Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 69 ~ Kesal


__ADS_3

...



...


06:06


"Maaf, ya, Bunda. Ava nggak bisa nemenin Bunda ke bandara, soalnya, 'kan, di sekolah ngadain lomba 17- an, dan kalau nggak berangkat atau telat bakal kena sanksi." Ava memeluk Millica sangat erat di ambang pintu.


Millica terkekeh, mengelus punggung Ava pelan. "Iya, nggak papa kok. Yang penting Ava, Ana, sama Agnes sekolahnya yang benar." Melepas pelukan Ava kemudian menatap dua gadis lainnya yang juga memakai kaus olah raga.


"Mama Mill kok cuma lima hari doang sih di sini? Cepat banget balik ke Amerika nya?" Ana menggoyangkan tubuhnya manja.


"Iya, sebulan kek di sininya? Terus nanti ngajak yang lainnya juga biar tambah ramai." Agnes ikut protes dengan hal itu.


Millica pura-pura berpikir bahwa ia akan menyetujui semua permintaan gadisnya. "Enggak bisa. Semua saham, perusahaan, dan yang lainnyakan ada di sana." Millica menyuruh ketiga gadis itu mendekat kemudian berbisik. "Tiket Amerika-Indonesia mahal." Ia terkekeh pelan.


Ava menoleh ke belakang saat taxi yang ia pesan sudah sampai di depan rumah. "Ya udah, Bunda- Mama Mill pergi dulu, ya. Kalian jangan aneh-aneh di sini, harus saling jaga dan menyemangati. Doain aja Bunda-Mama Mill selamat sampai tujuan." Ketiga gadis itu langsung mengangguk menggemaskan seperti anak kecil.


"Khusus untuk Ava, selalu ingat pesan Bunda tadi malam. Ok?"


Ava tersenyuk sumringah. "Iya, Bunda."


"Bye!" Melambai lalu menyeret satu koper berwarna putih keluar rumah menuju taxi.


"Bye," balas Ava, Ana, dan Agnes secara bersamaan, dengan lambaian yang tak kunjung berhenti sebelum Millica benar-benar sudah meninggalkan area rumah.


Ava bakalan selalu ingat apa kata, Bunda, batinnya dengan seulas senyuman.


"Pesan apa, sih? Kasih tahu dong, kita, 'kan, juga ingin tahu!" rengek Ana manja dibuat-buat.


Ava berjalan menaiki anak tangga satu-persatu, tidak memperdulikan rengekan dan desakan dari kedua sahabat.


"Nggak akan pernah gue kasih tahu," ucap Ava sebelum gadis itu menutup pintu dan menyisakan Ana serta Agnes yang mendengus.


***


Hatinya kembali tergores saat melihat Natalie turun dari motor Alan. Entah mulai sejak kapan Alan menjadi tukang ojek antar jemput Natalie.


"Dunia itu penuh dengen pilihan Ava. Bersikap menyebalkan atau menyenangkan, kuat atau lemah, senyum atau murung, bahagia atau sengsara, berjuang atau menyerah, bukti atau tanpa bukti, diam atau mengejar, menetap atau pergi, melupakan atau mengingat, memaafkan atau memendam, dan Ikhlas atau dendam."


"Tentukan pilihan yang menurut kamu baik dan tidak merugikan orang lain, karena kamu sudah dewasa, jadi pasti bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Tinggalkan saja jika itu membuat kamu lebih baik, buat apa mengejar sesuatu yang bukan hak dan milik kita?"


"Tapi, Ava sayang dan cinta sama, Alan. Kalau Ava berusaha dan semangat, mungkin juga Alan bisa nerima Ava lagi karena cintakan juga butuh perjuangan, Bunda. Memang terkadang ada hal yang seharusnya bukan milik kita, tapi masih bisakan kalau diusahakan dan didoakan pelan-pelan, nanti siapa tahu, Tuhan, merasa kasihan dan dikabulkan?"


