
...Selamat pagi semuanya!...
...Aku update terus nih, supaya kalian senang dan ngebut bacanya!...
...Aku malah udah nggak sabar nih buat ending, insyallah bulan ini udah selesai semua tanpa ada yang tertinggal!...
...***...
...
...
Gadis itu perlahan-lahan menolehkan kepalanya ke belakang, tapi tidak ada apa-apa di sana. Mungkin itu cuma perasaannya saja karena masih penasaran.
Ava sempat berhenti dan ingin beranjak pergi dari sana saat ada Natalie yang duduk di samping Alan, tapi, ya, sudahlah, toh Ava juga tidak mau jauh-jauh dengan Alan dan tidak akan membiarkan Natalie kali ini.
"Minggir, lo!" gadis itu langsung menggeser Natalie dan duduk di samping Alan.
Tampang Natalie langsung tidak bisa dikondisikan saking jeleknya. "Apaan sih lo? Datang-datang udah ngajak ribut aja!"
Revan membisikkan sesuatu ke Safira yang duduk di sampingnya. "Salah lo itu mah, dan ... sepertinya bakal ada perang dunia ke empat?"
Ava tak mau kalah begitu saja, gadis itu berdiri dan menatap Natalie lebih sengit. "Lo yang apaan! Tiap detik aja mepet-mepet mulu sama Alan!"
Keduanya langsung menjadi bahan sorotan dan perbincangan seisi kantin, bahkan Dinda yang tadinya memaksa menggelendot di lengan Aras pun ikut berhenti dan menyorot ke arah sudut kantin.
"Ya biarin dong! Alan, 'kan, udah milih gue dan dia juga udah ninggalin lo, jadi lo nggak ada hak untuk itu."
"Mendingan ka-"
"Diam!" sentak Ava dan Natalie kompak. "Ini urusan kita bertiga."
Justin yang tadinya mau melerai langsung kicep dan mengatupkan kedua bibir, takut.
"Urusan kalian berdua kali," gumam Alan pelan, cowo itu masih sangat tenang meminum jus buah naga.
"Lo ogeb yang jadi rebutan mereka berdua!" damprat Ana yang mendengar gumaman Alan tadi.
"Gue, 'kan, udah bilang, kalau lo sama Alan belum resmi sah! Gue bakal terus merjuangin dia sampai gue lelah," Ava melipat kedua tangan di dada, menatap remeh. "Lagian, mungkin Alan buta hati dan buta mata, sampai-sampai dia milih lo, dan gue juga yakin kalau Alan itu masih cinta sama gue. Dia milih lo cuma untuk manas-manasin gue aja, aama sekali nggak ada rasa suka ataupun cinta sama lo."
Penghinaan yang Ava lontarkan langsung membuat Natalie murka dan marah besar. Terbukti dengan tangan gadis itu mengepal sangat kuat, wajahnya merah padam, dan deru nafas yang menggebu-gebu.
Sebelum Natalie melayangkan pukulan nya, Alan yang sudah mulai geram pun angkat bicara. Tentu masih dengan gaya yang cool serta tenang. Ia juga sebenarnya malu menjadi bahan tontonan seisi kantin.
"Udah, lo nggak usah ikut campur, nanti masalahnya tambah rumit, dan balik lagi Ava yang disalahin," tutur Agnes saat Safira akan maju angkat bicara mewakili sahabatnya, Ava.
"Tapi ..."
Safira akhirnya mengangguk pelan setelah mendapat tatapan permohonan dari Agnes.
"Lo dengerin baik-baik apa yang gue omongin kali ini. Kita berdua udah nggak ada hubungan apa-apa, jadi lebih baik lo nggak usah ngedeketin gue lagi daripada lo lebih sakit hati nantinya."
Air mata gadis itu perlahan-lahan turun membasahi pipi, kembali lagi, kalau dirinya tidak perduli menjadi bahan tontonan seisi kantin. "Tapi gue sayang banget sama lo, Alan. Kalau lo nggak mau gue sakit hati itu artinya lo masih sayangkan sama gue? Kalau lo nggak mau itu terjadi, lo cukup balik sama gue lagi kayak dulu."
"Sayangnya, perasaan gue nggak sama kayak lo, Ava. Cara gue itu menjauh, bukan mendekat. Karena semakin lo menjauh, lo juga semakin baik-baik saja, dan kalau lo semakin mendekat, lo akan semakin tidak baik-baik saja. Hal itu akan menambah rasa sakit lo secara bertubi-tubi."
"Tapi, lo sama sekali nggak cinta sama gadis Chienne itu! Apa lo buta sampai nggak bisa bedain mana yang baik dan mana yang enggak? Sudah terlihat jelas bahwa gue lebih baik dari dia! Gue kurang apa? Cantikan juga gue!"
Mendengar dan melihat Ava yang mengemis pada Alan membuat hati Aras tersayat perlahan-lahan tapi semakin dalam. Bukan hanya Aras saja, tapi juga semua teman sekaligus sahabat Ava merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Tidakkah Alan merasakan rasa sayang Ava yang begitu besar untuknya? Jika tidak, apa yang dikatakan Ava benar kalau cowok itu sudah buta.
