Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 75 ~ Khusus Untukmu


__ADS_3

...Happy reading para readersku yang tercinta!...


...***...


...



...


"Ayo masuk dan maaf kamarnya agak berantakan." Ava membuka dan mempersilahkan semua temannya untuk masuk ke dalam kamar.


Saat pertama kali masuk ke dalam kamar gadis itu, yang mereka lihat pertama kali adalah boneka beruang besar berwarna coklat yang memakai hoodie berwarna navy. Itu adalah boneka dan hoodie pemberian Alan, mereka semua yang ada di sana mengetahui hal itu.


Saat tahu tatapan teman-temannya mengarah ke benda tersebut, Ava tersenyum kikuk sembari memasukkan boneka beruang itu ke dalam lemari pakaian, seharusnya sih tidak muat, tapi ia paksa sampai bisa masuk ke dalamnya.


Safira saja bisa sampai tersenyum geli saat melihat Ava memasukkan boneka tersebut ke dalam lemari dengan susah payah. Respon, Alan? Cowok itu masih tetap biasa-biasa saja, tidak merasa istimewa ataupun merasa terkejut.


...



...


Alan melebarkan pandangannya, semuanya masih tetap sama seperti saat pertama kali ia ke kamar Ava untuk menjenguk gadis itu juga. Yang berbeda, karena adanya lemari kecil di antara rak buku dan lemari pakaian yang sempat membuatnya penasaran setengah mati akan isi di dalamnya. Bisa di bilang, ia masih penasaran sampai sekarang.


"Alan, ayo masuk." Ava berkata sangat lembut, tapi sayangnya Alan masih acuh tak acuh, cowok itu malah melengos menatap ke arah lain.


"Itu, laptop sama tas siapa, Va?" Beberapa detik kemudian Revan menganga tidak percaya. "Apa jangan-jangan lo dan kak Aras tadi sekamar berduaan?"


Ava tersenyum kaku lalu menatap Alan yang masih berdiri di ambang pintu. "Hehe i-iya. Tapi nggak ngapa-ngapain kok cuma nonton Anime aja! Beneran, sumpah!" Gadis itu membentuk jari dengan huruf 'V'.


Safira merangkul Ava dengan hangat. "Ngapa-ngapain juga nggak papa kok. Iyakan kawan-kawanku yang tercinta?" Safira menekankan setiap kata sambil melotot seolah jika semua temannya tidak ada yang mengangguk akan langsung dihabisi olehnya, memang menyeramkan sekali gadis ini.


"I-iya." Karena takut, jadi semuanya pada mengangguk terpaksa, ya, itung-itung balas budilah karena Safira masih mau Alan ikut menjenguk Ava.


"Lo abis ngelukis apa, Va?" tanya Dino menunjuk dengan dagu ke arah pojok yang di sana ada alat dan bahan lukis tadi.


"Bukan apa-apa. Tadi gue hanya mengisi waktu luang."


"Ya udah, gue juga mau nyiapin camilan sama minuman. Ana ayo ikut gue." Ana mengangguk lalu mengekor di belakang Agnes.


"Gue juga deh mau bantuin, pacar!" Justin dan Bagus serempak bangkit lalu pergi keluar dari kamar.


"Gue juga!" seru Revan menyeret paksa Safira yang tadinya tidak mau pergi. "Udah ayo pergi, Badak!"


Dino melirik kanan dan kirinya yang sudah tidak ada orang. "Gue juga deh. Alan, lo di sini aja jagain, Ava." Setelah mengatakan itu Dino pergi melewati Alan yang masih berdiri di ambang pintu dengan gaya cool- nya.


Suasananya canggung bangetkan jadinya, Alan yang diam di ambang pintu sedangkan Ava yang kebingungan di atas bad kasur


Dasar ogeb! Kalau mau bantuin kenapa gini caranya?! Itu yang ada di pikiran Ava.