"Iya, boleh. Ava boleh mengejar cintanya, Alan. Tapi, kalau orang itu sudah tidak mau, berarti dia memang bukan jodoh kamu. Tuhan juga nggak akan menghianati hambanya yang sudah bekerja keras dan berdoa, karena Tuhan sendiri pun ingin yang terbaik untuk umatnya. Tanpa kamu sadari, nantinya di saat waktu yang tepat, Tuhan pasti menghadiahkan sesuatu yang sangat istimewa untuk umatnya. Satu hal lagi, jangan memaksakan kehendak orang lain. Ok?"


Ava termangu di tempatnya, menatap Millica kemudian tersenyum diiringi anggkukan. "Iya, Bunda."


Millica memeluk sang anak semata wayang dengan penuh keasih sayang dan kenyamanan. Pelukan beribu-ribu orang yang katanya menawarkan kenyamanan dan kehangatan akan kalah sangat jauh dengan pelukan satu orang saja, yaitu Ibu.


Itu salah satu nasehat Millica tadi malam. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam lalu mengembangkan senyumnya sehingga terlihat baik-baik saja tanpa ada beban apapun.


Bersikap menyebalkan atau menyenangkan? ucapnya dalam hati.


Gadis itu berjalan santai tanpa ada beban terlihat jelas di wajahnya, seperti benar-benar baik-baik saja. "Mulai jadi tukang ojek nih kayaknya?" Berjalan di tengah-tengah antara Alan dan juga Natalie.


Natalie dan Alan tentu mendengar itu dengan sangat jelas, karena Ava pun meninggikan suaranya.


Menyebalkan atau menyenangkan? Tentu saja, menyebalkan.


Cowok itu menatap punggung Ava yang mulai menjauh.


"Biarin aja, Lan. Cewe kayak Ava emang gitu. Lo benar udah ninggalin dia, kalau lo bertahan pasti lo bakalan rusak." Gadis itu dengan gencar memaki dan memprofokasi otak Alan.


"Mending lo diam aja kalau nggak tahu apa-apa." Alan pergi meninggalkan Natalie di belakangnya.

__ADS_1


***


"Lo beneran mau di sini sendirian? Nggak mau ke uks aja gitu?" tanya Safira pada gadis di sampingnya yang saat ini tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja.


Tiba-tiba saja sejak menyidir Alan di parkiran badannya menjadi lemas dan sedikit panas. Ditambah dengan tadi pagi gadis itu tidak sarapan sama sekali padahalkan masih ada banyak waktu, hal itu ia lakukan dengan alasan tidak lapar atau tidak ada selera makan.


Tapi sebenarnya sejak dari pagi badan Ava rasanya lemas. Mungkin karena ia kelelahan memikirkan, merasakan, dan mengamati sesuatu. Ups! Kira-kira apa itu?


Apa Ava kena karma? Oh. Tidak! Tidak! Itu tidak akan terjadi. Memangnya siapa Alan? Mantan pacar Ava? Iya, itu memang benar.


"Iya nggak papa kok. Gue juga mau melamun dan menghalu akan sesuatu," jawab gadis itu tanpa menatap sahabatnya.


"Yaudah kalau ada apa-apa, lo tinggal telpon gue, dan gue pasti datang!"


"Yaudah iya, ish! Sana pergi keburu dimarahin dan telat lombanya nanti kalau dipanggil dan nggak ada. Menangin lomba kelereng dan lomba masukin bolpoin ke botol yah!" Kali ini Ava menatap Safira di sampingnya yang juga tengah menatapnya.


Safira memberikan dua jempol sambil tersenyum lebar. "Sip deh, demi lo nih gue mau!"


"Jangan lupa ijinin gue ke, pak Dian, ya!" teriak Ava saat Safira sudah ada di luar berjalan menuju lapangan utama.


"Iya!" sahut gadis itu mengangkat tangan tanpa menoleh ke belakang.


***


Setelah menemui pak Dian di ruang guru untuk mengabsenkan Ava, Safira menyusul semua teman satu kelasnya yang duduk lesehan di depan kelas XII Ips 3.


