Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 25 ~ Dia Tahu Semuanya?


__ADS_3

...



...


Alan sedikit tersinggung dengan pernyataan Ava. Kenapa gadis itu selalu membeda bedakan dirinya dengan, Aras?


Sumpah! Dalam hati rasanya Alan ingin berteriak, "Gue bukan Aras! Jadi jangan samain gue sama dia! Kalau lo mau novel yang banyak, gih sana ngemis di depan rumah dia! Dijamin akan di kasih berapapun yang lo mau dan lo minta sampai lo gumoh di mana-mana!" tepat di depan wajah Ava.


"Tapi ... sayangnya, gue bukan Aras, Va." jawab Alan datar sambil menatap gadis cantik di depannya.


Tentu saja cowok itu kesal, kerena ia tidak suka di bandingkan apalagi di sama-samakan dengan orang lain. Dirinya, ya, dirinya, dan orang lain, ya, orang lain. Jadi, tidak usah membandingkan dirinya dengan orang lain.


Dengan sangat berat hati dan tidak ikhlas, gadis itu mengambil satu buku yang paling paling Ava inginkan yaitu buku karya, 'Luluk Hf' dengan judul, '12 Cerita Glen Anggara' yang covernya berwarna biru.


Ava memberikan novel itu kepada Alan dengan kasar, lalu kedua remaja itu segera ke kasir untuk membayar. Ava melangkah mengikuti Alan dari belakang dengan malas.


"Ini berapa, Mbak?" tanya Alan sambil menyodorkan novel tersebut.


"Sebentar, saya cek dulu ..." tutur sang penjaga kasir berkerudung putih, "... sembilan puluh sembilan ribu, Mas." lanjut sang kasir setelahnya.


Alan mengeluarkan dompet dari dalam saku belakang.


Ava mengintip isi dompet cowok di sampingnya. "Uangnya banyak, tapi kok beliinnya cuma satu?" sindiran Ava kali ini masih bisa ditoleransi, tapi jika gadis itu menghinanya lagi Alan akan meninggalkan Ava sendirian.


Apa, Alan tega? Tentu saja tidak, jika benarpun cowok itu pasti akan kembali lagi menjemput sang gadis.


Alan memberikan jumlah uang yang di minta.


"Ini, Mas. Terima kasih dan silahkan kembali lagi." ucap penjaga kasir tersebut sambil menyodorkan novel yang sudah dimasukkan ke dalam paper bag kecil.


Alan mengangkat tangan Ava. "Nih, gue denger, ya, ucapan lo tadi." cowok itu meletakkan novel di atas tangan Ava, lalu pergi keluar toko buku meninggalkan gadis itu yang masih di dalam.


...



...


...(Alan)...


"Nih, gii dingir yi icipin li tidi." ejek sang gadis menirukan gaya bicara Alan sambil memasukkan novelnya ke dalam tas.


***


Selama perjalanan, Ava dan Alan tak ada yang mulai bicara, lama-lama Ava bosan juga hanya melihat pengendara lain di jalan.


"Alan, kita mau kemana sih?"


"Lo jangan diam mulu dong, bosen nih! Lo ngoceh atau ngapain gitu biar gue nggak bosen?"


Alan masih diam, tak mau menanggapi ocehan Ava, walaupun cowok itu sangat mau menjawabnya.


"Apa, Alan marah, yaa? Karena gue banding-bandingin dia tadi sama, kak Aras?" pikirnya dalam hati sambil mengerutkan dahi juga menggigit jari kukunya.


"Alan, lo marah, yaa, sama gue? Maaf, yaa ... gue tadi nggak sengaja. Gue juga nggak bermaksud banding-bandingin lo sama kak Aras, kok!"


Dari balik kaca helm, cowok itu tersenyum lebar sampai matanya saja pun hampir tidak telihat. Inilah permintaan maaf Ava yang ia tunggu sedari tadi. Entah kenapa Ava lama sekali sadar dan peka akan kesalahannya.


"Nggak kok, nggak marah. Ngapain gue marah? Nggak ada alasan buat gue marah sama lo. Niat gue cuma mau bikin lo senang dan bahagia," jawab Alan dengan sangat lembut juga tulus.


Ava tersenyum. "Seharian ini? Jadi kita mau kemana?"


"Bukan hari doang, Va. Tapi setiap hari-hari lo dan jika gue mampu ngelakuin itu." tuturnya dalam hati. "Nanti lo juga bakal tahu." lanjutnya berucap pada Ava.


***


Ava sangat senang saat Alan ternyata membawanya ke sebuah mal. Saat ini Ava tengah ada di sebuah toko topi dan tengah memilih warna yang cocok untuk ia pakai.


...



...


Alan memberi Ava syarat bahwa ia hanya akan membelikan Ava tiga barang saja. Selebihnya jika Ava butuh sesuatu, gadis itu harus membayarnya sendiri dan Ava setuju dengan itu.


