
...
...
Seorang gadis berambut sebahu kini tengah ada di depan sebuah rumah bertingkat dua dengan dominan warna putih. Gerbang warna hitam pun menjulang tinggi, yang bertugas sebagai pelindung. Taman yang berhiaskan berbagai macam mawar terawat sangat apik dan bermekaran, yang membuat aroma khas dari bunga itu tercium. Jendela-jendela kaca berembun karena tadi sempat turun hujan. Sebuah lonceng berukuran besar tergantung di balkon paling dengan atapnya yang berbentuk kubah bak istana raja, saking mewahnya rumah tersebut.
Di sana tampak sepi dengan pintu yang tertutup rapat. Tak ada penjaga atau pembantu yang terlihat sama sekali. Seperti tidak ditempati namun masih ada kehidupan di dalamnya, Ava masih merasakannya.
Ava kembali melihat sebuah album sekolah dan terfokus pada foto seorang cowok tanpa ekspresi saking datarnya, kemudian menatap tulisan alamat yang tercantum di sana.
"Alamatnya benar ini, 'kan, Pak?" tanya Ava pada sang supir pribadi sekaligus tukang kebun di rumah.
"Iya, Non. Benar itu alamatnya," jawab Pak Darma sopan.
Gadis itu mengatur nafasnya agar tetap normal dan tidak terlihat gugup, memang, Ava saat ini sangat gugup. Tak pernah terbayangkan olehnya kalau ini akan menjadi tujuan akhir baginya selama kurang lebih tiga tahun lamanya.
Ava mengambil paper bag warna biru muda yang sudah ia siapkan tadi malam sebelum berangkat memulai bedah buku di sekolah. Turun dari mobil kemudian melangkahkan kaki mendekati pintu berwarna putih yang masih sangat tertutup rapat.
Tangannya berhenti di udara saat ingin memencet bel. "Kok berat banget sih rasanya?" gumam gadis itu ragu.
Beberapa detik terdiam tanpa melakukan apapun, gadis itu akhirnya meletakkan paper bag tersebut tepat di depan pintu. Berharap bahwa sang pemilik rumah melihat dan mengambilnya.
"Jangan dibaca, kalau lo ngga suka," monolog Ava yang sebenarnya untuk seseorang yang ada di dalam rumah itu sebelum memencet bel kemudian berlari secepat kilat menuju mobil.
"Jalan, Pak!" pekiknya saat sudah di dalam mobil sebelum ia ketahuan sang pemilik rumah.
Ava mengatur deru nafasnya yang sudah tidak karuan, menoleh ke belakang bertepatan dengan mobil yang perlahan melaju meninggalkan pekarangan rumah tersebut.
Gadis itu tersenyum lebar saat ada seseorang yang ia rindukan keluar dari dalam rumah, lalu mengambil paper bag warna biru muda yang Ava letakkan tadi.
Barulah saat rumah dan orang tersebut semakin jauh dari penglihatan matanya, Ava menyandarkan punggungnya lega. Bayangan akan hari itu dan saat itu pun juga terngiang-ngiang dengan jelas di pikiran gadis itu.
Betapa bodoh dan gilanya ia dulu maupun sekarang. Dulu Ava memang sangat bodoh rela melakukan apapun hanya demi orang yang disayanginya, tapi kini Ava tidak mau seperti itu lagi, ia harus belajar dari pengalaman bahwa mencintai seseorang itu sewajarnya saja supaya sakit hati yang dihasilkan juga tidak seberapa.
Flashback On
Ava dan Maudi beserta satu orang laki-laki dari pihak penerbit sekarang sedang mengadakan pertemuan di cafè yang sudah disepakati untuk membahas satu-satunya karya Ava yang berjudul Day By Day untuk terbit.
Ava menyodorkan map yang berisi pasal-pasal yang harus disetujui oleh pihak penerbit jika masih menginginkan cerita Ava terbit di sana.
Awalnya Maudi tidak setuju dengan pasal yang Ava ajukan karena terdengar dan terlihat aneh serta bisa dibilang tidak berguna. Tapi, gadis itu sangat handal untuk menghasut orang, dan terus menyakinkan Maudi agar setuju. Ava harus mendapatkan izin Maudi karena tanpa gadis itu ia tak akan bisa memenuhi apa yang ia inginkan. Dan, untungnya Maudi setuju setelah Ava mendesaknya terus menerus.
Laki-laki berumur sekitar tiga puluh tahunan bernama Steven itu mengambil map tersebut kemudian membaca pasal-pasal yang Ava ajukan.
1.) Memberikan lima buku gratis pada Author itu sendiri,
2.) Pergi ke sekolah saya untuk mengatakan "Terima kasih" pada seseorang yang sudah saya tentukan sambil menepuk bahunya,
3.) Tetap tersenyum pada orang yang sudah saya tentukan sampai hilang dari pandangan, dan jangan sebut atau menjawab pertanyaan seputar nama, siapa, dari mana, dan mau apa,
Steven mendongak dan menatap Ava sekilas setelah membaca pasal nomor dua dan tiga. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, Steven juga bingung sekaligus cengo membacanya.
