
...
...
09:15
Ava dan Safira beranjak dari duduknya karena mereka berdua akan ke kelas X Ips 3. Ada usul dari Ava bahwa gadis itu mempunyai permainan yang sangat seru.
Dino dan Revan masih mencatat pelajaran Bahasa Prancis di papan tulis, dan nanti katanya mereka akan menyusul jika sudah selesai.
Maudi menatap Dino sengit, sedangkan cowok itu sendiri yang merasa ditatap kini balik menatap Maudi. Kedua orang itu saling tatap tanpa mengartikan sesuatu, tapi beberapa detik setelahnya, mereka berdua saling memalingkan wajah masing-masing.
"Kenapa, lo?" tanya Revan menyenggol siku kanan cowok di sampingnya.
Dino menggeleng. "Nggak papa."
Kedua remaja laki-laki itu kembali fokus pada tulisan di papan tulis. Sebenarnya, kemarin Dino memikirkan Maudi karena cowok itu meninggalkannya sendirian.
Ah bodo amat lah. Nggak penting juga nanya-nanya yang nggak jelas, tegasnya dalam hati, mencoba tetap bersikap biasa saja.
Iya, kemarin memang benar Dino meninggalkan Maudi, dan tidak tahu bagaimana nasib Maudi setelahnya. Cowok itu tidak mau tahu, salah sendiri berbicara tidak sopan padanya.
***
Ava dan Safira masih berdiri di ambang pintu. Rencananya, gadis itu akan menyapa Maudi untuk mencoba memastikan apakah nenek lampir itu benar-benar berubah atau belum.
Ava mengulum bibirnya, kemudian tersenyum saat Maudi lewat. "Hai!"
Gadis yang disapa berhenti sembari menatap Ava datar. "Nggak usah sok akrab." Pergi dari sana bersama dengan antek-anteknya.
Sedangkan Ava? Kini gadis itu tengah mengerucutkan bibirnya sebal.
"Tetap aja, ya, nggak berubah! Masih sama sombong dan angkuhnya! Gue kira lo udah benar-benar berubah karena lo nolongin, gue kemarin!"
Maudi menoleh bebarengan dengan ke enam temannya itu. "Apa ada yang bilang kalau gue berubah?" Kembali melangkahkan kaki.
Safira sendiri mengelus punggung sahabatnya pelan, menenangkannya agar tidak tersulit amarah lagi. "Tuh, 'kan! Gue bilang juga apa, dia itu nggak akan pernah berubah, tetap sombong dan angkuh. Jadi, udah lah, lupain dia."
Maudi menghela nafas pelan, mencoba lebih bersabar lagi.
"Lo, nolongin Ava apa?" tanya Davina mengintimidasi.
Sang gadis yang ditanyai menggeleng pelan sebelum akhirnya menatap lurus ke depan. "Nggak penting."
***
Dino berdiri di depan pembatas kelas, menatap gadis yang hari-hari ini mengundang rasa penasarannya. Tengah berjalan di paling belakang sambil menundukkan kepala. Sedangkan Revan berdiri di samping Safira, tangan cowok itu bersandar di bahu Safira.
"Ava kenapa?" bisik Revan tepat di telinga Safira.
"Bukan apa-apa. Singkirin tangan lo, nanti gue jadi pendek!" Safira menepis kasar tangan Revan.
Cowok itu mendengus. "Lo emang udah pendek kali!" menatap gadis di sampingnya sinis. "Jadi main nggak?"
"Jadi lah," jawab Ava semangat langsung berjalan lebih dulu.
Ke tiga orang itu langsung berjalan ke kelas X Ips 3.
Revan celingukan ke sana kemari, satu temannya hilang.
"Ayo! Lo ngapain lagi ngelamun di situ?" Revan langsung menyeret paksa Dino yang masih terdiam berdiri di tempatnya.
"Memandangi bidadariku," balas Dino sok dramatis.
