
...Seumpama kalian diam-diam memendam rasa suka sama cowok entah itu teman sekolah atau siapa, dan udah bertahun-tahun rasa itu nggak hilang-hilang apa yang akan kalian lakukan? Dengan catatan, kalian udah nggak satu sekolah sama dia, dan segala apapun nggak komunikasi. Kalian lebih nemilih move on atau tetap lanjut suka sama tu orang dan tetap percaya suatu saat tu cowok bakal balik suka sama kita?...
...***...
...
...
Agnes menatap Ava sendu, ditambah gadis itu memberikan puppy ayes dan desakan dari Ana.
"Yaudah, okay. Tapi, lo harus segera nyelesaiin itu," peringat Ava menekankan setiap kata.
"Iya, gue janji bakal nyelesaiin semuanya. Udah, sana lo buruan pergi, kasihan kak Aras udah nunggu lama."
Ava mengangguk pelan. "Ya udah, gue pergi dulu, kalian jaga diri. Ana, hibur Agnes supaya nggak ngamuk terus."
"Iya, pasti kok. Lo tenang aja," jawab Ana.
Walau awalnya sedikit ragu, tapi ia percaya pada kedua sahabatnya. Ia juga tidak boleh terlihat murung di depan Aras nanti.
"Kenapa?" tanya Aras saat Ava sudah masuk ke dalam mobil diiringi helaan nafas.
Ava menggeleng setelah memasang seatbelt. "Nggak papa kok, ayo jalan."
Aras mengangguk saja, menjalankan mobilnya ke tempat tujuan.
***
Sesuai janji Aras, cowok itu tak berkomentar apa pun atas apa yang Ava lakukan. Yang dulunya sering dan suka menjaga image, sekarang ia lebih mengutamakan hal apa yang ia rasa nyaman saja, contohnya seperti bersama dengan gadis bernama Ava.
"Mau ke mana lagi?" tanya Aras saat keduanya turun dari wahana Komedi Putar.
Ava menunjuk wahana Bianglala. "Ke sana aja, yuk!" Sebelum Aras menjawab, Ava bahkan sudah menarik tangan cowok itu dengan semangat.
Aras dan Ava masuk, saat itu lah bianglala tersebut berputar perlahan sampai nanti kembali ke bawah lagi.
Dilihatnya Ava yang tengah memandang sumringah area pasar malam yang bergelap cahaya lampu warna-warni dari atas.
Aras mengetuk jarinya di atas paha, menarik nafas panjang, dan dengan keberanian yang sudah terkumpul ia memanggil gadis di depannya. "Ava."
Gadis itu menoleh. "Iya? Ada apa?"
Aras diam sebentar untuk lebih menguatkan dan memantapkan hati serta niatnya juga. "Nggak ada apa-apa. Nggak jadi."
"Oh, kirain apaan." Kembali menatap area pasar malam.
Aras melirik kanan dan kiri kemudian menatap lurus ke depan.
Bego banget lo, Ras. Kenapa lo jadi kaku dan kagok gini?
"Kak, ayo turun. Wahananya udah berhenti."
Menghembuskan nafas kasar.
Tapi, kalau nggak sekarang kapan lagi? Ah, mungkin lain kali aja, masih banyak waktu yang tersisa.
Merasa tak didengarkan, Ava memanggil lebih keras agar Aras tersadar. "Kak, Aras!"
Cowok itu langsung menoleh. "Hah, iya?"
"Ayo turun."
"Ah, iya." Mengikuti Ava yang sudah berjalan lebih dulu.
***
Semua wahana sudah dijajaki oleh keduanya, makanan dan minuman yang dijual pun sebagian sudah mereka coba. Tentu, yang bayar Aras, dia, 'kan, anak holkay.
Sambil memakan permen kapas yang ia pegang, Ava menoleh ke arah Aras, cowok itu sedari tadi terlihat gugup, khawatir, dan melamun. Tidak tahu apa yang dipikirkan.
Aras tetap berjalan santai dengan kedua tangan di tenggelamkan ke dalam saku tanpa sadar kalau Ava berhenti di belakangnya dengan tatapan bingung.
"Kak Aras!" Barulah setelah Ava memanggil cowok itu, Aras langsung menoleh dan menyusul gadisnya yang jauh tertinggal di belakang.
"Kak Aras kenapa? Kok dari tadi ngelamun mulu? Kak Aras sakit yah? Pulang aja kalau gitu."
"Jangan, gue ngga sakit kok. Kita lanjutin aja main-main di sini."
__ADS_1
"Mau main gimana kalau Kak Aras aja ngelamun mulu? Ada apa, sih? Cerita dong sama adek kelasmu yang kiyawah ini."
(Kiyawah \= Imut atau Lucu)
Aras menggaruk tengkuknya yang tidak gatal diiringi kekehan. "Eeeeee ... anu. I-itu. Gimana, ya?"
Sebelum Aras menjawab pertanyan Ava, gadis itu lebih dulu berlari ke arah sesosok laki laki dan perempuan di samping wahana Ombak Banyu.