4.) Saya boleh melihat proses editing yang diadakan di gedung penerbit kapanpun saya mau,
5.) Jika semua atau salah satu pasal tidak disetujui, otomatis perjanjian dari awal sampai akhir batal tanpa harus membayar biaya penalti.
Steven menutup map tersebut setelah selesai membacanya. "Sudah? Itu saja? Apa ada yang lain?"
Ava menggeleng. "Sudah, itu saja sudah cukup. Bisa disetujui?"
Steven menganguk. "Tentu. Hal itu bisa dengan mudah kami lakukan." Menyodorkan map berisi kontrak kerja kepada Ava. "Silahkan tanda tangan di sini!"
Gadis itu menanda tangani kertas kontrak itu tepat di atas materai kemudian memberikan map tersebut pada Steven.
Ava dan Maudi saling membalas senyuman, keduanya sama-sama senang saat apa yang Ava impikan dari dulu terwujud. Sedangkan Maudi senang karena bisa membantu Ava. Hal itu ia gunakan sebagai permintaan maaf atas kesalahannya selama ini pada gadis itu.
Flashback Off
***
Alan masuk ke dalam kamar setelah mendapat kiriman misterius di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
Cowok itu tertegun sekaligus tersentak saat mengetahui isi dari paper bag tersebut. Ia sangat tahu itu dari siapa dan tidak percaya akan apa yang ia pegang sekarang.
Sangat lama Alan hanya menatap buku novel berjudul Day By Day di tangannya, sebelum beralih melihat isi paper bag yang lainnya.
Ada tiga amlop di sana dengan warna yang berbeda-beda. Ada nomor yang tertera di sana, seolah memberikan petunjuk mana yang harus dibaca lebih dulu.
Cowok itu membuka amplop nomor satu dengan warna Biru langit.
Dear Alan ...
Apa Aku mengganggumu? Ah, maaf jika begitu.
Apa kau suka dengan apa yang kuberikan? Kutebak, kau tidak akan suka, karena kutahu kalau kau tidak suka membaca.
Tapi tak apa, setidaknya kau membaca surat ini. Itupun jika Kau mau dan tidak membakarnya.
Kita berdua berpisah tanpa mengetahui apapun. Terutama diriku, Aku tak tahu di mana rumahmu. Aku tak tahu bagaimana keluargamu. Dan, Aku pun juga belum tahu sepenuhnya tentang dirimu.
Yang kutahu hanyalah kau yang suka sekali bermain game. Kau yang suka memakai hoodie ke manapun kau pergi. Dan, hari ulang tahunmu. Hanya itu? Iya, hanya itu. Tak sebanyak kau mengetahui tentang diriku.
Note : Maaf, hanya itu yang bisa kukatakan untuk saat ini dan seterusnya.
Ava Angelina Putri.
Alan beralih mengambil amplop nomor dua dengan warna merah muda.
Dear Alan ...
Semoga, kali ini Aku tidak mengganggumu.
Bukankah kau menyukai warna pink? Jadi, kugunakan warna ini.
Maaf, karena terlalu mengekangmu dulu. Maaf, karena telah membuatmu susah karena Aku. Dan, maaf karena telah menghancurkan hidupmu dengan adanya diriku.
Cowok itu menggeleng lemah. "Lo nggak pernah menghancurkan hidup gue, Va."
Dulu, Aku berharap kau tak hanya mampir, tapi juga menetap selama-lamanya. Sayangnya, itu hanya keinginan dan angan-anganku tanpa disetujui olehmu. Aku baru ingat kalau ini dunia nyata, bukan negeri dongeng yang selalu berakhir bahagia.
Namamu selalu menyempil setiap tanganku menengadah ke atas untuk berdoa pada Tuhan. Tapi, apa kau lakukan hal yang sama? Tentu tidak, karena kau pasti tak ada waktu dan tak terpikirkan hal itu.
Terima kasih, atas semua kebahagiaan yang kau bangun dan yang kau beri untukku dulu, karena dengan itu Aku bisa menciptakan dan berbagi sesuatu. Terima kasih juga atas rasa sakit yang juga kau berikan padaku, karena hal itu kugunakan sebagai acuan agar tidak mengulangi hal yang sama di masa yang akan datang.
Note : Jangan salahkan dirimu karena Aku yang harus berterima kasih padamu.
Ava Angelina Putri
Tanpa sadar, dada cowok itu terasa sangat sesak. Ingatan akan apa yang ia lakukan ke gadis itu teringat jelas dan semakin membuatnya bersalah.
Bulir bening pun juga turun membasahi pipi. Lama-kelamaan, linangan air mata itu menetes dan berhasil mengenai surat berwarna pink tersebut.
Alan mengambil amplop berwarna biru dengan polkadot warna pink.
Dear Alan ...
Hai lagi! Sudah baca dua surat sebelumnya? Kalau sudah, tolong baca surat ini yah. Tidak memaksa tapi juga tidak melarang.
