Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 108 ~ Kaya Mendadak


__ADS_3

...Hai! Assalamu'alaikum teman-teman semua! Apa kabar kalian? Sehat-sehat, 'kan? Jangan pada sakit, harus jaga kesehatan tubuh supaya selalu bahagia dan nggak stres. Banyakin senyum supaya dapat pahala, tapi jangan senyum-senyum sendiri, ya, 'kan, nggak lucu nantinya....


...***...



Saat ini, Dino dan Maudi ada di rumah Ava yang ada di Jakarta. Kemarin, gadis itu terpaksa pulang dari Yogyakarta ke Jakarta demi membantu teman sekeligus menyelesaikan misi mereka.


Karena Agnes dan Ana sudah ada di Amerika, jadi Ava jarang pulang ke rumah yang di Jakarta. Ia menyewa satu asisten rumah tangga dan satu tukang kebun sekaligus supir untuk mengurus rumah selagi pemiliknya tidak ada di Jakarta, kedua orang tersebut juga tinggal di sana karena mereka adalah sepasang suami dan istri.


Dan, gadis itu lebih memilih tinggal di apartement yang dibelikan sang ayah di Yogyakarta sebagai hadiah kelulusan SMA. Bukan tanpa sebab, itu karena mereka tidak mau kalau Ava terus bolak-balik Jakarta - Yogyakarta hanya untuk kuliah. Millica juga membelikan hp apel kroak yang kameranya sudah empat. Keren dan hebat nggak tuh? Orang kaya mah bebas mau beli apa aja.


Hari ini mereka akan segera menyelesaikan misi dan mengungkap semuanya. Mereka bertiga juga sudah mengatur pertemuan dengan ke enam gadis yang dulunya bekerja sebagai babu-babu Maudi beserta orang tua mereka masing-masing di sebuah restaurant yang dekat kantor polisi.


"Ava! Udah belum?" teriak Maudi yang duduk di sofa dengan sang pacar.


Ava keluar dari kamar kemudian menuruni anak tangga satu persatu.


"Let's start the game." Gadis itu menyeringai sangat lebar.


Maudi dan Dino serempak bangkit, mengangguk seraya tersenyum.


"This game will be a lot of fun," ujar Maudi menatap Dino.


***


Seorang gadis kini tengah berhadapan langsung dengan para orang tua serta anak-anak mereka. Dengan sangat berbaik hati Maudi menyewa restaurant ini selama setengah jam hanya untuk menyelesaikan masalahnya.


"Jadi, tujuan saya mengajak pertemuan ini dengan Bapak dan Ibu berserta anak masing-masing adalah untuk menagih hutang."


Semua yang ada di sana lantas menganga tidak percaya akan apa yang mereka dengar saat ini.


"Kalian hutang apa sama, Nak Maudi? Apa yang kita kasih belum cukup sampai kalian berhutang seperti ini?" tanya ibu dari Naomi.


"Kita nggak pernah hutang, Mah!" jawab Naomi menekankan.


"Hutang apaan sih? Perasaan kita nggak pernah hutang sama, lo! Jangan ngarang deh, Di!" murka Maria menunjuk wajah Maudi.


"Kalian punya hutang dengan saya. Apa kalian tidak sadar akan hal itu?" Maudi menepuk kedua tangan beberapa kali. "Ke sini dong guys! Kita kasih bukti ke mereka semua."


Dua orang dengan jenis kelamin berbeda datang dari arah belakang. Keduanya sama-sama duduk di samping kanan dan kiri Maudi.


Yang ada di sana sontak sangat terkejut, terutama ke enam gadis yang duduk di depan mereka bertiga. Saking terkejutnya sangat susah menutup mulut dan mata yang membelalak.


"Maksud lo apa kayak gini? Katanya lo benci sama mereka? Kok, sekarang lo malah khianatin kita dan buang kita?" sinis Ravina.