"Ava, mau ke mana?" Ikut berlari ke arah tujuan Ava.
***
"Kalian di sini juga?" tanya Ava saat melihat dua temannya yang jalan berdua sambil meminum hot chocolate cup.
"Lo, sama Kak aras juga?" tanya balik Safira saat Aras sudah berdiri di samping Ava.
"Iya." Ava menyipitkan kedua mata ke arah dua orang di hadapannya. "Katanya nggak saling suka, tapi kok jalan berdua sih? Udah jadian, ya?"
Safira menatap Revan di sampingnya, kemudian menjaga jarak lebih jauh. "Enggak! Dia yang maksa gue buat ke sini tadi."
"Dih! Lo , 'kan, juga mau gue ajak ke sini karena di rumah lo lagi nggak ada orang, dan lo juga pengen ke sini sama Ava tapi nggak jadi karena Ava lagi sedih."
Safira yang ditodong berbagai macam penjelasan dari Revan sontak salah tingkah dan gelagapan. "Ya ... ya tapikan lo yang maksa. Yang penting maksa."
"Kan, lo juga yang mau. Kok jadi salah gue, dah? Gue yang bayarin, lo juga yang nyalahin!"
"Peritungan banget lo jadi orang? Iya, nanti gue ganti! Puhas?!"
Ava dan Aras sama-sama menghembuskan nafas kasar.
"Baru tahu gue kalau ngomong aja bisa typo?"
"Terserah gue lah! Mulut juga mulut gue! Kenapa jadi lo yang repot?!"
"Stop!" teriakan Ava berhasil membuat Revan dan Safira diam tak bekutik, para pengunjung lain pun sampai pada menoleh. "Nggak usah berantem di tempat umum dong. Gue tahu kalian itu saling suka, tapi pada gede gengsi sih. Mendingan kita naik itu aja gimana?" Menunjuk wahana Ombak Banyu yang berada tepat di samping ke empat orang itu.
***
Ke empat orang tersebut akhirnya menaiki wahana yang ditunjuk Ava, karena Revan dan Safira berantem, jadi keduanya tidak mau berdekatan. Gara-gara Revan dan Safira juga, Aras tidak bisa bermesraan dengan Ava, di saat semua temannya pada berteriak kegirangan, Aras justru hanya diam menerima nasib.
"Aaaaaaaaaa!"
"Woaaaaaaaaaaa!"
"Lebih kencang, Pak!"
***
Safira melambai ke arah Ava yang baru saja masuk ke dalam mobil Aras.
Setelah double date mengelilingi dan mencoba kuliner khas pasar malam, Ava meminta pulang, sedangkan Revan dan Safira sendiri masih ingin main-main di pasar malam sampai nanti tutup katanya.
"Bye!" Ava balas dengan lambaikan juga diiringi senyum menawan.
"Duluan, ya," pamit Aras sebelum menjalankan mobilnya.
"Mau apa lagi kita?" tanya Revan tepat setelah mobil Aras pergi.
Safira menghembuskan nafas setelah berpikir cukup lama. "Yang tadi pagi gimana?"
Dahi Revan mengernyit. "Tadi pagi apa, sih? Nggak paham gue?"
"Yang .... ma-masa depan, lo itu? Sakit nggak?"
Revan yang mulai paham alur pembahasan Safira sontak menutup tepat di adiknya dengan kedua tangan. "Lo, mau mesum, ya?"
Safira membelalak. "Idih! Enggak woi! Gue cuma tanya untuk mewakili teman yang lainnya juga!"
Revan mendesis. "Halah, bilang aja mau gituan. Lebih baik jangan, karena kita masih di bawah umur," Cowok itu menjeda kalimatnya, "... tapi, kalau lo maksa, ke rumah lo aja yang nggak ada orang."
Safira semakin dibuat kesal dan geram atas pernyataan Revan yang sedikit agak tidak senonoh. "Lo kira gue cewek apaan?" Pergi dari sana, keluar dari gerbang pasar malam dan meninggalkan Revan.
Cowok itu mengejar Safira dan menarik tangan gadis brutal tersebut, menahannya untuk pergi. "Jangan marah, Fir. Gue tadi cuma bercanda."
Safira menepis kasar tangan Revan. "Tapi bercanda lo itu terkesan merendahkan gue!"
Revan mengangguk pelan. "Ya udah, gue nggak akan kayak gitu ladi deh, tapi masuk lagi yuk. Kita main lagi, tapi kalau lo ingin pulang gue antar karena gue yang bawa lo ke sini."
Cukup lama Safira bungkam dan terdiam dengan pikirannya, tapi akhirnya gadis itu mau menerima permohonan Revan. "Ya udah."
__ADS_1
Kedua remaja itu sudah seperti orang pacaran saja.
***
Ava melepas seatbelt. "Kak, makasih untuk malam ini. Gue senang banget bisa jalan sama lo."
Setelah mendapat anggukan dari Aras, Ava turun dari mobil menuju rumahnya.
