Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 91 ~ Hati Yang Baik


__ADS_3

...



...


Polisi sudah mengepung bangunan tersebut dan mengamankan semua pelaku serta barang bukti yang ada di sana. Dengan segera polisi dan para penyidik akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Semua remaja SMA yang terluka juga sudah diobati dan mendapat pertolongan pertama oleh sang dokter laki-laki yang tadi ikut datang bersama polisi dan ambulance.


Ada perban panjang yang melilit leher Ava. Untungnya sayatan di leher gadis itu tidak terlalu dalam dan tidak terlalu parah sampai merusak sistem jaringan di dalamnya.


Ke empat gadis lainnya menyusul Ava yang duduk di belakang ambulance dengan tangis yang langsung pecah, di sana juga ada Aras dan Alan.


"Kalau ada apa-apa itu bilang! Jangan diam dan dipendam sendiri!"


"Lo bisa cerita apa aja ke kita semua! Dan kita akan siap ngebantu, lo!"


"Kalau lo berniat jagain kita, lo harusnya bilang supaya kita juga bisa jaga diri, tanpa harus merepotkan lo kayak gini!"


"Kita semua sayang sama lo, Ava. Kita nggak mau lo kenapa-napa hanya karena kita!"


"Kalau lo bilang dari awal, pasti hal ini nggak akan terjadi. Setelah ini, gue nggak mau hal kayak gini terjadi lagi! Pokoknya lo harus cerita!"


Safira menunjuk rambut Ava yang terpotong tak beraturan, ada yang pendek dan ada yang panjang. "Ta-tapi, rambut lo acakadul, Ava."


Ana menyenggol lengan Safira, menyuruhnya untuk tetap diam. "Shuuuuut!"


"Nggak usah di dengerin. Terus kenapa lo nggak ngangkat telpon dari kita?" Agnes menengahi.


Dahi Ava mengernyit. "Telpon? Hp nya gue silent, terus saat sampai di sini tasnya langsung dirampas sama mereka, dan nggak tahu sekarang di man.,"


Satu polisi menghampiri Ava dan menyodorkan tas selempang berwarna biru muda. "Sepertinya, ini milik anda? Kami menemukannya di dalam mobil putih itu." Menunjuk ke arah mobil berstiker kupu-kupu yang sudah diderek untuk diamankan juga.


Ava menerimanya dengan senyuman. "Iya, Pak. Terima kasih banyak sudah membantu kami."


"Iya, sama-sama." Polisi itu pergi dari sana.


Ava merentangkan tangannya. "Peyuk!" serunya manja.


Ana, Agnes, Safira, dan Syarifa langsung memeluk Ava dengan sangat erat.


Aras dan Alan sama-sama tersenyum, keduanya saling tatap, kemudian memalingkan wajah secara bersamaan dengan wajah datar, sesekali berdehem juga untuk menghilangkan kecanggungan.


Ava sangat bersyukur saat semua teman dan sahabatnya bekerja sama untuk menyelamatkan dirinya, bahkan sampai luka dan memar-memar di sekujur tubuh.


Gadis itu juga sangat bersyukur saat tahu kalau Alan dan Aras mau bekerja sama untuk saling menjaga, mereka mengesampingkan egonya masing-masing demi menyelamatkan Ava.


Entah tidak tahu bagaimana kedepannya, tapi Ava tetap mensyukuri dan menjalankan takdir yang sudah Tuhan tentukan.


Sampai seumur hidup, Ava tak akan pernah melupakan kejadian ini, sekecil apa pun itu tak akan pernah ia lupakan karena perjuangan mereka sungguh menakjubkan hebatnya. Mungkin, nanti juga akan diceritakan pada anak cucu secara turun-temurun saking dramatis dan kerennya kejadian ini.


Kalian tenang aja, kalau gue sukses, pasti yang pertama gue cari adalah kalian semua. Kalian semua yang selalu ada buat gue dan nolongin gue saat gue kesusahan, janji Ava dalam hati, menatap orang-orang yang telah membantunya tadi.


***


Karena tahu pahlawan kita hari ini lelah dan luka-luka, polisi memberikan tumpangan kepada para remaja tersebut untuk diantar ke rumah Ava sebagai tempat istirahat malam ini, sekaligus memberikan semua barang bukti yang ada. Polisi tersebut juga membawa motor para remaja itu dan berjanji tidak akan melapor ke orang tua karena sudah larut malam.


Rencananya, besok mereka baru akan bilang ke orang tua masing-masing sekaligus introgasi di kantor polisi sebagai saksi karena kebetulan besok sekolah libur. Kan, tidak baik mengganggu orang tua di jam seperti ini.


***


08:34


Sesuai janji, para remaja kemarin malam yang terlibat penculikan diintrogasi satu persatu sebagai saksi. Ada lima anak perempuan dan dua belas anak laki-laki.

__ADS_1


Untungnya lagi orang tua mereka tidak ada yang marah, malah justru bangga karena anaknya bisa menyelamatkan seseorang. Kalau untuk anggota Molyvdos sendiri sih, mereka sudah lama diizinkan orang tua dan sudah terbiasa juga pulang dalam keadaan babak belur dan larut malam, jadi hal itu tentu tidak menjadi masalah.


