Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 56 ~ Dasar Cowok


__ADS_3

...



...


16:27


Revan yang sedari tadi bermain game di kamar menggunakan ponsel mulai bosan. Cowok itu mengambil kunci motor sportnya seraya memakai jaket jeans yang tersampir di kursi meja belajar.


"Mau ke mana, Van?" tanya Ramia- Mama kandung Revan yang duduk di sofa tengah membaca majalah.


"Mau keluar sebentar. Boleh, 'kan?"


Setelah mendapat anggukan dari sang Mama, cowok itu lantas pergi ke tempat tujuan.


***


Revan memberhentikan motornya tepat di samping kedai penjual martabak telur.


"Satu porsi harganya berapa, Bang?"


"Sepuluh ribu aja," jawab penjual tersebut sopan. "Mau beli berapa porsi, Mas?"


Revan menggeleng cepat. "Saya nggak mau beli. Cuma mau nyapa supaya nggak di bilang sombong aja sih."


Perjual martabak tersebut berdecak sebal. "Kalau nggak beli lebih baik, Mas nya pergi!"


Revan menyalakan mesin motornya lagi. "Harusnya sih tadi saya beli lima porsi, tapi karena abang nya galak nggak jadi." Menjalankan motornya pergi menjauh dari kedai tersebut.


"Mas! Mas! Jangan pergi! Saya nggak galak! Tadi khilaf, Mas!"


Revan sendiri sama sekali tidak memperdulikan panggilan penjual martabak tersebut. Cowok itu malah sibuk tertawa di dalam balutan helm berwarna hitam miliknya.


***


Ava saat ini ada di toko depan sekolah, tengah menunggu Alan karena tadi kata Justin, Alan tengah membeli bensin sebentar.


Yaa, memang Ava tadi pagi berangkat dijemput Alan dan pulangnya juga, tapi sampai sekarang pun cowok itu belum juga datang. Ava ingin menangis rasanya.


"Issh, lo di mana, sih? Awas aja gue tabok lo, ya, nanti!" gerutu gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


Dilihatnya Maudi yang keluar dari gerbang sekolah, karena besok adalah jadwal piket Maudi jadi gadis itu dan teman-teman lainnya membersihkan kelas.


Tapi di belakang Maudi juga ada sesosok astral yang Ava yakini sedari tadi menunggu kepulangan Maudi. Dan benar saja, saat Maudi baru saja mendudukkan dirinya di halte sosok astral itu juga ikut duduk di samping Maudi.


Ava tersenyum menampakkan sederet gigi putihnya. "Kayaknya dia suka beneran sama, Maudi?" Tanpa sadar Ava pun juga menikmati dan mengesampingkan amarahnya yang menggebu-gebu tadi.


***


"Lo ngapain sih ngikutin gue mulu? Pulang sana, nanti di marahin emak lo!" usir Maudi pada cowok di sampingnya.


"Eum ... gue cuma mau nganterin lo pulang, daripada nunggu kelamaan di sini," jawab cowok itu sambil memeluk pilar pembatas halte yang ada di tengah.


"Nggak usah sok baik. Lo mau apa dari gue? Doyan banget ngeganggu orang?!"


Dino beralih duduk di samping Maudi, menatap gadis di depannya ini lekat-lekat.


Iya. Mahluk astral itu adalah Dino. Siapa lagi coba yang hari-hari ini sering mengganggu ketenangan hidup Maudi.


"Gue nggak mau apa-apa dari lo, tapi jawab pertanyaan gue. Kalau lo jawab, gue bakal pergi."


Maudi menoleh sekilas ke arah Dino. Tapi karena keadaan mereka berdua sangat dekat jadilah Maudi memilih menatap lurus ke depan. "Apa?"


"Kemarin, lo pulangnya gimana? Waktu gue ninggalin lo saat hujan tepat di jam ini dan di sini." Dino berkata sangat pelan dan halus.


