
...
...
Sudah sekitar empat hari ini Alan bersikap acuh tak acuh pada Ava, tidak mengirimkan pesan atau kabar, dan tidak saling bertemu satu sama lain. Jangankan bertemu, bahkan saling melirik ataupun menyapa pun tidak. Gadis itu galau berat dan sangat tidak mood untuk melakukan sesuatu apapun itu. Untuk makan saja Ava harus mengumpulkan niat penuh dan juga energinya.
Gadis itu yang duduk sendirian di kursinya mengalihkan pandangan tanpa mengangkat kepala ke arah teman-temannya yang ada di depan kelas tengah bermain Among Us.
Terlihat sangat menyenangkan dan seru saat semua teman-temannya bersorak kegirangan bersama-sama. Sejujurnya Ava ingin menyusul mereka tapi itu semua kembali ke awal yaitu harus mengimpulkan niatnya.
Dan ia sadar kalau kehidupannya saat ini ada sedikit perubahan yang terlihat sangat jelas. Jangan khawatir, karena kalian akan segera tahu apa itu.
Games datang duduk di samping Ava, menatap gadis itu sambil cengar-cengir tidak jelas. "Ava."
"Hmm," jawab Ava tanpa menatap Games sedikit pun.
"Nanti pas pulang upacara tujuh belas Agustus lo sama siapa?"
Nanti kalau gue pulang sama, Games, terus Alan lihat atau tahu gimana? Pasti nanti dia bakalan salah paham, terus tambah marah dan tambah ngejauhin gue.
Dalam hati gadis itu berdecak sebal, wajahnya pun dibuat sejutek mungkin dari biasanya. "Nggak tahu! Ngapain tanya-tanya?! Mau nganterin emangnya?!" Menatap sinis ke arah Games.
Dino menoel tangan Revan dan Safira bergantian. "Eeh, lo liat deh di sana! Kira-kira Games ngomong apa sama, Ava?"
Kedua orang itu lantas langsung menoleh ke arah Ava dan Games, sama-sama mengernyitkan dahi karena bingung. Detik berikutnya mereka bertiga saling menghendikkan bahu.
"Nggak tahu lah! Orang nggak dengar juga!" jawab Revan ketus. Entah kenapa hari ini cowok itu selalu berbicara ketus dan sinis.
Safira menonyor kepala Revan dari belakang. "Santai aja dong lo kalau ngomong! Nggak usah pake ngegas gitu! Dino tanya nyakan juga baik-baik! Ada masalah hidup apa emangnya? Sini coba cerita."
Revan meringis kesakitan kemudian menatap Safira penuh dendam, tapi beberapa detik kemudian Revan menatap ke arah lain saat Safira menatapnya lebih garang.
"Nanti kita tanya aja elah gitu aja susah banget! Sekarang ini biarin dia tenang dulu. Kalau hatinya udah agak sedikit baikan nah baru deh kita ngehibur dia semampu kita."
Keduanya mengangguk menanggapi rencana Dino, mereka bertiga kembali bermain game Among Us. Bukannya mereka tidak perduli pada Ava, tapi di saat seperti ini lebih baik diam dan membiarkan gadis itu lebih tenang. Daripada menghibur hati Ava dalam keadaan hati dan pikiran yang panas, nantikan takutnya akan semakin menambah masalah.
Games semakin melebarkan senyumannya. "Iya, lo mau nggak?"
Ava mengalihkan kepala ke sisi lain. "Nggak tahu! Udah ah! Lo pergi aja sana! Ganggu banget!"
Games berdiri dan beranjak pergi. "Nanti, kalau lo mau bilang aja sama gue. Okay?" Games pergi dari sana, kembali duduk bersama teman-temannya.
Iya, selain sang peneror mulai jarang mengirimkan pesan misterius pada Ava. Sekarang Games semakin gencar untuk mendekati gadis itu. Tidak ada keraguan ataupun malu saat Games mendekatinya secara terang-terangan.
Ava menghela nafasnya, gadis itu tetap percaya dan berusaha tegar agar tidak membuat teman-temannya khawatir. Ava mengecek ponselnya untuk melihat apakah Alan mengirimkan pesan atau tidak. Tapi hasilnya nihil, cowok itu sama sekali tidak memberi kabar apapun dan selalu saja Ava yang mengirim pesan lebih dulu.
Gadis itu kembali meletakkan kepala di atas meja dengan tumpuan ke dua lengannya.
Hati masih ada rasa percaya, tapi pikiran sama sekali kehilangan rasa percaya. Jadi, mana yang harus gue pilih saat gue juga tahu ini bakalan terjadi?
Ada yang lebih sakit daripada kehilangan, yaitu tetap bersama namun tidak saling peduli, ujar gadis itu dalam hati, merasa sangat hampa dan kosong.
__ADS_1
Tahu hal ini bakalan terjadi?
Bagaimana Ava bisa tahu kalau hal ini akan terjadi? Dan, kenapa kalau Ava sudah tahu tentang hal ini, gadis itu memilih diam dan memendamnya?
