Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 26 ~ Insiden


__ADS_3

...



...


Hari ini hari senin. Hari dimana seluruh siswa SMAN Tri Bakti Jakarta melaksanakan upacara penghormatan kepada sang merah putih.


Saat ini tengah ada dua orang gadis yang sedang panik. yang satunya mencari topi, sedangkan yang satunya lagi gugup karena sang teman tak kunjung menemukan benda keramat itu.


"Ava cepetan dong! Udah mau mulai ini upacaranya, lo makanya siapin dari tadi malam dong! Supaya nggak lupa!" cibir Safira menengok ke koridor dan ke arah lapangan secara bergantian.


"Tadi malam udah gue taruh di tas kayaknya? Tapi kok nggak ada, sih?"


"Ayo, anak-anak! turun semua!" teriak Pak Sutisno dari arah lapangan selaku guru BK kelas XII.


Safira mulai panik, keringat mulai bercucuran di bagian punggungnya. "Udah ayo! Terima aja kalau di hukum, nggak berat juga hukumannya!"


Ava berkacak pinggang. Raut wajahnya berubah pasrah dan ikhlas akan apa yang terjadi padanya nanti. "Yaudah, lo ke lapangan aja dulu, nanti gue nyusul. Gue nggak mau lo ikut di hukum gara-gara, gue!"


Sebenarmya Safira kasihan kepada Ava. "Beneran nggak papa?" tanyanya mencoba memastikan kalau Ava akan benar-benar baik-baik saja.


Ava mengangguk pelan. "Iya, udah sana buruan!"


Setelah mengatakan itu, Safira langsung menuju lapangan. Bukannya Safira tidak setia kawan tapi dirinya juga takut, toh tadi, 'kan Ava yang mengizinkannya.


Gadis galak itu terus mencari sang benda keramat, bahkan mengeluarkan semua isi tas nya, tapi hasilnya tetap nihil. Ava menatap keluar pintu, di sana semua siswa sudah mulai berkumpul.


Bersamaan dengan itu, Ava melihat Alan berjalan cepat melintasi Ava begitu saja. Mata mereka sempat bertemu tadi, tapi sayangnya cuma sebentar, karena Alan terus melanjutkan jalanmya. Entah salah lihat atau bagaimana, Ava melihat wajah Alan banyak sekali lebam.


"Salah lihat kali, ya, gue? Tapi, seenggaknya di tolongin, kek? Bukan main nyelonong aja ..." Gadis itu berdecak sebal, "... duh! Dimana, sih?" Ava mencoba mengingat-ingat terakhir kali dirinya memegang topi sekolahnya, "... ah iya! Gue lupa masukin dan malah ketinggalan di atas meja!" seru gadis itu bermonolog.


Dengan berat hati Ava berlari menuju lapangan. Siap untuk di bariskan di barisan paling kanan, yaitu barisan anak-anak yang tidak memakai atribut lengkap. Ava hanya berdoa semoga dirinya ada teman perempuan juga, jadi, 'kan, ia tidak sendirian.


Tiba-tiba ada yang menyenggol dirinya. Ava ingin sekali mengumpat tapi tidak jadi saat ia tahu yang menyenggol dirinya adalah Aras.


"Kak Aras!" panggil Ava. Sedangkan yang di panggil tetap berjalan dan tidak menoleh sedikit pun.


Ava berdecak sebal, tidak biasanya Aras seperti itu. Detik berikutnya ia baru menyadari kalau dirinya ada di depan koprasi sekarang. "Kok nggak kepikiran, yah?" Melangkahkan kaki masuk ke dalam koprasi, harap-harap benda yang ia cari ada.


Baru masuk saja Ava sudah keluar lagi. Setelah tadi bertanya ada topi atau tidak kepada Pak Warno sang penjaga koprasi dan jawabannya tentu saja, "Sudah habis."


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, kini dirinya benar-benar siap di hukum untuk pertama kali semasa ia sekolah. Sangat memalukan.


Ia mulai berjalan gontai dan tidak memperdulikan barisan-barisan yang sudah mulai rapi.


Tiba-tiba saja gadis itu merasa ada sesuatu yang mendarat di kepalanya, dan bebarengan itu ada Alan yang melewati dirinya berjalan sangat santai tanpa beban.


Ava meraba kepalanya dan menemukan sebuah topi. Ia menatap Alan yang mulai menjauh. Alan menyelamatkan nasib sialnya kali ini, dan cowok itu juga rela memberikan topinya pada Ava secara cuma-cuma.


"Thanks, Lan." ucapnya dalam hati seraya tersenyum manis.

__ADS_1


Selama upacara dan selama ada kesempatan, Ava menatap punggung Alan dari sisi kanan barisan, karena ia tidak bisa melihat wajah cowok itu sepenuhnya akibat terhalang tubuh siswa lain. Menghiraukan Safira yang terus menoel dan menanyakan darimana Ava mendapatkan topi itu.


