Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 59 ~ Sedikit Perubahan


__ADS_3

...



...


Pagi ini SMAN Tri Bakti Jakarta dihebohkan dengan foto-foto dan video dua sejoli yang berhasil menyita perhatian masyarakat sekolah ini maupun sekolah lain. Siapa lagi jika bukan Alan dan Ava.


Dan yang menyebarkan itu pasti siswa dan siswi yang Alan undang tadi malam. Tidak sedikit dari mereka yang menghujat dan tidak sedikit pula yang mendukung.


Apapun yang mengganggu dan meribetkan Ava serta Alan, mereka tidak akan perduli. Ada yang mendukung, ya, syukur, tapi kalau ada yang menghujat, ya, tidak apa-apa karena semua orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda.


***


09:15


Ava melihat Alan dari jendela, karena di kelas X Ips 3 masih pelajaran.


Safira sudah duluan ke kantin bersama dengan Ana tadi. Ava menyandarkan punggungnya ke tembok sambil menatap langit cerah nan biru di atas.


Sepertinya sudah sangat lama Ava tidak mengambil gambar berbagai jenis dan bentuk awan, karena itu adalah salab satu hobinya. Lebih tepatnya setelah mengenal Alan, gadis itu jadi tidak pernah lagi melakukan hobi tersebut.


Gadis itu berbalik dan mendapati Natalie yang sudah duduk berhadapan dengan Alan. Kening Ava berkerut dan ada sedikit rasa kemarahan di hati gadis itu, tapi sebaik mungkin Ava tetap berpikir positif dan belajar menjadi orang yang tidak pencemburu.


Ava yakin itu hanya kerja kelompok karena ada guru perempuan yang mengisyaratkan para siswa untuk melihat tabel dari pelajaran Matematika di papan tulis. Selagi menunggu Alan, Ava mengeluarkan poselnya dan memfoto awan-awan yang sekiranya bagus.


Tidak tahu apa yang Ava lakukan terhadap foto-foto awan itu tapi yang pasti itu membuat ketenangan, kesenangan, dan kepuasan di hatinya, karena bahagianya cukup sederhana.


Ava menoleh karena ada yang menepuk bahunya, tapi detik berikutnya gadis itu tersenyum karena itu adalah Alan.


Ava celingukan dari arah belakang Alan. "Yang lain mana?"


"Masih beres-beres."


"Yuk ke kantin!" ajak Ava dengan semangat 45.


Alan mengangguk. "Bentar gue ambil hoodie dulu." Cowok itu berbalik.


Tapi tanpa sengaja saat Alan berbalik, cowok itu malah menabrak seorang perempuan yang membawa tumpukan buku tulis.


"Maaf." Alan berjongkok dan ikut memunguti buku-buku yang jatuh.


"Iya nggak papa," jawab gadis dengan rambut yang di kuncir kuda.


Ava yang melihat itu hanya bisa menahan rasa cemburu saat Alan dan gadis itu bertatapan sepersekian detik.


Tidak tahu kenapa gadis itu secemburu dan pemarah seperti ini? Padahalkan Alan hanya membantu karena itu juga salah Alan, jadi Ava hanya bisa menahan semuanya karena ia juga lelah bersikap seperti itu.


Keduanya bangkit secara bersamaan, Alan memberikan buku yang ia pungut tadi pada gadis itu, setelah itu keduanya saling berjalan berlawanan arah tanpa ada sepatah katapun sebagai tanda perpisahan.


Ava menoleh ke arah Natalie karena tadi ia sempat melihat gadis itu meliriknya.


Natalie memeriksa buku-bukunya, karena takut jika ada yang kurang. "Yaya, Ovi, Umi, William, Leo, Ovi, Sherli, dan Ervan. "


Iya, itu yang Ava dengar samar-samar dari mulut Natalie yang semakin menjauh, setidaknya gadis itu tidak mendengar Natalie memuji atau bersikap kesenangan karena Alan membantunya.