Enam belas remaja tengah menunggu satu teman mereka di ruang tunggu.


"Gimana?" tanya mereka semua serempak sambil berdiri saat seorang gadis keluar dari ruang introgasi, auranya dan penampilannya terlihat berbeda dari biasanya.


Ava yang dulunya mempunyai rambut panjang super badai kini hanya tinggal kenangan saja. Setelah dirapikan di salon tadi pagi, rambut gadis itu hanya sebahu. Tapi, masih tetap cantik seperti sebelumnya.


Ava tersenyum lalu memberikan jempol, semua temannya langsung duduk kembali. Tak lama kemudian ada dua wanita dan dua laki-laki paru baya yang datang dengan tangis langsung bersujud di kaki Ava, semua teman Ava langsung bangkit lagi dari duduk karena terkejut.


"B-Bu? Pak? Jangan gini, nggak enak diliat yang lain." Mengangkat satu persatu bahu ke empat manusia yang sudah berumur itu. "Ibu dan Bapak ini siapa? Kok datang pakai sujud segala?"


Ibu yang penampilannya dari atas sampai bawah super mewah menjawab, "Saya Maya dan ini suami saya Rio, kami orangtuanya Dinda. Tadi saya baru dapat kabar kalau Dinda, dan satu temannya menculik gadis bernama, Ava."


Raut wajah Ava langsung berubah datar. "Itu saya sendiri."


Ibu yang dandanannya tidak terlalu mewah berkata, "Saya Ratna dan ini suami saya Fiki, kami orangtuanya Sintia. Tolong, Nak. Tolong bebaskan anak kami."


"Mereka anak kami satu-satunya, jadi saya mohon bebaskan anak kami." Pak Rio hendak bersujud lagi, tapi Ava tahan.


"Kami janji dan akan menuruti semua kemauan, Nak Ava, asalkan anak kami tidak masuk penjara." Pak Fiki ikut memohon.


Mata gadis itu berkaca-kaca karena merasa iba. Ava sebenarnya tidak mau melakukan itu, tapi gadis itu sudah terlanjur benci dan sakit hati karena perbuatan mereka berdua yang sudah di luar batas wajar. Siapa coba yang tidak sakit hati sekaligus trauma saat diteror dan akan dibunuh.


Tapi, Ava juga memikirkan masa depan mereka, kalau berita kedua gadis itu tersebar luas, apa yang akan terjadi setelahnya, dan akan jadi apa mereka? Orang tua mereka pun juga akan malu karena dicap sebagai orang tua yang lalai, orangtua yang gagal, dan tidak bertanggung jawab dalam mendidik anak. Apalagi, 'kan, mereka berdua anak satu-satuanya, perempuan pula.


Sedangkan di dalam sel wanita yang bersebrangan dengan ruang introgasi, ada Dinda dan Sintia yang tengah menangis dengan posisi lutut dipeluk karena melihat kedua orangtua yang sangat menyayangi mereka, mau bersujud agar mereka bisa bebas dari penjara. Dosa apa yang orang tua mereka lakukan, sampai anaknya sendiri menyakiti hati mereka, tidak tahu terima kasih, dan mempermalukan orang tua masing-masing?


Ava menatap sekilas ke arah semua temannya, mengusap air mata lalu mengangguk pelan. "Ok, saya akan membebaskan anak Ibu dan Bapak. Tapi, dengan satu syarat."


"Syarat apa itu, Nak?"


***


"Pantas, Kak Aras cinta banget sama Ava, orang hatinya kayak malaikat. Baik banget!" celetuk Ana yang tengah membakar sosis.


Semua yang ada di sana langsung mengejek Ava dan Aras.


"Jadian aja kali!"


"Cie! Cie! Sepertinya diriku mencium bau-bau api asmara yang membara?!"


"Iya, Va. Itung-itung membalas perbuatan Aras!"


"Paan sih kalian?" ketus Ava karena tidak suka disamakan dengan sesuatu yang terlalu berlebihan. Baginya, apa yang ia lakukan itu layaknya sesama manusia. "Lagian, cinta itu datangnya dari hati, bisa di mana aja, bisa kapan aja, dan bisa ke siapa aja. Nggak boleh karena paksaan." Selalu seperti itu jawabannya.


Aras tersenyum kecut dalam hati, Apa yang Ava katakan memang benar adanya. Tapi, entah kenapa Aras merasa itu seperti tamparan keras baginya.


Mungkin, hati lo masih nyangkut di Alan, jadi gue akan selalu nungggu dan berdoa buat lo, karena gue yakin, perlahan-lahan lo akan mulai membuka hati dan membiarkan seseorang masuk.


Ava, pihak kepolisian, pihak keluarga, pihak sekolah, dan pihak yang bersangkutan sudah berjanji dan setuju untuk merahasiakan masalah ini dari orang awam. Sebagai syarat, Ava minta pada pihak sekolah agar mengeluarkan Dinda dan juga Sintia dari sekolah saking traumanya gadis itu. Sebenarnya, walau Ava tidak meminta itu pun pasti pihak sekolah akan mengeluarkan lebih dulu atas tindakan kedua gadis tersebut yang keterlaluan dan membahayakan orang lain.


