Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 39 ~ Salah Paham


__ADS_3

...



...


Setelah Aras benar-benar pergi dari sana, gadis itu membalikkan badan. Kilatan sorot matanya hanya terarah pada satu gadis saja yang tengah duduk di atas meja bersama dengan antek-anteknya.


Dewi Fotuna mungkin sudah berpihak pada Ava dari awal, jadi ini kesempatannya untuk membela diri dan membuktikan kalau ia sama sekali tidak takut pada gadis itu.


Hanya dengan satu gebrakan tangan di meja, itu sangat berhasil membuat siswa dan siswi di kelas menoleh. Tak terkecuali gadis yang sekarang ada di depan Ava tengah menatapnya heran.


"Lo kemanain buku gue?"


Maudi bangkit dari duduk. Menatap gadis di depannya tak kalah geram. "Ya mana gue tahu! Lo kira gue sekuker itu pakai ngambil buku lo segala?!"


"Yang ngumpulin buku tugas Bahasa Prancis ke ruang guru, 'kan, lo! Jadi, bukan nggak mungkin kalau lo yang ngambil!"


Antek-antek Maudi dengan sigap membela sang bos. Mereka berenam sama-sama berdiri di belakang Maudi.


"Jangan asal nuduh lo! Mana buktinya?!" bela Naomi, gadis berambut panjang lurus.


"Kalau bukan dia siapa coba? Atau jangan-jangan kalian udah bekerja sama buat ngambil buku gue, supaya gue nggak dapat nilai, iya, 'kan?! Gue bisa ngomong kayak gini, karena kalian yang selama ini nggak suka sama gue sejak gue datang ke sekolah ini! Perlu bukti apa lagi?"


Maudi melipat tangannya di depan dada. "Tapi, bukan berarti kita ataupun gue yang ngambil buku lo!"


Ava berdecak. Gerahamnya saling bergemerlatuk menanandakan kemarahan yang mendalam. "Apa salahnya sih tinggal ngaku?! Nggak ada yang bisa gue percaya dari kalian!"


Tidak terima dengan pernyataan lawannya, gadis itu lantas mendorong tubuh Ava beberapa kali. "Nggak usah belagu jadi orang! Nanti meninggal!"


Gadis yang didorong itu pun mengusap seragamnya, seolah ada kuman yang menempel. "Bocil bisanya apa, sih?"


Tangan Maudi mengepal dengan sangat kuat. Kilatan kemarahan pun terpancar tak bisa di hindarkan. Nafasnya memburu tidak karuan. Kesabarannya habis sudah. Gadis itu mendorong lawannya dengan sekuat tenaga sehingga gadis itu terjatuh di ubin kelas yang nampak penuh dengan debu.


Tak mau ada orang yang menganggapnya lemah atau kalah, gadis itu pun bangkit dan membalas dorongan Maudi. Walaupun tak membuat Maudi sampai jatuh, tapi hal itu berhasil menyulut emosinya.


Kedua gadis remaja itu lagi-lagi saling adu jambak dan dorong-dorongan. Tak ada yang berani memisah kedua gadis tersebut, bahkan teman-teman Maudi malah menyoraki kedua orang yang tengah ribut itu.


Sial! Tak ada yang berguna sama sekali.


Alan, Justin, Bagus, Ana, Agnes, Syarifa, dan Safira berjalan kembali ke kelas mereka masing-masing. Tadi, setelah Safira mengurus pembayaran lks dengan Pak Chakim, ia langsung menuju kantin menyusul teman-teman yang lainnya. Karena Safira pikir Ava sudah ada di sana juga, tapi setelah kesana gadis itu malah tak ada di sana.


"Ava ribut sama Maudi lagi!" teriak Bagus spontan seraya menunjuk ke dalam kelas X Ips 4.


Alan langsung berlari menghampiri gadisnya yang saat ini berulah lagi. Diikuti semua teman-temannya dari belakang.


"Stop!"


Cowok itu menengahi perkelahian dua gadis remaja tersebut dengan cara mendorong Maudi agar menjauh dan menggendong Ava di pundak layaknya membawa karung beras.


Ava memukul-mukul punggung Alan sekuat tenaga. "Lo ngapain?! Turunin gue!"


Alan menatap semua teman-temannya yang juga ikut memisahkan. "Urus mereka."


Enam remaja itu mengangguk cepat. Bingung kenapa kejadian ini terulang lagi, dan keadaan Ava malah lebih buruk dari sebelumnya.


Setelah mengatakan itu Alan pergi bersama sang gadis untuk di bawa ke kebelakang sekolah. Selama perjalanan, kedua remaja yang hubungannya belum diresmikan itu menjadi bahan tontonan. Bahkan gadis itu tetap tidak berhenti memukul punggung cowok yang menggendongnya dan terus meronta-ronta minta di turunkan.

__ADS_1


Ana maju mendekati Maudi sebagai pembelaan. Ia juga tidak terima sang sahabat diperlakukan seperti itu. "Gue tahu kali kalau kalian semua nggak suka sama Ava dan kita sejak awal. Tapi, kali ini gue nggak akan membiarkan kalian ngebully kita!"


