
...Di sini ada yang udah nggak sabar buat sekolah nggak? Kalau Aku bisa dibilang rada iya rada enggak, setengah-setengahlah! Enaknya sekolah online, ya, bisa rebahan, bisa ngapain aja, bisa juga nggak mandi, tapi nggak enaknya, ya, tugas menumpuk dan malah lebih banyak daripada sekolah offline. Kalau Sekolah offline nggak enaknya, ya, pasti teman-teman pada geng-gengan lagi, suasana awkward karena lama nggak ketemu, tapi enaknya, ya, bisa kumpul sama teman, bisa lihat doi lagi, sama tugas nggak terlalu banyak....
...***...
...
...
Sudah sekitar satu bulan ini SMAN Tri Bakti dihebohkan dengan sebuah cerita fiksi remaja yang katanya keren serta menguras air mata. Sampai bisa trending di aplikasi menulis itu sendiri dan media sosial lainnya.
Semua readers, penulis, dan orang yang suka dengan cerita fiksi remaja membicarakannya, baik di dunia maya maupun nyata. Tak ayal jika terkadang ada siswa atau siswi yang menangis, marah, ketawa, sedih, atau cekikikan sendiri. Bagaimana tidak populer saat cerita itu sudah dibaca lebih dari lima puluh juta kali di aplikasi tersebut. Sayangnya, tak ada yang tahu nama asli atau media sosial si penulis, karena penulis tersebut sama sekali tidak memberi tahu siapa dia dan memakai akun dengan nama 'Anonymous'.
Saat ini Ana, Syarifa, Ava, Agnes, Dino, Safira, dan Revan ada di kantin. Seperti biasa, pojok bagian kiri.
Sembari menunggu pesanan datang, semua yang ada di sana sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tak seperti biasanya, kantin begitu ramai akan bisik-bisik siswi perempuan yang terkadang terdengar jejeritan, ngakak, marah-marah, dan geleng-geleng kepala.
"Ish bagus banget sih ini ceritanya! Gue sampai nggak sabar untuk nunggu kelanjutan kisahnya kayak apa! Semoga nggak sad ending, ya Tuhan!"
"Iya, sama gue juga. Tapi kayaknya ini pasti bakalan terbit deh, soalnyakan yang baca udah sebanyak itu dan pasti banyak penerbit yang rebutan untuk nerbitin cerita ini. Karena peminatnya pasti banyak dan itu akan membuat mereka untung besar."
"Ya pasti lah ini bakalan terbit. Ya kali cerita sekeren ini nggak akan terbit. Gue kalau baca mah selalu ngevote, supaya cepat terbit dan gue bisa meluk mereka di versi novelnya!"
"Tapi, gue nggak terlu suka sama karakter Caesar yang cuek dingin gitu. Dia jahat karena udah nyakitin Amrillia dan ninggalin dia tanpa alasan, gue lebih suka sama karakter Reiji yang ketua geng terus perhatian gitu ke Amrillia. Dia juga yang bantuin dan terus mensuport Amrillia apa pun yang terjadi."
"Gue malah nggak suka sama Reiji yang kayak terlalu memaksa Amrillia untuk nerima dia, pokoknya Amrillia cocoknya sama Caesar bukan sama Reiji. Selain itu, 'kan, Amrillia sayangnya sama Caesar bukan sama Reiji. Semoga endingnya nanti sama Caesar deh!"
"Nggak bisa! Amrillia cocoknya sama Reiji. Udah ketahuan endingnya bakal sama Reiji! Gue jamin Caesar sama Amrillia nggak akan balikan lagi!"
"Nggak bisa! Kan, ending bisa aja berubah. Nanti juga pasti sama si Caesar Amrillianya!"
"Udah! Udah! Cerita ini bikin pertemanan kita retak aja deh! Itu terserah Author nya nanti mau gimana! Tapi, gue sukanya sama Memo, soalnya dia lucu banget terus sampai mau back street sama Bella demi misi Bella selesai. Awww!"
"Eh, tapi gue penasaran banget sama penulisnya. Nggak ada yang tahu loh dia siapa. Jangan-jangan atau bisa jadi dia ada di sekitar kita gitu?! Soalnya, 'kan, latar tempatnya dideskripsiin sebagai salah satu sekolah favorit di Jakarta, dan itu adalah sekolah kita. Tapi, nggak tahu juga deh, 'kan, masih banyak sekolah favorit di Jakarta. Kota Jakarta nya juga nggak disebutin bagian mana, makanya gue nungguin banget mau di bikin novel supaya bisa foto sama penulisnya nanti!"
Itulah segelintir ocehan serta komentar para anak gadis perawan yang tengah membaca cerita dari ponsel mereka sembari makan di meja samping Ava dkk.
Gadis itu tersenyum mendengarnya, tak disangka apa yang ia lakukan disukai banyak orang sehingga bisa sesukses ini dan apa yang ia rasakan juga dirasakan orang yang membacanya. Senang dan lega saat berhasil membagi pengalaman dalam bentuk sebuah cerita fiskri remaja yang disukai dari berbagai kalangan dan usia.