Maaf, karena warna kertasnya putih dan tidak senada dengan warna amplopnya, padahal sudah kucari di mana-mana tapi tetap tidak ketemu.
Sudah melihat tulisanku di seragammu? Apakah lengkap? Tidak, bukan? Jadi, Aku akan memberi tahu sesuatu.
Mau tahu lengkapnya? Kalau ada air mata, hapus dulu sampai kering kemudian tunjukkan senyum termanismu. Tunjukkan ke dunia kalau saat ini kau sangat bahagia dengan pilihanmu sendiri.
Cowok mengikuti arahan yang tertulis di sana, kemudian mengulas senyum cukup lama sembari kembali membaca surat tersebut.
Sudah? Sangat panjang loh, jadi bacanya pelan-pelan aja.
Gue hanya ingin kita berbaikan tanpa adanya benteng penghalang yang semakin membuat kita jauh. Tidak terlalu berharap, tapi setidaknya bisa menjadi teman atau sahabat, 'kan? Gue capek harus bersikap seperti orang asing dan pura-pura tidak terjadi apa pun. Padahal saat itu, hari itu, dan waktu itu banyak kejadian yang terjadi. Seharusnya saat itu kita tidak menjauh hanya karena keegoisan, dan menyelesaikan masalah sampai selesai.
Apa kau mau?
Itulah yang ingin kutulis di seragammu, sayangnya, itu terlalu panjang, jadi kuurungkan. Selain itu juga karena teman-teman kita memanggilku. Maaf, karena mereka tak ikut memanggilmu juga pada saat itu. Tapi, kupastikan suatu hari nanti akan ada yang memanggil namamu dengan sangat antusias dan penuh dengan ketulusan.
Note : Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku. Terima kasih telah memberi berbagai macam warna di hidupku. Aku tidak pernah melupakanmu, jadi jangan lupakan Aku.
__ADS_1
Jika ingin mengetahui lebih banyak lagi, buka novelnya tepat di bagian paling belakang.
Ava Angelina Putri
Buru-buru cowok itu mengambil novel kemudian membuka halaman paling belakang. Di sana ada kertas origami berwarna orange yang terlipat, Alan membuka kemudian membacanya.
Hai lagi untuk kamu yang ada di sana!
Dulu, Aku berjanji akan memberikan novel gratis pada teman dan sahabat jika ceritaku berhasil dibukukan. Dan, sekarang hal itu sudah terwujud, jadi Aku akan menepati janjiku.
Memalak lima novel gratis langsung dari penerbit untuk lima orang yang paling special.
1.) Safira
2.) Sara
3.) Agnes
4.) Ana
5.) Kamu
Iya kamu, cowok berhoodie dengan senyuman yang sangat manis, cowok dengan belahan bibir di tengah, dan cowok dengan hobinya bermain game online tanpa henti. Jangan jadi pemalas hanya karena game online! Ayo bangun, bantu, dan banggakan kedua orangtuamu dengan prestasimu!
Sekedar informasi, selebihnya yang Aku beri untuk teman-teman lainnya adalah novelku yang Aku beli dengan uangku sendiri.
Enak tidak rasanya jika diistimewakan dan dianggap sebagai salah satu inspirasi?
Note : Keep smile and healthy.
Ava Angelina Putri
Alan terdiam sendirian di kamarnya yang sunyi ini. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan gadis itu. Cowok itu juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
Kalau hanya diam seperti ini rasanya tidak pantas ia lakukan jika dilihat kalau gadis itu sangat baik dan masih mengingatnya sampai sekarang.
"Maaf."
Hanya satu kata itu yang bisa terucap lemah dari bibir cowok itu.
***
"Non, Ava!"
Gadis yang dipanggil menoleh ketika sang Bibi berlari sembari memangil namanya saat Ava baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ada apa, Bi?"
"Saya nemuin ini di rerumputan samping rumah saat lagi nyapu tadi. Terus, saya cuci sampai bersih, karena sepertinya ini milik, Non Ava."
Gadis yang diajak bicara itu pun mengambil dua benda sodoran sang Bibi. "Iya, ini milik saya, Bi."
"Ya sudah, saya mau lanjut nyapu lagi, Non."
Ava mengangguk pelan. Bi Wiwik pergi dari sana, meninggalkan Ava yang saat ini tengah mengukir seulas senyum heran sekaligus senang. Ada sedikit raut terkejut di wajahnya.
Gadis itu menatap kedua benda yang saat ini ia pegang. Itu adalah benda yang sangat berharga dan memiliki banyak kenangan di masanya. Dua gelang berwarna hitam yang sama-sama berinisial huruf A.
"Kenapa balik lagi?" gumamnya heran sekaligus terkejut yang ditujukan pada kedua benda mati tersebut sebelum akhirnya menaiki anak tangga satu-persatu dan menghilang dari balik pintu kamar.
...***...
...Bagaimana tanggapan kalian tentang, Ava dan Alan?...
...***...
...Ditulis tanggal 31 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 04 Juni 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1