Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 84 ~ Menerka-nerka


__ADS_3

...Aku nggak nyangka banget sih perjalanan Aku udah sampai di titik ini, sebelumnya buat kalian semua Aku mau ngucapin terima kasih banyak karena udah meluangkan waktunya untuk sekedar membaca, memberi vote, dan yang cuma mampir sesaat juga makasih. Tanpa kalian, mungkin Aku nggak akan pernah sampai ada di titik ini, harapan Aku kedepannya sih semoga cerita ini makin populer, disukai, dan dikenal banyak orang....


...Buat kalian semua yang baca cerita ini, kalian boleh share ke siapa aja yang sekiranya suka banget baca, udah itu aja sih Aku mintanya nggak muluk-muluk....


...Harusnya sih kalimat kayak gini itu disampaikan saat cerita ini udah tamat, ya? Tapi kok Aku sekarang ngomongnya? Ah, nggak papa lah, sekalian cuap-cuap basa basi....


...***...


...



...


Aras ke luar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuh bagian bawah, rambutnya masih sangat basah, sehingga menambah ketampanan dan terkesan maskulin saat ditatap dengan mata telanjang.


"Bunda ngapain?" tanyanya pada sang wanita yang terlihat masih muda di sampingnya. Carry- Ibu kandung Aras yang umurnya belum menginjak kepala empat.


Carry tampak bingung lalu menoleh, menjauhkan benda pipih itu dari telinga. "Karena kamu mandi, jadi Bunda yang ngangkat teleponnya, tapi nggak ada jawaban dari sana. Pacar kamu, ya? Soalnya cewek."


Aras mengambil alih benda pipih tersebut, menatap layar ponsel yang masih memyambung tertera nama "Ava" kemudian terkekeh. "Iya, Bunda. Mungkin, dia terpaku saking seramnya suara Bunda," ledek sang putra semata wayang.


Kalau Ava mendengar itu, kira-kira akan diapakan? Digorok? Langsung tebas? Disayat? Dimutilasi? Dilindas? Atau disantet? Ah, tidak! Gadis itu memang kejam, tapi kejamnya pikir-pikirlah, masa cowok sekelas dewa yunani seperti Aras diperlakukan seperti itu?


"Ish! Kamu mah!" Mencubit pinggang sang putra, Aras tertawa diiringi ringisan.


"Ampun, Ratu, diriku berjanji tak akan pernah seperti itu lagi." Menyatukan kedua tangan sambil membungkuk, wanita itu tertawa.


"Ya sudah, Bunda mau masak dulu." Carry pergi dari sana. Tak lupa menutup pintu kamar sang anak.


Aras tersenyum, kembali mendekatkan benda pipih itu ke telinga. "Iya, ada apa, Va?"


***


Di lain tempat tapi masih di dunia, hidup pula. Gadis itu langsung menghembuskan nafas lega saat suara Aras terdengar dari seberang.


"Gue kaget tahu nggak! Gue nelpon lo berkali-kali tapi nggak lo angkat! Eh, sekalinya diangkat suara cewek, kirain suara si peneror itu, soalnya gu-"


Dari sebrang sana Aras langsung menyahut. "Lo khawatir ya sama, gue?"


Ava, 'kan, jadi salting. Ya ... benar juga sih kalau dibilang khawatir. "Eh, enggak! Ma-maksudnya khawatir, tapi khawatirnya sebagai partner! Nggak lebih!"


Aras tertawa, gadis itu terdengar salting. "Iya, iya. Maaf nyela, lo mau ngomong, apa tadi?"


"Pisau yang lo bawa kemarin masih ada?"


"Kenapa emangnya?"


Ava mengarahkan dirinya menuju jendela kamar, ia sangat yakin sang peneror itu lewat jendela kamarnya karena sebelum itu Ava selalu mengunci semua jendela dan pintu yang ada di rumah. Sayangnya, hanya jendela kamar Ava yang agak kendor karena pernah dibuka pasksa dari luar. "Ada pisau yang sama di kasur gue. Pas duduk, (maaf) pantat gue sampai sakit kena ujungnya tadi, dia kayaknya lewat jendela kamar gue, deh? Soalnya jendela gue selalu terbuka saat ada benda-benda itu masuk."