Gadis itu sedikit iba, sedikit beryukur, sedikit terharu tapi lebih banyak muncul rasa bersalah karenanya Alan yang malah di hukum.


***


Tadinya setelah upacara selesai Ava yang di antar Safira akan langsung menemui Alan untuk meminta maaf sekaligus berterima kasih. Tapi, sepertinya Pak Sutisno langsung menggiring anak-anak istimewa tersebut untuk dihukum.


Rencananya nanti saat ada waktu luang dan Ava sudah tidak merasa kesal karena Aras, ia akan menceritakan kejadian tadi pagi pada Safira.


Saat akan menuju gedung kelas X, Ava melihat ada Aras dan Kak Dinda si most wanted girl yang sepertinya tengah mengobrol serius dengan Aras.


Dan, secara tiba-tiba pula Aras menatap Ava dengan wajah datar tanpa ekspresi, setelah itu menggiring Dinda pergi bersamanya.


Ava yang sudah kesal kini di buat lebih kesal. Maksudnya apa tadi? Gadis itu berjalan menghentak-hentakkan kakinya.


***


Saat istirahat Ava mendapat pesan dari Ana untuk menyuruhnya ke belakang sekolah, dan memberitahu untuk mengajak Safira juga.


Ava langsung menuruti itu, karena Ana mengatakan ada yang penting untuk diberitahu, sebelum semuamya terlambat. Tak lupa pula membawa serta topi milik Alan untuk di kembalikan.


Di belakang sekolah sudah ada Rio, Bagus, Justin, Ana, Agnes, Dino, Revan, Tiana, dan Syarifa tengah mengerubungi Alan yang duduk di bangku besi warna putih. Karena tadi kata Ana, Alan memang disuruh menyapu taman belakang sekolah. Ya, jadi sekalian saja berkumpul di sana.


"Ada apa?" tanya Ava yang baru datang.


Alan lantas mendongak karena ada gadis yang di tunggu sudah berdiri di depannya


Kedua orang itu bisa melihat dengan jelas ada luka lebam yang menghiasi berberapa sudut di wajah Alan.


Lagi, lagi, dan lagi jantung Alan saling berlomba berpacu lebih cepat dari biasanya. Cowok itu hanya diam dan menikmati sentuhan hangat dari tangan Ava. Seperti sudah lihai dalam membuat jantung Alan deg-degan setengah mati.


"Ekhem! Ekhem!" dehem Revan pura-pura tenggorokannya terganggu.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" kini giliran Dino yang pura-pura batuk.


Kedua manusia itu sunguh tak ada otak. Bisakah, sekali saja membiarkan Alan bahagia dengan dunianya? Sepertinya tidak bisa.


Mata Alan dan Ava bertemu, sontak gadis itu langsung menjauhkan diri dan tangannya dari wajah Alan. Cowok itu langsung bisa bernafas lega saat tadi menahan nafas agar tidak menerpa wajah Ava saat sangat dekat dengannya.


"Hehehe. Ma-maaf. Itu wa-wajah Alan, kenapa?" tanyanya dengan terbata-bata. Tiba-tiba saja gadis itu jadi salting sendiri.


"Ceritain, Lan." suruh Rio yang tengah menjilat permen. Ava dan Safira hanya mengerutkan dahi karena tidak tahu apa-apa.


Alan menggela nafas nya dan mulai bercerita. "Jadi gini ..."


Flashback On


Kini Alan tengah ada di perjalanan pulang ke rumah setelah seharian jalan dan mengantarkan Ava pulang.


Tapi, di tengah perjalanan Alan melihat dari kaca spion ada Aras, Uki, dan Gilang yang mengikuti dirinya.

__ADS_1


"Pintar juga strateginya, ngroyok saat jalanan sepi." tutur Alan diiringi kekehan. Menepikan motornya lalu turun dari motor.


Meletakkan hp nya di dashboard motor matic nya dengan video kamera yang menyala. Ia membuka helm lalu mendekati Aras dkk yang berdiri dengan sangat angkuh.


Dalam keadaan apapun Alan akan terus berdiri di tempat ia berpijak sekarang, tepatnya di belakang motor, karena Alan mempunyai sebuah rencana yang sewaktu waktu nanti akan berguna.


Tanpa basa-basi lagi, ketiga cowok itu langsung menghajar Alan, sedangkan Alan terus menghindar dari pukulan ketiga cowok itu. Bukan hanya menghindar saja tapi cowok itu dengan berani memukul siapa saja yang memukulnya. Saling membalas pukulan.


Ia tidak suka tunduk terhadap orang yang semena-mena dan sok berkuasa. Ya ... walaupun itu memang benar adanya.