"Ava mana? Kok nggak ikut?" tanya Revan saat Safira duduk di sampingnya sambil memberikan sebotol air mineral.


Safira menerimanya dengan senang hati. "Nggak ikut. Tiba-tiba aja badannya panas tadi, terus gue ajak dia ke uks nggak mau." Meneguk air mineralnya seperempat lalu menutupnya lagi.


"Yang gantiin Ava balap karung, siapa?"


"Ya, gue lah! Nanti kita kalahin kelas-kelas lain dan bawa piala buat Ava. Setuju?" Gadis itu mengulurkan tangannya.


Revan menjabat tangan Safira. "Setuju!"


Tumben sekali yah Revan dan Safira akur seperti ini, biasanyakan kayak setan dan babon ayam. Jangan? Jangan? Oh ... tentu tidak dong!


Sedangkan gadis itu sendiri sedikit tertegun karena baru pertama kali ini cowok di sampingnya ini mengatakan dengan nada yang cool dan sorot mata ketenangan, layaknya manusia normal gitu. Berarti selama ini Revan nggak normal? Iya, memang tidak normal.


"Yaa sadar sih. Tapikan nggak tahu juga gimana yang sebenarnya, siapa tahu Dino cuma mau berbuat baik sama tu cewe. Lo dan kita semua juga tahu kalau Maudi nggak di sukai sama teman cowok di kelas." Itu jawaban Safira yang menahan semburat merah muncul di pipinya.


Revan menoleh lalu menatap gadis galak nan brutal di sampingnya. Hal itu membuat pipi Safira semakin memerah bak lipstiknya si Risma kelas X Bahasa yang sangat merah merona.


"Ngapain lo liat-liat?" sentak Safira mengalihkan pandangan.


Revan mendelik. "Idih ge'er banget lo jadi orang! Gue mah liatin Dino tuh yang ada di sana lagi natap Maudi sembunyi-sembunyi!" Revan menunjuk Dino yang duduk di paling ujung tengah menatap Maudi yang duduk di depan kelas XII Ips 4.


Sedetik kemudian keduanya langsung diam menatap lurus ke depan tanpa ada yang mulai bicara. Mungkin mereka heran kenapa bisa berbicara tanpa adanya pertengkaran, lebih baik menganggap tidak terjadi apa-apa untuk menyembunyikan rasa malu.


Kok pipi gue rasanya panas yah?


Itu pertanyaan yang ada di hati Safira.


Kok gue jadi deg-degan gini, sih?


Kalau ini pertanyaan yang ada di pikiran Revan.


Untuk menyembunyikan itu semua, Revan dan Safira memilih menonton lomba kelereng dengan cara memindahkan kelereng satu-persatu dari satu sisi ke sisi lain dengan menggunakan sendok.


...



...


...(Itu cuma ilustrasi untuk lomba kelerengnya, ya, Readers. Dulu saat di SMP Aku juga kayak gitu, jadi salting parah dalam keadaan sedekat itu karena, 'kan, selang-seling perempuan sama laki-laki. Selain itu, posisi kepalanya tuh enggak yang lurus kayak di gambar, miring kek orang mau ciuman gitu. Ada sekitar 15 orang yang ikut kalau nggak salah)...

__ADS_1


***


"Uhuk-uhuk!" Justin pura-pura batuk saat melihat Natalie yang terus berusaha memaksa menyuapi Alan camilan.


"Lo aja." Itu jawaban Alan, terdengar sangat cuek dan dingin, tak pernah berubah sedikitpun.


Tak pantang menyerah, Natalie terus saja memaksa sampai Alan mau memakan dari tangan kotornya. Iya, itu kata Justin, kalau Justin jadi Alan, ia pasti tidak akan pernah sudi memakan dari tangan najis Natalie.