Canggung. Nah kalau ini yang ada di pikiran Alan.


"Gue boleh duduk?" Setelah mendapat anggukan pelan dari Ava, Alan mendudukkan dirinya di sofa.


"Kenapa? Penasaran sama isinya? Kok dilihatin terus dari tadi?" tanya Ava saat Alan terus saja memandangi lemari kecil miliknya.


"Enggak sama sekali, cuma sedikit asing."


"Lo ... nggak ikut nyusul teman-teman lainya?"


"Gue amanah."


"Tapi, kenapa lo ingkarin janji lo ke, gue?"


Pertanyaan Ava membuat dirinya kena serangan balik yang tak ia sangka sebelumnya, rasanya sangat menohok dan menusuk hati bertubi-tubi. Apa ini yang Ava rasakan? Bukan! Bahkan sangat terlampau jauh berbeda rasanya.


"Kok diam?"


Tiba-tiba hp Alan berdering, sepertinya Dewi Fortuna memihak pada Alan sehingga cowok itu tak jadi menjawab pertanyan Ava.


"Alan besok lo ada waktu?"


"Ada."

__ADS_1


"Temenin gue makan yuk pas pulang sekolah?"


"Gampang."


"Beneran, nih?"


"Iya."


"Ya udah bye, ya."


Tut


Tut


Tut


Sambungan langsung terputus dari sebrang sana, Ava tentu bisa langsung menebak siapa orang yang ada di sebrang tadi walau ia tak bisa mendengar apa yang Alan obrolkan dengan orang itu.


"Natalie?"


Alan memasukkan benda pipih miliknya ke dalam saku. "Iya,"


"Secinta itukah lo sama, dia?"


"Iya."


"Lo nggak mau kehilangan, dia?"


"Iya."


"Dia udah menuhin hati lo seutuhnya?"


"Iya."


"Apa sedikit pun udah nggak ada kesempatan buat, gue?"


Kali ini Alan diam sejenak, tak langsung menjawab cepat seperti tadi. "Iya."


Gadis itu langsung menghembuskan nafas pelan, ia sengaja menanyakan hal itu karena tak mau keadaan menjadi sangat canggung, tapi malah ia yang merasa sakit hati seperti ini, sendirian pula. Bagusnya Ava sama sekali tak pernah percaya apa yang Alan katakan tadi padanya, karena Ava percaya kalau Alan hanya menyayanginya.


Beberapa detik kemudian baik Ava maupun Alan mereka berdua sama-sama bersyukur dan bisa bernafas lega karena semua teman-temannya datang membawa berbagai macam camilan dan minuman. Asal kalian tahu saja kalau camilan dan makanan itu adalah yang dibawa Aras, Safira, dan Bagus tadi. Tidak modal sama sekali, padahalkan mereka orang kaya.


"Ayo makan!"


"Mari! Mari kira makan sama-sama!"


"Woi makan gratis dong woi!"


***


"Sepertinya kalian berdua sudah merelakan Ava dengan yang lain?" tutur Justin pada Revan dan Dino yang duduk lesehan di depannya, ada Safira juga di samping Revan yang ikut nimbrung.


Keduanya sama-sama cengengesan tidak jelas, ya, seperti orang gila gitu deh, bedanya mereka masih bisa mikir walaupun sedikit.


"Ya ... gue nggak maulah memaksakan kehendak Ava, karena dia juga udah suka sama cowok lain. Lagian cape juga mengejar apa yang seharusnya bukan menjadi milik kita, perlahan-lahan juga gue sadar kalau hal itu malah membuat Ava risih dan nggak nyaman. Makanya gue udah nggak pernah deketin Ava lagi baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Masih untung gue dianggap teman dan bisa melihat dia dari jarak dekat daripada nggak sama sekali."


