
...Ibu Runi pulang ke Papua...
...Eh malah nyasar ke Kenya...
...Aku cinta sama kalian semua...
...Dan selamat membaca kisahnya...
...Eak! Awokawokawok....
...***...
...
...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.
Ava dan Alan kini ada di toko sebrang sekolah. Keduanya sama-sama duduk sambil memakan mie cup goreng.
Alan membuang wadahnya ke tempat sampah yang ada di ujung toko tersebut karena ia sudah selesai.
Ava tadi menyuruh Ana dan Agnes pulang duluan karena mungkin ia dan Alan di sini masih lama.
Gadis itu menatap ke arah halte, di sana masih ada Maudi yang duduk sendirian, tanpa ditemani ke enam temannya yang biasanya bersama dengan gadis itu.
Ava sedikit kasihan dengan Maudi, tapi ia lebih kasihan lagi jika Alan ditinggal sendirian di sini.
Gadis itu meletakkan bekas mie cup di meja, meminum seteguk air mineral dingin, kemudian menatap Alan yang tengah bermain sibuk bermain ponsel.
Alan yang merasa ditatap pun berujar, "Mau pulang?"
Ava terlihat berpikir sejenak. "Nanti aja deh."
Gadis itu menatap ke arah halte lagi, dan tak disangka-sangka sudah ada Dino yang duduk di dekat Maudi, tapi sangat terlihat jelas bahwa Maudi tidak perduli dengan keberadaan Dino.
"Ada hubungan apa Dino sama Maudi?" gumam Ava sepelan mungkin.
Ia masih menyaksikan interaksi kedua orang itu dengan seksama, yah walaupun tak mendengar apa yang mereka berdua obrolkan.
Ting
Ting
Ada pesan masuk, buru-buru Ava mengambil hp nya di meja sebelum Alan melihat semua yang Ava sembunyikan.
+62 8966 ×××× ××××
Lagu favoritku tercipta atas namamu.
Lagi dan lagi tubuh gadis itu membeku di tempat, jantungnya berpacu lebih cepat dan keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Ava celingukan ke sana kemari, mencoba mengamati orang orang yang melintas. Tak terkecuali pada Maudi yang tengah memainkan hp nya.
Ava menatap Maudi dari jauh. Apa Maudi dalangnya? Dia mau balas dendam sama gue karena gue udah bikin kak Aras malu? pikir Ava dalam hati.
Tapi kayaknya nggak mungkin? Gue lihat Maudi nggak pernah ngedengerin atau suka sama musik. Tapi, kalau dia dalangnya, kenapa Maudi nyelametin gue? Harusnya dia biarin gue celaka, karena itu akan mempermudah dia buat nyingkirin gue. Kenapa juga Maudi udah nggak pernah ngebully gue?
Puluhan pertanyaan terus terngiang di kepala Ava. Banyak sekali pertanyaan yang ia ingin tahu jawabannya, tapi gadis itu harus mencarinya sendiri.
Ting
Ting
Ponselnya berbunyi lagi dan itu dari si peneror.
+62 8966 ×××× ××××
Aku tak bersembunyi, jadi mungkin Kau bisa melihatku melintas atau mungkin Kau tak melihatku? Tapi, Aku bisa melihatmu dengan jelas.
__ADS_1
Nafas gadis itu semakin memburu saja. Ava semakin takut, dan ia terus melebarkan pandangannya ke sekitar. Lama-kelamaan kalau seperti ini ia bisa kena serangan jantung mendadak dan depresi.
Tapi sayangnya, Ava tak melihat ada orang yang berdiri di gedung lab komputer lantai dua. Tepatnya di balik kaca berwarna hitam dengan tirai warna abu-abu. Karena gedung itu terletak di paling depan selain gedung kantor guru, kelas XII, dan gedung Tata Usaha, hal itu semakin mempermudah misi dua orang tersebut.