Pihak kepolisian juga sudah memusnahkan semua barang bukti yang ada, termasuk hp yang digunakan untuk meneror Ava, buku tugas Bahasa Prancis, kertas-kertas kecil berisi pesan, tiga buah pisau, semua tongkat baseball, dan menghapus video rekaman kejahatan yang direkam Gilang serta Uki. Mobil berstiker kupu-kupu milik Sintia juga dihancurkan atas permintaan orang tua Sintia sendiri.


Holkay mah bebas atuh.


Pokoknya semua barang bukti yang bersangkutan dengan kejadian penculikan itu disingkirkan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


"Kedua orangtua Dinda yang notabe-nya orang terkaya setelah gue sesekolah mau bersujud di kaki Ava itu luar biasa hebatnya, loh!" puji Uki yang tengah berenang bersama yang lainnya dalam keadaan masih mengenakan T-shirt.


Katanya agar para gadis yang ada di sana tidak pada khilaf karena melihat roti sobek. Padahalkan, semua anggota Molyvdos belum tentu memilikinya.


Ting

__ADS_1


Tong


Ting


Tong


Bel pintu depan berbunyi, Ava bangkit saat Safira yang ikut beranjak. "Biar gue aja, Fir."


Safira duduk lagi. "Hati-hati." Terdengar seperti peringatan


"Di depan rumah doang pakai hati-hati segala!" balas Ava tanpa menoleh.


***


Betapa terkejutnya Ava saat ada kedua gadis muda yang berdiri di depannya. Ava memundurkan diri untuk memberi jarak, rasa takut itu kembali menjalar memenuhi pikiran dan juga hatinya.


"K-kalian ngapain ke sini?" tanya Ava dengan bibir bergetar ketakutan.


Kedua gadis itu mengalirkan cairan bening rasa asin dari kelopak mata mereka, mendekati Ava sama-sama memeluk gadis itu. Ava sendiri hanya diam di tempat karena terkejut, takut, sekaligus bingung.


"Maafin gue, Va. Kita udah jahat sama lo. Harusnya kita nggak berbuat seenaknya sampai membahayakan kalian semua, dan bisa-bisanya lo masih baik mau bebasin kita." Itu suara Sintia yang bercampur isakan tangis.


"Maafin gue juga, karena udah ngelukai leher lo, dan motong rambut lo. Apa yang lo omongin itu memang benar, kalau gue cuma obsesi dan depresi karena nggak dapetin Aras. Lo bebas ngebenci gue dan nggak maafin gue."


Ava melepas pelukan kedua gadis di depannya, tersenyum sangat manis. "Semua orang pernah melakukan kesalahan. Tuhan yang berkuasa aja mau maafin umatnya apalagi gue yang hanya manusia biasa. Nggak semua orang mendapat kesempatan kedua dan kesempatan berikutnya, jadi gue harap kalian nggak menyia-nyiakan kesempatan menjadi orang yang lebih baik." Gadis itu terkekeh, lalu melanjutkan, "... lagian, mau rambut panjang atau pendek, gue tetap cantik kok."


Walaupun rasanya sangat berat, Ava akan tetap mencoba memafaafkan. Sama seperti ia mencoba memaafkan teman SMP dan teman SD nya dulu, perlahan-lahan pasti bisa.


"Selain fisik lo yang cantik, lo juga baik," tutur Dinda benar-benar kagum. "Nggak salah kalau Aras benar-benar cinta sama, lo."


"Kalian mau gabung? Kita bikin BBQ-an."


Keduanya sama-sama menggeleng. "Enggak usah, kita nggak enak sama yang lain. Makasih banyak atas semua yang udah lo lakuin, Ava. Kita sangat berutang budi sama lo."


Ava mengangguk pelan. "Iya, sama-sama. Tapi, gue nggak suka sama bahasa, lo. Anggap aja kita impas, gimana?"


Kedua gadis itu mengangguk seraya mengusap air mata lalu mendekati pintu, keduanya juga sama-sama melambai.


"Bye, semoga have fun!"


"Bye, thanks for averything!"


Ava tentu membalas lambaian Dinda dan Sintia, saat pintu tertutup, gadis itu hanya bisa tersenyum dan diam memandangi pintu tersebut, kemudian menyentuh dadanya. "Astagfirullah, takut banget, yak, rasanya. Mau mati gue, untung aja tadi cuma minta maaf."


"Semoga, keputusan gue kali ini kedepannya membuat mereka lebih baik dan lebih bahagia."


Karena penasaran Ava yang sangat lama, jadi Safira menyusul keberandaan sang sahabat. "Siapa?


Gadis yang ditanyai menoleh, tersenyum, lalu menggeleng. "Ah, enggak. Bukan siapa-siapa kok."


...***...


...Huh! Akhirnya semua masalah benar-benar selesai. Ada yang mau kalian tanyakan? Atau Aku lupa penjelasan yang belum tersampaikan?...


...***...


...Ditulis tanggal 04 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 18 Mei 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2