***
Saat ini ada Ava, Agnes, Safira, Syarifa, Justin, Bagus, Revan, dan Dino. Mereka berberdelapan duduk di paling pojok sekitaran tempat duduk Alan.
Ana tidak ikut karena tadi saat Ava menelpon gadis itu katanya ada tugas Matematika yang harus segera dikumpulkan.
Ava mengeluarkan sebuah bolopoin kemudian diletakkan tepat di meja bagian tengah
"Kita akan main Truth Or Dare. Siapa yang ditunjuk ujung bolpoinnya, itu yang main," jelas Ava menginstruksi.
Gadis itu memutar bolpoinnya, dan berhenti tepat pada Dino.
"Yaaaaaa! Kena!" serempak semuanya tertawa.
Cowok itu terkekeh sebentar. "Trut."
Revan mengacungkan jari telunjuk. "Gue yang akan tanya dia. Untuk sekarang ini, apa ada orang yang lo suka?"
Cowok itu terlihat berpikir. "Mmmmm. Belum kayaknya, masih dengan gadis yang sama." Dino melirik Ava yang duduk tepat di samping Alan.
__ADS_1
Sedangkan Alan? Tentu saja hanya berekspresi datar namun tatapannya menajam.
"Takut bos gue. Pawangnya ngamuk," celetuk Dino asal sembari bersembunyi di belakang punggung Revan.
Sorakan, teriakan, dan kekehan bercampur aduk di sana.
"Sekarang, gantian gue!" Agnes memutar bolpoinnya.
Semua orang yang bermain permainan itu pada deg-degan.
Satu persatu dari mereka kini sudah mendapat bagian. Kebanyakan dari mereka memilih Truth, karena pada takut kalau milih Dare nantinya akan sulit dan aneh-aneh.
Agne menyenggol siku Ava. "Ava, kayaknya Natalie sesekali liatin Alan mulu deh?"
Ava menatap gadis yang di maksud Agnes yang kini tengah berbicara dengan Gentar. Keduanya sama-sama mendengarkan musik yang terputar di bluetooth speaker milik Natalie
"Ini lagunya Jada Facer bukan, sih? Yang Be Alright? Bagus itu lagunya," kata Gentar kegirangan sendiri.
Natalie menatap Ava yang kini tengah menatapnya penuh selidik, kemudian kembali menatap Gentar sambil tersenyum. "Iya, ini itu lagu favorit gue. Nada dering hp gue sama yang lainnya juga pakai lagu ini karena saking sukanya."
"Kalau gue suka sama lagu ini karena pernah dengar diputar di cafè."
Ava menyipitkan kedua matanya. Lagi-lagi gadis itu seperti melihat ada yang menempel di softcase Natalie, tapi tidak terlau jelas.
Setelah Safira memutar, ujung bolpoin itu mengarah pada Alan.
Cowok itu langsung menyahut, "Truth."
Semua yang ada di sana mendengus karena sejak tadi tak ada yang memilih Dare.
"Dare aja. Dari tadi nggak ada yang milih Dare. Okay?"
Setelah mendapat paksaan dari teman-teman yang lain, Alan akhirnya mengangguk pasrah.
Agnes menyenggol lengan Ava, yang sontak membuat gadis itu terpaksa mengalihkan perhatian.
"Apa?"
"Ava, giliran lo yang ngasih Dare ke Alan, karena cuma lo yang belum ngasih tantangan."
Gadis itu mengangguk, berfikir sebentar kemudian tersenyum.
"Teriak 'I love You Ava' sekeras mungkin!"
Tantangan itu rasanya sangat sulit Alan lakukan, bukannya menjawab cowok itu malah menatap gadisnya.
Di posisi seperti ini mereka yang ada di sana pun tak bisa melakukan apa-apa.
"Nggak bisa? Karena ini dare jadi gue akan kasih dua pilihan. Lo cium tangan Natalie atau lo bilang 'I Love You Natalie'. Pilih yang mana?"