"Sejak kapan kalian berteman? Selama ini gue baru tahu ada penghianat di geng kita. Pantas, sebelum-sebelumnya lo nggak pernah lagi ngebully Ava dan selalu menatap dan berurusan dama Dino!" cibir Fera bersedekap dada.


"Jadi, kalian berenam selalu ngebully orang di sekolah?!" sentak Ibu Fera tak kuasa menahan amarah.


"Mohon maaf sebelumnya, saya harap Bapak dan Ibu diam dulu, biarkan ke tujuh gadis tersebut menyelesaikan masalahnya," sela Dino


"Iya! Selama ini lo sekongkol sama, Ava? Dan, lo pacaran sama, Dino?" tebak Reva ikut-ikutan.


Davina bersedekap dada. Gadis itu tersenyum kecut. "Harusnya juga, kita nggak pernah dekat dan kenal sama lo kalau ujungnya bakal kayak gini!"

__ADS_1


Maudi terkekeh. Ini adalah hari gadis itu, hari di mana ia membalas dendam dan menuntut apa yang seharusnya menjadi haknya. Ava dan Dino tidak perduli semurka apa Maudi nanti, yang penting ke enam gadis itu mendapat pelajaran yang sesungguhnya.


"Harusnya saya yang tanya itu ke kalian semua. Kalian memang tulus berteman dengansSaya atau hanya memanfaatkan harta saya?" Menatap satu-persatu ke arah enam gadis di depannya. Melihat wajah mereka yang terlihat amat sangat marah membuat Maudi sangat bahagia.


Katakanlah saat ini gadis itu kejam, karena memang iya.


"Seorang teman harusnya selalu ada di saat kita butuhkan dan dalam keadaan apa pun. Seorang teman harusnya mengerti temannya tanpa harus diminta. Seorang teman harusnya mendengarkan temannya berbicara atau mencurahkan isi hati mengenai apa yang temannya rasakan tanpa menyela. Seorang teman harusnya memberi solusi dalam keadaan apa pun, bukannya membedakan kalau diri sendiri yang harusnya diberi solusi."


"Seorang teman harusnya tidak mengabaikan temannya saat tidak lagi memiliki siapa pun dan apa pun. Seorang teman harusnya tulus dan tanpa pamrih untuk membantu temannya. Dan, seorang teman harusnya nggak menanfaatkan harta temannya demi memenuhi hasrat diri sendiri. Apa kalian pernah melakukan hal itu? Apa kalian pernah memperlakukan saya layaknya teman? Jelas terlihat kalau kalian adalah babu dan saya majikan kalian. Benar, bukan?"


"You damn, Girl!" Reny mengambil jus jeruk di depannya kemudian berajak akan menyiramkannya ke wajah Maudi.


Sebelum hal itu terjadi, Dino dengan gesit mencengram tangan gadis itu. Cowo itu merebut gelas tersebut. "Don't mess with it if you still want your hands to be normal."


"Jangan sentuh anak saya! Saya akan laporkan kalian semua laporkan ke polisi!" ancam Ibu Reny tidak terima.


"Saya lebih bisa melaporkan anak Ibu san Bapak ke polisi dengan banyak tuduhan sekaligus. Di dekat sini ada kantor polisi, want to go there to prove?" tawar Maudi masih santai.


Perlahan Dino melapas cengraman tangannya dari tangan Reny.


"Right. Semua tuduhan dan tebakan kalian benar.Tapi, sayangnya saya yang akan mendapat hadiahnya. Play the recordin.,"


Ava mengeluarkan laptop yang sudah tersambung ke flashdisk, mengarahkan layar laptop ke arah para orang tua. "Silahkan Ibu dan Bapak dengar. Ini adalah ribuan rekaman suara selama tiga tahun anak Bapak dan Ibu bekerja sebagai babu Maudi." Memencet tombol play.


Ketiga remaja tersebut tidak segan memanggil enam gadis remaja itu dengan sebutan "Babu" karena itu memang benar.