***
Masih di bangunan yang sama tapi di kelas X Ips 3 Alan tengah mengobrol santai dengan Natalie. Tidak tahu kapan mereka menjadi sedekat ini, tapi tiba-tiba saja hal itu berjalan dengan sendirinya.
Beberapa hari terakhir Alan memang sering berbicara pada Natalie dalam hal apapun itu. Pembahasan yang paling mereka sukai adalah tentang Game, karena, 'kan, Alan itu sebenarnya anak gamers, cowok itu juga sering menawarkan atau meminta pertolongan pada Natalie padahal ada Justin yang duduk di sampingnya.
Justin dan teman-teman yang lainnya pun juga bingung bagaimana Alan bisa seperti itu. Padahal Justin tahu betul Alan itu orangnya seperti apa, karena Alan itu tipe cowok yang cuek dan bodo amat pada orang yang tidak dekat dengannya, terlebih pada seorang wanita. Sedangkan Natalie pun juga menanggapi hal itu dengan senang hati karena memang sejak awal gadis itu menyukai Alan.
Justin merasa seperti tersisihkan karena keberadaan Natalie. Semenjak ada Natalie, Alan jadi jarang kumpul bersama teman-teman baik di kelas X Ips 3 maupun kelas X Ips 4. Semua teman-teman Ava yang ada di kelas X Ips 3 pun bingung bagaimana harus memberi tahu dan menjelaskannya pada Ava. Jadi, daripada membuat Ava semakin sakit hati lebih baik mereka diam dulu.
Bagus, Justin, Syarifa, dan Agnes berkumpul dalam satu meja, tepatnya di meja Bagus yang letaknya tepat di samping jendela lorong kelas.
Agnes menatap ke arah meja Alan dan Natalie saat kedua orang itu tengan saling tertawa. "Mungkin nggak sih kalau Alan beralih ke Natalie dan ninggalin, Ava?"
Syarifa mengulum bibirnya, karena bingung juga dengan keadaan yang seperti ini. "Tapi, apa mungkin semudah itu Alan ngelepasin Ava? Yang bahkan kita pun juga tahu gimana perjuangan Alan buat ngedapetin Ava."
Bagus menyandarkan punggungnya ke dinding. "Bukan nggak mungkin kalau Alan pindah ke lain hati setelah dirasa apa yang ia sukai dulu perlahan berubah menjadi rasa bosan."
Semua teman-teman yang ada di sana langsung menatap Bagus dengan mata yang tajam, seolah-olah apa yang dikatakan Bagus itu salah dan tidak akan pernah terjadi.
"Ya-ya bukan maksud gue gitu, tapi, 'kan, yang di atas bisa dengan mudahnya membolak-balikkan hati manusia. Kita semua nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
Detik berikutnya semua teman-temannya mengangguk setuju, pernyataan Bagus kali ini ada benarnya juga.
"Tapi benar juga, ya, apa yang lo bilang, tumben otak lo berguna kali ini?" cibir Agnes diiringi kekehan.
Justin mengeluarkan ponselnya dari saku karena tadi bergetar. Dan ternyata itu pesan dari Ava yang ingin bertemu di taman belakang sekolah.
Buru-buru Justin langsung pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Tidak menghiraukan semua temannya yang memanggil-manggil namanya.
***
Ava menoleh saat Justin duduk di sampingnya. Kini mereka hanya berdua saja. Bukannya tanpa sebab Ava bercerita pada Justin, itu karena Justin lah yang tahu lebih dalam tentang sang pacar.
"Justin, gue mau lo jujur sama gue tanpa ada yang lo tutup tutupin. Gue teman, lo, kan?" Ava berkata sangat lirih dan begitu lembut. Tapi hal itu justru membuat Justin takut untuk menjawab.
Perlahan-lahan cowok di depan Ava mengangguk. "I-iya gue teman lo, Va."
Perasaan campur aduk mulai dari kesal, marah, kecewa, sakit hati, cemburu, sedih, dan lain-lain sudah dirasakan Ava beberapa hari terakhir. Jujur sebelumnya gadis itu belum pernah sesakit dan sekecewa ini.
"Alan dekat sama Natalie mulai sejak kapan? Dan, kenapa kalian nggak cerita ini sama gue sebelumnya?" Dengan suara yang terdengar lirih tapi penuh penekanan di setiap katanya.
Tentu saja Justin sangat tertohok dengan pertanyaan Ava. Cowok itu memijit pelipisnya karena mulai gusar serta bingung harus menjawab bagaimana.
"Lo nggak perlu jawab, karena gue cuma pengen lihat apa kalian nyembunyiin sesuatu atau boonhin gue." Ava menjeda kalimatnya sambil mengalihkan pandangan, "Tadi, pas gue mau ke kelas buat nyusul dan nanya ke Alan kenapa dia berubah, gue dengar kalian semua ngobrol tentang Alan dan Natalie yang lagi mesra-mesraan berdua."
"Setelah gue liat dengan kedua mata gue sendiri, ternyata emeng benar kalau Alan dekat banget sama Natalie sekarang." Tanpa sadar air mata gadis itu mengalir begitu derasnya. Hatinya sakit dan perih saat melihat hal itu. Melihat dan merasakan Alan yang berubah acuh padanya pun hati Ava rasanya remuk hancur berkeping-keping, apalagi saat melihat Alan bersama dengan gadis selain Ava.
