Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 20 ~ Flashback


__ADS_3

...



...


Alan melihat wajah murung Ava yang tertunduk dari kaca spion motornya, lalu tersenyum samar.


Detik berikutnya Alan menarik kedua tangan Ava agar memeluk dirinya. Ava sontak terkejut dengan hal itu tapi Ava juga tidak menolaknya.


"Dingin." ucap Alan singkat lalu menjalankan motornya.


Gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung Alan, lalu tersenyum.


Mencari kenyamanan yang di berikan Alan malam ini.


"Kenapa, lo selalu ada saat gue lagi bad mood? " tanya Ava santai.


Cowok itu lagi dan lagi tersenyum di balik kaca helm. "Nggak tahu. Mungkin kebetulan."


Setelah mengatakan hal itu tak ada yang bicara satu sama lain dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sambil menikmati suasana jalanan yang masih ramai dengan kendaraan yang masih lalu-lalang, juga angin malam yang tak henti-hentinya berhembus.


***


Ava turun dari motor Alan saat sudah sampai di depan gerbang rumahnya.


"Alan, makasih, yaa, udah di antar pulang,"


"Iya," jawab Alan segera menjalankan motornya pergi menjauhi pekarangan rumah Ava.


"Alan, tunggu!" teriak Ava menghentikan Alan di depan motor cowok itu.


"Apaan?"


"Kok, lo pos rondanya jauh banget, sih? Bukannya pos ronda itu di perumahan gitu, yaa? Lo pos rondanya di jalan raya?"


Deg


Alan langsung tidak tenang, dia harus mencari alasan yang masuk akal. "Ooh, itu apa namanya ... gue beli jajan buat cemilan. Warung sama toko di perumahan gue pada tutup,"


Ava mengitari motor Alan, tapi tidak menemukan satu benda pun. "Mana? Nggak ada jajannya?" tanya Ava lagi.


Alan jadi semakin salah tingkah, cowok itu sangat panik. "Tadi baru mau beli, liat lo ehh malah nggak jadi," jawab Alan cepat.


"Oowh gitu, yaudah pulang gih!" Ava menjauhi motor Alan agar tidak menghalangi jalan.


"Aah iya, bye." Alan melambaikan tangannya lalu dengan segera pergi meninggalkan Ava, sebelum Alan di beri pertanyaan berbondong dari Ava.


...



...


...(Ava)...


Ava diam menunggu Alan benar-benar pergi dari penglihatan matanya, baru setelah pergi Ava masuk ke dalam rumah.


Di sisi lain Alan tersenyum mengelus dadanya lega, setiap berdekatan dengan Ava, jantung Alan tiba-tiba serasa berdetak sangat cepat dari biasanya.


Apa, ini yang di namakan jatuh cinta? Jantung tiba-tiba berdetak melebihi detak jantung normal biasanya.


Atau justru penyakit Aritmia, gangguan irama jantung sehingga membuat frekuensi jantung berdetak dengan sangat cepat ataupun sangat lambat.


"Untung, gue pinter." pujinya pada diri sendiri.


Flashback On


Saat ini ada cowok yang tengah rebahan di kamarnya, sambil menyelimuti tubuhnya dengan sarung. Tadinya ia ingin tidur tapi tidak bisa karena memikirkan satu cewek yang sudah mengobrak-abrik otak juga hatinya.


Hati cowok itu tidak tenang, sekeras mungkin ia mencoba menyerah, tapi hatinya tidak memperbolehkan, sedangkan otaknya mendesak untuk menyuruhnya berhenti.


Malam ini Alan berniat mengajak jalan Ava sekaligus mengungkapkan perasaannya, tidak perduli di tolak atau tidak, yang terpenting dirinya sudah berusaha.


Alan mencari cari hp nya, tapi tidak kunjung menemukan keberadaan benda itu. "Duh di mana, sih?!" teriak Alan frustasi mengacak-ngacak rambutnya.


Dari pada terlalu lama Alan langsung menjalankan motornya menuju rumah Ava untuk menemui cewek itu.


Setelah sampai, Alan menggoyangkan gerbang rumah Ava sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Satu cewek keluar dari dalam rumah dan itu Agnes. "Ngapain, Lan?" tanya Agnes tanpa membuka gerbang.


"Ava, mana?" tanya Alan cepat tanpa menjawab pertanyaan Agnes.


"Tadi ke pasar malam yang baru sama kak Aras," setelah mendapat jawaban dari Agnes, Alan langsung menuju ke tempat tujuan.


"Tadi, Alan pakai apa, yaa?" pikir Agnes merasa ada yang aneh dengan Alan.