Alan menepuk bahu Ava dari belakang yang membuat sang empu menoleh. Ada sedikit raut tidak suka di wajah Ava saat Alan memakai hoodie warna pink.


Ava mengerucutkan bibirnya. "Kok lo pakai warna pink, sih? Kan, gue nggak suka warna pink!"


Alan merangkul pundak Ava, keduanya berjalan beriringan.


"Yang nggak suka itu lo, Ava, bukan gue. Bukan berarti lo nggak suka warna pink, gue juga harus nggak suka, jadi jangan suka ngelarang atau ngatur kehendak orang lain, karena itu nggak baik. "


Skakmat!


Ava dibuat bungkam akan kata-kata Alan barusan , gadis itu sempat ingin protes tadi, tapi setelah Ava pikir-pikir lagi omongan Alan ada benarnya juga. Jadi, ia harus berusaha keras untuk merubah sikapnya yang tergolong tidak baik atau bahkan merugikan orang lain.


***


Kini Ava dkk sudah ada di kantin, lebih tepatnya duduk bagian paling pojok sebelah kiri di karenakan meja di sini paling panjang dan paling lebar, jadi bisa muat untuk mereka semua.


Justin, Bagus, Agnes, dan Syarifa yang mengambil pesanan makanan serta minuman, 'kan, yang antri juga tidak boleh banyak-banyak dan cukup perwakilan beberapa saja daripada menyesaki kantin.


"Lo udah makan coklatnya?" Alan menatap Ava yang sibuk melamunkan sesuatu.


Harusnya malam kemarin adalah malam yang paling bahagia bagi Ava, hari ini dan hari seterusnya juga harusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi gadis itu. Tapi sayangnya Ava sudah mengetahui semuanya leih awal.


Awalnya Ava sangat yakin kalau Ava lah yang akan menang, tapi semakin ke sini Ava lihat sikap Alan ada yang berubah.

__ADS_1


Jujur saja gadis itu tidak tahu apa yang berubah di diri Alan, tapi ia sangat merasakan perubahan itu. Rasanya bukan seperti menjadi iron man, bukan. Lebih tepatnya seperti ada yang hilang dan perlahan-lahan semakin tidak terasa.


Merasa tak didengarkan, Alan menoel tangan Ava sehingga membuat pertahanan gadis itu sedikit runtuh.


"Hah? Apa?"


"Lo udah makan coklatnya?"


Gadis itu menggeleng. "Belum masih, gue simpan. Nanti pasti gue makan kok." Menatap ke arah Revan yang tengah bermain batu gunting kertas dengan Safira.


"Van, Dino mana?" itu suara Ava yang bertanya, karena akhir-akhir ini Dino sering tidak ikut nimbrung.


Tanpa menoleh Revan menjawab, "Nggak tahu. Palingan juga di kelas main Among Us , kalau nggak gitu, ya, gangguin si Amin lagi main masak-masakan pakai buku sebagai piringnya, bolpoin dan pensil sebagai satenya, tipex sebagai minuman dan sausnya, serta penghapus sebagai dagingnya."


Sekedar informasi, Amin itu teman sekelas Ava yang setengah laki-laki dan setengahnya perempuan, suka bangat main masak-masakan sama anak perempuan tapi cita-citanya jadi tentara.


"Lengkap banget, ya?" ejek Safira diiringi kekehan pelan.


"Banget," sambung Revan.


Gadis itu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


Ting


Ting


Tanpa aba-aba Ava langsung mengambil hp nya di meja, karena gadis itu tidak mau siapapun ada yang mengambil alih hp nya dan membuat orang-orang yang ia sayangi khawatir ataupun dalam bahaya jika mengetahui hal tersebut.


Sayangnya Alan yang melihat Ava bertingkah aneh seperti itu hanya menerka-nerka apa yang sebenarnya Ava sembunyikan darinya. Alan terus mengamati gerak-gerik sang gadis.


