Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 96 ~ Alasan Alan


__ADS_3

...Tenang semuanya, tinggal beberapa chapter lagi kok, insyallah kalau bisa bulan ini selesai tuntas semuanya!...


...***...


...



...


Ava bersembunyi di balik pohon untuk mengintip kedua manusia tersebut, Alan dan Natalie. "Mau ngapain sih mereka? Pake ngejauh dari kerumunan segala?"


Setelah menemukan keberadaan Ava yang bersembunyi di bawah pohon, tanpa aba-aba Alan langsung mengecup singkat bibir Natalie. Yang dicium sontak mematung di tempat sambil membelalakkan mata tidak percaya karena sangat terkejut.


Tak kalah dengan Natalie, hal itu tentu membuat hati Ava seperti tertusuk belati berkali-kali tanpa henti, tak disangka Alan melakukan ini di depan matanya sendiri. Cairan bening mulai turun membasahi pipi, lidahnya terasa kelu untuk hanya mengucapkan sebuah kata, hatinya berdesir sangat sakit. Rasanya lebih sakit dari sebelumnya, mungkin ini yang paling sakit.


Saat gadis itu akan pergi dari sana, ia tak sengaja menginjak ranting kayu yang membuat Natalie langsung menoleh ke sumber suara.


Gadis itu langsung berlari keluar dari sana, tanpa mereka sadari juga ada Safira, Revan, dan Dino yang melihat adegan tersebut. Mereka bertiga juga terkejut sekaligus tidak percaya pada apa yang mereka lihat saat ini.


"Ava, lo mau ke mana?" tanya Safira saat menahan lengan Ava yang beranjak ingin pergi.


Dengan tangis dan hati yang teramat sakit, Ava menjawab, "Gue pengen sediri. Bilangin ke Okta kalau perut gue sakit."


Ava langsung pergi berlari sejauh mungkin saat berhasil lepas dari Safira, menjauhi dari kerumunan sampai akhirnya keluar dari rumah Kkta kemudian menghentikan taxi yang kebetulan lewat.


"Jalan, Pak," ujarnya lirih saat sudah masuk ke dalam taxi.


Ava mengusap air matanya saat ada bulir demi bulir air mata keluar membasahi pipi.


Terbiasa. Sikap terbiasa bersama lo udah menjadi candu bagi gue. Awalnya, gue nggak ingin merasa terbiasa, tapi rasa itu tiba-tiba saja datang tanpa diundang, lalu angin dengan mudahnya mengirimkan pesan tersebut sama lo, dan dengan tanpa sengaja atau disengaja kita dipertemukan dan dipersatukan ke dalam sebuah hubungan, sampai akhirnya saling kehilangan. Bukan. Tapi hanya gue yang merasa kehilangan, lo nggak mungkin merasakan itu karena lo nggak menanam rasa di hati lo.


Maafin gue, Alan. Maafin gue karena udah dengan sengaja datang ke hidup lo dan menghancurkan segalanya.


***


"Sialan! Dasar enfoirΓ©, Alan!" geram Safira saat ia akan memberi pelajaran pada dua orang tersebut. "Apaan sih?! Lepasin!" sentak Safira saat tangannya dicekal kuat oleh Revan.


"Jangan ke sana. Jangan hancurin pestanya Okta dan diri lo sendiri. Gue mohon, tahan emosi lo." Safira menatap Revan sengit yang seolah-olah membela Alan. "Sekali ini aja."


"Dengerin apa kata Revan, Fir," tambah Dino.


Nafas Safira yang tadi memburu, kini perlahan-lahan menormal. "Okay, tapi kali ini aja. Setelah ini gue bakal kasih pelajaran sama tu cowok habis-habisan." Menghempas kasar tangan Revan, lalu pergi dari sana, "Awas aja nanti."


Revan dan Dino menatap Alan sekilas, kemudian menyusul Safira dari belakang.


Sedangkan Aras sendiri mengerang frustasi. Ia terpaksa, terpaksa melakukan semua ini.