Dino ikut mengangguk mendengar penjelasan Revan, 'kan, tumben sekali cowok itu pikirannya normal. "Lagian, gue juga udah suka sama cewek lain." Saat mengatakan itu arah tatapan Revan mengarah pada Safira yang duduk di sampingnya.


"Ngapain lo liatnya ke, gue?"


Revan mengusap kasar wajah Safira yang melotot seram ke arahnya. "Enggak! Bercanda elah sensian amat lo hari ini!"


Mereka berempat tertawa renyah. Iya berempat, 'kan, Justin, Safira, Revan, dan Dino.


"Gue juga udah suka sama cewek lain."


Safira menunjuk Dino sambil menyipitkan matanya penuh selidik. "Jangan bilang sama, si Nenek Lampir?"


"Kalau iya emang kenapa? Gue liat perlahan-lahan dia berbeda."


"Ya, cewek kayak begitu apa bagusnya? Keganjenan, sombong, galak, brutal, dan keras kepala!"


"Jangan suka menilai orang dari covernya aja, karena kita nggak akan pernah tahu aslinya dia kayak gimana. Sifat yang lo sebutin tadi ciri-cirinya mirip sama lo. Jadi, apa bedanya lo sama dia?"


"Ya iya juga sih, nggak baik juga menilai dan melihat orang dari satu sisi tanpa melihat sisi lainnya. Eh tapi gue gak keganjenan kayak dia, ya!"

__ADS_1


Tanpa sadar ada yang diam-diam menguping pembicaraan mereka berempat. Orang itu Ava, yang kini tengah terdiam mencerna apa yang Safira ucapkan tadi.


Gue memang melihat hanya dari satu sisi, tanpa mau melihat sisi lainnya.


Di sisi lain juga ada Alan yang menatap Ava, cowok itu juga mendengarnya, jadi ... ia pun juga tahu apa yang Ava pikirkan sehingga membuat gadis itu langsung bungkam.


***


"Ava, kita pulang duluan, ya! Besok kita ketemu lagi di sekolah! Jangan sakit-sakit lagi!" teriak Safira melambaikan tangannya di pekarangan rumah.


"Alan, lo boleh di sini dulu nggak? Ada yang mau gue omongin," pinta Ava saat Alan berada tepat di ambang pintu. "Yang lainnya boleh pulang duluan."


Mereka semua mengangguk, satu-persatu dari mereka mulai menjalankan motornya untuk pulang kerumah masing-masing.


Agnes dan Ana masuk ke dalam rumah lebih dulu dan memberi Alan dan Ava ruang untuk saling berbicara satu sama lain.


"Lo tunggu di sini sebentar, jangan pulang duluan." Setelah mengatakan hal itu, Ava berlari menaiki anak tangga satu-persatu menuju kamarnya.


Bisa Alan lihat Ava yang berjalan ke arahnya membawa sebuah kanvas yang disembunyikan di balik tubuh gadis itu.


"Ini gue buat tadi siang untuk mengisi kekosongan waktu, dan ... gue pikir lebih baik buat lo aja." Menyodorkan lukisan cantik nan indah yang ia buat siang tadi, selalu dengan sepenuh hati dan segenap jiwa.


Tak ada tanda-tanda Alan akan menerima lukisan itu, sehingga membuat jantung Ava sampai berdegup kencang dan takut karena dibuat menunggu.


Alan sebenarnya tak ingin menerima itu, tapi ... karena ia tahu Ava sudah susah payah membuat itu, jadi mau tidak mau cowok itu menerimanya dan hal itu membuat hati Ava lega sekaligus tersenyum sangat lebar saking bahagianya.


"Thanks, Va."


Saat Alan beranjak pergi dari sana, Ava memanggilnya lagi.


"Alan."


Cowok itu berhenti lalu menoleh, dilihatnya Ava yang tersenyum dipaksakan sambil menahan linangan air mata yang sebentar lagi akan terjun bebas membasahi pipi.


