
...
...
20:18
Malam ini Ava sudah bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan dengan Aras. Tadi saat pulang sekolah Aras meminta Ava untuk menemaninya jalan-jalan.
Ava memakai pakaian casual tapi masih tetap stylish, dengan rambutnya yang di kuncir atas menyisakan anakan rambut yang berterbangan, juga sneakers putih yang sangat cocok di pakai di kaki jenjang Ava.
Ava sudah menunggu Aras selama setengah jam. Tapi Aras belum juga datang dan hp Aras tidak aktif.
Ana mengintip Ava yang tengah bosan menunggu. "Va, mungkin kak Aras nggak jadi datang?"
Ava menoleh ke arah Ana. "Jangan bilang gitu dong. Gue udah dandan cantik-cantik gini masa nggak jadi pergi?"
Ting
Ting
Tiba-tiba hp Ava berbunyi, mungkin itu nontifikasi dari Aras, dan setelah Ava lihat ternyata benar. Ava tersenyum ke arah Ana.
Aras
Maaf, Va
Kita nggak jadi jalan, gue baru ingat kalau ada janji sama yang menang kemarin,
Wajah Ava langsung murung, kesal cemberut, marah, pokok nya campur aduk.
^^^Ava^^^
^^^Gimana sih, Kak? Gue tuh udah dandan cantik-cantik, kok nggak jadi? Gue juga udah nunggu setengah jam, mau chat tapi lo nggak aktif!^^^
Aras
Yaa maaf, Va. Lain kali aja deh.
^^^Ava^^^
^^^Iya, lain kali.^^^
Ava bangkit dan langsung melemparkan hp nya ke Ana, dengan sigap Ana langsung menangkap hp Ava.
Ava sengaja berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya, lalu menutup pintunya sekeras mungkin. Agnes saja yang tengah mendengarkan lagu dengan headphone di ruang tamu masih bisa mendengar.
Agnes berjalan kepintu menyusul Ana. "Ada apa, Na?"
Ana menunjukkan chat Ava dan Aras tadi pada Agnes. "Gila, Ava kalau marah ternyata nggak inget malu, ya?" heran Agnes.
"Udah biarin aja. Dia, 'kan, lagi pms, kalau gue mah bakalan lebih parah lagi marahnya,"
"Gimana kalau kita keluar aja sekalian? Kasian tuh Ava udah dandan malah nggak jadi." usul Ana, dan di angguki Agnes.
Sesegera mungkin Ana dan Agnes pergi ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap pergi. Mereka tahu Ava tidak akan menolak ajakan kedua gadis itu.
***
Setelah selesai bersiap-siap mereka pergi ke kamar Ava. Agnes mengetuk kamar Ava beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Jadi mereka memutuskan untuk langsung masuk saja, dan untungnya kamar Ava tidak di kunci.
Dilihatnya Ava yang duduk di depan cermin, sambil mencoret-coret secarik kertas dengan bolpoin.
Ana dan Agnes menghampiri Ava, lalu memegang pundak cewe itu.
"Ava, keluar yuk jalan jalan, boring nih di rumah," ajak Agnes.
"Iya, kita juga udah siap-siap." sambung Ana ikut membujuk, lalu meletakkan hp Ava tepat di depan cewe itu.
Ava menghela nafas, memasukkan hp nya kedalam tas selempang dan menatap datar kedua sahabatnya.
Tapi detik berikutnya, senyum Ava mengembang sempurna. "Yaudah, yuk!" jawab Ava semangat 45, ia berjalan duluan.
Agnes berbisik pada Ana. "Cepet banget sembuhnya?"
__ADS_1
"Iya ,tapi yang penting sekarang dia udah nggak bad mood lagi."
Mereka berangkat dengan mobil, karena Agnes yang paling jago bawa mobil jadi dia yang menyetir, dan mereka sengaja mencari cafè terdekat.
***
Mereka akhirnya sampai di sebuah cafè yang baru di buka beberapa hari yang lalu.
Sangat ramai disini. Ava mencari-cari tempat duduk yang kosong, tapi ia tidak menemukannya. Ada satu meja yang kosong, tapi sepertinya itu sudah di pesan.
"Aah, di sana aja masih ada tempat kosong." ujar Ana yang melihat di salah satu meja ada Justin, Bagus, dan Alan.
Tapi Ava kurang yakin akan hal itu, jika di ingat sikap Alan yang tadi siang sangat dingin padanya. Agnes menarik tangan Ava, jadi mau tidak mau Ava harus duduk bergabung bersama Alan.