"Lo apaan, sih?" sewot Alan tidak terima
Ava melipat tangan di depan dada. "Pilih yang mana? Bukankah tantangan harus diselesaikan?"
Sedangkan orang yang saat ini dibicarakan tengah terdiam. Ia mendengar semua yang Ava dan Alan bicarakan.
Ava memang sengaja melalukan itu untuk membalas Natalie, ia tidak suka kalau ada orang yang terus mengganggu padahal sudah diingatkan berkali-kali. Gadis itu hanya ingin Alan melakukannya karena tantangan dan tanpa perasaan.
"Gue sarankan kalau lo pilih yang pertama, supaya gue bisa mengambil alih kedudukan lo saat ini," sahut Revan mengompori.
Dengan sigap Safira membekap mulut Revan yang tak di saring itu, dan berhasil mendapat jitakan di kepala dari Dino.
Alan mendengus kesal. "Jangan menyesal atas pilihan yang lo buat."
"Nggak akan."
Cowok itu berdiri kemudian menatap Natalie yang saat ini pura-pura tidak mendengar dan tidak tahu apa-apa.
"Nat." Yang dipanggil sama sekali tidak bergeming dan tidak menoleh. "I Love You."
Mata Natalie memejam dengan sendirinya bertepatan setelah Alan mengatakan hal tersebut. Tak bisa dipungkiri dan tak bisa berbohong, walau hanya sebuah tantangan itu terdengar begitu indah sehingga bulu kuduk gadis itu berdiri. Tubuhnya menegang namum terasa sesak dan sakit di pipi akibat tamparan tak berwujud itu.
"Puas?"
Ava bersedekap dada sembari menyunggingkan senyuman. "Sangat puas."
Ternyata, lo lebih mudah mengatakan itu ke dia daripada ke gue. Apa ada yang salah dengan gue?
***
Agnes dan Ana ada di kamar Ava sekarang, keduanya sama-sama tengah menyidang gadis itu. Agnes sudah menceritakan kejadian tantangan tadi pagi pada Ana.
Akibat kejadian itu, Alan jadi marah dan tidak mau berbicara pada Ava. Jangankan berbicara, menatap saja tidak mau.
Mereka tidak tahu saja itu Ava lakukan untuk memberi pelajaran pada Natalie bahwa ia sedang tidak main-main.
__ADS_1
"Lo kenapa sih Va, sekarang lo berubah tahu nggak?" Itu suara Agnes yang bertanya penuh penekanan di setiap kata.
"Gue nggak pernah berubah, gue hanya ingin memberi pelajaran sama Natalie."
Ana yang tadi mondar-mandir kini duduk sambil menatap sahabatnya itu. "Tapi bercanda lo itu nggak lucu Ava, kesannya lo tuh terlihat kayak ngebully Natalie. Harusnya lo tahu dan percaya sama Alan."
"Gimana gue bisa percaya sama dia kalau dia aja lebih mudah bilang gitu ke Natalie daripada ke gue!"
"Alan pasti punya alasan, Ava. Kalau lo nggak mendesak dia terlalu jauh, Alan nya juga pasti nggak akan marah kayak tadi pagi."
Ava sendiri hanya memutar bola mata malas sembari memikirkan apa yang Ana katakan.
Apa emang benar, kalau gue terlalu mendesak dia dan buat dia ragu sama, gue? Apa gue juga berubah jahat?
Ana menatap Agnes yang hanya cengengesan. "Udah. Sekarang kita lupain masalah itu, karena gue mau cerita sama kalian soal gue dan Bagus."
Seketika Ana dan Ava langsung mendekat, seolah seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Jadi, tadi pas jam kosong Bagus nanyain gue lagi, "Gimana jawaban lo? Gue butuh banget jawaban itu". Yaa karena dia terus terusan nyundir-nyindir gue nggak jelas dan karena gue juga ada sedikit rasa suka sama dia jadi yaa, gue jawab 'Iya' terus dia langsung senang dan meluk gue. Padahal saat itu ada orang banyak, jadilah gue malu dan langsung dorong dia buat menjauh."
