Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 49 ~ Baik-baik Saja


__ADS_3

...Sekedar informasi aja sih, Aku kalau update itu saat pagi, karena biar lebih fresh gitu kalau pagi-pagi udah disuguhin sama cerita favorit kalian!...


...***...


...



...


Alan mendekati Ava kemudian langsung memeluk gadis itu, memberi dekapan nyaman dan menenangkan.


"Kasih waktu untuk gue jelasin semuanya. Lo nggak perlu takut untuk kehilangan gue, karena gue akan selalu ada sama lo."


Penjelasan Alan membuat hati Ava mencelos seketika dan merasa bersalah sekaligus tenang. Gadis itu membalas pelukan Alan dengan erat, bahkan sangat erat seakan-akan tidak membiarkan Alan jauh sedikit pun darinya.


Para siswa dan siswi yang awalnya menatap mereka heran kini tersenyum sembari memberi tepuk tangan meriah. Sorak-sorakan dari siswa dan siswi lain pun tak bisa dihentikan. Ada yang iri dan ada juga yang terharu akan kejadian tersebut.


Tapi, ada satu gadis di tempat duduknya yang hanya menatap lewat jendela sambil sesekali mengeluarkan air mata. Siapa lagi kalau bukan Natalie.


Gadis itu bahkan tak punya sahabat sebagai tempat sandaran ataupun bercerita. Sebenarnya Natalie memiliki banyak teman, hanya saja tidak terlalu dekat dan tidak berniat dekat karena ia hanya percaya pada dirinya sendiri.


Terkadang, di dunia ini tak ada seorang pun yang bisa diandalkan dan dipercaya kecuali diri sendiri. Benar, bukan?


Alan mengusap air mata Ava menggunakan kedua ibu jarinya. Sentuhan cowok itu membuat Ava sedikit senang dan terasa geli di bagian pipi.


Setelah itu, Alan menarik tangan Ava untuk dibawa ke taman belakang sekolah, agar cowok itu bisa menjelaskan dengan leluasa dan tetap terjaga privasinya. Tapi, saat kedua remaja itu melewati koridor mereka berpapasan dengan Safira, Syarifa, Dino, Revan, Bagus, Ana, Agnes, dan Justin yang mungkin dari arah kantin.


"Lha, itu Ava kenapa tadi? Kok matanya sembab gitu?" tanya Revan menunjuk ke arah Ava dan Alan yang baru saja lewat tanpa bertegur sapa atau mengatakan sepatah kata.


"Yaa nggak tau lah. Lo kira kita cenayang apa? Biarin lah mereka selesaiin urusan rumah tangganya!" celetuk Safira ngegas dan langsung dihadiahi tonyoran dari Revan.


"Ke kelas gue aja yuk, mumpung masih jam istirahat juga," ajak Agnes agar keributan antara Revan dan Safira berakhir.


"Nggak ah. Gue ke kelas aja mau tidur," tolak Dino langsung masuk ke kelas X Ips 4.


"Gue juga nggak!" jawab Safira ngegas dan Revan secara bersamaan.


Keduanya langsung saling tatap dam saling bergidik ngeri, kemudian masuk ke dalam kelas secara bersamaan


"Gue balik."


"Gue juga."


Ana kembali ke kelasnya, begitupun dengan Justin. Dan saat ini hanya tersisa tiga orang yaitu Syarifa, Agnes, dan Bagus.


Saat Bagus hendak menggandeng tangan Agnes yang ada di sampingnya, buru-buru Agnes menggandeng tangan Syarifa dan langsung masuk ke kelas X Ips 3.


Bagus menghembuskan nafas kasar. "Huh! Sabar Gus, sabar." Berjalan masuk ke dalam kelas, mengekor Syarifa dan Agnes.


***


Ava langsung memeluk cowok di sampingnya saat Alan sudah selesai menjelaskan.


"Maaf yah, gue udah dua kali ini salah paham sama, lo."


Cowok itu tersenyum, balas memeluk Ava. "Iya, nggak papa kok. Lagian, gue pikir wajar aja sih kalau lo cemburu, tapi tadi lo terlalu emosional banget. Gue nggak suka kalau lo kayak gitu dan jangan gitu lagi. Coba dengerin dan tahu faktanya dulu sebelum nangis dan marah," jelas Alan dengan sabar sekaligus memperingati gadisnya.


Di sisi lain tapi masih berada di taman, ada seorang gadis yang tengah mengawasi mereka dari balik pohon mangga besar di bagian timur. Gadis itu menunjukkan senyum smirk.


"Soalnya gue lagi stres karena ada yang ner- " Buru-buru Ava segera mengatupkan bibirnya dengan cepat, hampir saja ia keceplosan.


Duh bibir! Kenapa sih lemes banget?! cibirnya dalam hati.


Alan melepas pelukannya kemudian menatap Ava. "Ada yang apa?"


Gadis itu sangat panik, dirinya harus mencari alasan yang masuk akal agar Alan percaya. "Ada kerjaan banyak yang belum gue selesaikan."