"Tapi, lo ngga papa, 'kan, Va?" Ada nada ke khawatiran saat Aras bertanya.


"Nggaj papa. Coba lo cari, kalau nggak ada berarti udah diambil, tapi kalau ada berarti itu pisau baru."


***

__ADS_1


"Iya, gue car.," Selagi menggeledah tas yang ia letakkan di atas laci, Aras meletakkan ponselnya di atas bad kasur. Hasilnya nihil, setelah menggeledah tas dan mencari seisi kamar mulai dari dalam laci, bawah kasur, lemari, kamar mandi, dan tempat lainnya di dalam kamar, pisau tersebut tetap tidak ada. Hilang ke mana, coba?


"Ke mana perginya? Perasaan, gue selalu taruh di dalam tas supaya Bunda dan pembantu nggak nemuin pisau itu?" Aras kembali menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. "Nanti gue telepon lo lagi, Bunda manggil soalnya. Bye!" Aras memutuskan sambungan secara sepihak.


Terpaksa Aras tidak mengatakan itu lebih dulu karena takut kalau Ava semakin ketakutan nantinya.


Masih mengenakan handuk, Aras menyembulkan kepala dari luar kamar. "Bunda!"


"Apa?" jawab Carry dari arah dapur, ikut berteriak juga.


"Bunda lihat pisau di tas Aras, nggak?"


Carry yang tengah memotong wortel menghentikan kegiatannya sejenak. "Nggak liat. Ngapain kamu nyimpan pisau di tas?" Kembali memotong wortel.


Aras menggaruk pelipisnya, cukup lama diam dan akhirnya menjawab, "Itu pisau punya sekolah dan hasil penelitian lab! Yaudah! Makasih, Bun!" Menutup pintu rapat-rapat.


Cowok itu berpikir sebentar, ada dua orang nama yang terlintas di pikirannya saat ini. "Kalau dugaan gue nggak salah, orang itu pasti ...."


***


"Kok, lo baik-baik aja sih putus sama Justin?" tanya Ava membuka suara karena mulai penasaran.


Tanpa menoleh dan masih menonton drama korea di salah satu stasiun televisi Ana menjawab, "Ya ... 'kan, kita putusnya baik-baik secara kesepakatan bersama, jadi ... buat apa sedih atau musuhan?"


Agnes yang ikut mendengar penjelasan Ana ikut mengangguk.


Iya, tadi sepulang sekolah Ana dan Justin janjian untuk membuat keputusan bahwa mereka putus. Alasannya karena mereka sama-sama tidak ada niat dalam berhubungan, daripada nanti percuma dan buang-buang waktu, lebih baik mereka sudahi saja.


Perbedaannya tidak cukup mencolok sih, pada dasarnya mereka berdua sama-sama jarang chatan, dan kalau putuskan malah nanti tidak pernah chatan. Kalau ketemupun hanya tegur sapa, tersenyum atau bahkan tidak sama sekali. Lah, kok malah jadinya terlihat musuhan? Halah! Tidak apa-apa, yang penting itu keputusan bersama.


"Iya. Ngga kayak gadis di samping gue ini, putusnya sepihak, tanpa alasan yang jelas, dramatis pula sampai nangis kejer di tengah lapangan. Bukannya ditenangin malah si cowok gamers ternyata pergi ninggalin," ledek Agnes sengaja mengingatkan Ava saat kejadian di lapangan, miris.


"Mau ke mana? Lo marah karena tadi gue ngomong gitu?" tanya Agnes menghadap ke belakang saat Ava akan menaiki anak tangga, ia cukup khawatir dan merasa tidak enak, harusnyakan Agnes lebih bisa menjaga bicaranya.


Ava dibuat cengo. "Enggak. Kenapa gue harus marah? Itu emang benar kok."


