
...
...
"Oh. Btw itu udah gue isi tadi," ucap Aras menunjuk mobil Ava.
Ava melihat mobilnya, lalu kembali menatap Aras. "Ooh. Yaudah makasih yaa, Kak. Makasih banyak," Ava senang karena seorang Aras mau membantunya.
Sedangkan di sisi lain ada yang menatap jengah ke arah kedua orang itu, siapa lagi kalau bukan Alan.
"Cape juga jadi orang lain."
Jadi orang lain? Apa maksud perkataan, Alan? Apa dia bukan, Alan? Apa dia seseorang yang sedang menyamar?
Ava mengitari mobil lalu masuk ke dalam mobil dan menyalakannya. Gadis itu menurunkan kaca mobil, menatap Alan yang juga menatapnya. "Alan, lo juga makasih, ya, udah jajanin gue, kapan-kapan gue deh gantian jajanin, lo!"
Alan mengangguk lalu tersenyum manis. "Iya."
Ava beralih menengok kebelakang, melihat Aras. "Kak besok gue ganti uangnya, yaa!" teriak Ava tanpa mau di bantah.
Aras menggelengkan kepalanya. "Ngga usah, gue ikhlas!"
"Kalau bilang ikhlas aja di ucapin, tandanya nggak ikhlas itu mah." batin Alan meledek.
"Udah nggak papa, gue nggak enak ..." Ava masih terus kukuh. Daripada terus sahut-sahutan tidak jelas, akhirnya Aras mengangguk setuju, "... bye semua." pamit Ava sebelum pergi menjalankan mobilnya untuk pulang.
Aras turun dari motor, mendekati Alan yang masih setia duduk di atas motor, menatap kepergian Ava yang semakin menjauh. "Lo siapa? Jangan deketin, Ava!"
Alan diam menatap Aras sambil menautkan kedua alisnya. "Lo siapa gue? Dan, siapa Ava?"
Aras mencekram kerah hoodie Alan. "Jangan macam-macam lo, yaa. Gue bisa aja nyuruh seluruh anggota gue buat ngeroyok lo. Dan ingat, gue juga bisa ngeluarin lo dari sekolah." ancam Aras tajam, matanya berapi-api menatap Alan sengit.
Alan melepas cengkraman Aras. "Kalau lo mainnya masih keroyokan, lo pecundang ..." tajam Alan menekankan kata pecundang. Aras diam menatap Alan penuh kemarahan, "... juga jangan suka gunain kekuasaan. Lagian, lo juga persiapan ujian. Lo mau nggak lulus karena kepergok ngeroyok orang?" jawab Alan sebelum pergi meninggalkan Aras.
Aras menatap kepergian Alan sengit, bendera perang Aras sudah di kibarkan dan tinggal menunggu Alan mengibarkan bendera untuk menyerah.
***
"Assalamu'alaikum ..." salam Ava saat memasuki rumah, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Meletakan belanjaannya di atas meja.
Ana dan Agnes yang tadinya di kamar turun ke bawah menyusul Ava dan duduk di sampingnya. "Lo kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Ana menatap ke arah Ava yang tengah tersenyum menatap ke arah langit-langit rumahnya.
"Nggak papa," jawab Ava singkat.
"Wah, ada yang nggak beres nih kayaknya?" tuduh Agnes mulai curiga dengan sikap Ava yang aneh.
Sedangkan yang di ajak bicara dari tadi hanya senyum-senyum sendiri.
...
...
...(Neng Ava)...
"Gue kenapa, sih? Kok deg-degan gini, ya, deket dia?"
Dia siapa yang di maksud, Ava?
***
__ADS_1
07:34
Kini ketiga cewek itu tengah bersiap-siap untuk berangkat kemah yang ada di sekolah. Rumahnya pun juga sudah di kunci, tas yang mereka bawa sih tidak terlalu besar, karena hanya untuk satu hari saja.
Kata kak Risa, kalau tidak datang di acara kemah penyambutan kelas X maka akan sangat menyesal, karena banyak sekali hal yang menyenangkan. Jadinya, 'kan, kalau sudah bicara begitu akan membuat penasaran seperti apa penyambutannya nanti.
Ketiga cewe itu duduk di depan rumah menunggu taksi pesanan mereka karena peserta kemah tidak boleh membawa kendaraan bermotor, sambil menyendoki ice cream kemarin di wadah plastik berukuran sedang.
Karena ice cream yang kemarin Ava beli mencair karena kelamaan nunggu. Ava berniat membuangnya tapi di ceramahi oleh Agnes, jadi tidak jadi Ava buang dan karena Ava anak pintar juga kreatif. Maka Ava sekalian mencairkan dan mencampur semua ice creamnya lalu di bekukan lagi.
"Aneh, yaa, rasanya? Tapi masih enak," celetuk Ava memasukan satu sendok terakhir ice cream ke mulutnya.
"Lo sih, Va! Kelamaan ngedate nya sama Alan," tukas Agnes bercanda.
"Eeh, enggak ngedate, yaa!" elak Ava yang memang benar adanya.
Memang kemarin malam Ava bercerita tentang kejadian di siang bolong yang Ava alami pada Agnes dan Ana.
Beruntung, ya, jadi Ava.
"Udah, udah! Terserah lo pada, itu taksinya udah datang." Ava, Ana, dan Agnes membawa masing-masing satu plastik logistik, dengan di bantu sang supir untuk di masukkan kedalam bagasi.
Setelah selesai mereka masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan wadah bekas ice cream yang tergeletak di meja depan rumah.
Jorok.
***
Suasana sekolah sudah sangat ramai. Di lapangan utama juga sudah ada panggung besar nan megah yang sudah di hias dengan sangat cantik.
