Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 77 ~ Belajar Menghargai


__ADS_3

...



...


Setelah kepergian Ava, Alan bangun lalu mendudukkan dirinya. Iya, cowok itu tidak tidur dan hanya memejamkan mata setelah sang dokter selesai memeriksanya.


Alan sengaja tidak bangun dan tidak berbicara saat Ava datang, karena ia ingin mendengar gadis itu berbicara semua keluh kesah yang Ava rasakan, dan hal itu sangat cukup membuat Alan memiliki rasa iba yang begitu besar.


Tatapan cowok itu begitu sendu dan sayu. "Maafin gue, Va. Gue emang nggak akan pantas buat lo."


Ceklek


Alan menoleh saat ada yang masuk ke dalam uks.


"Eh Alan, lo udah bangun?" Natalie menghampiri Alan lalu duduk di samping cowok itu, di tangannya juga sudah ada obat yang ia beli sesuai dengan suruhan Justin.


"Nih minum obat lo, gue udah beliin tadi."


"Di uks ada obat."


"Lah? Tadi katanya lo cuma bisa cocok sama obat yang dijual di depan spbu samping restaurant yang dekat rumahnya Revan, jadi gue ijin dan beliin lo obat di sana."


Alan beranjak dari duduk lalu berdiri di depan pintu uks. Lama-lama ia lelah mendengar semua ocehan Natalie. "Siapa yang bilang?"


"Justin."


Cowok itu menatap natalie sekilas. "Lo dikerjain dia." setelah itu pergi dari sana.


Natalie menganga tidak percaya, tiba-tiba dadanya terasa sesak dan kekurangan pasokan udara. "Hah?! Jadi gue dikerjain, Justin? Setengah jam gue nunggangin kuda besi dan Alan malah cocok sama obat uks? Dasar sialan lo cowo badungan!"


***


Bagus menatap Agnes penuh selidik dan teka-teki. "Lo ngapain, sih? Mana coba liat hp Lo!"


Bagus begitu curiga dengan Agnes beberapa hari ini. Ia mendapat sedikit kejanggalan di antaranya, Agnes yang suka senyum-senyum sendiri saat menatap layar ponsel, dan Agnes yang terkadang di waktu tertentu tidak mengizinkan Bagus mengecek dan meminjam hp nya.


Bagus protektif? Memang, mungkin karena Bagus tidak mau gadisnya mendua di belakangnya. Tapi, hal itu malah membuat Agnes tidak nyaman, Bagus tahu privasi Agnes dan mengekang kalau Agnes tidak boleh atau harus mengurangi chat dengan para cowok dan teman lainnya. (Padahalkan itu hanya teman)


Iya hanya teman, tapi semua itu juga berawal dari 'Teman', 'kan? Nah, itu yang patut dipertanyakan.


Agnes juga tidak pernah mengekang dan ingin tahu apa yang menjadi urusan serta privasi Bagus. Di belakang pacar, Bagus juga sering menduakan gadisnya, bisa dibilang juga Bagus itu cowok yang tidak bisa tahan hanya dengan satu wanita, ia ingin lebih, lebih, dan lebih sampai mendapat dan menemukan gadis yang ia idam-idamkan selama ini.


Pertanyaannya, kenapa kalau Agnes sudah tahu Bagus begitu masih saja mau menjadi pacarnya? Pertama, karena saat itu Bagus terus menyindir dengan lagu kalau Agnes tidak menghargai usaha seseorang. Kedua, karena Agnes ada sedikit sekali rasa suka pada Bagus, hal itu muncul karena Bagus sering sekali mendekati, bergaul, dan menggombali Agnes (terkena gombalan maut dong). Ketiga, karena mungkin Agnes percaya pada Bagus bahwa cowok itu tidak memandang apapun baik dari segi fisik atau material. Agnes juga percaya apa yang dilakukan Bagus itu tulus dari hati, makadari itu Agnes mau menerima cowok itu.


"Enggak ngapa-ngapain kok. Emang gue ngapain?"


"Iish apaan, sih?!" sentak Agnes saat Bagus mencoba merebut hp nya seraya menjauhkan benda pipih itu.


"Mana sih? Siniin aja!" Bagus masih berusaha keras mengambil benda itu dari tangan Agnes. "Oh ini?" ucapnya saat berhasil mengambil dan juga melihat layar ponsel gadis itu.


"Ini apa? Dia bukan siapa-siapa gue kok." Agnes kembali mengambil hp nya dari tangan Bagus. "Dan, nggak ada apa-apa." tambahnya agar tak ada kesalah pahaman yang terjadi.


Bagus mendelik. "Oh, iya ... iya nggak ada apa-apa." Kata-katanya memang biasa saja, tapi nadanya ituloh seperti tidak percaya dan menghina.


"Emang nggak ada apa apa kok!" Agnes mempertegas sekaligus mempertinggi nada bicaranya.


"Udah! Udah! Jangan pada berantem gini. Kalau kalian pada berantem sama aja kalian nambahin masalah," lerai Syarifa yang mulai pusing dibuatnya.