"Terus Iqbal gimana?" tanya Ava mengerutkan dahi.
Agnes menunduk kemudian mencebikkan bibir. "Yaa, gue nggak tahu gimana nanti. Gue juga belum bilang ke Iqbal kalau gue udah jadian sama Bagus, jadi yaa sampai sekarang pun gue sama Iqbal masih kayak biasanya. Gue takut kalau gue bilang ke Iqbal nanti dia malah menjauh. Kan, gue juga nggak mau kalau itu terjadi, walaupun gue tahu sekarang gue udah punya Bagus."
Dilema sekali Ava dan Ana, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Padahal yang menjalani itu adalah Agnes, tapi sebagai sahabat, 'kan, harusnya saling membantu.
Ana menjentikkan jari. "Yaudah, mendingan lo kasih tahunya di waktu yang tepat aja, biar kalian sama-sama nggak tersakiti atau disakiti, daripada nanti Iqbal atau Bagus tahunya sama-sama dari orang lain, itu malah nggak baik."
Agnes dan Ava mengangguk pelan, tapi mereka berdua ragu akan rencana itu.
Ting
Ting
Ava langsung mengambil ponselnya yang ada di atas laci. Mungkin itu pesan dari Alan bahwa cowok itu sudah memaafkannya.
Tapi ternyata tidak, itu adalah pesan dari sang peneror.
+62 8966 ×××× ××××
Ku ingin sekali mencongkel matamu, agar Kau tak bisa melihatku. Aku juga ingin sekali merusak gendang telingamu agar Kau tak bisa mendengar suaraku.
Seperti itulah pesannya, tidak terhitung sudah berapa kali Ava membeku di tempat, degup jantung yang tak beraturan, dan juga keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
Apa yang di maksud peneror itu? Ava bahkan tidak tahu dan tak pernah paham isi pesan tersebut.
Apa sekarang gue dalam bahaya? Apa peneror itu juga bakal ngelakuin apa yang ditulisin tadi ke gue?
Agnes yang melihat sikap aneh sang sahabat bertanya, "Lo kenapa, Va? Kok tegang gitu kayaknya? Dahi lo juga keringetan."
Dengan cepat yang ditanyai menoleh, menggenggam kuat-kuat ponselnya yang ia pegang. "Nggak kok. Nggak kenapa-napa, tiba-tiba hawanya jadi panas aja." Mengibas-ngibaskan tangannya sambil tersenyum paksa.
***
"Kok, gue jadi mikirin Maudi, sih?"
Seorang cowok kini tengah berdiri di dalam kamar mandi dan ditemani dengan guyuran air yang keluar dari shower.
Pertanyaan Revan saat bermain Truth Or Dare tadi masih terngiang-ngiang dengan jelas di kepalanya.
Untuk sekarang ini, apa ada orang yang lo suka?
"Apa masih tetap sama seperti sebelumnya? Apa rasa itu udah hilang dan tergantikan?"
"Apa saat ini gue benar-benar suka sama dia hanya karena mendengar suara yang tak di sengaja?"
"Aneh. Kenapa gue seperti pernah melihat dan mengalami sekelibat bayangan dan kejadian itu? Tapi itu entah di mana? Apa ini yang dinamakan déjà vu?"
"Apa gue dan dia reinkarnasi di masa sekarang karena di masa lampau kita nggak bersatu?" pikir Dino semakin ngawur.
...***...
...Nggak nyangka udah separuh jalan. Semoga tetap lancar aja sih kedepannya. Amin .......
...Kalian pernah mengalami yang namanya Déjà Vu? Tahu nggak Déjà Vu itu apa?...
...Déjà vu, dari bahasa Prancis, secara harfiah "pernah dilihat", adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu. Déjà vu adalah suatu perasaan telah mengetahui dan déjà vécu adalah sebuah perasaan mengingat kembali....
...***...
...Ditulis tanggal 15 September 2020...
...Dipublish tanggal 10 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....