"Kalian, nggak mau baca juga? Bagus loh katanya. Semua siswa yang doyan ngehalu pada baca. Author nya juga low profile banget. Tapi, belum selesai semua sih, kata author nya masih ada beberapa part lagi. Penghidupan karakter yang terkesan nyata, alurnya menarik, dan nggak ngebosenin, tulisannya juga rapi, jadi kalau baca nyaman gitu. Gue aja hanya butuh waktu satu minggu untuk bisa menyelesaikannya," jelas Ava panjang lebar. Entah kenapa ia sangat semanga membicarakan hal ini.
Semua teman dan sahabatnya menggeleng.
"Gue nggak suka baca!" jawab Dino, Revan, dan Safira serempak.
"Kalau kalian?" tanya Ava lagi pada ketiga gadis di depannya.
"Gue lagi malas baca cerita," balas Ana.
"Kalau gue lagi hiatus dari yang kayak gituan," sambung Agnes
"Kalau gue sih nggak ada aplikasinya."
Ava mendengus. "Ish! Bagus loh padahal. Kalian akan dibuat tercengang dan mengingat hal itu lagi."
__ADS_1
"Lo, kayaknya semangat banget kalau ngomongin cerita itu? Judulnya apa?" tutur Safira curiga.
"Issh! Emangnya nggak boleh mengekspresikan diri? Judulnya kalau nggak salah Day By Day. Kalau udah jadi novel gue kasih dan beliin buat kalian supaya kalian juga baca terus menyimpannya sebagai kenangan!" janji Ava penuh dengan semangat.
"Serah lo dah. Jangan baca gituan mulu, satu bulan lagi kita udah UN. Belajar dan belajar supaya bisa masuk di Universitas yang kita mau!" ingat Ana.
"Iya!" jawab Ava ngegas sembari mengambil hp nya di atas meja karen ada pesan masuk.
Nenek lampir
Wah! Punya lo pada dibicarain banyak orang tuh. Nanti pulang sekolah ada waktu? Gue mau ngomong.
^^^Ava^^^
^^^Alhamdulillah gue bersyukur banget kalau semua orang pada suka. Gue ada les Bahasa Inggris. Mau ngomong apa?^^^
Nenek lampir
Gue ikut senang dengarnya. Izin satu kali aja emang nggak boleh? Penting ini soalnya.
Ava terdiam sebentar. "Penting? Izin aja kali, ya?"
^^^Ava^^^
^^^Yaudah, nanti gue usahain dan kabarin lo. Okay?^^^
Nenek lampir
Okay.
Ava kembali meletakkan hp nya di atas meja karena pesanan mereka sudah datang.
***
Ava dan Maudi kini ada di cafè yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Mereka hanya tidak mau baik teman Ava maupun babu-babu Maudi tahu kalau sudah sejak lama keduanya menjalin pertemanan.
Babu-babu? Tentu saja itu sangat pantas jika dilihat dari kelakuan gadis-gadis itu. Maudi tak akan pernah menyebut ke enam gadis remaja itu dengan sebutan, 'teman'. Entah memakai jurus dan teknik apa sehingga Maudi bisa tahan berteman dengan ke enam gadis itu. Kalau bukan karena misi dan memberi pelajaran pada mereka semua, Maudi mana mau berbuat sebabaik hati itu.
Untungnya Ava tadi sudah izin pada teman-temannya dengan alasan ada job manggung di cafè.
"Mau ngomong apa?" tanya Ava setelah gadis itu meminum jus alpukat.
"Jadi, beberapa waktu lalu gue itu nunjukin cerita lo ke beberapa penerbit besar, dan salah satunya ada yang menawarkan royalti cukup besar. Setiap nyetak, lo akan mendapat royalti yang udah sesuai dengan kontrak. Bukan cuma itu aja, karena cerita lo bagus dan keren sehingga bisa trending di mana-mana, jadi penerbit itu mau menawarkan tawaran yang sama sekali belum pernah ditawarkan ke Author lain."
Ava nampak tertarik dengan pembahasan kali ini, gadis itu memajukan kursinya kemudian menatap Maudi serius. "Tawaran yang gimana?"
"Kalau lo mau cerita lo terbit di sana, tawarannya itu cerita lo bakal dibikin menjadi dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris supaya bisa di impor sampai masuk ke kancah international. Ya ... mereka mengambil sedikit keuntungan lah, karena secara, 'kan, cerita lo lagi booming banget. Gimana? Lo mau? Kalau mau gue kasih nomornya, nanti lo tinggal ngomong sama pihak penerbit itu."
Ava nampak sangat tergiur dengan tawaran itu. Ada puluhan bahkan ratusan penerbit yang ingin menerbitkan ceritanya, tapi satu pun belum ada yang berhasil mengambil hati sang Author. Ava sih mau-mau saja untuk ceritanya diterbitkan, tapi gadis itu masih belum menemukan penerbit yang cocok.
"Bukan cuma itu aja kok, lo masih bisa ngajuin syarat atau pasal yang lo mau. Pihak penerbitnya juga nggak maksa kalau suatu saat lo bikin cerita harus diterbitin di sana terus. Kalau kontrak udah selesai, ya, selesai sampai di situ. Lo bakal dilepasin lagi."