"Gue harap lo ngejaga itu, karena lo bilang lo orangnya amanah, kalau lo nggak suka, anggap aja itu Natalie yang saat ini lagi lo jaga." Gadis itu menyeka air matanya yang mulai mengalir. "Gue akan tetap nunggu lo dan berjuang buat lo. Gue nggak akan pernah berhenti sebelum gue lelah sendiri. Gue juga nggak akan maksa lo untuk nerima gue lagi, tapi ... tolong ijinin gue untuk berjuang semampu gue."


Alan berbalik lalu menatap lurus ke depan. "Jangan nangis, Va." Menaiki motornya lalu pergi keluar menjauhi pekarangan rumah Ava. Hanya itu yang bisa Alan katakan untuk saat ini. Alan juga tahu kalau Ava sakit, bahkan sangat sakit, tapi jika Alan melanjutkan semuanya, ia yakin kalau Ava akan jauh lebih sakit dari ini.


"Gue di sini selalu nunggu lo, Alan."


Ada rasa bahagia saat Alan mau menerima pemberiannya kali ini tanpa penolakan, tapi juga ada rasa sedih saat ia sadar dan tahu kalau Alan bukan lagi miliknya.


***


23:56


Alan yang tadinya tidur beralih bangkit lalu mendudukkan dirinya. Ia sama sekali tidak bisa tidur, padahalkan besok sekolah, tiba-tiba saja setelah pulang dari rumah Ava pikirannya kacau.


Cowok itu menatap sebuah frame dengan gambar kepiting yang Ava buatkan untuknya yang letaknya ada di atas laci tepat di samping bad kasur, itupun karena terpaksa, kalau bukan karena ancaman Alan, Ava tak akan mau melakukan apa yang ia perintahkan.


Cowok itu tersenyum samar dalam hati saat mengingat kejadian waktu itu, pandangan matanya beralih ke pojok yang di mana di sana ada tanda tangan Ava dan dirinya.


Setelah itu mengambil lukisan yang Ava buat untuknya yang ia sandarkan di dinding bad kasur. Gambar kepiting dan lukisan itu saling terhubung satu sama lain, seperti mempunyai keterikatan tersendiri di dalamnya.


Sorot mata Alan berubah sendu. "Jangan menunggu, memperjuangkan, dan jangan perhatian ke gue, Ava."


"Karena apa yang lo lakuin bakal sia-sia nantinya. Semakin lama lo lakuin ini, lo akan semakin sakit hati dan benar-benar menghancurkan hati lo tanpa bisa dibangun atau membuka hati untuk orang lain. Lo juga tanpa sadar perlahan-lahan menyiksa gue dan memaksa gue untuk tetap sama gadis itu."


"Gue sama sekali nggak mau lo terbebani akan semua ini, dan gue yakin perlahan-lahan seiring berjalannya waktu ... lo juga bakal lupa sama gue."


Setelah bermonolog, Alan meletakkan lukisan itu ke dalam laci, kemudian mengambil ponselnya dan mulai bermain game sampai perlahan-lahan terlelap lalu menuju alam mimpi.


...***...


...Ngantuk banget rasanya, tadi malam Aku lembur bikin chapter project ke dua Aku yang ada di negeri orange sampai jam dua belas malam, mana nggak bisa tidur karena suara teteknya keras-keras dan saling bersaut-sautan serta saling adu musiknya masing-masing. Tapi keren banget musik dan lagu-lagunya, bahkan ada yang suaranya keras banget sampai bikin Aku kaget, dan untung itu cuma lewat. Setiap malam di desa Aku itu udah kayak pawai di malam hari raya yang nunjukin musik dan model-model gerobak mereka yang dihias secantik dan sekeren mungkin....


...Tapi biasanya yang ikut lomba kayak gitu tuh remaja atau anak muda gitu, dan mereka punya timnya masing-masing....


...***...


...Ditulis tanggal 03 November 2020...


...Dipublish tanggal 03 Mei 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2