Iya, setelah ditinggalkannya Maudi sendirian di halte kemarin, cowok itu tidak bisa tidur dan seharusnya juga ia tidak bersikap seperti itu pada seorang gadis. Dino juga sebenarnya ingin meminta maaf, tapi ia gengsi dan tidak terlalu suka sikap Maudi yang terlalu dingin dan juga ketus.


Entah kenapa saat mendengar suara Dino yang seperti itu hati Maudi sedikit bergetar. Tapi detik berikutnya gadis itu menggelengkan kepala, menghilangkan semua bayangannya tentang cowok gila di sampingnya ini.


Tidak! Ia tidak boleh suka kepada Dino, karena Dino adalah teman Ava, dan Ava adalah musuhnya.


"Urusannya apa sama lo?" tanya Maudi dengan nada sangat ketus.


Dino semakin mendekatkan wajahnya ke arah Maudi, sedangkan gadis itu sibuk memundurkan dirinya.

__ADS_1


"Gue udah bilang. Kalau lo jawab, gue akan pergi," desis Dino tepat di telinga Maudi.


Ava yang melihat itu pun langsung berdiri. "Dino ngapain lo?!" teriak Ava tidak terima, karena menurutnya itu sudah sangat keterlaluan.


Teriakan Ava sontak membuat Maudi tersadar dan langsung mendorong kasar tubuh Dino untuk menjauh. "Apaan, sih?!"


Gadis itu bangkit dari duduknya karena sudah ada supir yang menjemput. Kali ini dirinya bisa bernafas lega, dan untung saja supir sialan ini datang tepat pada waktunya.


"Jalan, Pak. Cepat!" suruh Maudi dengan nada yang tidak santai saat sudah masuk ke dalam mobil.


Gadis itu terlihat gugup dan nafasnya memburu.


Maudi mengambil kaca yang ada di tasnya. "Kok, pipi gue merah, sih?" tanyanya pada diri sendiri.


"Non lagi malu sama cowok yang Non suka artinya. Cowok yang tadi, ya, Non?" sahut pak Sawa- supir pribadi ayah Maudi.


Sang gadis malah menatap kesal ke arah supir sialannya itu. "Udah deh, Pak. Diam aja nggak usah ngomong." Gadis itu diam mencerna ucapan supirnya apakah benar atau tidak.


Maudi masih kesal karena saat itu hujan dan ia duduk di halte sendirian, karena sang supir tak kunjung datang akhirnya Maudi memilih jalan kaki.


Kenapa gadis itu lebih memilih hujan-hujanan daripada menunggu?


Karena selain Maudi takut menunggu sendirian dan langitnya juga sudah gelap. Gadis itu juga suka main air dan suka hujan-hujanan, karena dengan itu dirinya bisa mendapat simpati dari orang tuanya.


Dino menghela nafas. Menatap kepergian mobil Maudi yang mulai menjauh. Cowok itu menaiki motornya dan langsung menyusul Ava.


***


Ava menatap Dino sambil mengerlingkan matanya. "Lo suka, ya, sama Maudi?"


Pertanyaan Ava membuat Dino salah tingkah. "Eng-enggak kok. S-siapa yang suka sama dia?"


"Udah deh nggak usah bohong! Gue juga tahu kok kalau dilihat dari kelakuan lo ke Maudi. Selain itu, kalau lo nggak suka kenapa gue lihat udah tiga kali lo nganterin dia pulang?" Ava bersedekap dada, merasa bangga dan yakin bahwa tebakan itunya benar.


Dino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah udahlah, kalau gue bilang nggak suka, ya, nggak suka! Btw lo ngapain di sini? Gue antar lo pulang aja gimana?"


"Nggak usah. Lo pulang aja, lagian ada Alan yang jemput gue." Ava menggeleng dengan cepat, karena ia tidak mau merepotkan Dino.


Cowok itu memakai helmnya kemudian menyalakan mesin motor. "Ya udah, gue pulang duluan yah. Bye Ava!" Dino melambaikan tangannya tanpa menoleh kemudian pergi dari sana.