"Tapi, kalau lo mau menetap agar cerita lo terus terbit di sana, itu malah lebih bagus. Selain promosinya yang nggak main-main dan bagus, cerita lo bakalan laris terus bahkan ditawari untuk dijadikan film, karena penerbit itu adalah salah satu penerbit yang diincar oleh para Author profesional supaya cerita mereka bisa dipinang sama pihak produksi."
Mendengar kata, "Pasal dan Syarat" Ava langsung semangat. "Benaran, bisa nentuin pasal dan syarat apa pun?"
Maudi menghembuskan nafas pelan. "Iya, benaran. lo adalah gadis yang sangat beruntung karena di saat para Author ngirimin naskah ke mereka untuk diseleksi dan dipilih yang terbaik supaya bisa terbit, lo malah langsung diundang dan ditawari penawaran yang sangat fantastis. Lo pikir-pikir aja dulu karena kesempatan ini nggak datang dua kali. Gue hanya nggak mau nanti lo kecewa nantinya." Maudi meminum jus jambu di depannya.
__ADS_1
Sedangkan gadis di depan Maudi hanya diam dengan otak yang terus bertreveling ke mana-mana.
***
Hari yang ditunggu para siswa kelas XII pun tiba. Setelah sebelumnya berjuang mati-matian menghadapi tryout, kini mereka bertemu dengan musuh sebenarnya. Dibekali dengan otak dan juga materi yang sekiranya sesuai dengan soal UN, kini mereka sudah siap untuk bertarung dan bergelut dengan otak masing-masing. Kartu ujian pun sudah mereka kantongi.
Seperti sebelumnya, siswa kelas X dan XI diliburkan. Jadi, tak terkejut saat sekolah terasa lebih sepi dari biasanya.
Ava cukup semangat karena tadi malam Aras memberinya dukungan. Walau cowok itu tidak secara langsung dan hanya lewat video call, itu sudah lebih dari cukup bagi Ava. Terlebih hari ini adalah hari yang istimewa baginya, dan Ava tak sabar melihat hal tersebut. Apa yang sebenarnya gadis itu rencanakan?
Bukan ke kantin atau nongkrong di sekitar sekolah, siswa dan siswi kelas XII justru belajar untuk menghadapi soal mata pelajaran selanjutnya. Dan, mapelnya adalah salah satu mata pelajaran kesukaan Ava, yaitu Bahasa Indonesia.
Alan, Bagus, dan Justin duduk lesehan di halaman depan ruangan mereka, XI Ipa 3.
Tapi, tiba-tiba ada dua laki-laki paruh baya yang datang menghampiri mereka semua. Ketiga laki-laki tersebut berdiri untuk menghormati yang lebih tua.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Alan sopan.
Laki-laki paruh baya yang memakai kemeja putih itu menepuk bahu Alan beberapa kali. "Terima kasih, Alan."
Cowok itu hanya diam serta bertanya-tanya dalam hati, gedua temannya pun juga sama-sama bingung.
"Ya sudah, kita berdua pergi dulu. Untuk kalian, yang semangat belajarnya."
Kedua laki-laki paruh baya itu langsung pergi dengan senyuman yang terus mengembang.
"Terima kasih untuk apa? Aneh tu bapak-bapak. Datang-datang langsung gitu ke lo. Salah orang kali, ya?" bigung Bagus
"Lo, kenal mereka berdua?" tanya Justin.
Alan menggeleng pelan. "Enggak."
Dalam hati cowok itu membatin sekaligus bingung akan apa yang baru saja terjadi dengannya. "Kenapa tiba-tiba ada perasaan aneh muncul, saat kedua orang itu menepuk pundak, gue? Seolah-olah ucapan terima kasih itu tulus dan mempunyai arti tersendiri?"
Bagus dan Justin duduk kembali dan fokus pada buku yang mereka pegang, tidak memperdulikan hal aneh yang tadi terjadi. Sedangkan Alan? Cowok itu baru duduk dan bisa fokus ke materi yang ia pelajari saat kedua orang tadi hilang dari penglihatannya.
***
Di sisi lain, tepatnya di kelas XI Ipa 4 ada seorang gadis yang sedari tadi menatap ke arah Alan dkk sambil terus mengembangkan senyum tanpa henti. Ava tidak sendirian di sana, ada ke enam teman dan sahabatnya juga.
Thanks, Alan. Lo udah sangat banyak memberikan pengalaman dan inspirasi untuk gue. Tanpa sadar, lo adalah salah satu orang yang membuat gue sukses sampai kayak gini selain semua teman dan sahabat gue yang ikut mengambil peran di dalam cerita itu, ucap Ava dalam hati sembaru menyunggingkan seulas senyuman.
...***...
...Astaga! Nggak nyangka udah sampai sini! Senang dan bersukur banget rasanya....
...Jadi, mohon kalian bersabar untuk menunggu ending yang sebenarnya. Okay!...
...***...
...Ditulis tanggal 28 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 2 Juni 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1