Justin yang melihat itu merasa sangat kasihan dan iba kepada Ava. Siapapun itu Justin tidak akan tega melihat orang lain menangis sampai seperti ini, apalagi ini adalah ulah sahabatnya sendiri yaitu, Alan. Rasanya Justin ingin sekali menonjok wajah Alan untuk memberi cowok itu pelajaran, setidaknya Alan juga merasakan rasa sakit, tapi yang dirasakan Ava jauh lebih sakit berkali-kali lipat dari itu.
__ADS_1
Ava masih terisak dalam tangisnya sambil menutup kedua wajah dengan kedua tangan. Ia hanya tidak mau Justin melihat dirinya menangis. Cowok itu hanya perlu mendengar dan Ava pun hanya ingin didengar.
Beberapa detik kemudian, tangan Justin terulur untuk mendekatkan Ava ke dirinya. Berniat memeluk sekedar memberi sandaran bagi gadis itu agar tidak memendam semua rasa sakit yang ia rasakan selama ini, mencoba menguatkan gadis itu dan memberitau kalau dia tidak sendiri.
Ava tidak menolak atau memberontak sedikit pun. Bahkan gadis itu berbalas memeluk Justin yang kini tengah memeluk sambil menepuk-nepuk punggung Ava pelan.
"Lo bisa nangis sepuasnya di sini, gue nggak akan bilang ke siapapun tentang ini. Cuma dua hal yang perlu lo tahu dan pahami. Pertama, lo nggak sendiri Ava, masih ada teman dan sahabat-sahabat lo yang selalu ada buat ngelindungin dan nolongin lo." Justin yang tadinya menatap ke kepala Ava kini menatap ke arah pintu masuk belakang sekolah, karena tadi Justin merasa ada yang menatap dan melihatnya dari kejauhan.
Mata tajam Justin terus terarah ke arah pintu itu, mencoba melihat dan mengamati apakah benar ada orang di balik pintu itu yang sedari tadi menonton dan menguping pembicaraannya dengan Ava.
"Ke dua, kita nggak bermaksud buat ngehianatin atau bohongin lo soal ini, karena ita semua cuma nggak mau lo semakin sakit hati gara-gara Alan. Gue emang sahabat Alan, tapi gue juga nggak terima Alan memperlakukan lo kayak gini." Masih menatap ke arah pintu.
Saat Justin mengatakan hal itu, tangis Ava semakin menjadi-jadi, lebih keras dan lebih terisak dari sebelumnya. Ternyata ia salah telah menuduh Justin selama ini, dan Ava menyesal alan hal itu.
"Makasih Justin atas sandaran yang lo kasih."
Walaupun terdengar samar-samar dan hampir tidak jelas karena Ava menangis terisak sampai sesegukan, tapi Justin masih bisa mendengar apa yang Ava ucapkan.
"Iya, sama-sama. Lo itu teman gue, jadi gue juga harus membantu lo juga saat kesusahan. Nanti, gue akan coba untuk ngomong sama Alan alasan kenapa dia bisa dengan cepat berpaling dari lo."
Ava mencoba tetap tegar dan kuat. Ia tidak boleh mengecewakan teman dan sahabat yang sudah rela melindungi serta membantunya selama ini.
Seharusnya Alan yang memeluk Ava saat ini. Harusnya Alan yang menenangkan Ava saat menangis. Harusnya Alan yang menemani Ava di sini. Dan, seharusnya pula yang membuat Ava menangis itu orang lain, bukannya Alan. Tapi sayangnya, Alan lah yang memberikan semua rasa sakit yang dirasakan Ava saat ini.
"Bukan cuma Milea yang bisa rindu dengan Dilan nya, tapi Ava juga bisa rindu dengan Alan nya. Rindu memang berat, tapi dosa-dosa Alan jauh lebih berat. Tuhan, tolong ampuni Alan atas kesalahannya." gurau Justin untuk menghibur gadis sahababatnya.
Ava terkekeh bercampur tangis sembari menabok dada Justin pelan. "Apaan sih?"
***
Di balik lorong belakang sekolah ada gadis berambut gelombang yang tengah mengelus dadanya pelan. Karena ia sempat akan ketahuan tadi, jadi sebelum ada yang melihatnya ia lebih baik pergi. Yang terpenting gadis itu sudah mendapat rekaman video Ava dan Justin tadi saat berpelukan.
Gadis itu menatap hp nya dengan bangga.
Successful. Good luck yes lucky girl.
Berjalan menjauh dan pergi dari sana.
...***...
...Haduh! Ribet dan ngebingungin juga, ya, masalah Ava ini....
...Mau tahu lanjutannya nggak? Kalau mau yuk lanjut baca dan tungguin terus update- annya!...
...Ayo kalian tebak dong dan menerka-nerka! Kira-kira siapa gitu yang gadis yang ngerekam itu?...
...***...
...Ditulis tanggal 10 Oktober 2020...
...Dipublish tanggal 20 April 2021...
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....