Ava melangkahkan kakinya mengikuti suara tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat Alan duduk di kursi sambil bermain game. Kakinya juga diletakkan di atas meja. Parahnya lagi, ada bekas mie rebus dan segelas teh yang masih seperempat.


Gadis itu berkacak pinggang menghampiri Alan, tak lupa pula wajahnya menunjukkan kemarahan.


Brak


Ava menggebrak meja dengan kasar, tapi cowok itu tetap tidak bereaksi apa-apa selain fokus pada permainannya.


"Kok lo malah di sini? Lo tahu nggak kalau gue nunguin lo lama banget! Karena Justin tadi bilang lo beli bensin dulu! Terus saat gue lihat lo malah duduk-duduk santai di sini abis maka mie rebus lagi! Mungkin kalau lo nggak teriak "Tembak tembak", sampai besok pun gue nggak akan pulang!" Setelah mengatakan itu Ava langsung berbalik ke arah lain, membelakangi Alan.


Reaksi Alan? Jangan tanyakan cowok itu karena saat ini Alan masih sibuk dengan gamenya.


Issh! dasar, ya, cowok. Kalau udah main game sibuk sama dunianya! Bahkan nama sendiri pun kadang lupa. Mungkin kalau Alan hanya temannya, gadis itu pasti akan tega menjungkir balikkan cowok itu. Atau bahkan menindihnya dengan batu besar, tapi sayangnya Alan adalah cowok yang dicintai Ava.


"Alan, ayo pulang!" rengek Ava menghentakkan kedua kaki.


"Bentar,"


Ava menggoyang-goyangkan kursi Alan, tapi cowok itu masih saja tidak bergerak dari tempatnya.


Ava berjalan menjauhi Alan. "Ya udah gue pulang sendiri, tapi kalau gue diculik, lo yang tanggung jawab loh ya." Ava menoleh ke arah Alan. Tapi sama sekali tidak dihiraukan cowok itu.


"Okay. Gue pergi!" teriak gadis itu lebih keras lagi, berharap bahwa Alan bangkit dan mengejarnya.


"Iya," tutur Alan malas-malasan masih fokus dengan benda pipih di genggangamannya.


Gadis itu semakin mendengus kesal. Ava mulai menjauhi Alan dengan sumpah serapah dalam hati yang di tujukan untuk cowok sialan itu.


Kenapa Alan jadi berubah seperti ini? Lebih memilih game dari pada dirinya? Apa itu yang Ava banggakan dari Alan saat ini? Oh itu tentu tidak mungkin.


Ava bersembunyi di belakang semak-semak, gadis itu tersenyum sangat lebar dan mulai ancang-ancang berteriak. "Aaaaaaaaaa tolongin gue, Alan!! Gue diculik!!"


Alan yang mendengar teriakan gadisnya yang menggelegar itupun langsung meletakkan ponselnya di meja. Mengambil kunci motor dan menyusul arah Ava pergi tadi.


Tapi setelah cowok itu mengedarkan pandangannya tidak ada siapa-siapa di sana.

__ADS_1


Apa Ava diculik beneran? Gimana kalau iya? Buktinya Ava nggak ada! Gimana ini gue jelasinnya ke Ana sama Agnes? pikirnya mulai frustasi.


Cowok itu mengacak rambutnya. "Ava lo di mana?! Jangan bercanda deh! Nggak lucu! Ava, apa lo beneran diculik?!" teriak Alan dengan sekuat tenaga.


Sedangkan di balik semak-semak Ava yang mendengar itu pun lantas menahan tawa dengan sekuat tenaga agar tidak kelepasan.


Gadis itu mengintip sedikit dan dilihatnya Alan yang mondar-mandir kesana-kemari mencarinya.


Karena kasihan dan tidak tega jadilah Ava keluar, tapi gadis itu berjalan pelan-pelan agar Alan tidak tahu kedatangan Ava.