Cowok di depan Ava ini hanya mengangguk pelan. Adakah yang lo sembunyikan dari gue, Va?


"Lo mau ngomong apa? Katanya ada yang mau lo omongin?" tanya sang gadis berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Kemarin, gue sempat ada urusan setelah kita jalan. Gue ditelepon sama Justin katanya hp dia ada yang ngeretas dan nggak tahu siapa pelakunya. Semua aplikasi yang mau Justin buka nggak bisa masuk, termasuk WhatsApp. Tapi, setelah beberapa jam akhirnya bisa balik lagi kayak semula dan beruntung nggak ada data yang hilang."


"Terus apa hubungannya sama gue dan lo?" Gadis itu menunjuk dirinya dan Alan bergantian.

__ADS_1


Cowok itu sendiri mendekat ke arah Ava. "Kemarin, setelah gue nganterin lo pulang, sampai di rumah hp gue sama nasibnya kayak punya Justin. Sama-sama nggak bisa dibuka."


Gadis itu tercengang bukan main dengan pernyataan Alan. Kini, ia baru sadar atas pesan yang di maksud si peneror tersebut.


Ava menelan ludahnya dengan susah payah. Jangan-jangan pesan yang di maksud si penneror itu ini? Tapi, kenapa Justin ikut-ikutan diteror? Gadis itu menggigit bibir bawah khawatir. Gue nggak mau kalau Alan sama teman yang lain kenapa-kenapa. Gue harus gimana?


Melihat Ava yang melamun dan menggigit bibir, membuat cowok itu semakin curiga kalau Ava menyembunyikan sesuatu darinya.


Alan menjentikkan jari tepat di depan wajah gadisnya. "Ava."


Orang yang dipanggil sadar dengan cepat. "Apa?"


"Lo kenapa, kok kayak ketakutan gitu? Apa, ada yang lo sembunyikan dari, gue?"


"Nggak. Gue nggak nyembunyiin apa-apa dari lo. Ya, gue cuma mikir aja siapa orang yang dengan kukernya ngeretas hp kalian berdua."


"Ya udah. Yuk, ke kelas aja." Ava bangkit dan mengulurkan tangan pada sanga pujaan hati.


Saat kedua remaja itu benar-benar sudah keluar dari taman belakang sekolah, gadis itu keluar dari persembunyiannya.


"Mau ganti hp juga nggak akan buat lo terhindar dari rencana yang udah gue susun untuk lo, Ava," tutur gadis berambut panjang nan bergelombang.


***


Bel pulang sekolah telah berbunyi, para siswa langsung berhamburan keluar kelas. Mereka semua ingin cepat-cepat pulang melepas letih dan lelah saat bertemu keluarga masing-masing.


"Din, mau ke mana?" teriak Revan saat Dino buru-buru pergi keluar kelas.


Cowok itu tidak menggubris hal tersebut, yang terpenting dirinya harus memastikan sesuatu. Selain Dino buru-buru, ia juga tidak suka dipanggil 'Din', karena panggilan itu terdengar seperti nama perempuan.


Dengan tergesa-gesa menuju parkiran dan langsung melesat menuju halte.


***


Dino mengedarkan pandangannya ke penjuru halte, mencari seseorang, dan akhirnya katemu. Cowok itu langsung menghampiri orang tersebut.


"Mau pulang bareng gue nggak? Daripada nunggu lama di sini?" tawar Dino menunjuk arah jok belakangnya yang kosong dengan dagu.


"Lo kenapa jadi baik gini sama gue, bukannya lo benci, ya, sama gue?" jawab Maudi ketus.


"Nggak perlu lo jawab, gue cuma mau nganterin lo pulang doang. Mau nggak?" tawar Dino masih berusaha agar Maudi mau.


Pada akhirnya gadis itu mau setelah bergelut dengan pikirannya kalau cowok di depannya ini sedang merencanakan sesuatu untuknya. Maudi langsung naik ke atas motor sport merah milik Dino.


***


"Itu bukannya itu, Dino yah? Ngapain dia nganterin nenek lampir pulang?" gumam Revan bermonolog saat melihat temannya itu dari pintu gerbang.


"Bodo amat lah." Cowok menjalankan motornya menjauh dari area sekolah tanpa memperdulikan Dino dan Maudi yang tadi di lihatnya.


***


Ava buru-buru pulang, karena tadi pihak dari sana mengabarkan bahwa pesanan yang Ava beli semalam akhirnya datang. Barang yang ia pesan pun sudah berdiri kokoh di depan rumah.


Ava memesan sebuah lemari kayu minimalis berwarna putih. Semuanya terbuat dari kayu, dan tidak ada yang berbahan kaca.


Tapi, Ava bingung karena ia tidak kuat jika mengangkat lemari itu sendirian. Jadilah ia terpaksa menunggu Ana dan Agnes pulang.


***


"Woi lah, lama banget, sih? Udah nunggu sepuluh tahun ini! Kalau gue ambeyen tanggung jawab, lo pada!" gerutu Ava saat kedua sahabatnya baru datang memasuki pekarangan rumah.