"Alan ...." lirih Natalie.


"Pergi dari sini." Menatap Natalie dengan sorot mata penuh akan kemarahan yang membara.


"Ta-"


"Pergi dari sini!" bentak Alan karena sudah tak tahan.


Natalie mendengus kemudian pergi dari sana. Ia juga bingung, karena baru saja Natalie dicium Alan di depan Ava, tapi kini ia juga malah diusir dan dibentak Alan.


Setelah kepergian Natalie, sendirianlah Alan di sana. Cowok itu mengacak rambutnya frustasi. Terpaksa ia melakukan semua ini karena ia sangat lelah dan sudah tidak tahan lagi. "****!"


Alan duduk di bawah pohon dan menyandarkan punggung serta kepalanya di san, menatap bintang dan bulan yang saat ini bersinar sangat terang menghiasai malam.


***

__ADS_1


Seorang gadis kini sendirian di kamarnya, setelah Ava pulang dari rumah Okta ia langsung pulang ke rumah dan mengunci pintu.


Ava duduk di atas bad kasur, menekuk lutut sambil memandangi dua gelang dengan inisial huruf yang sama, yaitu huruf A.


Kelopak matanya sudah mengering karena terlalu banyak mengeluarkan cairan kristal bening rasa asin, sayangnya sesegukan itu masih tetap ada.


"Kenapa, sih? Kenapa bisa-bisanya lo nyium Natalie di depan gue? Kenapa first kiss lo harus lo serahin ke dia?"


"Lo sengaja, apa gimana sih? Apa emang ini tanda dari Tuhan kalau lo benar-benar udah nggak cinta dan lo nggak berjodoh sama gue?"


"Tapi, kenapa caranya kayak gini? Kenapa, Tuhan? Hati saya sakit, lebih sakit dari sebelumnya."


"Saya ingin menangis, tapi nggak bisa. Saya ingin teriak, tapi tertahan. Saya juga ingin bernafas, tapi rasanya sesak. Saya harus gimana?"


"Apa harus dengan cara seperti ini supaya saya sadar dan menerima kenyataan?"


Ava mencopot gelang yang ia pakai lalu dibuang ke luar jendela entah ke mana. Ia tidak perduli sama sekali karena ia sudah sangat dikuasai kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. Tanpa berganti baju terlebh dulu, Ava langsung tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


***


Tadi malam, Ana dan Agnes beserta teman-teman lainnya lega saat tahu Ava tidak ke mana-mana dan tidak melakukan hal di luar kepala yang bisa membahayakan gadis itu sendiri.


Hari ini Ava dibonceng Safira karena Ava malas menaiki motor sendiri ke sekolah. Tidak tahu kenapa, hari ini Ava tidak ingin jauh-jauh dengan Safira. Ana dan Agnes masih di rumah saat kedua gadis itu berangkat sekolah.


Ava hari ini juga terlihat tidak ada semangat sama sekali. Gadis itu berhenti melangkah tatkala berpapasan dengan Alan di parkiran, safira pun juga ikut berhenti.


Karena tidak mau Ava terus merasa sakit hati karena bersitatap dengan Alan, ia langsung menarik tangan Ava agar melanjutkan jalan. Gadis itu sama sekali tidak menolak.


"Maaf," gumam Ava sangat pelan, gadis itu menunduk.


Safira yang menggandeng lengan Ava menoleh. "Buat apa?"


"Tadi kaki gue tiba-tiba kaku."


***


Kepala Ava yang tadi terlungkup miring kini bangkit saat melihat Safira bangkit dari duduk. "Lo mau ke mana?"


"Ke toilet sebentar. Nanti gue balik lagi."


"Kan, udah mau bel masuk."


"Nggak papa. Nanti gue bisa izin." Safira pergi setelah mendapat anggukan dari Ava.


