupain, Alan?!" sela Safira cepat.
Tak bisa dipungkiri kalau kedua gadis itu sama-sama emosi.
"Iya, gue emang belum bisa ngelupain Alan sepenuhnya saat ini. Tapi, gue yakin kalau suatu saat nanti gue bisa dan bakal sepenuhnya ngelupain dia. Toh, itu juga bukan hal yang buruk. Berkat kejadian itu, berkat dia, dan berkat kalian semua, ide-ide yang selama ini terpendam jauh di otak gue muncul ke permukaan, sehingga gue jadi bisa mendapat ide dan inspirasi untuk bikin cerita lain dengan tema yang berbeda."
"Lo harus tahu kalau sekalipun gue nggak pernah ada niat untuk menghapus semua kejadian itu. Lo selalu bilang untuk ngelakuin apa yang gue suka. Musik? Gue udah lakuin itu tiga tahun yang lalu. Nulis? Gue juga udah lakuin itu satu tahun yang lalu. Gue ngelakuin ini semua bukan untuk dia, tapi untuk diri gue sendiri. Gue juga ingin membuat diri gue bahagia, nyaman, dan tenang serta berbagi pengalaman ke semua orang tentang bagaimana rasanya menjadi bahan penasaran orang yang kita sayangi. Coba lah ko ngertiin gue karena gue juga udah ngertiin dan nurutin semua apa yang lo mau."
Safira terdiam. Gadis itu tak berkutik sama sekali. "Gue nggak marah sama lo, tapi gue hanya mau menjaga lo supaya lo nggak ngalamin kayak dulu lagi. Gue nggak mau kalau kenangan pahit itu merusak masa depan lo. Gue ingin selalu ada di sisi lo sebagai sahabat sekaligus malaikat pelindung lo."
Ava melepas pelukan tersebut, menatap Safira yang kini mulai berkaca-kaca. "Gue juga akan menjawap pertanyaan kalian tentang kenapa gue macarin dan selalu gonta-ganti pasangan tanpa memperdulikan sekita."
Flashback On
Sembari menunggu pesanan datang, Ava ingin mengatakan niatnya pada cowok di sampingnya yang tengah sibuk bermain hp.
"Kak, Aras!"
Yang dipanggil menoleh. "Apa?"
"Kak Aras, 'kan, udah tahu dan udah ngizinin kalau gue bikin cerita tentang itu."
"Jadi?"
"Ya gue mau minta tolong lagi dan minta izin untuk pacaran sama anak-anak SMA Tri Bakti. Boleh nggak? Nggak banyak kok, cuma sekitar delapan belas orang sebagai pengalihan doang. Ya?"
"Delapan belas? Banyak banget? Gue nggak mau, ya, lo dicap sebagai play girl. Pengalihan yang kayak gimana emangnya?" sewot Aras tidak terima sekaligus tidak setuju.
"*Ya ... pengalihan kalau nanti ceritanya udah gue publish atau diterbitin lah. Walaupun nama castnya gue ganti, tapi pasti tentu ada yang tahu kalau itu adalah kisah gue, dia dan kisah kita semua, karena mereka hanya tahu kalau gue pernah dekat dengan lo dan Alan."
"Jadi, kalau gue pacarin anak-anak SMA Tri Bakti, 'kan, nggak ada yang tahu cerita yang gue bikin itu dengan cowok yang mana. Mereka pasti hanya menerka-nerka cowok yang ini atau yang itu, karena yang dekat atau pacaran dengan gue nggak cuma Alan ataupun lo. Izinin, yah*!"
"Kalau nggak mau ketahuan kisah dan orangnya, mendingan nggak usah bikin cerita aja. Harusnya juga gue nggak izinin lo untuk bikin cerita itu!"
__ADS_1
"Ayolah, pliis ...."
Flashback Off
"Jadi, itu alasan lo bikin list dan macarin mantan-mantan lo itu hanya untuk pengalihan doang supaya nggak ada yang tahu itu kisah lo dengan siapa? Dan, kak Aras udah tahu sekaligus ngizinin lo?"
Ava mengangguk mengiyakan. "Iya, kak Aras udah tahu semuanya dari awal. Lo ingat waktu gue senyum-senyum sendiri di kelas saat lo dari kantin abis beliin gue siomay?" Safira mengangguk.
"Saat itu, Maudi adalah orang pertama ngevote cerita gue. Entah dari mana dia tahu tentang hal itu? Mungkin juga dia sadar karena cerita yang gue bikin mirip dengan kisah asli gue. Maudi juga yang bantuin gue sampai cerita Gge dilirik sama penerbit besar. Besok, gue mau mengungkap siapa gue sebenarnya saat seminar di SMA Tri Bakti. Kita semua akan datang sebagai alumni. Gue juga ingin kalau kalian semua bisa nerima Maudi jadi teman kita."
"Iya, gue dan yang lainnya pasti nerima Maudi dengan sangat lapang dada. Nggak ada alasan untuk kita nolak gadis sebaik Maudi," Safira meluk Ava sangat erat kemudian menatap Sara yang sedari tadi hanya sebagai pendengar. "Lo nggak mau ikut pelukan?"
"Boleh?"
"Tentu sangat boleh, karena lo udah menjadi bagian dari kita semua," jawab Safira dengan nada yang sedikit lembut.
"Tapi, gimana caranya lo kasih tahu ke semua teman-teman yang lain? Lo pasti takut mereka bakalan marah karena lo udah bohong sama mereka?"
Pertanyaan Sara barusan membuat Ava berfikir kembali untuk memberi tahu.
Gadis itu terdiam sebentar, ia mulai bimbang. Bebebarap detik kemudian lamunan dan keraguan mereka buyar setelah ada yang berbicara tanpa membuka mata ataupun bergerak dari posisinya. Ketiganya menoleh ke sumber suara.
"Nggak usah repot-repot jelasin panjang lebar, karen gue udah rekam semua ya dari awal sampai akhir. Tinggal dikirim. Toh, gue yakin anak-anak yang lain nggak akan marah dengan keputusan temannya walau kita juga nggak bisa membenarkan cara lo ini. Kita juga akan selalu mendukung keputusan semua teman kita," jelas Revan panjang lebar. Sedari tadi cowok itu ternyata tidak tidur.
Safira tersenyum menatap sang pujaan hati. "Thanks, Van."
Revan membuka mata sebentar sekedar menatap wajah Safira kemudian menutupnya kembali. "No problem, Fir."
Semakin dewasa semakin ke sini juga sifat ke kanak-kanakan Revan perlahan menghilang, cowok itu mulai menjadi cowok normal di usianya. Berkab bantuan Safira juga untuk membuka pemikiran Revan yang kadang sempit.
"Assalamu'alaikum!" Satu cowok masuk ke dalam rumah dengan nafas tersenggal.
"Ava!" Satu cowok lagi datang dengan helm yang masih terpasang di kepalanya.
Ketiga gadis tersebut melepas pelukan masing-masing. Menatap cengo dua orang cowok yang baru saja masuk ke dalam rumah. Revan? Cowok itu masih memenjamkan matanya, dan mungkin juga tidak tidur.
"Kalian? Ada apa ke sini?"
...***...
...Udah clear, ya, semua penjelasan yang sebelumnya belum pernah ada di chapter lain karena hari ini di chapter ini udah dikupas tuntas sampai ke akar-akarnya....
...Apa masih ada tanggungan penjelasan yang belum dijelaskan?...
...***...
...Ditulis tanggal 29 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 04 Juni 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....