Natalie hanya diam mendengar makian dari Ava, hal ini ia gunakan untuk menjatuhkan gadis itu dalam waktu yang cukup singkat, dan ia juga yakin kalau Alan akan tetap membelanya. Ia hanya butuh sedikit bumbu untuk menjadi gadis yang penuh dengan rasa iba dan meminta dikasihani.
"Stop Ava! Lo nggak usah nyakitin diri lo sendiri!" Ava tersentak saat Alan membentak di depan umum. "Gue nggak perduli! Nggak pernah ada rasa suka saat gue sama lo! Gue sayang dan cinta sama Natalie! Karena sama lo itu, sangat membosankan."
Alan menggandeng tangan Natalie yang saat ini tengah memasang wajah sesedih mungkin. "Semakin banyak bicara, lo juga semakin mempermalukan lo diri sendiri," bisiknya saat melewati Ava kemudian hilang dari balik pintu kantin.
Hati yang tadinya sedikit demi sedikit mulai terbentuk, kembali hancur saat mendapat tusukan lisan yang bertubi-tubi dari mulut laki-laki yang dicintainya.
Bak sambaran petir di siang bolong, Ava tak akan menduga dan menyangka bahwa cowok itu akan membentak dan mengatakan itu semua, di depan umum pula.
Semuanya campur aduk. Ava menatap sekeliling kantin, gadis itu mulai sadar dan ada sedikit rasa malu saat seisi kantin menatap dengan tatapan risih. Bisikan-bisikan pun sampai terdengar di telinganya.
"Dasar gadis murahan, udah ditinggalin kok masih aja ngejar."
"Nggak tagu diri banget dia, harusnya sadar diri dong kalau yang cowok udah nggak mau."
"Kalau gue jadi dia sih kayaknya gue udah pindah sekolah, dasar nggak punya malu."
Ava menyeka air matanya yang bercucuran, lalu pergi dari sana secepat kilat menuju suatu tempat.
Karena tak ada yang berniat menyusul Ava karena membiarkan Ava tenang dulu, Aras justru mengejar gadis itu, tidak mengindahkan teriakan Dinda yang memanggil namanya.
Saat semua temannya pada duduk sambil menghembuskan nafas kasar dan mengerang, Safira justru pergi dari sana untuk menemui dan memberi pelajaran pada seseorang.
"Fir, mau ke mana?" teriak Revan yang sama sekali tak ditanggapi Safira.
***
Di sinilah Ava menuangkan semua rasa sakit dan tangisannya, di mana lagi jika bukan di belakang sekolah, karena di sini ia bisa melakukan apapun. Tapi, kali ini gadis itu hanya menangis, tak melempar apapun seperti waktu itu.
"Apa gue seenggak berguna itu? Apa gue semembosankan itu?"
"Kenapa nggak ada yang ngerti itu? Bahkan, Alan pun nggak melihat perjuangan gue."
"Lo nggak salah, dan gue mengerti gimana perasana lo."
Ava menoleh saat laki-laki itu mendekat lalu duduk di sampingnya. Ia juga sadar dan paham akan apa yang dikatakan Aras, karena kejadian saat ini mengingatkannya pada kejadian di lapangan basket saat Ava menolak Aras di depan umum. Apa yang Aras rasakan sesakit ini? Jika iya, maka ia sangat berdosa.
Apa Ava juga kena karma atas perbuatanya? Jika iya, mungkin Ava pantas menerima hal itu.
Perlahan tapi pasti, Aras mengusap air mata Ava yang masih mengalir sangat deras dengan jari jempol, menatap sendu gadis di depannya. "Lo nggak perlu sedih, kalau jodoh pasti bakal dipersatuin lagi kok. Mungkin ... Tuhan mau nguji seberapa cintanya lo ke Alan. Tapi, kalau kalian nggak berjodoh, lo pasti bakal mendapat yang lebih baik dari dia."
Masih dengan sesegukan Ava menjawab, "Ta-tapikan gu-gue sa-sayangnya sa-sama Alan"
"Iya, gue tahu. Mungkin, lo harus lebih giat lagi untuk mendapatkan cintamu dari cowok itu." Aras terkekeh, walau sulit dan sakit mengatakan kalau ia membela dan mendukung Ava untuk memperjuangkan Alan, Aras tentu tidak keberatan dan akan melakukan itu untuk gadis yang dicintainya.
Semua apapun yang dilakukan karena atas dasar rasa cinta, pasti akan orang itu lakukan baik atau buruknya. Gila dan bodoh karena cinta? Itu wajar dan memang benar adanya di dunia nyata.
Tidak tahu kenapa ia bisa secinta ini dengan Ava, seperti ada tarikan tersendiri yang membuat Aras tidak bisa lepas dari segala sesuatu yang bersangkutan dengan Ava. Jauh maupun dekat yang ada di pikirannya pasti Ava, setelah Tuhan dan kedua orang tuanya.
"Berarti, gue harus lebih mendominasi daripada adanya Natalie, gitu?"