Bisa Agnes lihat bahwa raut wajah Bagus berubah datar seperti tidak perduli, kemudian pergi ke luar kelas entah kemana tanpa mengatakan sepatah kata apapun.


"Menyebalkan!" cibir Agnes.


Ya dari awal juga itu bukan salah Bagus sepenuhnya kalau cowok itu suka sekali over protektif pada sang pacar, karena Agnes nya pun juga begitu, masih meladeni chat dari Iqbal saat gadis itu juga tahu kalau ia sudah memiliki pacar bernama, Bagus.


Kalau ditanya kenapa Agnes masih berkomunikasi dengan Iqbal lewat chat, pasti gadis itu jawabnya gini, "Ya ... 'kan, Iqbal orangnya suka membalas dan berbalas chat, selain itu juga satu pemikiran. Terus, nggak enak juga kalau didiamkan." begitu.


***


"Kalau jalan liat-liat dong!" geram Dino saat ada orang yang menabrak bahunya.


Gadis itu membelalakkan mata. "Eh, lo yang nggak liat-liat! Jalan pake ngupil segala! Udah tahu upilnya gede ngehalangin jalan!" cibir Maudi, gadis itu mendesis pelan lalu meninggalkan Dino yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Dino menoleh ke arah Maudi yang jalan melewati lorong sendirian tanpa ada teman-temannya. "Woi! Lo kira upil itu batu bisa segede itu?"


"Dino dimakan, Boboho!! Ya bodo amat!!"


"Nggak nyambung woi!!"


"Biarin!! Mang Oleh, nggak nyambung aja bisa viral!!"


"Dasar, Upil badak!!"


"Ogeb,lo Pop Cicak!!"


Dino mendesis lalu menggaruk tengkuknya. "Lah kenapa gue jadi saut-sautan gitu? Aelah dasar cewek gila! Tapi kok gue suka? Apa istimewanya, coba?"


Tanpa mau memikirkan hal itu, Dino masuk ke dalam kelas menyusul Revan yang bermain monopoli sendirian.


"Dapat dari mana nih?"


"Nyolong punya teman adek gue. Bosen, lagian main hp mulu nggak ada yang lain, yaudah main aja sendiri."


"Ajak Safira sama Ava aja biar lebih seru, gimana?"


Revan berpikir sebentar. "Iya juga, ya? Main sendirian kayak orang gila aja. Yaudah deh. " Revan menarik nafas panjang. "Ava! Safira! Main monopoli bareng, yuk!"


Semua siswa di kelas langsung menutup telinga karena suara Revan yang lantangnya di atas rata-rata. Mungkin juga bisa memecahkan gendang telinga dalam satu teriakan. Tak sangka kalau Revan itu udah gila, ogeb, dan ini ditambah lagi tidak tahu malu. Bawa bala aja lo, tong!


"Gila lo?" Dino menabok kasar wajah Revan dan membuat sang empu mencebikkan bibir.


"Woi! Gue nggak budek kali, Van!" sahut Safira yang marah-marah dibuatnya.


"Biar dengar!" tutur Revan dari pojokan.


Safira menatap Ava yang dari tadi murung tidak jelas. "Ava man monopoli bareng yuk!"


"Malas."


Safira menghembuskan nafas kasar. "Gue tahu lo sedih, tapi jangan kayak gini dong. Hargainlah sedikit perjuangan semua teman-teman yang udah menghibur lo selama ini. Kalau lo kayak gini terus, semua orang pusing harus lakuin apa lagi supaya lo nggak sedih. Mereka kerjaannya bukan cuma ngurusin misi lo, Ava, tapi mereka juga butuh ketenangan dan dan kesangan untuk menghilangkan kejenuhan. Mereka juga punya kehidupan masing-masing, bukan hanya tentang lo ataupun tentang Alan."


Ava mendongak menatap Safira sendu.


Ava menunduk, ia merasa sangat bersalah sekarang, semua yang dikatakan Safira benar, harusnya Ava membuka dan melihat sisi lain dari hidupnya.


Gadis itu menatap Safira sambil tersenyum samar. "Iya, harusnya gue lebih bisa bersenang-senang dan nggak larut dalam kesedihan hanya karena Alan doang. Maafin gue karena udah merebut kehidupan menyenangkan dari kalian dan membawa kalian ke kehidupan suram gue."


"Hidup lo itu nggak suram, justru sangat menyenangkan, hanya saja ada beberapa hal yang harus lo bodo amatin. Lo juga nggak harus minta maaf, kita semua hanya ingin lo belajar dari kesalahan dan pengalaman supaya di masa yang akan datang lo jauh lebih kuat dalam menghadapi sesuatu, lebih hati-hati, lebih teliti, dan tahu resiko yang akan terjadi saat lo melakukan apapun."


Ava menatap ke pojokan, di sana juga ada Games dan Ava tak mau jika ada cowok itu, bisa-bisa Ava dibuat tidak nyaman dan mati kutu karena games terus saja mendekati serta menatap Ava terang-terangan. "Suruh ke sini aja, di sana ada Games."