Ava, Ana, dan Agnes segera mencari keberadaan, Kak Risa. Kebetulan mereka juga sudah tahu wajah dari Kak Risa, karena tadi malam Kak Risa memasang photo profil nya di WhatsApp. Jika di lihat-lihat dari wajahnya, Kak Risa sepertinya anak tomboy.
Ava, Ana, dan Agnes menghampiri Kak Risa yang tengah duduk sambil bermain hp di gazebo, ternyata memang benar, Kak Risa orangnya tomboy, bisa di lihat dari cara ia duduk seperti laki-laki, rambutnya di kuncir atas, dan suaranya juga agak besar.
"Oh, iya. Taruh aja di situ. Nanti jam 08:00 kita kumpul di sini! Kasih tahu yang lain juga, yaa." jelas Kak Risa meletakkan tiga kantung plastik tadi di sampingnya.
Ketiga cewe itu mengangguk mengerti. Meletakkan tas mereka di sisi lain gazebo, lalu pergi berniat berjalan-jalan sebentar.
Mereka berjalan mendekati panggung di lapangan utama dengan poster yang tergantung bertuliskan, 'Penyambutan Kedatangan Peserta Didik Baru Kelas X'.
"Wah, kemah aja panggungnya sebesar ini? Pasti nanti bakalan meriah banget," ucap Ana kagum dan antusias.
"Iish, nggak sabar gue jadinnya," sambung Ava.
"Lah, nanti tendanya di mana?"
"Eeh, iya, yaa?" pikir Agnes mengetuk-ngetuk dagunya.
Ana menghela nafas. "Kan, ada lapangan tanah di belakang sekolah, itu, 'kan, juga luas."
Ava melihat lihat lingkungan sekitar, baru kali ini ia tidak di ganggu Revan dan Dino. Safira belum menunjukkan batang hidungnya, karena Ava juga ingin berbagi cerita dengan gadis itu.
Tak sengaja Ava melihat Alan yang duduk sambil bermain hp di depan gedung kelas XI, tepat nya di depan kelas XI Bahasa. Ava meninggalkan kedua sahabatnya dan menyusul Alan.
"Alan!" panggil Ava. Yang di panggil pun menoleh.
...
...
...(Babang Alan)...
__ADS_1
"Ava."
Ava duduk di samping Alan. "Lan, gue mau liat dong, kado yang lo bawa buat kak Risa!" pinta Ava menggelayut manja di tangan kanan Alan.
Alan tersenyum. "Iya, tapi lepasin dulu. Bisa-bisa di bunuh gue sama fans lo," Ava melihat ke sekelilingnya. Banyak pasang mata laki-laki yang cemburu akan hal itu, juga banyak pasang mata para wanita yang menatap mereka iri.
Ava melepas tangan nya dari tangan Alan lalu menyengir lebar tanpa dosa. "Hehe maaf. Refleks."
Alan membuka tas yang ada di sampingnya, mengambil kotak kado yang sudah dihias sangat cantik, memperlihatkan isi dari kotak tersebut. Ava mengaga tak percaya.
Alan tersenyum ke arah Ava. "Lo serius, Lan? Dasar gila lo, yaa?" Ava menonjok tangan kanan Alan, refleks.
"Yaa iyalah," jawab Alan tak merasa sakit sama sekali dengan tonjokan Ava.
Alan dan Ava saling tertawa. "Ini nih kalau, kak Risa, liat pasti kaget deh,"
"Iya, pastinya nggak nyangka banget," jawab Alan masih terus tertawa sambil menatap Ava yang juga masih tertawa. Cantik.
"Lo belinya di supermarket kemarin?"
Alan menggeleng. "Enggaklah, gue cari lagi di swalayan dan toko lain."
Ava hanya ber-oh ria saja menanggapinya.
***
08:00
Seluruh kelompok sembilan sudah berkumpul dengan jam dan tempat sesuai dengan kata kak Risa tadi, membentuk lingkaran tak beraturan, mendengarkan sang kakak pembina berbicara.
"Yang kemarin belum dapat tugas bisa ikut saya untuk bersihin lapangan belakang sekolah, terus diriin tenda, satu tenda isinya empat orang. Dan, yang sudah kebagian tugas bisa menghias sekitar lapangan utama sama lampu hias, dan barang-barang lainnya yang udah di siapkan panitia, bisa di ambil di kelas XII Ips 1,"
Ava berbisik dan menepuk-nepuk pundak Safira pelan. "Yang sabar yaa, Fir! Lo sih nggak minta tugas, 'kan, jadinya lebih berat ..." Ava terkekeh pelan.
Safira memajukan bibir nya beberapa senti, kesal dan tak suka. "Kan, gue nggak kepikiran."
...
...
...(Safira)...
"Jelas semuanya?" tanya kak Risa menatap adik kelasnya, sebelum mengakhiri pembicaraan.
"Jelas, Kak!" jawab seluruh kelompok sembilan. Kak Risa pergi dan diikuti anak yang belum mendapat tugas, tiga belas anak laki-laki dan tujuh anak perempuan termasuk Safira tadi.
"Yes! Kita, 'kan, nggak boleh cape-cape, karena kita itu punya tugas yang paling penting di sini!" ujar Bagus menyombongkan diri.
"Tanpa kita, kalian nggak ada apa-apa nya!" sambung Rio.
"Terserah kalian!" teriak mereka semua bersamaan, lalu pergi meninggalkan Bagus dan Rio.
"Dasar kampret, kalian!" umpat Bagus dan Rio tak terima.
...***...
...Ditulis tanggal 12 April 2020...
...Dipublish tanggal 14 Februari 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....