Setelah selesai melaksanakan rencana dan tugasnya, orang itu langsung pergi. Tak lupa pula dengan senyum smirk yang selalu disunggingkan saat misi berhasil dilaksanakan sesuai dengan plain.
"Alan, gue pulang yah. Lagian, mau hujan kayaknya?" pamit Ava sebelum dirinya pergi.
Alan bangkit dari duduk, memasukkan hp nya ke dalam saku seragam. "Gue antar, takut ada apa-apa."
Ava mengangguk menyetujui, untung lah cowok itu menawarkan penjagaan, kalau tidak, mungkin ia akan sangat ketakutan di jalan.
Tak berselang lama saat Ava dan Alan akan menjalankan motornya, ada Aras yang keluar dari area sekolah. Sebelum Aras benar-benar pergi dari sekolah, entah salah lihat atau tidak pokoknya Ava melihat cowok itu tersenyum ke arahnya.
Ava mengatur dan menghembuskan nafas kasar beberapa kali. Jangan nuduh-nuduh orang lagi Ava! Apalagi kak Aras yang udah janji nggak bakal ganggu hidup lo.
Daripada otaknya terus bertreveling tidak jelas ke mana-mana, jadi gadis itu putuskan segera menjalankan motor, dan diikuti Alan dari belakang.
***
"Lo mending pulang bareng gue, ini udah jam empat," paksa Dino ramah.
"Ngapain sih lo ganggu gue mulu?!" tanya Maudi ngegas, karena sudah muak dengan paksaan yang dilontarkan Dino sedari tadi.
Cowok itu berdiri menatap Maudi remeh. "Lo mau nunggu di sini sampai kapan? Sampai ajal ngejemput lo?" Duduk lagi di samping Maudi.
Sedangkan gadis itu terlihat gelisah, karena langit sudah mulai gelap karena ada mendung. Maudi menelpon sang supir pribadi.
"Pak, di mana sih? Kok belum sampai juga?"
Bannya tiba tiba bocor, Non. Ini lagi di jalan dan lagi di benerin sama montirnya.
Dino yang sedang bermain mobile legend tampak menatap Maudi sekilas.
"Kira-kira kapan selesainya? Saya digangguin orang gila nih Pak! Jijik saya lihatnya!"
Dino memasukkan benda pipih miliknya ke dalam tas, kemudian mendongak ke atas. Sepertinya akan turun hujan lebat disertai petir, buru-buru cowok itu pergi menjalankan motornya untuk pulang, tanpa memperdulikan Maudi yang sangat asyik berdebat dengan sang supir. Selain tidak mau terus menunggu dan membujuk, Dino juga kesal akan hinaan Maudi tadi.
Maudi hanya bisa menatap kepergian Dino, yang sudah melesat sangat jauh dari pandangan matanya.
"Ya udah, cepetan yaa, Pak. Keburu hujan."
Tut
Tut
Tut
Gadis itu memutuskan sambungan telepon. Maudi menatap ke jalanan yang sudah sangat sepi. "Kenapa tadi gue nggak nerima tawaran Dino aja, sih? Pake acara ngehina segala lagi? Kan, dia jadi ngambek!" Memukul-mukul kepalanya.
Hah! Sejak kapan gadis itu jadi merasa bersalah seperti ini?
Ini bahkan bukan seperti dirinya.
***
18:34
Ava kini ada di kamarnya, tengah membaca dengan seksama pesan-pesan yang dikirim yang peneror untuknya dari awal sampai sore tadi.
Gadis itu mulai menyadari sesuatu bahwa peneror itu memberi Ava sebuah clue yang harus ia cari sendiri. Peneror itu serasa ingin ditemukan dan ingin mengungkapkan jati dirinya pada Ava.
Kali ini gadis itu harus lebih teliti dan hati-hati dalam melakukan sesuatu, karena peneror itu masih di luar sana mengawasi dirinya.