"Boleh gabung, nggak?" tanya Ana. Dengan senang hati Justin akan mempersilahkannya.
"Iya, duduk aja."
Alan masih diam sambil memainkan hp nya, jangan kan bicara, menatap Ava saja Alan tidak mau. Ava jadi canggung, Bagus menatap bergantian ke arah Ava dan Alan, Bagus benci situasi ini.
Dengan gerakan cepat Bagus merebut hp Alan dari genggamannya. "Apaan, sih?" protes Alan dengan nada tajam.
"Kalau mau makan jangan main hp, nggak baik." Alan memutar bola mata malas, ia tau apa maksud Bagus.
Tiba-tiba dari arah pintu, Ava melihat Aras dan cewe yang dirasa tidak asing bagi nya duduk di kursi yang kosong tadi.
...
...
"Itu bukannya cewe yang minta kardus ke gue kemarin, 'kan, waktu MPLS?"
Ava menoel tangan Agnes dan Ana yang ada di sampingnya. "Eh ... eh, itu bukannya cewe yang waktu MPLS pertama minta kardus punya gue buat name tag, 'kan? Tapi Gue nggak kasih karena takut kurang,"
Ana menatap cewe itu penuh selidik, apakah yang di bicarakan Ava benar adanya. "Nggak tahu deh. Va. Lupa gue wajahnya ... tapi kayaknya emang iya yang itu orangnya."
Ava mengangguk pelan, sedangkan kedua temannya mengobrol kembali bersama Bagus dan Justin, kalau Alan cowo itu tengah menatap Ava tidak suka karena menatap Aras begitu intens.
"Seorang Kak Aras yang holkay mau makan di tempat kayak gini? Kepaksa itu mah kayaknya." gerutu Ava dalam hati sambil terus menatap ke arah cewe itu.
Alan mengikuti arah mata Ava, dan Alan sudah tahu apa penyebabnya. "Ekhem-ekhem ...." Alan sengaja berdehem agar Ava sadar, dan itu berhasil.
Seorang pelayan cowo datang menghampiri mereka berenam. Ava masih saja melihat pergerakan Aras bersama cewe itu, terlihat biasa saja, tapi entah kenapa terlihat romantis.
"Romantisan juga sama gue, itu karena menang aja, kalau gue ,'kan, beneran." cibir Ava dalam hati, menyombongkan dirinya.
"Ava!" panggil Ana setengah berteriak.
"Apaan?" tanya gadis itu kesal sendiri.
Ana geregetan. "Lo pesan apa? Di panggil-panggil dari tadi nggak nyaut-nyaut!"
"Aah ... ooh, steak sama jus alpukat, sedikit gula, banyak susunya tapi jangan terlalu manis."
Alan diam-diam tersenyum mendengar pernyataan Ava. Selalu saja seperti itu saat memesan jus alpukat.
Ava menyuruh pelayan cowo itu mendekat ke arahnya dan membisikkan sesuatu, sambil memberikan selembar uang berwarna biru.
"Apapun alasannya, nanti, Mas, taruh saus pedas di meja yang sana." Ava menunjuk ke arah meja Aras, pelayan itu menganguk mengerti lalu pergi.
"Awas aja, gue kerjain kalian!" Ava tersenyum licik, dirinya punya ide cemerlang.
***
Setelah beberapa menit menunggu pesanan mereka datang. Ava lihat pelayan cowo tadi sudah menaruh saus di meja Aras, apapun alasannya Ava tidak peduli itu.
Ava bangkit sambil membawa steak, pisau, dan garpu lalu menuju meja Aras. Teman-teman Ava melihat apa yang akan Ava lakukan, tak terkecuali Alan.
...
...
__ADS_1
"Eeh hai, maaf yaaa mau ngambil saus ..." Ava tiba-tiba duduk di samping Aras.
Aras terkejut dengan kedatangan Ava. "Eeh, Ava?"
Ava hanya tersenyum jail yang mengarah pada gadis di depan Aras, Ava menuangkan sedikit saus pedas kedalam steaknya.
"Terus, kalau udah ini di potong-potong ..." Ava menusuk nusuk-nusukkan daging steaknya dengan pisau secara bertubi-tubi menatap gadis itu tajam, sampai-sampai mejanya saja sedikit bergetar.
Saat Ava memasukkan potongan daging itupun. Ava masih menatap tajam ke arah gadis itu, bisa Ava lihat gadis itu perlahan-lahan mengeluarkan keringat dingin.