__ADS_1


...



...


...(Agnes)...


Alan memarkirkan motornya dengan cepat, membeli tiket dan langsung masuk ke dalam pasar malam, membuka matanya lebar-lebar untuk mencari di mana keberadaan orang yang saat ini lagi-lagi berdosa kepadanya.


Detik berikutnya Alan menemukan Ava dan Aras yang sedang bermain pancing-pancingan bersama sambil menampakkan senyum mereka yang terlihat tidak bahagia sama sekali.


Itu bagi Alan.


Alan membuntuti kedua orang itu, tentunya dari jarak jauh dan sembunyi-sembunyi, kalau tidak begitu Alan akan ketahuan.


Saat Ava dan Aras makan di kedai sosis dan bakso, Alan berpura pura melihat-lihat pemandangan pasar malam, sambil membawa permen kapas yang sempat ia beli tadi.


...



...


Seluruh mata pengunjung dari awal Alan masuk sampai sekarang mengarah pada dirinya, tapi Alan tidak menggubris itu semua.


"Iish imut, yaa, dandanannya, makan gulali pula."


"Kok, manisan orangnya, yah? Daripada gulali, nya?"


"Duh, pakaiannya kayak mau pos ronda, yah? Sambil bawa permen gulali."


"Iya, kesannya kayak orang kampung! Tapi kok manis banget orangnya?"


Itulah ocehan-ocehan yang sama sekali tidak Alan dengar, karena ia hanya fokus dengan Aras juga Ava saat ini.


Sampai ada bapak-bapak penjual aksesoris yang memanggil dirinya baru lah Alan tersadar. "Mas, yang bawa gulali!"


Alan yang merasa terpanggil pun menoleh dan menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"


Bapak penjual aksesoris itu mengangguk. "Ke sini pakai sarung mau ngeronda memangnya?"


Alan langsung menatap apa yang ia pakai, celana selutut, T-shirt biru muda, sandal jepit di tambah dengan sarung warna coklat.


"Astaga, gue lupa lagi! Makanya pada liatin, gue!" gumam Alan menepuk jidatnya pelan merutuki kebodohannya.


Saat ini wajah Alan sangat menggemaskan, tersenyum sambil memperlihatkan kedua lesung, di tambah cowokbitu juga memperlihatkan wajah polosnya.


Bapak-bapak itu langsung merangkul Alan. "Kalau udah ketemu, nanti tonjokin aja selingkuhannya! Jangan biarin pacarmu itu di ambil!"


Alan hanya tersenyum, lalu melepas rangkulan bapak penjual aksesoris itu. "Pak, sebagai tanda terima kasih, saya mau deh beli gelangnya dua," ucap Alan menunjuk dua gelang tali berkepang dengan gantungan huruf, 'A'.


...



...


Bapak-bapak itu mengambil gelang yang di maksud Alan. "Nih, buat kamu sepuluh ribu, saja!"


Alan mengeluarkan selembar uang berwarna biru. "Ambil aja, Pak, kembaliannya. Itung-itung sedekah karena udah nasehatin saya tadi," tutur Alan sambil tersenyum kaku.


Bapak penjual aksesoris itu tersenyum, lalu mengambil uang yang Alan sodorkan. "Terima kasih kalau gitu, yaa."


Alan melihat Ava sudah ingin pergi dari kedai itu, tapi Ava sendirian.


Kemana Aras pergi?


"Pak, makasih, yaa, pacar saya udah mau keluar, jadi saya susul dulu!" pamit Alan dengan cepat, ia sangat panik sekarang.


Aah Alan lupa kalau diribya masih membawa gulali, Alan dengan segera memberikan gulali yang masih belum tersentuh itu kepada bapak penjual aksesoris. "Nih, juga buat, Bapak. Belom kesentuh itu, Pak. Saya pergi dulu!"


Alan secepat mungkin berlari keluar pasar malam, jangan sampai Ava melihatnya keluar.


"Dasar, anak jaman sekarang." guman Bapak penjual aksesoris itu.


Untung saja Alan berhasil keluar duluan, dan letak parkiran motornya agak jauh dari pintu masuk pasar malam, jadi Alan tidak akan ketahuan.


Alan memakai helm dan segera menyusul Ava yang baru saja keluar dari dalam pasar malam. "Kasian lo, Ava. Lagi kencan, di tinggal sama pasangan dan berakhir pulang sendirian." gumam Alan dalam hati.


Flashback Off


Alan tersenyum mengingat kejadian tadi. Entah kenapa Alan mau melakukan itu semua hanya untuk membuntuti Aras juga Ava, bahkan juga mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang. Sangat tidak berguna.