Gadis itu kembali menelungkupkan kepala. Tak ada yang berani mengusik kecuali Safira saat Ava dalam keadaan seperti ini. Seluruh siswa tahu kalau gadis itu marah, maka akan sangat menyeramkan, galaknya minta ampun.


***


Karena tidak tahan melihat Ava yang terus sedih berkelanjutan, Safira tentu tidak tinggal diam setelah kejadian tadi malam. Gadis itu akan memberi pelajaran pada Alan, ia sudah menyuruh Alan untuk ke taman belakang sekolah.


***


Saat melihat Alan yang duduk di bangku, Safira lantas berdiri di hadapan cowok itu. "Berdiri."


Alan berdiri dengan raut wajah yang masih tetap tenang. Tak ada sorot ketakutan, kemarahan, maupun kekhawatiran, terlihat baik-baik saja.


"Maksud lo apa kemarin malam nyium Natalie? Lo sengajakan, karena lo tahu Ava terus liatin dan ngawasin lo? Lo pikir gue goblok? Gue punya mata dan gue tahu kalau Ava selalu liatin lo. Apa lo masih nggak cukup nyakitin hati Ava? Masih kurang lo bikin dia nangis?"


Melihat Alan yang masih diam membuat Safira hendak melayangkan pukulannya. "Ngomong ogeb!"


Sayangnya hal itu tidak terjadi saat tangan Alan mencengkram kuat tangan Safira, cowok itu menahannya. Sorot mata dan aura Alan tiba-tiba berubah gelap sehingga terlihat menyeramkan layaknya dewa kematian yang baru saja datang.


Alan maju satu langkah, safira tetap tak bergeming. "Lo pikir gue takut karena selama ini selalu diam saat lo dan teman-teman lainnya mencela dan menghina, gue? Enggak, gue sama sekali nggak takut sama sekali."

__ADS_1


Alan maju satu langkah lagi mendekati Safira. "Lo tahu persis dan paham gimana sifat gue. Gue bakalan diam saat gue masih bisa sabar, dan gue bakalan bertindak saat orang itu udah keterlaluan. Jangan jadi gadis egois, lo cuma melihat sisi gue tanpa mau melihat sisi yang lain."


"Diam, lo Chien!" Tangan Safira yang satunya hendak memukul Alan, tapi lagi-lagi cowok itu berhasil menghentikannya sebelum mengenai pelipisnya.


"Sedikit lagi lo gerak, gue nggak bisa jamin tangan lo bakal normal dan bisa digerakkan," tekan Alan di setiap kata, nadanya memang terdengar tenang, tapi seperti mengisyaratkan sebuah ancaman. "Lo pikir gue mau nyakitin Ava dan bikin dia nangis? Lo pikir gue nggak kasihan sama Ava? Lo pikir gue mau ngelakuin ini semua?"


"Gue nggak mau nyakitin Ava, gue kasihan sama Ava, dan gue ngga mau ngelakuin ini semua. Tapi, keadaan yang memaksa gue untuk dengan sengaja melakukan ini. Awalnya semua rasa itu membara sampai membuat diri kita sendiri lupa, tapi saat rasa suka, rasa cinta, dan rasa penasaran itu hilang dalam sekejap apa yang bakal lo lakuin saat itu terjadi sama lo? Lo bertahan tapi tanpa dasar rasa itu, atau mundur secara perlahan? Bukankah bertahan tanpa rasa cinta lebih menyakitkan daripada mengahadapi kenyataan?"


Safira tidak menjawab, gadis itu hanya diam dengan sorot mata membara seperti ingin menerkam mangsanya, nafasnya naik turun.


Jika dibandingkan dengan Alan saat ini, cowok itulah yang auranya yang paling menakutkan. Safira? Sudah kalah jauh. Jika kemarahan cowok itu sudah sangat membara, ia tidak akan segan-segan menyakiti orang yang membuatnya marah, tidak pandang bulu. Teman, sahabat, keluarga, perempuan, laki laki, pokoknya semuanya. Yang bisa menenenangkannya pun hanya dirinya dengan bantuan Tuhan.