Sepertinya gadis itu takut?
Teman-teman Ava yang sedang makan menyaksikan kejadian itupun hanya bisa menahan tawa.
"Gila si, Ava! Kalau marah pas lagi pms nyeremin banget, kayak psikopat!" celetuk Justin berdecak kagum dan di hadiahi tatapan membunuh oleh Ana.
"Kayaknya, dia baru kali ini marah sampai gitu?" tebak Agnes masih menonton kejadian itu.
Alan diam diam tersenyum. Bagus yang menyadari itupun ikut tersenyum lalu beralih menatap Agnes yang juga mengetahuibya.
"Dasar, cewek penakut." cibir Ava pelan. Sampai hanya dirinya yang bisa mendengar.
Setelah puas akhirnya Ava tersenyum senang, kembali bergabung bersama teman-temannya, rasa kesal Ava sedikit hilang kali ini.
"Udah udah, ayo makan." ujar Ava sambil tersenyum. Seperti tidak terjadi apa-apa. Teman-teman Ava hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
***
Tapi beberapa menit kemudian Ava melihat Aras dan gadis itu saling suap-suapan.
"Emang harus yah, pake suap-suapan gitu?" batin yang sedari tadi tak kunjung berhenti untuk menggerutu.
Ava yang perlahan-lahan rasa kesalnya tadi hilang, kini malah semakin membara. Rasanya Ava ingin sekali membunuh gadis di depan Aras, dan menusukkan pisau yang di bawanya tepat di jantung gadis itu, setelah itu menusukkan pisau ke kepala Aras tepat di otaknya.
Agar kisah mereka, menjadi kisah cinta yang tragis di cafè baru.
Ava yang masih belum selesai makan, kembali melampiaskan amarahnya kepada steak yang masih tersisa di piring, sambil menatap kedua orang yang saat ini ingin di bunuhnya.
Teman-teman Ava yang menyadari itu, hanya bisa diam tanpa mau mengusik kemarahan sang gadis.
Alan kesal, kenapa ia terus saja menatap ke arah Aras. Sedangkan Alan, ingin Ava sekali kali menatap dirinya.
Alan bangkit meletakkan dua lembar uang berwarna merah di meja, lalu menarik Ava keluar dari dalam cafè, gadis itu tidak menolaknya sama sekali.
***
Ava sangat butuh penyemangat sekarang untuk menenangkan dirinya. Tapi Alan bahkan hanya berjalan beriringan dan diam saja tanpa melakukan apapun.
"Buat apa lo ngajak gue keluar? Kalau lo nggak ngelakuin apapun?" sindir Ava sinis, tapi tak ada reaksi apapun dari Alan.
Ava punya ide yang sangat bagus agar Alan mau melakukan sesuatu untuk Ava.
"Huhuhuhuhu ... huwaaaaaaa ... hiks ... hiks ... hiks ... "
Ava sengaja pura-pura menangis sambil berjalan. Air matanya saja tidak ada yang keluar sama sekali, bukan pura-pura menangis, lebih tepatnya Ava hanya bersuara.
Alan tetap diam dan tidak perduli, jadi Ava menambah suarabya agar lebih keras. "Huwaaaaaaaa! Huwaaaaaaaaa!" Alan menghela nafasnya kasar, Alan sangat tahu kalau gadis di sampingnya hanya bersuara.
Karena Ava terlalu berisik, jadi Alan menghentikan jalannya, ia sangat terganggu dengan suara Ava. Alan sontak memeluk gadis tersebut, mengelus-ngelus kepala dan punggung Ava pelan.
Dan seketika Ava langsung diam. Gadis itu tersenyum dalam pelukan Alan, saat rencananya berhasil.
"Entah kenapa, gue ngerasa kalau kak Aras mengistimewakan gue, ya? Kalau jalan sama gue selalu di bawa ke tempat yang mewah, tapi kalau sama cewe lain ke tempat yang biasa-biasa aja." batin Ava sambil senyum-senyum sendiri.
Alan pun ikut tersenyum karena tingkah Ava yang sangat tidak jelas itu. Tapi Alan suka karena terlihat menggemaskan. "Tuhan, tolong biarkan seperti ini dulu. Sebentar pun juga tidak apa-apa asalkan tidak ada yang mengganggu."
Alan tidak tahu saja siapa yang saat ini tengah Ava pikirkan.
...***...
...Ditulis tanggal 28 April 2020...
...Dipublish tanggal 17 Februari 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....