Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 58 ~ Cafè Istimewa


__ADS_3

...



...


Yang Ava lihat pertama kali di cafè itu adalah Alan yang mengenakan tuxedo warna merah hitam. Semua yang dikenakan cowok itu berwarna hitam, terlihat sangat cocok dan pantas dikenakan Alan karena cowok itu terlihat sangat-sangat tampan dan mempesona, ditambah lagi kulit Alan yang putih membuatnya semakin bersinar terang di antara yang lain. Bahkan Ava yakin siapapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta.


Alan menghampiri Ava dengan senyum yang sedari tadi terukir jelas di bibir cowok itu. Alan mengulurkan tangannya, sedangkan Ava hanya bisa berkaca-kaca sambil membalas uluran tangan Alan. Cowok itu membawa Ava ke atas panggung, keduanya berjalan beriringan bersama.


Ava melihat kesekelilingnya, ada sahabat dan teman-temannya, dan juga anak-anak lain yang Ava tahu itu adalah siswa dari SMAN Tri Bakti.


Di samping panggung juga ada Tripod screen projector yang memperlihatkan puluhan atau bahkan ratusan foto-foto Alan dan Ava dari LCD projector, yang bahkan Ava tidak tahu itu dapat dari mana.


Ava sadar bahwa cafè ini adalah cafè kesukaan Alan dan Ava, karena cafè ini tempat di mana pertama kali Ava dan Alan saling berkenalan satu sama lain. Hingga akhirnya menuntun mereka lebih dekat dan lebih mengerti satu sama lain dan akhirnya sampai pada titik ini.


Gadis itu ingin menangis haru, tapi tidak, ia tidak boleh menangis karena nanti make up nya akan luntur. Ava terkekeh karena tanpa sadar dress yang ia kenakan warnanya sama dengan tuxedo Alan. Gadis itu mengusap sedikit air matanya yang berlinang agar tidak jadi mengalir.


Alan memegang kedua tangan gadis di depannya dan menatapnya dengan seksama. "Ava, gue nggak tahu kapan perasaan suka itu tumbuh mejadi rasa sayang ke lo, tanpa sadar dan tiba-tiba aja rasa itu muncul perlahan-lahan dan semakin kuat."


"Gue selalu nyaman dan bahagia saat sama lo, kapan dan di manapun itu. Terkadang, ada rasa sakit hati saat ngelihat lo sama kak Aras ketawa dan bercanda bareng, saat lo selalu bahas kak Aras, dan saat lo belain kak Aras di depan gue, taupun tanpa sadar saat lo ngebanding-bandingin gue sama kak Aras."


Alan memajukan dirinya satu langkah di depan Ava. "Tapi anehnya, gue sama sekali nggak bisa marah ataupun kesal sama lo, karena niat ue cuma satu, yaitu ngebahagiain lo dan ngewujudin semua impian lo saat gue mampu."


"Gue tahu gue bukan cowok romantis yang bisa bikin lo senyum-senyum sendiri, gue bukan cowok humoris yang setiap hari bisa bikin lo ngakak karena candaan gue, dan gue juga bukan cowok peka yang tahu semua keinginan lo tanpa lo bilang apapun. Gue cuma cowok yang nggak perduli sama sekitar dan cowok cuek yang lagi berusaha bikin gadis di depannya ini nyaman."


Tanpa sadar, ada ada cairan bening yang sedari tadi sudah membasahi pipi Ava. Gadis itu menangis karena bahagia dan terharu akan apa yang Alan ucapkan. Tidak Ava sangka, cowok di depannya bukan manis dari luarnya saja, tapi juga manis dari dalam. Alan sangat terlihat tulus mengucapkan semua kalimat itu.


Di belakang cowok itu sudah ada Justin yang membawa boneka beruang berukuran besar, sebuket bunga, dan juga coklat berbentuk love. Justin meletakkan semua barang barang tersebut tepat di samping Alan lalu turun dari panggung menyusul Ana.


Sebuah lagu tiba-tiba menggema di seluruh ruangan cafè. Ava tidak asing dengan lagu itu karena Ava seperti sudah mendengarnya, tapi ia lupa mendengarnya di mana.


Iya. Itu lagu yang tengah diputar, yang di mana lagu itu adalah lagu saat Ava merengek di toko ice cream agar Alan melakukan semua yang ada di video yang Ava lihat di media sosial.


Justin mengangkat kedua tangannya ke atas untuk mengisyaratkan kepada para tamu undangan di sana agar ikut bernyanyi bersama-sama.


There's only one thing.


Alan memberikan coklat berbentuk love.


Two do.


Alan memberikan  boneka beruang.


Three words.


Alan memberikan sebuket bunga.


For you.


Alan berlutut di depan Ava.


"I love you."


Alan mengulurkan tangannya, berharap Ava membalas dan menerima uluran tangan cowok itu.