"Salah sendiri lah, lo pulang duluan dan nggak nungguin kita."


"Ya, 'kan, gue udah ditelepon sama si penjual online shop itu karena barang yang gue pesan udah datang. Nah, sekarang bantuin gue ngangkat lemari kecil itu. Berat dan gue ngga kuat."


Kedua sahabatnya menghembuskan nafas kasar, mengangguk pasrah. Mereka bersama-sama mengangkat lemari tersebut menuju kamar Ava, setelah itu lemarinya diletakkan tepat di samping rak buku.


Mereka semua mengusap kedua tangan beberapa kali, tanda sudah selesai dan membersihkan tangan kalau ada sedikit debu yang menempel.


"Lo beli lemari buat apaan? Kurang gede lemari lo?" cibir Ana berkacak pinggang.


"Buat nyimpan barang-barang yang Alan kasih misalnya helm, hoodie, novel, mie, minuman, dan lain-lain karena lemari gue penuh," jelas Ava yang membuat kedua sahabatnya geleng-geleng kepala.


"Dasar bucin lo, Ava!" cibir Ana dan Agnes bersamaan, keduanya lantas langsung pergi dari sana.

__ADS_1


"Nes, lo kenapa? Kok kayak bad mood gitu?" tanya Ava sebelum Agnes benar-benar pergi.


"Nggak papa kok, gue cuma capek aja," jawab Agnes sedikit lesu, lalu menutup pintu kamar Ava.


Ava sendiri sedikit khawatir dengan Agnes, tapi gadis itu berpikiran positif saja, siapa tahu Agnes benar-benar kelelahan.


Ava berkacak pinggang sambil tersenyum senang, karena dirinya mempunyai tempat khusus barang-barang yang Alan berikan.


Gadis itu mulai mengambil barang-barang tersebut, lalu meletakkannya di atas bad kasur, dan mulai menatanya dengan rapi. Rencananya Ava juga akan mencetak foto Alan sendiri dan dirinya yang kemudian ditempelkan tepat di pintu bagian dalam lemari.


***


Maudi turun dari motor Dino dengan hati-hati, karena takut roknya bedah atau robek.


...



...


"Makasih," ucap Maudi singkat, padat, dan jelas.


Tapi sebelum gadis itu masuk ke pekarangan rumahnya, Dino menyempatkan untuk bertanya.


"Gue mau tanya empat hal sama lo dan harus lo jawab."


"Kenapa harus gitu? Gue bukan siapa-siapa lo dan kita bahkan nggak kenal dekat."


Dino terkekeh pelan. Ia sama sekali tidak pernah menyangka kalau gadis di hadapannya ini mempunyai sisi dan sifat dingin. "Nanti juga bakalan dekat. Yang pertama, lo kenapa nggak bawa mobil sendiri? Biasanya lo juga ngasih tumpangan ke semua teman-teman lo."


Maudi menatap Dino dengan wajah datar." Bukan urusan lo."


"Ke dua, rumah lo sepi. Apa lo tinggal sendirian di sini?"


"Bukan urusan lo."


"Ke tiga, lo ada maksud apa sama Ava sampai lo mendadak baik? Karena kemarin gue lihat lo nolongin Ava pas hampir di tabrak sama orang dari belakang."


Gadis itu sedikit terkejut dengan pertanyaan dan pernyataan Dino barusan, tapi sebisa mungkin dirinya berusaha tetap tenang.


"Bukan urusan lo," tegas Maudi untuk yang terakhir kalinya. Gadis itu membalikkan badannya, dan masuk ke halaman depan rumah


"Ke empat. Apa nggak ada jawaban selain, "Bukan orusan lo"?"


Maudi menutup gerbangnya. "Ada."


"Apa?"


"Mendingan lo pulang. Udah sore." Kali ini gadis itu benar-benar masuk ke dalam rumahnya.


Sedangkan Dino masih setia berada di atas motor sambil memandangi punggung sang gadis yang mulai menjauh. Barulah setelah Maudi benar-benar masuk ke dalam rumah, cowok itu langsung pergi dari sana.


"Dasar gadis aneh," cibir Dino antara terkekeh dan tersenyum senang.


***


Maudi masuk ke kamarnya yang sepi nan sunyi. Di rumah besar ini ia hanya bersama sang asisten rumah tangga karena kedua orang tuanya bekerja dan baru akan pulang saat malam hari.


Melemparkan tas di atas bad kasur kemudian duduk di sofa dekat jendela. Mencoba memastikan orang tersebut sudah pergi atau belum.


"Bawel. Ngapain coba pake tanya-tanya segala? Sebegitu pentingnya kah, Ava bagi mereka semua?"


Gadis itu memandang pohon mangga rindang yang berada tepat di depan rumahnya.


"Gue ingin menjadi Ava yang disukai semua orang, gue ingin menjadi Ava yang dijaga semua orang, dan gue juga ingin menjadi Ava yang mempunyai teman. Satu teman pun juga tak apa, hanya itu."


...***...


...Ditulis tanggal 03 September 2020...


...Dipublish tanggal 07 April 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2