"Derrr!" Memeluk Alan dari belakang.


Sedangkan cowok itu langsung berbalik dan balas memeluk gadisnya dengan sangat erat.


"Lo jangan gitu lagi. Gue benar-benar panik tadi kalau lo sampai diculik beneran ...." tutur cowok itu lirih. Tapi, nggak papa juga sih kalau lo diculik beneran. Nanti gue bisa cari lagi yang baru, canda Alan dalam hati.


Emang dasar udah gila, ya, Alan kayaknya!


Ava bisa mendengar degup jantung Alan yang berdebar sangat kencang.


Gadis itu hanya bisa terkekeh. "Ya salah sendiri lo ngacangin gue, 'kan, gue bosen udah nunggu lo lama. Dan lo malah keasyikan main game sambil makan mie rebus sama es teh lagi." Melepas pelukan sang cowok dan menatapnya.


Alan menangkup pipi Ava dengan kedua tangannya, menatap gadis di depannya ini dengan seksama. Detik berikutnya Alan mendekatkan wajahnya ke wajah Ava. "Gue mau ..." Alan menjeda kalimatnya.


Ava hanya bisa mematung di tempat sambil berkata dalam hati, Mungkin, ini saatnya. Menutup mata sembari membasahi bibir.


"Gue mau lo ambilin tas dan hp gue yang ketinggalan di toko tadi." Alan berkata sangat cepat hanya dalam satu tarikan nafas saja.


Sedangkan sang gadis yang tadinya memejamkan matanya sambil tersenyum, sontak membuka mata dan menatap Alan sangat-sangat datar.


Karena cowok di depannya ini sangat tidak tahu diri. Baru saja Ava diterbangkan melayang kemana-mana, eh malah ini langsung dijatuhin lagi tanpa rasa ampun.


Ava menonyor wajah cowok di depannya dengar kasar, kemudian berbalik pergi mengambil barang-barang Alan.


Alan melipat kedua tangan di depan dada. "Lo berharap apa emang?"


Pertanyaan Alan sangat membuat Ava semakin tidak enak hati. "Bodo amat!" jawab gadis itu tanpa menoleh dan masih tetap berjalan.


Alan tersenyum sangat lebar, bahkan siapapun itu bisa melihat aura dan pesona cowok itu yang terlihat sangat manis.


***


Di sepanjang jalan, Ava hanya menggerutu. Bisa Alan lihat dari jauh bahwa Ava menghentakkan kakinya beberapa kali, ditambah gadis itu juga mengacak-ngacak rambutnya karena kesal.


Alan duduk di atas motor kemudian menghadap ke depan. "Emang lo doang yang bisa ngerjain orang?"


***


"Ish! Bego banget lo Ava jadi orang!"


"Gue kira tadi mau dicium. Baru aja mau bisa ngerasain ciuman romantis kayak di drakor gitu! Eh malah nggak jadi!"


"Dasar Alan sialan. Awas aja gue bakal balas lo!"


***


"Alan!"


Teriakan Ava memanggil dirinya lagi-lagi membuat cowok menoleh secara otomatis.


"Ava!"


...***...


...***Kejadian yang Revan itu terinspirasi dari teman sekelas Aku, cuma Aku kembangin aja sih. Teman Aku berhenti tepat di depan penjual kayak coklat, cappuchino, jus, dan boba gitu karena boncengannya yang juga teman Aku mau beli, nah pas penjualnya udah ngelayanin si boncengannya, penjual itu tanya ke si teman Aku itu "Mau beli yang mana?", gitu....


...Harusnya sih dia nggak beli karena lagi nggak pengen dan mau langsung pulang aja, tapi jadinya dia beli karena terlanjur ditanyain kayak gitu, dan kalau nggak beli, 'kan, rasanya agak gimana gitu. Jadinya dia harus merelakan uangnya. Ngakak. Awokawokawok***....


...***...


...Ditulis tanggal 26 September 2020...


...Dipublish tanggal 14 April 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2