Semua tamu undangan berhenti menyanyi karena mereka semua hanya bernyanyi bagian itu saja, tapi lagunya pun masih tetap terputar dan terdengar sampai selesai.

__ADS_1


Ava tersenyum kecut, tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Alan saat ini. Di sisi lain Ava bahagia dan di sisi lain Ava sedih dan juga kecewa akan apa yang Alan lakukan saat ini.


Kenapa Ava sedih dan kecewa karena Alan? Bukankah harusnya Ava bahagia karena ini yang Ava inginkan selama ini? Semoga saja tidak terjadi apa-apa kedepannya.


Alan tersenyum karena Ava menatapnya sambil tersenyum. "Gue nggak tahu gimana perasaan lo, tapi gue harap lo bisa jawab malam ini juga. Ava, apa lo mau jadi pacar gue? Kalau lo mau, lo boleh ambil semua barang-barang itu, tapi kalau lo nolak lo boleh buang saat ini juga."


Ava menatap buket bunga yang diberikan Alan, lalu menatap cowok di depannya lagi. Senyuman Ava perlahan-lahan menghilang dari wajah cantiknya. Tapi detik berikutnya gadis membuang semua pemberian Alan, yang sontak membuat semua tamu undangan di sana melotot dan mengaga tidak percaya, tak terkecuali Alan yang lebih tidak percaya.


Apa yang Ava mau dan harap kan sih sebenarnya? Kenapa saat ini Ava begitu jahat dengan cowok di depannya ini? Sudah tidak tahu lagi apa yang Ava pikirkan saat ini.


Alan kembali berdiri tegak, senyuman manis di wajah Alan juga perlahan-lahan hilang. "It's okay. Lo nggak perlu merasa bersalah karena nolak gue." Alan mengusap air mata Ava yang terus mengalir deras.


Ava berbalik ingin turun dari panggung, karena semua sudah selesai sampai di sini, tapi tanpa ada seorang pun yang menduga hal itu, Ava justu berlari lalu memeluk Alan dari belakang, yang juga membuat cowok tersebut terkejut untuk ke dua kalinya.


Gadis itu terkekeh. "Gue nggak akan bisa meluk lo kalau gue bawa barang-barang itu. Gue senang dan bahagia. Walaupun, lo udah ngecewain gue." Gadis itu memelankan lima kata terakhir sehingga Alan tidak dapat mendengarnya sama sekali.


Apa maksud Ava mengatakan hal itu? Apa yang Alan perbuat sebenarnya? Hanya Ava dan Tuhan lah yang tahu.


Mungkin juga jika ada yang sadar orang itu juga akan tahu apa yang dirasakan Ava saat ini, tapi Ava pikir mungkin tidak ada yang menyadari hal itu.


Tapi sejujurnya apa yang tidak orang sadari?


Cowok itu berbalik lalu balas memeluk Ava. Seluruh tamu undangan yang ada di sana langsung tersenyum. Sorak-sorakan, jeritan, dan tepuk tangan menggema di sana, ikut memeriahkankan dan turut berbahagia akan hal itu.


***


22:60


Semua teman-teman Ava duduk menjadi satu di sofa panjang khusus untuk Ava dkk dan Alan dkk. Tamu-tamu yang tadi diundang juga sudah pulang karena sudah malam, dan besok mereka juga akan sekolah.


"Ini semua Alan yang ngerencanain, karena katanya lo pernah bilang kalau lo pengen digituin. Maaf juga karena seharian ini kita semua ngacangin dan nggak perduli sama lo," ungkap Justin.


Ana terkekeh pelan. "Seharian ini gue juga nyari dan ngedaftar anak-anak yang ngedukung hubungan kalian berdua untuk diundang. Alan tadi juga nggak beli bensin, tapi dia ngecek apa dekorasi dan lainnya udah siap apa belum. Terus sembari lo nunggu di sekolah kita ikut bantu-bantu juga, dan saat lo pulang kita udah harus ada di rumah."


Agnes menepuk pundak Ava yang ada di sampingnya. "Lo juga pasti kaget dan bingung, ya, di mana kita bisa dapetin ratusan foto lo sama Alan? Karena jawabannya gue sama Ana yang ngumpulin foto-foto itu mulai dari kalian yang nggak dekat sampai kalian deket dan jadian kayak sekarang ini. Terus digabung dan dijadiin video deh. Oh iya, yang ngedit tuh si Rio." Agnes menunjuk Rio yang tengah bersedekap dada.


Rio tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya bangga.


Ava dan Ana bertos ria diiringi tawa renyah mereka. Mereka berdua juga senang ikut berpartisipasi.


"Iya, gue sama Revan harusnya nggak setuju dan akan berniat gagalin malahan. Tapi karena ini demi kebahagiaan Ava, kita berdua setuju." Dino dan Revan saling merangkul kemudian mengangguk.