"Masalah apa lagi yang kalian buat? Sepengen itu yah kalian ingin dikenal?" sarkas Syarifa ikut geram.


Ana menatap seluruh siswa yang ada di sana. "Kalian semua juga punya otak nggak, sih? Bukannya di lerai malah diam dan di sorakin aja! Nggak ada rasa empati, ya?"


Tak ada yang berani menjawab Ana, karena ucapan gadis bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Itu adalah fakta. Semua siswa dan siswi seangkatan juga tahu kalau Ana adalah gadis yang mempunyai mulut cukup pedas sekalinya berbicara.


Maudi yang juga kini lebih berantakan dari Ava tadi maju ke depan. Wajahnya juga merah padam. Menatap nyalang seraya menunjukkan sorot kemarahan yang mendalam. "Kenapa nggak tanya aja sama kebanggaan kalian?"


Tepat setelah mengatakan hal itu, Maudi dan ke enam antek-anteknya pergi meninggalkan kelas dan kerumunan tersebut.


***


"Turunin gue!"


"Lo budek, ya! Gue bilang turunin gue!"


"Lepasin! Gue mau ngasih pelajaran, ke Maudi!"


Mungkin seperti itu lah teriakan-teriakan yang dilontarkan Ava. Ternyata gadis itu benar-benar sangat marah kali ini.


Tak bisa Alan bayangkan dan pikirkan kalau gadisnya akan sebar-bar ini. Benar-benar suatu keajaiban.


***


Barulah saat sampai di taman belakang sekolah, cowok itu menurunkan sang gadis dari pundaknya. Tak bisa di pungkiri, badan Ava memang kecil, tapi menggendongnya dari lantai atas sampai taman belakang sekolah adalah hal yang bisa di bilang luar biasa. Terlebih, badan Alan kurang atletis dan sedikit kurang berbobot. Pundaknya juga sedikit nyeri akibat menahan beban berkilo-kilo gram.


Ava merapikan seragamnya yang berantakan, kemudian menatap sang pujaan hati penuh dengan kekesalan. "Ngapain lo misahin kita?!"


Perlahan tapi pasti, Alan mendekat ke arah gadisnya. Mencoba menenangkan badak yang sekarang tengah mengamuk. "Stop. Jangan berurusan sama Maudi lagi. Kalau sampai guru dan wali kelas lo tahu, nilai sikap lo bakalan jelek dan poin lo akan di kurangi,"


Alan menarik nafasnya dalam dalam. Berusaha tetap tenang dan tanpa emosi menghadapi Ava yang tengah tersulut emosi. "Bisa dicari, Ava. Nanti pasti ketemu kok,"


"Di cari di mana? Lo tahu? Kalau gue nggak gitu, gimana dia mau ngaku? Lo juga tahu perlakuan dia ke gue gimana, harusnya lo dukung gue dong,"


"Iya, gue ngerti. Tapi nggak dengan cara berantem kayak gini, Ava ..."


Gadis di hadapan Alan terkekeh. Menyugar rambutnya. "Berantem aja nggak menyelesaikan masalah, apalagi nggak berantem. Belain aja terus sampai puas! Kenapa lo malah di sini? Harusnya, 'kan, sekarang lo lagi berduaan sama, Natalie!"


Alan memang bersabar, tapi mungkin kali ini ia sedikit lepas kendali akan pernyataan Ava yang sedikit membuatnya jengkel. "Ngapain bawa-bawa Natalie segala? Nggak ada hubungannya, dan jangan mengalihkan pembicaraan. Atau, lo masih kesal karena tadi pagi dan lo melampiaskan nya ke Maudi?"


Gadis itu menata nyalang seraya memperlihatkan tatapan mata yang tak kalah tajam dengan yang cowok di depannya punya. "Iya! Gue masih kesal sama lo dan Natalie. Kenapa dia nggak tanya sama yang lain aja? Kenapa harus sama lo dan lo malah mau?


"Itu jangan tanya gue, tanya sama Natalie nya sendiri. Terus kalau gue juga marah sama lo karena kak Aras masih dekat-dekat dengan lo gimana?"


Ava maju satu langkah mendekat ke arah sang cowok. "Kapan dia dekat-dekat dengan gue? Gue udah milih lo sepenuhnya. Apa itu masih kurang sebagai bukti kalau gue sangat sayang sama lo?"


"Sepenuhnya? Tadi, saat lo dan dia berduaan mungutin lks. Kenapa nggak lo tolak bantuannya?"


Gadis itu menghela nafas berat. "Kak Aras cuma bantuin gue doang, nggak lebih dari itu ..."


Alan sendiri tersenyum kecut. "Sama. Gue juga cuma bantuin Natalie doang, nggak lebih dari itu. Apa bedanya?"


"Ya beda lah. Kak Aras cuma ngebantu gue doang, sedangkan Natalie ada maksud terselubung di dalamnya. Tolonglah, lo ngertiin gue ...."