...


__ADS_1


...


...(Alan)...


Yaah, walaupun Alan gagal mengutarakan perasaannya pada Ava, tapi Alan senang karena malam ini ia bisa berduaan dengan Ava walau hanya mengantarkan cewek itu pulang.


Tak apa, kalau Alan mengutarakan perasaannya sekarang itu bukan waktu yang tepat, dan malah membuat Ava tambah bad mood. Alan bisa melakukannya lain kali, ia masih mempunyai banyak waktu, dan tidak hanya stuck sampai di sini saja.


Alan memegang perutnya, karena ia habis di peluk Ava tadi. "Nggak jadi nyerah deh, lanjut aja." Cowok itu tersenyum manis, bahkan sangat manis lalu menambah kecepatan motornya, ia pasti akan mimpi indah malam ini.


***


Ava merebahkan dirinya di ruang tamu, Ana juga Agnes masih menonton film karena bisa Ava dengar kedua orang itu menjerit di dalam kamar Ava.


Ava naik ke lantai dua dan pergi ke kamarnya, melihat kedua sahabatnya apakah mereka berdua memberantakan kamar Ava atau tidak.


Ceklek


Tidak


Kamar Ava tidak berantakan, hanya saja banyak bungkus camilan di mana-mana, kedua temannya menatap Ava melongo.


"Gimana? Gimana kencannya?" tanya Ana antusias.


Ava mengatur raut wajah juga pernafasannya, lalu duduk di pinggir bad kasur. "Seru banget! Dan, super romantis," bohong Ava. Ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya.


"Wah, jadi iri nih gue pengen di gituin juga," gumam Ana lebay.


"Tapi, tadi Alan kesini nanyain lo, terus gue bilang lo ke pasar malam, sama kak Aras ..." jelas Agnes yang membuat Ava terkejut bukan main.


"Alan, kesini?" tanya Ava memastikan.


"Iya, dia goyang-goyangin gerbang, lo ketemu dia?" tanya Agnes sambil memasu kan kacang asing ke mulutnya.


"Ooh, jadi yang tadi berisik di luar itu, Alan? Gue kira maling?" kata Ana. Agnes mengangguk pelan.


"Tapi tadi katanya dia mau pos ronda? Mau beli camilan tapi liat gue? Jadi Alan ngikutin gue dong? Dan, dia liat semuanya?"  batin Ava bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan dalam hati.


Agnes menendang paha Ava, karena cewek itu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya. "Ava, jadi lo ketemu dia nggak?"


"Aah, enggak tuh. Gue nggak liat atau ketemu sama, Alan," jawab Ava dengan cepat.


Ava tidak mau kalau mereka berdua tahu kalau Aras meninggalkannya sendirian dan ia justru pulang bersama Alan.


"Lo, di antar pulang kak Aras, 'kan? Gue nggak dengar mobilnya keasyikan nonton soalnya," tanya Ana lalu memasukkan segenggam pop-corn ke dalam mulutnya.


...



...


...(Ana)...


"Aah, iya ..."


"Ava, itu syal lo di kasih kak Aras, 'kan?" Agnes baru tersadar dan langsung menunjuk leher Ava.


"Hah! Ah iya, tadi pas mau berangkat di kasih," Ava melepas syal yang membalut lehernya, lalu memberikannya pada Agnes, Ana ikut mendekat.


Ava bangkit lalu membuka jas nya. "Gue, ke kamar mandi dulu."


Ava munutup kamar mandi dan menguci pintu, membasuh wajahnya dengan air mengalir, dan menatap bayangan dirinya di cermin.


"Wah lembut banget, pasti mahal ini syalnya, trus di rancang di desainer ternama,"


"Iya, mahal lah, 'kan, nggak mungkin kalau kak Aras ngasih yang murah,"


"Beruntung banget, yaa, jadi, Ava,"


"Iya, nanti kalau Ava udah jadian mah di kasih barang mahal semua sama, kak Aras,"


"Bener banget, belum jadi pacarnya aja udah di kasih barang mahal gini?"


Itu lah ocehan sahabat-sahabatnya yang Ava dengar dari dalam kamar mandi. Gadis itu membasuh wajahnya lagi, menahan tangannya di pinggir wastafel, menatap wajahnya lekat-lekat.


"Iya, beruntung banget, gue." jawab Ava sangat pelan, dan hanya dapat di dengar olehnya saja.


...***...


...Ditulis tanggal 12 Mei 2020...


...Dipublish tanggal 19 Februari 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2