Agnes akhirnya lega, tapi tetap saja merasa tidak enak. "Oh, yaudah sana pergi."


Ava masuk ke dalam kamar, Agnes dan Ana kembali fokus menonton drakor sambil mengobrol.


"Gimana hubungan lo sama, Bagus?"


Agnes berdecak pelan, sebenarnya ia malas membahas hal itu. "Nggak tahu ah! Ruwet banget! Dia terlalu membatasi gue chat dan berteman sama siapa, dia nuduh gue selingkuh, padahalkan enggak karena gue cuma berbalas chat sama Iqbal doang dan gue juga udah membatasi chat gue sama si Iqbal, yang di mana sebelum sama Bagus gue tiap-hari chatan sama Iqbal! Nggak pernah enggak! Sama yang lainnya juga sama, pokoknya semua kontak cowok."


"Terus, mau lo gimana?"


Agnes menggeleng. "Nggak tahu." Menghadap ke Ana. "Tapi, sikap Iqbal tiba-tiba berubah dratis, cuek gitu kesannya. Yang sebelumnya selalu bicara panjang, sekarang sedikit banget, atau malah terkadang cuma diread doang."


"Apa jangan-jangan dia ditemuin sama, si Bagus? Terus diancam atau diomongin apa gitu? Soalnyakan lo pernah bilang kalau Bagus pernah liat lo chatan sama Iqbal saat dia ngerebut hp lo. Pada akhirnya si Iqbal tahu kalau lo pacaran sama Bagus dari mulut Bagus sendiri, harusnya dari mulut lo aja supaya Iqbal nggak terlalu sakit hati nantinya! Kalau udah kayak gini lo mau apa?"


Raut wajah Agnes terlihat khawatir. "Nggak tahu juga sih? Tapi kata Bagus dia punya mata-mata di sana, dan mata-matanya bilang kalau gue setiap hari rabu pas pulang sekolah sering banget ke kelasnya Iqbal. Tapi, perkiraan lo ada benarnya juga, sih?"


"Lah! Kan, itu lo ngelakuinnya sebelun jadian sama, si Bagus? Kenapa jadi bilang ke waktu itu? Setelah lo jadian sama Bagus, 'kan, udah nggak pernah lagi karena lo jaga perasaan dia!"


"Ya ... nggak tahu juga. Gue udah jelasin sama Bagus kalau gue nggak ada apa-apa sama Iqbal. Gue juga bilang kalau nggak percaya tanya sama Syarifa yang tahu segalanya tentang gue, tentang kisah gue dari awal masuk SMA sampai sekarang."

__ADS_1


Ana mengelus punggung Agnes. "Ya udah, lo sabar aja. Nanti, pasti ada titik terangmya kok, " Ana menoleh lagi ke arah Agnes. "Lah? Kok tadi kita ngegas banget kayaknya?"


***


"Apa nggak sekalian aja kerumahnya Alan, ya?" Bermonolog disela-sela mengemudikan kuda besi di jalanan yang cukup sepi serta gelap. "Tapi, 'kan, udah malam, kayaknya nggak sopan berkunjung jam segini."


Ava harusnya sih mau ke rumah Alan setelah sholat isya, tapi ia malah ke asyikan baca novel sambil pakai earphone. Kan, jadinya kebablasan.


Karena bahan makanan untuk bulan ini sudah habis, dan hanya ada nasi putih, jadi sudah sekitar satu jam Ava memutuskan mencari supermarket yang masih buka.


Niatnya ingin membeli stok samyang di supermarket, tapi supermarketnya malah sudah pada tutup karena sudah hampir tengah malam. Ya, maklumlah anak perawan jam segini masih lapar dan kekurangan asupan, padahalkan tadi pas makan malam, Ava paling banyak menghabiskan lauk dan nasi dari pada yang lain. Sayangnya, di kawasan sini mah mana ada supermarket yang buka dua puluh empat jam, warung saja sudah pada tutup.