"Sama-sama ngebantu, 'kan? Nggak ada bedanya saat kita ngambil sudut pandang yang sama. Kalau gue bilang kak Aras juga ada maksud terselubung dan ingin dia kembali ke lo gimana? Bukan cuma perempuan doang yang ingin di mengerti kaum adam, kami para kaum adam sendiri juga ingin di mengerti kaum hawa."

__ADS_1


Ava menatap cowok di depannya nyalang, kemudian berlalu pergi dari sana. Maudi sudah membuatnya amat marah kali ini, dan sekarang? Alan pun juga ikut marah kepadanya.


Pikiran dan hati gadis itu teramat sangat kacau. Bayangan masa lalu masih sangat terngiang-ngiang di otaknya. Iya, masa lalu yang berhasil menghancurkan kehidupan anak-anak yang harusnya dipenuhi dengaan kebahagiaan.


Sedangkan Alan menendang kerikil kecil yang ada di depannya. Seharusnya juga, Alan lebih bisa menahan emosi dan menenangkan gadisnya dan bukannya malah ikut marah dan tersulut emosi seperti ini.


Alan mendudukkan dirinya di bangku besi berwarna putih tepat di belakangnya. Cowok itu mengerang seraya menjambak dan mengacak rambutnya frustasi.


Baru saja kemarin mereka berdua saling menunjukkan rasa sayang satu sama lain, tapi hari ini justru jadi berantakan tidak karuan.


***


18:16


Ava kini ada di kamarnya sendirian. Duduk di meja belajar sambil menyalin berbagai tugas dari buku Safira ke buku tugas miliknya yang baru. Ponsel gadis itu pun selalu ia letakkan di sampingnya. Menunggu sesuatu, tapi tidak tahu apa itu.


Tadi, saat pulang sekolah, Ava di panggil Bu Dian selaku guru BK kelas X, karena Maudi yang melaporkannya. Katanya tak ada bukti bahwa Maudi yang mengambil buku milik Ava. Rivalnya itu juga tidak mau mengakui kesalahannya, jadi Ava dinyatakan bersalah atas kejadian tersebut. Poinnya pun di kurangi lima puluh, itu sebagai peringatan untuk Ava bahwa tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.


Begitu sial nasib gadis itu, nilai tugasnya kali ini sudah kosong, masuk catatan BK, dibuat sangat malu, dan kini poin yang ia dapat dari hasil mengerjakan berbagai macam soal di papan tulis dan menjaga sikap serta prilaku harus hilang sebanyak itu.


Tentu saja Maudi tersenyum senang dan bangga saat mendengar hal itu. Tapi, lain kali tidak akan ada ampun untuk Maudi, bahkan jika gadis itu mengemis sampai bersujud di depan kaki Ava minta diberi ampunan, Ava sama sekali tidak akan melakukan hal tersebut.


Agnes mengetuk pintu kamar sang sahabat yang dikunci dari dalam. "Ava, lo nggak makan dulu?"


"Nggak." jawab gadis itu dari dalam kamar.


"Kalau Ava udah marah gini mah susah. Minta bantuan Alan aja, siapa tahu Ava mau? Kan, dia nurut tuh kalau Alan yang minta," saran Ana pada agnes yang berdiri tepat di depannya.


Agnes mengangguk pelan. "Ide bagus."


Kedua gadis itu itu lantas segera bergegas pergi ke kamar Agnes untuk menghubungi Alan.


Kenapa keadaan jadi kacau seperti ini? Tadi, saat pulang sekolah pun, Ava membanting pintu masuk dan pintu kamarnya. Hal itu tentu sangat biasa saat seseorang sedang marah atau mengamuk.


Ava menatap benda pipih yang ada di sampingnya sekilas saat layar ponselnya menampakkan panggilam sebuah nomor tanpa nama. Cairan bening yang sedari tadi ia tahan kini mulai meluncur bebas di pipi kanan dan kirinya.


Ava mengatur nafas agar nanti suaranya tidak terdengar aneh. Tanpa ragu, gadis itu menggeser tombol hijau.


"Halo? Ini siapa, ya?"


"Ava ...."


Hanya satu kata yang terlontar dari seseorang di sebrang sana, tapi itu sangat mampu membuat Ava mematikan lalu melempar benda pipih yang ia pegang tepat di atas kasur. Suara itu sangat familier baginya dan Ava sendiri sedang tidak ingin bicara dengan orang tersebut. Iya, itu Alan.


Gadis itu menelungkuplan kepalanya pada lipatan kedua tangan. Dalam diam dan kesunyian ia menangis tanpa suara.


Tidak tahu kenapa Ava bisa jadi secengeng ini?


...***...


...Karena ini adalah cerita pertama Aku yang Aku bikin dengan sepenuh hati dan segenap jiwa, jadi mohon pengertiannya kalau sedikit agak aneh dan rada kagok....


...***...


...Ditulis tanggal 22 Juli 2020...


...Dipublish tanggal 24 Maret 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2