"Semua rasa itu hilang seketika. Gue mencoba mundur secara perlahan, tapi gadis itu tetap tidak mau mengerti. Saat Ava tetap keras kepala dan tidak mau mengerti sama sekali, gue terpaksa memanfaatkan keadaan saat Natalie suka sama gue sehingga menciptakan cara yang bisa dibilang kejam dan tidak berperi kemanusiaan. Lo tentu tahu gimana susahnya ngadepin orang keras kepala yang mempunyai seribu satu cara untuk mengelak, memberi alasan, dan membantah."


"Tapi lo bisa pakai cara lain! Nggak gunain cara yang bisa nyakitin Ava kayak gini!" bentak Safira tak kalah garang.


"Cara apa?"


***


Di sela-sela pelajaran, Safira menoleh ke samping dan menatap sahabatnya yang tengah menulis materi di papan tulis. Jawaban dan penjelasan Alan tadi masih terngiang dengan jelas di otaknya, terasa ada yang mengganjal di hatinya.


Flashback On


"Tapi lo bisa pakai cara lain! Nggak gunain cara yang bisa nyakitin Ava kayak gini!" bentak Safira tak kalah garang.


Aras berdecak. "Cara apa? Lo bilang ke gue cara yang mudah dan nggak nyakitin Ava. Lihat lah dari sisi Ava." Safira masih tetap diam tak berkutik. "Kalau gue nggak gunain cara kayak gini, gue jamin dia nggak akan pernah mengerti dan tetap mengharapkan sesuatu dari gue. Kalau dia nggak merasakan sakit hati lebih dulu, Ava nggak bakal paham apa maksudnya."


Perlahan-lahan sorot mata membara Safira berkurang, nafas gadis itu juga perlahan-lahan menormal. Ia sadar dan paham apa yang dikatakan Alan saat ini.


Kring


Kring


Saat bel berbunyi, secara perlahan Alan melepas cengkraman tangannya dari tangan Safira.


"Bel udah bunyi," ucap Alan sebelum cowok itu pergi dari taman belakang sekolah meninggalkan Safira.


Safira terdiam mematung di tempat, gadis itu menatap tangan kirinya yang sangat memerah sekaligus membekas akibat cengkraman Alan yang teramat sangat kuat. Saking marahnya, ia sampai tidak bisa merasakan sakit.


Gadis itu mengambil ponselnya dari dalam saku kemudian mematikan mode rekam. Iya, Safira merekam semua percakapanya dengan Alan dari awal sampai akhir.


Flashback Off


Safira mengadap ke depan lagi. "Apa gue emang egois karena selalu melihat dari sisi Alan? Apa gue juga termasuk jahat saat gue membuat Alan terlihat begitu kejam di depan dan di mata teman-teman lainnya? Tapi, niat gue cuma mau membela Ava. Gue hanya ingin Ava mendapat keadilan."


"Gue sendiri yang menyuruh Ava untuk membuka pandangan lain dari dirinya, tapi kenapa gue justru nggak melakukan apa yang gue kasih tahu ke orang lain. Dengan ini gue yakin, kalau pelatih tugasnya nggak hanya diam, mengajarkan, menyemangati, dan memerintah anak buahnya. Tapi, juga terkadang harus ikut bermain supaya bisa benar-benar merasakan permainannya dan mengajarkan cara yang kita amalkan sendiri dengan benar."


...***...


...Tim yang nggak sabar buat ending angkat tangan!...


...Tim yang nggak mau cepat ending angkat tangan!...


...Omaygat! Rasanya Aku nggak sanggup menerima kenyatan ini (drama, lebay, dan alay banget sih gue)...


...Nih Aku kasih lope yang banyak β€πŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ’œπŸ’“πŸ’•πŸ’–πŸ’—πŸ’˜πŸ’πŸ’žπŸ’Ÿ...


...Ditulis tanggal 14 Desember 2020...


...Ditulis tanggal 23 Mei 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2