Bukannya Alan pelit, tapi Alan hanya tidak mau berfoya-foya untuk membeli barang yang hanya di pakai sekali dua kali. Cowok itu lebih mementingkan kebutuhan daripada keinginan yang pada waktunya rasa itu akan hilang.

__ADS_1


"Alan, ini bagus nggak?" tanya Ava menunjukkan topi berwarna kuning terang bertuliskan, 'I'am Stupid'.


Alan yang bersandar di dinding sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku menghampiri Ava dan tersenyum pada gadis itu.


"Ini bagus, tapi ..." seru Alan menggantung dan mengambil topi berwarna biru muda bertuliskan, 'I'am Crazy' di rak nomor dua dari atas, "... ini lebih bagus. Bukannya, lo lebih suka warna biru?"


"Tapi ... kalau lo nggak suka warna ini, lo boleh ambil warna apapun yang lo mau,"


Ava terdiam sebentar, setelah itu tersenyum. Meletakkan topi yang ia pegang dan lebih memilih topi biru muda yang di sodorkan Alan. "Yang ini aja lah. Awokawokawok."


"Tapi, lo nggak beli juga? Biar samaan gitu sama gue?" tanya Ava. Ia bahkan tidak sadar mengatakan hal itu.


Alan diam sebentar, dan sepertinya itu ide yang bagus. Cowok itu mengambil topi warna hitam bertuliskan, 'I'am Crazy', kemudian tersenyum sangat manis. Ava pun juga membalas dengan senyum menawan miliknya.


Setelah itu kedua orang tersebut pergi ke kasir untuk membayar. "Mbak, pacarnya manis banget sih ..." celetuk sang penjaga kasir perempuan.


"Maaf Mbak, dia bukan pacar saya," balas Ava membenarkan yang sebenarnya. Gadis itu juga tidak perduli kalau Alan merasa ada yang mengganjal di hatinya.


"Tapi cocok banget. Udah jadian aja lah." paksa sang kasir hanya berniat mengutarakan pendapat sambil menyodorkan dua paper bag berisi topi kepada Alan.


Alan tersenyum jahil. "Do'a in aja ..." sahut Alan dan di hadiahi Ava cubitan di bagian pinggul, "... sakit, Ava!"


Mereka mulai menjauh dari toko topi tersebut dan mulai keliling mal lagi. "Sekarang, mau kemana?"


Ava berpura pura berfikir. "Eum ... gue pengen beli gelang tali yang tulisannya, 'A&A' sama beli gantungan kunci lambang Konoha!"


"Pecinta Naruto, ya?" gadis di sampingnya mengangguk dengan sangat polos seperti anak kecil, "... kok gelangnya inisial A&A? Alan & Ava, ya?"


Ava menggeleng dengan cepat. "Ish, enggak! Kan, nama gue Ava Angelina Putri!"


"Tapi, nama putri nya kok nggak ditambahin juga?"


"Kerena huruf pertamanya nggak, 'A'. Jadi di tinggal aja, lagian nggak bakal nangis juga kok." Alan lagi-lagi tersenyum manis mendengar jawaban ngawur gadis di sampingnya ini.


***


Alan membelikan apa yang di minta Ava. Mereka berjalan-jalan mengelilingi mal, tanpa bergandeng tangan tentunya. Justru Alan lah yang membawa semua barang belanjaan gadis tidak tahu diri itu, beserta tas nya juga.


Mereka berdua mulai memainkan semua permainan yang ada di mal tersebut. Membeli ice cream, sampai berkeliling mal lagi, tentunya semua itu Alan yang bayar karena paksaan dari Ava. Sesekali saja tidak apa-apa membelanjakan gadis itu, toh Alan juga sudah berjanji membuat Ava senang dan bahagia. Lagi pula, 'kan, baru kali ini juga Alan mentraktir seorang gadis.


***


Tanpa terasa waktu sudah malam, mataharinya pun sudah tenggelam dan sekarang giliran bulan juga bintang yang menampakkan dirinya. Bersinar sangat terang hamparan langit serta awan.


Tadi, Alan juga sempat mengajak Ava ke masjid sebelum menuju restaurant, karena sudah waktunya sholat magrib.


Kedua orang itu kini juga sudah ada di restaurant yang menyajikan menu hot pot, karena Alan tahu Ava suka makanan pedas.


...



...


Di depan mereka berdua sudah ada sepanci rebusan kuah pedas, dengan didampingi berbagai macam jenis sayuran, daging, bakso juga lobster. Serta tak lupa pula ada mie sebagai penambah kenikmatan di atas meja.


Alan memesan jus buah naga, sedangkan Ava tentu sudah pasti jus alpukat tidak memakai gula, banyak susunya dan tidak terlalu manis.


Keduanya makan dengan lahap. Memasukkan satu persatu bahan makanan kedalam panci.


Makan udah bayar mahal-mahal, eh ... malah di suruh masak sendiri. Memang tidak tahu diri.