Karena Safira gadis yang baik dan pengertian jadi ia menuruti apa permintaan Ava, gadis itu sudah mulai mau belajar menghargai.


"Revan! Dino! Sini aja ya!" teriak Safira menatap arah pojok


Revan dan Dino yang ada di pojokan langsung menyusul sambil membawa kertas monopoli dan semua mainannya.


"Nah, kalau ginikan ramai-ramai!" celetuk Dino yang sumringah sendiri.


Tiba-tiba saja ada Alan yang dipapah Natalie lewat. Tadi saat di jalan Natalie memaksa agar Alan dipapah saja supaya tidak jatuh, karena tubuh cowok itu masih lemas, dan karena tidak mau Natalie berkicau terus, jadi Alan terpaksa mau dipapah gadis itu.


Ya salah sendirilah, belum sehat udah mau ke kelas dan di suruh pulang pun juga tidak mau.


Dino dan Revan sama-sama saling tatap, mereka berdua dengan susah payah meneguk ludahnya masing-masing, takut sesuatu akan terjadi.


Ava mengingat ceramah panjang lebar Safira tadi, gadis itu kembali menatap teman-temannya. "Ya udah yuk, kita mulai main."


Semuanya mengangguk setuju. Tadi Revan dan Dino sempat takut kalau Ava sedih lalu menangis, tapi hal itu ternyata tidak terjadi, Ava justru tersenyum dan terlihat jauh lebih kuat dari sebelum-sebelumnya.


Safira tersenyum menatap Ava, dan ia juga bersyukur saat gadis itu mau mendengar, mengerti, dan melakukan apa yang ia katakan barusan.


***


Bel pulang sekolah menggema di seluruh sekolah, tapi, Ava, Ana, Agnes, dan Safira masih di kelas. Mereka semua nongkrong dan ngobrol sebentar kalau nanti satu bukan kedepan akan diadakan Mid Semester.


Ava menatap ponselnya, ada pesan dari Aras.

__ADS_1


Aras


Ava nanti malam ketemuan yuk, ada yang mau gue omongin soal si peneror itu.


Gadis cantik itu tersenyum saat membaca pesan dari Aras.


^^^Ava^^^


^^^Iya kak Aras. Btw ketemunya di mana?^^^


Aras


Nanti malam gue jemput,


Ava berpikir diam sebentar, kemudian mengangguk pelan. "Nggak papa deh."


^^^Ava^^^


^^^Okay. Sampai ketemu nanti malam.^^^


Aras


Iya, cantik.


"Ya udah yuk pulang," Ajak Ava dengan senyum mengembang karena sangat tidak sabar untuk nanti malam.


Ting


Ting


Hp Ava berbunyi lagi, gadis itu lagi, lagi, dan lagi entah sudah berapa kali mematung di tempat ketakutan dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh saat tahu yang mengirim pesan adalah sang peneror.


+62 8966 ×××× ××××


Hai! Mau bermain lagi? Aku di sini mengawasi dan menatap kalian berempat. Iya, di atas sana, 'kan, ada Ava, Ana, Agnes, dan Safira. Apa kau mau mengajak ke tiga sahabatmu juga? Jika iya, itu akan lebih menyenangkan.


Rahang gadis itu mengeras seketika, raut wajahnya merah padam, dan matanya berapi-api.


^^^Ava^^^


^^^Eh manusia gila! Jangan pernah lo libatin sahabat dan teman-teman gue. Hanya cukup kita berdua aja^^^


+62 8966 ×××× ××××


Kalau begitu hentikan dia mencariku!!


Apa maksudnya? pikirnya dalam hati.


Menyadari satu temannya tak ada, Ana menoleh kebelakang dan melihat Ava yang masih diam di tempat sibuk dengen ponselnya. "Ava, lo kenapa? Ayo!"


Gadis yang dipanggil sontak mendongak, Ava mencoba memasang wajah biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Kan, bisa berabe kalau semua sahabatnya tahu. "Ah ng-enggak ada apa-apa kok." Gadis itu memasukkan hp ke dalam saku seragam lalu meyusul teman-temannya.


"Lo ngga papa? Apa karena Alan tadi?" tanya Safira mencoba memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan gadis itu.


Ava menggeleng lalu tersenyum. "Engga papa kok, beneran."


Safira mengangguk dan mencoba percaya, walau ia yakin ada yang disembunyikan gadis yang berjalan di sampingnya ini.


Lo menyembunyikan sesuatu yang nggak mau siapapun tahu.


...***...


...Kira-kira kalau kalian mempunyai teman seperti Safira, bakal kalian apain?...


...Apa yang dimaksud peneror itu?...


...Kalau kalian ngalamin kejadian kayak Ava, kalian bakal lakuin apa? Lapor polisi? Tentu bisa, tapi sahabat, keluarga, dan semua orang yang disayanginya akan menerima imbasnya. Atau justru kalian bakal mendam dan cari tahu sendiri kayak, Ava? Yang di mana semua teman, sahabat, keluarga, dan orang yang disayanginya tidak perlu masuk dalam permainan....


...***...


...Ditulis tanggal 06 November 2020...


...Dipublish tanggal 04 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2