Tanpa Alan sadari dari belakang saat ia tengah menghajar Aras dan Gilang secara bergantian, Uki memukul dirinya dengan sebatang kayu, sehingga membuat Alan jatuh tersungkur dan berhasil ditertawakan ketiga orang tersebut.


Dengan segera, sebelum Alan berhasil kabur Gilang dan Uki memegang lengan Alan. Dengan sekuat tenaga pun Alan tidak bisa lepas dari cekalan tangan kedua anak setan itu. "Diam Lo! Dasar bocah!" bentak Uki saat Alan mencoba melepaskan cekalan mereka berdua.


Aras mendekat ke arah Alan lengkap dengan gaya sok angkuh dan sok paling keren sambil mengusap hidungnya yang tadi di tonjok Alan sampai mengeluarkan darah segar. Aras menarik kerah baju Alan, tatapan kedua cowok itu saling beradu, sama-sama memperlihatkan tatapan kemarahan yang membara.


"Lo, ya! Udah berani-beraninya mau ngerebut Ava dari, gue? Lo jalan sama dia tanpa sepengetahuan, gue?" Aras mendesis pelan, "... lo pikir lo siapa? Lo itu cuma bocah yang nggak ada gunanya! Gue bisa lakuin apapun yang gue mau. Koneksi gue banyak di Jakarta, kalau gue nggak akan persiapan ujian, lo mungkin bakal jauh lebih parah dari ini!"


Tak ada sorot ketakutan atau pun gemetaran dari mata dan tubuh cowok itu. Justru, Alan malah semakin menjadi-jadi akan merebut Ava dari Aras. "Usia nggak menentukan kedewasaan seseorang,"


Aras melepas cekalan Alan dan langsung melayangkan pukulan ke perut cowok itu. Dengan sekuat tenaga Alan menahan rasa sakit yang tidak seberapa itu, ketimbang melihat gadis yang di sayanginya jatuh ke pelukan orang yang salah.


"Itu hak gue buat jalan sama Ava, lo nggak berhak ngatur-ngatur gue atau pun dia karena lo bukan siapa-siapanya!"


"Toh Ava nggak nolak ajakan gue. Lo beraninya keroyokan? Itu artinya lo nggak bisa apa-apa tanpa anak buah lo. Gue kira lo sekeren apa yang orang lain pikir? Harusnya seorang pemimpin itu menunjukkan sopan santun, bertanggung jawab, dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan kepala dingin. Benar, bukan?"


Sontak mata Gilang dan Uki membelalak sempurna, mereka berdua tidak habis pikir dengan bocah ingusan yang berani-berani menantang ketua Molyvdos. Gilang dan Uki menendan kedua tengkuk kaki Alan kebelakang, sehingga membuat cowok itu mau tidak mau jatuh berlutut di depan Aras. Sialan!


Aras semakin geram, tangannya mulai terasa gatal lagi, tanpa rasa iba dan bersalah, Aras melayangkan pukulannya ke sudut bibir cowok di depannya ini yang membuat darah segar mengalir dari sana.


Saat Aras akan melayangkan pukulannya lagi, ia malah di tahan oleh Gilang. "Udah, Ras! Anak orang ini, lagian ini jalanan udah mulai ramai. Kita balik aja, dan liat kalau dia macam-macam lagi, terserah lo mau apain dia."


Mungkin benar apa yang di katakan Gilang. Jadi, Aras menurutinya dan langsung menjalankan motor kembali ke markas.


Gilang dan Uki juga langsung melepaskan cekalannya terhadap Alan. Uki sudah jalan duluan menyusul Aras. Alan bangun dan mengusap ujung bibirnya sambil menatap Gilang sengit.


"Lo hati-hati aja. Lo belum tahu betul kita siapa." intonasi pengucapan Gilang memang tenang, tapi terkadang yang tenang itulah yang terdengar sangat menyeramkan.


Setelah ketiga orang itu benar-benar pergi dari hadapan Alan, cowok itu langsung menuju ke motornya lalu menekan tombol merah untuk berhenti merekam. Semua kejadian tadi sudah terekam semua di hp nya.


"Dinda. Gue juga tahu kenapa kak Aras ngehadang gue."


Ia tadi sengaja tetap berkelahi di belakang motornya, tanpa berpindah tempat sedikit pun, dan menarik ketiga cowok itu agar ikut terlihat terekam di layar hp nya. Jika tidak begitu, maka semua orang yang ada di sana tidak ikut terekam dan hanya setengah-setengah. Nanggung juga, 'kan, nantinya, jadi percuma juga Alan udah bonyok kalau malah nggak dapat apa-apa.


Flashback Off


...***...


...Ditulis tanggal 24 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 27 Februari 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2