+62 8966 ×××× ××××


Hai Aku rindu padamu! Temukan Aku! Aku ada di sekitar Mu! Aku bersembunyi tapi tidak sepenuhnya bersembunyi.


Ava mematikan layar ponselnya dan semoga tidak ada yang melihat pesan itu termasuk Alan yang duduk paling dekat dengan Ava.


Bagus dan Agnes datang membawa beberapa somai, bakso serta nasi goreng sesuai pesanan mereka semua.


"Minumnya, mana?" tanya Safira.


"Tuh lagi ngantri di sana." Bagus menunjuk ke arah Justin dan Syarifa yang mengantri di stand jus.


Ava lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar kantin, mencoba mencari-cari siapa saja yang sekiranya mencurigakan dan tentunya yang membawa benda pipih.


Tapi tiba-tiba arah pandangan Ava tertuju pada Justin yang tengah menyeringai dan melambaikan tangannya ke arah Ava.


Kening Ava berkerut. Justin melambai? pikirnya dalam hati.


Dilihatnya juga Justin yang juga tengah memegang ponselnya. Ava langsung menghadap lurus ke depan, pikirannya bertreveling kemana-mana sekarang.


Keringat dingin mulai membasahi punggung Ava. Apa Justin yang selama ini neror gue? batinnya.


Tidak. Ava tidak boleh menuduh orang sembarangan apalagi itu adalah temannya sendiri, karena Ava juga sudah berulang kali melakukan hal tersebut.


Oh, Tuhan! Ini sungguh sangat memuakkan dan melelahkan, lama-kelamaan hal ini bisa membuat Ava gila.


"Lo kenapa, Va?" tanya Alan yang sedari tadi mengamati Ava.


Ting


Ting


Bukannya menjawab pertanyaan Alan dulu Ava malah melihat isi pesan yang baru saja dikirimkan.


+62 8966 ×××× ××××


Sedikit lagi! Kau melihatku tapi tidak sepenuhnya melihatku! Lain kali lebih teliti lagi yah! Kapan-kapan kita bermain lagi, dan selamat menikmati makananmu.


"Ava! Lo kenapa, sih?!" kesal Alan karena dari tadi dirinya tidak dihiraukan gadisnya.


Karena Alan sedikit meninggikan suara, teman-temannya pun sampai melirik ke arah keduanya.


Ava jadi dibuat gelagapan untuk menjawab karena saking takutnya. Gadis itu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam kemudian beralih ke bakso yang ada di depannya.


"Nggak kenapa-napa kok. Makan aja ayo." Memasukan satu bakso kedalam mulutnya.


Semuanya kembali ke makanan masing-masing, kecuali Alan yang tengah menatap Ava kebingungan akan apa yang terjadi dengan gadis itu.


Setelah lama mengantri akhirnya Justin dan Syakira datang membawa berbagai macam rasa jus. Ava kembali fokus memakan bakso saat tadi dirinya sempat menatap Bagus yang tengah mengangkat satu alis dengan senyum samar.

__ADS_1


Tidak!


Tidak, Ava! Jangan lagi menuduh teman-temanmu yang bahkan tidak melakukan apapun, justru mereka lah yang membantu dan terus menyemangatimu dalam suka maupun duka.


Ava harus percaya dan menghilangkan pikiran negatif tinking terhadap teman-temannya. Yaa, walaupun itu susah, ia harus berusaha sekuat tenaga, karena Ava juga tidak mau mengecewakan apalagi menghianati orang lain.


***


"Lo kenapa sih, Va? Sikap lo lama-lama makin aneh tahu nggak?" cibir Safira yang melihat Ava melamun. Bahkan gadis itu sekarang sering kali melamun.


Ava menoleh. "Nggak. Gue nggak papa kok, jadi ... lo tenang aja. Gue mau tidur dulu nanti kalau ada guru bangunin gue."


Safira mengangguk. "Iya, nanti gue bangunin."


Ava menelungkupkan kepalanya ke arah lain agar Safira tidak melihat wajah Ava.