Ke enam gadis di depan mereka bertiga menatap Maudi sengit. Ada kilatan kemarahan yang terpancar di mata masing-masing. Para orang tua mereka mulai mendekat dan mendengar rekaman suara tersebut.


"Maudi, lo yang bayarin kita shopping hari ini."


"Maudi, gue nggaj bawa uang. Sekalian bayarin yah."


"Maudi, bayarin kita makan dong. Uang kita habis soalnya."


"Maudi, pinjam mobil lo dong! Kita nggak bawa mobil."


"Maudi, sekarang juga lo harus neraktir kita makan di makanan yang mewah!"


"Maudi, jangan bilang ke orang tua lo kalau kita sering pinjam mobil dan minta uang ke lo, ya!"


"Jadi, ini alasan Maudi selalu bertanya lagi dan pura-pura tidak mendengar saat kita meminta sesuatu?" iya, mungkin pertanyaan inilah yang ada di pikiran ke enam gadis tersebut.


Ava mematikan rekaman suara itu. "Bagaimana Bapak dan Ibu? Masih mau mendengar lagi? Atau mau disalinkan filenya supaya bisa mendengar lebih banyak segala permintaan dan ucapan menjijikkan dari anak Bapak dan Ibu?"


Para orang tua ke enam gadis tersebut menggeleng lemah diiringi buliran kristal bening yang jatuh dari kelopak mata, membahasi pipi. Mereka semua tidak percaya bahwa anak mereka sendiri memperlakuakan orang lain sejahat itu. Rasa malu? Tentu, itu pasti sangat ada dan sangat menyayat hati. Anak mereka sendiri yang menusuk mereka dari belakang secara bertubi-tubi.


"Dosa apa yang Ibu dan Bapak kalian sehingga kalian membalas mereka seperti itu? Ke mana semua uang dan barang-barang yang orang tua kalian kasih, sehingga kalian dengan berani mengambil hak orang lain. Apa yang orang tua kalian kasih ke kalian sangat kurang?"


"Harusnya kalian beryukur dengan apa yang kalian punya. Apa orang tua kalian tidak memberi itu semua atau bahkan tidak merawat kalian semua? Kalian hanya bersenang-senang tanpa memikirkan sesuatu sedangkan orang tua kalian bantin tulang demi membuat anak mereka bahagia dan semampu mereka menuruti apa keinginan kalian. Jahat sekali, ya, kalian?"


"Lo yang jahat! Kalau lo nggak bilang dari awal, semuanya nggak akan kayak gini!" tukas Maria.


"Anggap saja begitu. Tapi, kalau saya nggak melakukan itu semua, apa kalian bakal jera? Apa kalian nggak akan mencari mangsa lagi? Apa kalian bisa dengan tulus menghargai pertemanan dan persahabatan?" Semua yang ada di sana diam, termasuk Maria yang tidak bisa menjawab. "Kalau saya nggak melakukan ini semua, kalian nggak akan bisa jera dan memahami apa arti pertemanan. Saya juga yakin, saat ini kalian pasti mempunyai mangsa baru. Iya, 'kan?"


Ava menyodorkan enam kertas nota berwarna putih kepada orang tua ke enam gadis itu. "Itu adalah jumlah uang yang harus dilunasi dalam waktu dua bulan untuk menghidupi anak Ibu dan Bapak selama tiga tahun ini. Di situ juga tertera apa saja barang yang di beli anak dari Bapak dan Ibu, mulai dari barang brended, makan, minum, shopping, perawatan, dan lain-lain. Tapi, kalau tidak dilunasi dalam waktu dua bulan, daya dan teman-teman saya terpaksa mengambil jalur hukum."

__ADS_1


Air mata Ibu dan Bapak ke enam gadis tersebut langsung beranak pinak sangat deras layak nya sungai yang terus mengalir. Bagaimana tida syok dan menangis saat tahu kalau jumlah totalnya ada sekitar seratus juta lebih.