Ava menatap semua teman-temannya. "Makasih kalian semua udah ngasih kejutan menakjubkan ke gue." Ana, Agnes, Justin, Safira, Syarifa, Bagus, Dino, Revan dan yang lainnya tersenyum mengangguk.


Ava menyandarkan kepalanya di bahu Alan yang saat ini tengah merangkulnya. "Makasih ya, Lan. Lo udah rela nyewa dan ngelakuin apa yang dari dulu gue impikan."


Cowok itu tersenyum, rencananya kali ini sangat berjalan sukses tanpa ada halangan apapun.


Ava memeluk Alan sangat erat. "Jangan tinggalin gue yah," pinta Ava dengan nada yang sedikit serak, bibirnya bergetar dan matanya berkaca-kaca.


"Yaa, nggak lah, Ava! Alan, 'kan, sayang banget sama lo. Iya nggak, Lan?" Itu suara Syarifa yang menyahuti.


Alan mengangguk dengan cepat sambil menyelipkan anakan rambut Ava yang menutupi wajah gadis itu. "Iya, enggak kok."


Sang gadis itu sendiri tersenyum samar mendengarnya dan berharap semoga hubungannya dengan Alan berjalan dengan baik.


Ava melirik ke arah jendela karena tadi ia sempat melihat ada sekelibat bayangan hitam yang melintas. Apakah itu dia?

__ADS_1


"Ava, lo kenapa? Kok, kayak tegang gitu?" tanya Syarifa sadar akan gerak-gerik gadis itu yang terlihat mencurigakan?


Sang gadis yang ditanyai menoleh. "Enggak. Nggak ada apa-apa kok. Cuma salah lihat aja."


Semoga itu bukan dia. Tuhan, tolong bantu saya.


***


23:58


Ava sudah mengganti dan membersihkan tubuhnya, tapi ia bahkan belum bisa tidur sama sekali. Tiba-tiba rasa kantuknya hilang dan tidak kunjung datang.


Ava sangat bahagia dan senang, tapi ada rasa kecewa dan sedih menyelip serta mengganjal di hatinya.


Ava menatap boneka beruang, sebuket bunga, dan coklat di sampingnya. Ava berdiri dari bad kasur lalu membuang sebuket bunga itu ke dalam tempat sampah di samping kamar mandi.


Ava kenapa sih sebenarnya sampai membuat bunga itu ke tempat sampah? Apa Ava tidak suka bunga itu? Atau mungkin juga Ava alergi terhadap bunga? Ah! tidak tahulah, pusing menghadapi sifat Ava yang sangat tidak jelas ini


Ting


Ting


Ava duduk kembali di atas bad kasur, kemudian mengecek ponselnya karena ada pesan masuk.


+62 8966 ×××× ××××


Semua orang mungkin tidak sadar akan simbol dan kode itu, tapi Aku yang ada di sana paham dan tahu apa artinya.


Sampai bertemu hari esok tanpa dia yang menemani.


Bulu kuduk Ava tiba-tiba berdiri, gadis itu menatap ke sekeliling kamar bahkan ke arah jendela. Ava menelan ludahnya dengan susah payah. "Berarti, itu yang tadi lewat benar dia? Dia datang ke cafè itu?"


Ia sangat paham betul apa yang dibicarakan sang peneror itu, tapi yang Ava pikirkan adalah kenapa peneror itu tahu tentang hal itu? Apakah dia ada di sana ikut bergambung bersama di cafè tadi? Apakah peneror itu juga menyaksikan kejadian tadi? Apa ada mata-mata yang membantu sang peneror itu sebab itu dia tahu? Apa peneror itu adalah satu di antara teman-temannya? Atau bahkan sekelibat bayangan tadi?


Gadis itu segera berdiri mengunci pintu kamar dan mengecek jendela kamarnya untuk memastikan semua ruangan di kamar Ava terkunci tanpa ada celah sedikitpun, lalu kembali duduk di atas bad kasur


Pokoknya pertanyaan itu yang ada di dalam pikiran Ava saat ini. Gadis itu meletakkan hp nya si atas laci lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut. Besok setelah bangun tidur ia akan memikirkan semuanya, karena saat ini Ava hanya butuh istirahat setelah seharian banyak kejadian yang terjadi.


...***...


...Pegel banget tangan Aku, soalnya Aku disuruh guru PPKN buat nulis makalah minimal 15 halaman terus dibikin PDF. Capek nulisnya, capek ngeditnya, capek bacanya. Pokoknya capek semuanya dah....


...***...


...Hayoloh, siapa yang keppo sama kode dan symbol yang di maksud Ava dan sang peneror itu?...


...Terus, kira-kira siapa yang neror, Ava? Karena dia tahu semua tentang Ava, terus ada di tempat kejadiannya lagi?...


...Kalau keppo, yuk tungguin dan baca terus kisahnya! Karena setiap chapter akan tambah lebih seru!...


...***...


...Ditulis tanggal 30 September 2020...


...Dipublish tanggal 16 April 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2