"Lah? Lah? Lah? Kenapa nih?" gumamnya saat motor yang ia tunggangi memelan. "Yah! Bensin abis lagi!" Turun dari motor lalu menatap sekeliling jalan, siapa tahu ada orang yang sekedar lewat, jadinyakan Ava bisa meminta pertolongan.


"Yah! Mana ada spbu di tempat sepi kayak gini? Jangankan SPBU, angkutan umum mah nggak ada yang lewat di jalan sempit ini! Goblok banget sih lo, Va?! Udah tahu tadi bensin mau abis dan malah nunda mampir demi beli mie samyang? Mana tadi ngelawatin SPBU!"


Bersamaan saat Ava mengumpat seperti itu, pohon-pohon mulai bergoyang diiringi suara kicauan burung. Bukannya terdengar indah, malah sangat menakutkan dalam keadaan seperti ini. Keadaannya semakin mencekam saat sekujur tubuh Ava mulai terasa panas dingin.


Ada juga suara jangkrik dan burung hantu yang menggema di sekitaran jalan, dan hal itu sebagai pelengkap betapa menyeramkannya susasana malam dan jalan ini.


Gadis itu lantas merutuki kebodohannya, terkekeh. "Hehe, maaf. Saya bukan maksud mengejek kok. Iya, jalannya sangat lebar dan ramai."


Di lemari kecilnya sih Ava masih menyimpan dua samyang dan dua minuman isotonic, tapikan Ava tidak mungkin memakan dan meminumnya. Tentu, kalian tahu itu dari siapa, Alan.


"Sepi lagi jalannya. Harusnyakan juga tadi gue terima tawaran Ana untuk nemenin biar nggak sendirian," Merogoh saku celana dan segala saku yang ada di pakaian, gadis itu semakin mengerang, ingin rasanya ia menjerit saat hanya menemukan beberapa lembar uang. "Aaarrrgghh! Sial! Hp nya malah gue tinggal!"


Ava pikir ia tak akan butuh waktu lama keluar rumah dan hanya membutuhkan beberapa menit saja, jadi ia meninggalkan ponselnya di rumah, lebih tepatnya di bawah bantal.


Kenapa hari ini dia sangat sial, sih? Kehabisan bensin di jalan yang sepi, tidak mendapat samyang, ponselnya tertinggal, kelaparan, merinding, dan sendirian pula.


Beberapa saat kemudian, tanpa ia sadari, sekitar sepuluh meter dari arah belakang Ava ada mobil warna putih yang berhenti. Ada tiga orang berjalan mendekat ke arah Ava dengan pakaian serba hitam.


Gadis itu bergidik lalu mengusap leher dan tangan karena hawa dingin yang tiba-tiba semakin menyeruak dan menyerbu seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah baik luar maupun dalam, bola matanya melirik ke segala arah. Takut kalau ada apa-apa nantinya.


Jantung gadis itu berpacu lebih cepat, tak selaras dengan jalan pikirannya saat samar-samar ia mendengar suara langkah kaki dari belakang yang mulai mendekat, ada suara seperti ranting serta dedaunan kering yang terinjak. Keringat dingin mulai bercucuran mulai dari dahi, tangan, pungung, dada, perut, dan kaki, pokoknya semua dah pada keringetan.


Rasanya tuh kayak ditunjuk guru untuk maju menjawab soal hitung-hitungan di depan murid satu kelas, tapi kitanya nggak bisa dan nggak ngerti apa-apa. Pasti tahukan gimana rasanya?


Awalnya sih Ava tak mau menoleh dan langsung kabur saja, tapi entah kenapa ia sangat penasaran siapa yang datang menghampirinya. Siapa tahu jugakan itu orang lewat yang berniat ingin menolongnya.


Perlahan-lahan gadis itu mengarahkan kepalanya untuk menoleh ke belakang.


Memundurkan kaki beberapa langkah. "Astagfirullah!"


...***...


...Kira-kira siapa, hayo?...


...Siapa? Siapa? Siapa? Siapa? Siapa? Menyebalkan juga yah Aku ini?...


...***...


...Ditulis tanggal 20 Noember 2020...


...Dipublish tanggal 11 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2