"Anak saya nggak mungkin melakukan ini ke, Nak Maudi! Dia anak baik-baik!" bantah Ibu Davina.


"Perlu saya bawakan struk pembayaran? Atau meminta video dari cctv saat anak Bapak dan Ibu saat keluar masuk dari toko di seluruh Jakarta?" tawar Ava dengan cara bicara yang sopan namun dengan nada tajam.


"Dasar nggak punya hati kalian!" maki Naomi.


"Kalian yang nggak punya hati! Kenapa merampas hak milik orang lain? Kalian aja nggak punya hati saat morotin dan manfaatin dia, jadi kenapa dia harus punya hati saat dia ingin merebut kembali miliknya? Kalian pikir, Maudi bakal ngerelain uang tabungan yang udah dia kumpulin selama sepuluh tahun? Dia nggak akan sebaik hati itu karena itu bukan uang yang sedikit. Maka dari itu, jangan suka menjadi gadis jahat dan memanfaatkan ketulusan saat berteman." Dino beralih menatap orang tua ke enam gadis tersebut.


"Mohon maaf sebelumnya Bapak dan Ibu, bukan bermaksud lancang, tapi jika uang itu tidak dilunasi sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, anak Bapak dan Ibu yang akan menanggung akibat dari perbuatannya."


"Kalian pikir aja sendiri. Kurang baik apa coba saat Maudi menutupi semua aib kalian dari publik dengan cara menyewa restaurant ini?"


Tak ada yang menjawab. Semuanya diam dan tek berkutik sama sekali. Orang tua mereka tentu ingin marah bahkan ingin memukul anaknya sendiri. Tapi, entah kenapa rasanya begitu berat dan syok saat mengetahui kelakuan anak-anaknya di luar rumah.


***


"Bye, Ava!" pamit Maudi yang sudah ada di boncengan Dino.


Kedua orang itu sudah ada di halaman depan rumah, sedangkan Ava ada di ambang pintu. Padahal, tadi mereka semua sudah berpamitan.


"Iya!" Ava juga ikut membalas lambaikan gadis itu.


"Tenang, Ava! Nanti kalau uangnya udah kekumpul, lo bakal dikasih katanya! Dia sekarang jadi orang kaya mendadak!" celetuk Dino asal.


"Harus dong! Ini, 'kan , rencana gue!"


"Bye, Gadis Cantik!" teriak Dino bercanda kemudian menjalankan motornya menjauhi pekarangan rumah Ava.


Maudi cemburu? Tidak sama sekali, gadis itu juga tahu kalau Ava adalah cinta pertama Dino semasa SMA. Maudi juga tahu kalau Ava adalah salah satu teman baik Dino. Selain itu juga Ava yang membantu Dino untuk mengungkapkan perasaannya sehingga kedua orang itu tidak jadi memendam rasa akan kesalah pahaman. Jadi, Maudi sama sekali tak ada alasan untuk tidak suka pada Ava. Ia malah sangat banyak berhutang budi pada gadis itu.


Di lain sisi, baru saja kepergian Dino dan Maudi. Ada seorang laki-laki yang juga tengah membonceng gadisnya masuk ke pekarangan rumah Ava.


Sang gadis turun dari motor. Begitupun yang laki-laki. Keduanya kompak mendekati Ava yang belum benar-benar pergi dari ambang pintu.


"Ava!"


Sang gadis yang dipanggil sontak menoleh ke belakang.


"Kalian?"


...***...


...Kalau ditotal uangnya Maudi berarti ada sekitar enam ratus juta juta dong, ya!...


...Dih, bener-bener jadi orang kaya mendadak nih kayaknya!...


...Maudi nya nggak mau bagi-bagi tebar duit gitu sih....


...***...


...Ditulis tanggal 29 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 04 Juni 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2