"Ava jangan makan yang itu, ada udangnya!" seru Alan spontan saat Ava akan memasukkan bakso udang ke dalam panci. Jika ia tidak memberitahu mungkin saat ini gadis itu sudah gatal-gatal di sekujur tubuh.


Ava sontak terdiam sedangkan Alan mengambil alih piring berisi bakso udang yang di pegang gadis di depannya, lalu menyodorkan bakso ikan sebagai pengganti.


Gadis itu lantas menerimanya dengan senang hati.


Tapi, ia masih tertegun dengan pernyataan Alan tadi. Dirinya mulai menyadari sesuatu setelah seharian ini jalan bersama Alan. "Alan tahu semuanya? Tapi, darimana Alan tahu itu semua?" batinnya bertanya-tanya.


"Ava, ayo makan jangan diam aja." pungkas cowok di depannya membuyarkan lamunan gadis itu.


"Iya, ini mau makan."


***


19:34


Sepanjang jalan tak ada yang memulai bicara satu sama lain. Bukan karena mereka berantem atau marahan seperti tadi pagi, tapi justru karena mereka lelah.

__ADS_1


Ava turun dari motor saat sudah sampai di depan rumahnya. "Alan makasih, ya, gue senang banget hari ini. Nggak nyangka jalan sama lo rasanya bisa semenyenangkan dan seseru ini,"


Cowok manis itu terkekeh. Ava selalu membuat dirinya tersenyum tanpa sebab maupun ada sebab. "Iya, lagian gue yang harusnya berterimakasih sama lo, karena lo udah mau jalan sama gue,"


Tanpa mereka sadari, ada orang yang sedari tadi menungu kepulangan Ava. Dan saat Ava pulang bersama Alan, orang itu mengintip di balik semak-semak sebrang jalan rumah sang gadis.


"Yaudah, pulang sana. Kita berdua sama-sama belum mandi. Bau!" usir Ava mengibas-ngibaskan tangannya, seolah mengusir Alan.


"Yaudah, gue pulang yaa. Hati-hati masuk rumahnya, ntar ada yang nyegat lo di balik semak-semak depan rumah, sambil marah-marah."


Yang disindir dari balik semak-semak itu pun langsung berjongkok sambil merutuki kecerobohannya. Ia mengintip terlalu dekat dan malah terlihat tadi. "Ogeb banget sih lo." rutuknya bermonolog.


Ucapan Alan yang sama sekali tidak bisa Ava mengerti. "Alan, maksud lo apa?"


Sebelum cowok itu menjawabnya, ia bahkan sudah pergi dari pekarangan rumah Ava.


"Lo pikir ... walaupun lo sembunyi, gue nggak tahu gitu?" Tersenyum meremehkan.


***


Tanpa memperdulikan itu semua, Ava masuk ke dalan rumahnya.


"Cie! Cie! Yang habis jalan sama, Alan!"


"Cie! Cie! Yang habis di belanjain, Alan!"


"Cie! Cie! Yang udah makan malem romantis sama, Alan!"


Ava masuk ke dalam kamarnya tanpa memperdulikan ledekan-ledekan yang dilontarkan kedua sahabatnya di ruang tamu.


"Ava! Lo nggak mandi?!" teriak Ana dari bawah.


"Nanti aja!!" balas Ava berteriak lebih kencang.


Ava meletakkan helm nya di atas laci, lalu merebahkan dirinya di atas bad kasur tepat di samping tiga paper bag berukuran sedang. Jujur hari ini begitu melelahkan dan sangat menyenangkan.


...



...


Tapi, tiba-tiba ia jadi kepikiran soal Alan yang tahu semua itu, dan yang Alan katakan tadi sebelum pulang.


...



...


...(Ava)...


"Apa ada yang nguntit gue, ya?"


"Atau juga ada sasaeng? Ah, di Indonesia mana ada. Gue laporin polisi kalau ada karena udah mengambil hak privasi orang lain."


Remaja perempuan itu bahkan tidak tahu berbicara dengan siapa. Hanya bermonolog dengan kesendirian dan kesunyian di kamarnya yang semakin membuat bulu kuduk berdiri, merinding.


Ava mencoba bodo amat dengan semua yang di katakan Alan. Saat ini hatinya hanya untuk Aras, dan mungkin bukan untuk orang lain. Yang harusnya Ava pikir dan takutkan saat ini adalah jangan sampai Aras tahu tentang kejadian hari ini kalau ia habis jalan-jalan bersama cowok bernama, Alan.


...***...


...Oi! Kira-kira yang ngintip tadi siapa? Kalau mau tahu jawabannya, ya ... syaratnya terus baca dong!...


...Tim Alan mana suaranya?!...


...Tim Aras mana suaranya?!...


...Sekedar pengumuman aja nih, ya, kalau nanti Aku updatenya satu chapter per hari, karena menghemat supaya tidak cepat habis. Dan, khusus hari Kamis dan Jum'at Aku updatenya double, karena hari Sabtu sama Minggu udah libur. Okay man-teman?...


...***...


...Ditulis tanggal 22 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 26 Februari 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2