Daripada di sini sendirian, lebih baik Ava menyusul kedua sahabatnya yang tengah menonton kartun Boruto di layar tv.
Tapi anehnya, sejak Ava pulang tadi, wajah Agnes cemberut terus, tidak seperti biasanya yang selalu kalem dan sumringah.
***
"Lo kenapa, Nes?" tanya Ava sembari memakan keripik pisang.
__ADS_1
"Jadi, kemarin Bagus nembak gue."
Ava tersedak keripik yang ia makan sendiri, sedangkan Ana menyemburkan minuman yang tengah ia minum tadi.
"Yang benar, lo ah?" serempak Ava dan Ana.
Agnes mengangguk. "Ya iya lah. Tapi, ya, gue belum bilang 'Iya' karena masih ragu dan pas Bagus nembak itu dia bilang 'Seumpama gue mau jadiin lo pacar gue, lo mau nggak?' jadi gue sendiri kayak harus mikir-mikir lagi." menekankan kata 'Seumpama'.
"Terus, Iqbal mau lo ke manain?" tanya Ana sedikit sewot dan tidak terima.
"Yaa maka dari itu. Dari pagi tuh Bagus suka nyindir-nyindir gue mulu. Kayak pakai lagu yang kisah atau maknanya sama terus sama bilang, 'Nggak dihargai' gitulah pokoknya. Kan, gue nya jadi kesal dan nggak nyaman."
"Tapi pertanyaannya, lo ada rasa juga nggak sama Bagus?" kini giliran Ava yang bertanya.
Agnes tampak berpikir sejenak. "Ada sih rasa suka, tapi sedikit, soalnyakan Bagus juga gombalin gue mulu, jadinya gue sedikit baper gitu." Agnes terkekeh sendiri dengan pernyataan yang ia lontarkan.
Ana menyunggingkan senyum meledek. "Owwh, jadi ini ceritanya lo udah terjerat sama gombalan maut Bagus sampai dibuat baper dan jadi suka beneran?" Dan hal itu sontak langsung mengundang Agnes untuk mengangguk diiringi kekehan. "Yaa gimana, ya? Pilih salah satu aja yang dirasa cocok dan yang paling lo suka."
"Gue sih cinta sama Iqbal, cinta banget malahan. Tapi, kekurangannya itu Iqbal nggak nembak-nembak gue, dia itu kayak masih sedikit malu-malu gitu loh. Takutnya itu nanti kalau gue pilih Iqbal gue bakal digantung dia mulu, padahal nih yaa, gue tuh sering kasih kode yang sangat jelas ke dia kalau gue suka sama Iqbal."
Ava dan Ana hanya bisa cengengesan tidak jelas. Jujur, mereka tidak ahli dalam masalah percintaan, jadi ya mereka tidak ada saran yang pas untuk itu.
Ava menopang dagu di dinding sofa. "Lo kenal dan bisa dekat sama Iqbal itu gimana ceritanya?"
"Jadi, awalnya tuh gini ... Iqbal, 'kan, ketua kelompok kita pas kemah kemarin, gue sering tuh natap dia diam-diam layaknya pengagum rahasia. Ya ... secara, 'kan, Iqbal itu ganteng banget, putih, idungnya mancung, bibirnya tipis, rahangnya tegas, walaupun dia kurang tinggi sedikit sih."
"Nah, pas malam pementasan, tepatnya pas nonton dramanya kelompok empat itu, lo sama Ana, 'kan, duduknya di nomor dua dari depan dan kalau gue di belakangnya Ava, terus di belakang gue itu Iqbal. Awalnya, Iqbal tuh kayak ngejek pemain drama itu, 'kan, cuma candaan doang lah gitu supaya lucu."