Iya, Ava tidak tidur sama sekali. Gadis itu justru malah memikirkan siapa peneror itu dan mulai sekarang ia akan lebih cermat dan memahami isi membaca pesan itu.


Karena Ava rasa peneror itu dari awal ingin Ava temukan. Tapi kenapa ingin ditemukan? Bukankah hal itu akan semakin membuat sang peneror terancam?


Dalam hati gadis itu bertanya-tanya, Siapa orangnya, ya?


***


Alan mendudukkan dirinya di belakang kelas, ikut bergabung bersama teman lainnya yang ada di sana.


"Tumben, Lan, ikut nimbrung? Biasanya sama Justin mulu?" celetuk Naiz- Cowok dengan rambut gondrong.


Alam hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Eh! Sini! Sini! Gue punya sesuatu yang asik!" ucap Ali- Cowok di kelas X Ips 3 yang terkenal dengan otak mesumnya.


"Apaan?" Rizan mendekat dengan semangat- dia cowok yang jago banget main gitar.


"Siapa di sini yang doyan nonton gituan? Gue punya banyak stok nih, kalau ada yang mau."


Alan meneguk ludahnya susah payah saat mereka semua yang ada di sana mengacungkan tangan kecuali dirinya yang lantas membuat mereka semua menatap ke arah Alan heran.


"Lo, nggak suka nonton gituan?" tanya Naiz.


"Emang, boleh nonton di sini?"


Naiz merangkul pundak Alan. "Ya bolehlah. Lagian, laki-laki itu wajar kalau nonton gituan. Berarti lo belum pernah?"


"Pernah. Tapi satu minggu sekali."


"Hah? Satu minggu sekali? Gue mah kurang," ungkap Ali jujur.


Tampang Ali ada unsur Arab dan Indianya. Nama cowok itu juga terdengar sangat Islami, tapi kenapa isi otaknya seperti itu, ya? Selain itu, Ali adalah salah satu siswa terpintar di kelas X Ips 3. Aneh! Padahalkan dia suka nonton yang begituan, tapi kenapa bisa sangat pintar? Ajaib memang. Hanya, Tuhan, lah yang tahu alasannya.


Rizan menonyor kepala Ali. "Otak mesuk emang dia. Dasar!"


"Biarin ah! Lan, jadi ikut nonton nggak?"


Alan menimang-nimang sebentar, sepertinya ini ancaman baginya karena nanti ada pelajaran BK dan pasti hp seluruh siswa dan siswi pada di cek, jadi jangan sampai guru BK tahu kalau ia juga habis nonton begituan di rumah semalam.


Cowok itu menggeleng setelahnya. "Nggak, kalian aja."


"Oh, ya udah kalau nggak mau. Kita nonton dulu," pungkas Naiz berkumpul menjadi satu bersama dengan Rizal, Ali, dan tiga cowok lainnya.


Alan langsung berdiri kemudian duduk di kursinya lagi. Ia mengambil ponsel dari dalam tas kemudian mengahapus semua history tontonanbya kemarin sampai tak ada yang tersisa.


"Kenapa, Lo? Kok, kayak tegang gitu?" tanya Justin yang baru saja datang seraya menyedot minuman berbungkus plastik yang ia pegang.


"Diam, jawab Alan masih sibuk menghapus pencariannya di berbagai aplikasi yang ada.


Justin ikut nimbrung bersama Ali dkk yang saat ini tengah cekikikan. "Ngapain, sih?" Mengintip dari arah samping.


Justin tiba-tiba saja menegang. Habis ini, 'kan, ada pelajaran BK, dan itu semua belum gue hapus. Mampus gue. Buru-buru cowok itu duduk di bangkunya sembari meminum minumannya kemudian melakukan hal yang sama seperti yang Alan lakukan barusan.


...***...


...Yang sudah tahu sifat Alan luar dan dalam bagaimana? Ingin pindah atau menetap?...


...***...


...Ditulis tanggal 03 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 17 April 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2