Justin juga yakin, kalau Alan sama sekali tidak bahagia dengan pilihannya saat ini. Tidak tahu apa yang dipikirkan Alan saat itu, yang terpenting Justin tidak akan pernah suka dengan Natalie. Selain Natalie bermuka dua dari awal sampai akhir, Natalie kini mulai membuka topengnya yang asalnya kalem dan lemah lembut menjadi orang yang sangat pemaksa dan terlihat ganjen.


Auranya seperti ada yang disembunyikan gadis itu.


"Sekali aja, Lan, setelah itu nggak lagi deh!" paksa Natalie menyodorkan camilan berbentuk stik.


Sayangnya jawaban Alan tetap sama seperti sebelumnya. "Lo aja."


Justin memijit pelipisnya, ia sudah sangat malas mendengar suara Natalie yang sangat berisik.


Makan apa sih ni cewek? Cabe? Nyerocos mulu kerjaannya! gumam Justin pelan. Ingat, hanya dia yang dapat mendengar.


Justin berdiri. "Ayo Lan ngambil hp, bosen gue lama-lama dengar tu cewek ngomong."


Alan berdiri mengiyakan lalu berjalan beriringan di samping Justin menunuju kelas.


"Lo, tunggu di sini!" titah Justin saat sadar dan tahu kalau Natalie mengekor dari belakang.


"Tapi gue mau ikut! Gimana dong?"


"Lo tetap di sini!" Justin mempertegas ucapannya.


Gadis itu menatap Alan untuk memberikan persetujuan. Jurus andalannya itu dengan memperlihatkan puppy eyes serta memajukan bibirnya beberapa senti.


Justin sontak membuat gerakan seperti ingin muntah setelah itu bergidik ngeri. "Itu mulut ikan pesut apa cocor bebek?"


Dia pikir dia menggemaskan? Tentu tidak! Hal itu justru terlihat sangat mengerikan bagi Justin yang melihatnya, lebih menggemaskan Ana saat gadis itu marah.


"Lo tunggu di sini," putus Alan dengan raut wajah datar sebelum pergi bersama Justin.


Gadis mengerikan itu kembali duduk sambil memakan camilan yang ia bawa dengan sangat tidak sabar. "Sialan!"


"Susah ternyata naklukin, Alan. Gue harus pakai cara apalagi sih biar Alan mau sama, gue? Apa ngedukun aja? Ah, engga, itu kharam bagi umat islam dan gadis suci seperti gue."


***


"Lo gila kayaknya milih tu cewek! Ava jauh lebih baik dari Natalie. Ya, walaupun Natalie lebih cantik dari Ava, dan lo harus cepat-cepat jauhin parasit itu dari hidup lo terutama dari hidup gue!" sepanjang jalan Justin terus memaki dan beragumen tentang perbandingan antara Ava dan Natalie.


"Cinta nggak bisa dipaksa, dan gue nggak bisa milih hati gue untuk sayang sama siapa, selain itu juga gue nggak bisa ninggalin Natalie gitu aja," jawab Alan masih dengan nada santai.


Walaupun Alan menjawabnya sedikit, tapi cowok itu masih mau mendengar Justin berbicara, kalau tidak sahabatnya pun Alan mungkin sudah menyumpal mulut Justin dengan kaus kaki.


"Yaa ... tapi, karena apa lo nggak bisa ninggalin, Natalie?"


"Karena-"


"Tolong!" jerit seseorang yang berhasil membuat fokus Alan dan Justin mengarah pada sumber suara.


"Ava!"


...***...


...Nggak tahu kenapa kejadian tenggelamnya kapal Nanggala 402 kemarin bikin Aku sedih banget sesedih-sedihnya. Kasihan soalnya, kerasa banget gitu dukanya dan miris banget. Aku juga bayangin gimana keadaan para kru dan awak kapalnya saat di dalam air pas kapal Nanggala 402 tenggelam terus pecah menjadi tiga bagian. Semoga mereka dijamin, Tuhan, masuk syurga dan ada keajaiban yang datang ke mereka semua sebagai pengabdi negara....


...***...


...Ditulis tanggal 22 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 27 April 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2