"Yang di mana para pemain drama itu pada percaya diri semua, padahal dramanya juga nggak bagus-bagus banget, tapi bisa lucu dan bikin ngakak banget. Terus kalau nggak salah, gue komen atau nyautin apa yang dia omongin tadi dan akhirnya kita pelan-pelan ngobrol sekaligus adu argumen."
"Nah, pas gue lagi asik-asiknya nonton, tiba-tiba ada orang yang ngebekap gue pakai sarung terus ditarik ke belakang. Yaa otomatis gue nggak bisa nafas dong, setelah bekapannya dilepas dan gue lihat ternyata itu si Iqbal. Dia langsung ketawa ngakak, jadinya gue ikut ketawa dan nggak jadi marah, terus malah senang sekaligus gemes sama tingkah dia."
Agnes sempat menutup mulutnya karena malu untuk bercerita. "Dan saat pulang kemah, gue duluan yang ngesave nomor dia. Gue bilang 'Agnes, yang lo bekap pakai sarung' supaya dia ingat wajah gue gitu."
"Terus dia bikin story di WhatsApp, yaa gue iseng-iseng aja komen, lha ternyata malah dibalas sama dia. Dan, saat itulah kita mulai sering chat-chatan. Selain gue suka dan nyaman sama dia, itu juga karena nyambung gitu obrolannya."
"Eeh tiba-tiba di suatu malam dia ngucap gini ke gue, 'Good night. Jangan lupa mimpiin gue yah' . Siapa sih yang nggak senang dan nggak baper kalau orang yang kita suka ngucapin hal itu ke kita? Gue juga ngerasa kalau Iqbal juga suka sama gue, dan perasaan gue akhirnya bisa terbalaskan."
"Makanya, setiap hari rabu, gue sering banget ngajak kalian ke kelas Iqbal karena gue pengen ketemu sama Iqbal dan kebetulan setiap hari itu dia latihan silat. Kesempatan itu nggak gue sia-siain dong tentunya. Udah sih, gitu aja dan masih sampai sekarang berhubungan baik."
Di lihatnya Ava dan Ana yang tengah tersenyum sangat lebar. "Kalian kenapa?"
Ana memukul Agnes dengan bantal. "Lo yang kenapa?! Dari tadi lo cerita itu sambil senyum-senyum sendiri tahu nggak! Ya kita juga ikut-ikutan senyum karena dengar cerita lo sama dia yang simple tapi sweet gitu loh. Nggak nyangka aja sih pertemuan tak sengaja dan sesederhana itu yang awalnya nggak kenal sama sekali dan hanya mengagumi berubah menjadi kenyataan yang sangat indah."
Agnes mengernyitkan dahi. "Masa, sih? Gue nggak sadar kalau cerita sambil senyum."
Malam ini, malam yang menyenangkan bagi Ava. Selain tak ada gangguan dari sang peneror, dan karena sahabatnya mau berbagi cerita serta pengalaman mereka.
Terkadang memang seperti itu, sederhana namun bermakna. Tak perlu hal yang sangat luar biasa agar bahagia, cukup berkumpul dengan orang yang kita sayangi dan kasihi saja.
...***...
...Awokawokawok. Memang ya, gombalan itu bisa jadi pelet ampuh buat menarik hati wanita, membuat wanita tersipu malu, dan meluluhkan hati wanita....
...Tuh udah ada buktinya kalau Agnes aja sampai baper sendiri saat digombalin. Buat kalian boleh dicoba, udah ada korbannya noh. Canda, wkwkwkwk....
...Menurut kalian gimana tentang penjelasan singkat pertemuan antara Agnes dan Iqbal?...
...Kalau pendapat Aku sih sama dengan pendapat Ana. Pertemuan sederhana namun terasa amat sangat istimewa....
...Kalau kalian jadi Agnes, kalian akan pilih Iqbal yang jago silat atau Bagus yang jago ngegombal? Pilihnya yang benar loh!...
...***...
...Ditulis tanggal 13 September 2020...
...Dipublish tanggal 09 April 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1