Aras mengangguk. "Ya ... kurang lebih seperti itu. Udah, nggaj usah nangis lagi, lo ngebentuk gelembung ingus tuh, mana gede banget lagi."
Perlahan-lahan juga gadis itu tersenyum, air matanya berkurang tapi masih sesegukan. "Apaan sih ah, nggak jelas tahu nggak."
Melihat Ava yang kembali tersenyum, membuat hati Aras kembali lega, walau ia tahu kalau senyuman itu bukan untuknya.
Apapun yang terjadi, kalau gue mampu, gue bakal membuat lo selalu tersenyum.
__ADS_1
Tentu, ada dendam tersembunyi yang selama ini Aras tahan setengah mati, ditambah kejadian tadi saat di kantin yang menambah daftar sayatan di lubuk hati Aras. Ia hanya tidak mau Ava membencinya seperti dulu, dan ia lakukan itu juga untuk diri sendiri agar menjadi orang yang lebih baik.
***
Bugh
Alan langsung tersungkur ke lantai saat Safira yang secara tiba-tiba datang dan langsung melayangkan pukulannya.
"Alan!" jerit Natalie panik sekaligus terkejut.
Cowok itu mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Gue bakal aduin lo ke BK!" ancam Natalie menatap sengit Safira.
Safira tersenyum simpul, ia juga merasa tertantang. "Aduin aja sana, dasar tukang ngadu! Dasar, *****! Bk doang mah nggak takut gue. Ini belum apa-apa, kalau bukan karena kekangan Ava untuk nggak nyakitin lo, udah dari dulu gue bikin lo babak belur, atau bahkan mati. Kurang baik apa coba, saat dia selalu ngelindungin dan membela lo walaupun lo salah? Jawab, Connard!"
"Lo pikir, siapa yang nyuruh teman-teman lain untuk nggak musuhin lo dan baik lagi sama lo? Itu Ava, Shucks! Kalau bukan karena Ava, saat ini lo nggak akan punya teman lagi, sama sekali nggak punya, dan gue yakin kalau sahabat lo sendiri pun juga malu punya sahabat seperti lo. Gue dan teman-teman yang lain tentu bisa dengan mudah menghasut, Justin karena cowok itu gampang untuk dibodohi. Tapi, karena perlindungan dari Ava, kita urungkan niat itu!" Setelah mengatakan itu Safira langsung pergi dari sana.
(Untuk artinya kalau ingin tahu, kalian bisa mencari sendiri)
"Dasar!!" teriak Natalie sarkas.
Safira memberi jari tengan tanpa menoleh sebagai jawaban. "Chien!!"
Natalie membantu Alan berdiri. "Kok, lo nggak ngelawan sih? Harusnya lo balik tonjok dia!"
"Dia cewek, dan gue nggak pernah bisa nyakitin mereka secara fisik."
"Kan, lo bisa nyuruh gue buat nonjok dia kalau lo nggak mau, secarakan gue juga cewek."
"Gue nggak butuh pembelaan dari lo." Aras pergi meninggalkan Natalie yang sibuk menggerutu tidak jelas.
Alan memaklumi hal itu, karena dari awal pun dari teman dan sahabat Ava yang lainnya, Safira lah yang selalu menjadi tameng bagi Ava dan selalu membela gadis itu apapun yang terjadi.
Ia juga memaklumi bahwa Safira juga sakit hati karena perlakuannya ke Ava selama ini. Alan pun juga tahu dan kagum kepada Safira karena bisa menahan amarahnya. Sebab, saat SMP kalau Safira sudah marah, ia akan memukuli orang yang membuatnya marah secara brutal tanpa ampun.
Tak ayal jika Safira berani melakukan dan berucap seperti itu. Di luarnya saja terlihat seperti gadis biasa yang jutek, tapi di dalamnya itu sangat kejam tanpa ampun. Bagaimana tidak kejam kalau saat kelas delapan SMP saja gadis itu sudah menyandang predikat karate sabuk hitam. Level Alan saat itumah kalah jauh, cowok itu bahkan hanya berangkat eskul karate dua kali dalam sebulan.
Itu lah salah satu sisi lain Safira yang jarang diketahui atau jarang diingat orang lain.
Pokoknya yang diam-diam itu lebih berbahaya dan menakutkan.
"Lo sentuh dan nyakitin sahabat gue, itu sama aja lo nyakitin gue," monolog Safira ketika gadis itu berdiri di depan cermin toilet perempuan.
...***...
...Tenang! Karena cerita ini udah mau ending kok! Kalian tetap sabar dan ngikutin aja jalan ceritanya kayak gimana....
...Kalau masalah ending itu udah lama tersimpan di otak beberapa bulan yang lalu....
...Yang masih di timnya abang Alan?...
...Yang masih di timnya abang Aras?...
...Note \= Pokoknya kalau ada Bahasa Prancis yang nggak Aku cantumin artinya, itu adalah kata-kata kotor atau umpatan yang jelek atau bisa juga sebutan dengan nama-nama hewan....
...***...
...Ditulis tanggal 14 2020...
...Dipublish tanggal 08 Mei 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....