Aras diam sejenak, tidak langsung menjalankan mobilnya. Tapi, beberapa detik kemudian, cowok itu ikut turun. "Ava!"
Yang dipanggil menoleh. "Iya?"
"Gue tahu lo belum sembuh, gue tahu lo masih sakit, gue tahu lo masih trauma, gue tahu lo masih sangat sayang, dan belum bisa ngelupain Alan."
Di saat yang bersamaan setelah Aras mengatakan hal itu, ada rasa yang berdesir hebat di tubuh gadis itu, Ava tertegun dan sama sekali tidak berkutik, senyum yang tadi mengembang kini hilang.
"Tapi, tolong ijinin gue, karena ijin lo adalah kunci supaya gue bisa memasuki setiap ruangan sampai gue bisa menemukan, mengambil, dan memperbaiki hati lo yang hancur jatuh ke jurang tanpa tahu dasarnya."
"Gue nggak bermaksud untuk menggantikan Alan di ruangan khusus itu, gue cuma ingin mencoba membahagiakan lo seperti yang pernah Alan lakuin. Gue ingin melihat lo selalu tersenyum, khususnya untuk Gue. Nggak mungkin juga kalau nggak ada satu orang pun yang ngambil atau memperbaiki hati lo."
Ava mengulum bibir kemudian menghembuskan nafas. "Kak Aras nggak boleh dan ngga bisa masuk."
"Kenapa? Kenapa gue nggak bisa masuk? Apa alasannya?"
***
Sudah sekitar satu jam yang lalu seorang gadis remaja tak kunjung menutup matanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 23:00 malam.
Gadis itu memiringkan tubuhnya dengan setengah tubuh yang ditutupi selimut, kejadian tadi di depan rumahnya masih sangat terngiang-ngiang jelas di otak dan pikiran gadis itu.
Flashback On
"Kenapa? Kenapa gue nggak bisa masuk? Apa alasannya?" Aras maju mendekati gadis itu sampai berjarak sekitar satu meter. "Kenapa lo diam? Apa karena gue nggak seperti Alan yang cuek? Atau karena Alan yang tahu semua tentang lo dari awal, sedangkan gue enggak?"
"Bukan gitu, Kak."
"Terus gimana? Jawab pertanyaan, gue!"
Perlahan tapi pasti, gadis di hadapan Aras sudah banyak sekali mengalirkan cariran kristal bening dari dalam kelopak matanya. "Karena gue sakit, gue juga nggak mau lo sakit! Gue takut kalau ngejadiin lo tempat pelampiasan, gue takut kalau gue nggak bisa ngelupain Alan, dan gue takut kalau kalau hidup lo bakalan kena masalah kerena lo dekat dengan gue."
"Tapi, lo masih bisakan menyukai gue sama seperti saat pertama kali kita ketemu di depan kelas, lo? Gue juga akan bantu lo untuk menghapus semua luka dan menyembuhkannya. Gue hanya butuh izin dari lo."
Ava menyeka air matanya kemudian dengan sangat berani menatap kedua manik mata Aras yang terlihat sendu. "Apa yang bikin lo sampai segininya? Apa istimewanya gue sampai lo tega memohon di depan, gue? Lo bisa cari cewek yang sesuai apa yang lo mau."
"Gue nggak butuh alasan 'karena dan kenapa'. Bukankah cinta itu datangnya tiba-tiba, bisa di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun, benar?" Maju satu langkah mendekati Ava. "Anggap aja gue itu lo dan lo itu Alan. Seberapa besar cinta lo ke Alan, itu sama besarnya cinta gue ke lo. Apa yang lo rasain sekarang, gue juga merasakan hal yang sama."
"Gue capek, mau istirahat. Kak Aras pulang aja." Berbalik kemudian berjalan menjauhi Aras.
Aras pun juga sama, cowok itu berbalik dan berjalan ke arah mobilnya. Ia harus memberi Ava ruang dan waktu lebih banyak, keduanya sama-sama berjalan berlawanan arah.
Sebelum Aras benar-benar menjalankan mobil dan Ava benar-benar masuk ke pekarangan rumahnya, cowok itu berkata, "Gue nggak maksa lo buat buka hati lo sekarang, karena gue bakal tunggu lo sampai lo mau dan siap untuk itu. Gue juga nggak bakal ganggu lo sampai lo sendiri yang datang ke gue."
Gadis itu sontak berhenti melangkah, kakinya terasa kaku dan lidahnya kelu untuk sekedar mengucapkan satu kata saja.
"Gue akan lebih sakit hati kalau gue belum mencoba, karena gue nggak akan pernah tahu rasanya seperti apa dan berakhir bagaimana."
Saat Ava berbalik, Aras malah sudah menjalankan mobilnya.
Flashback Off
Gadis itu mengganti posisinya menghadap langit-langit kamar.
"Di sisi lain gue ingin mencoba dan melupakan, tapi sisi lain juga gue masih sangat sayang sama Alan."
"Apa yang harus gue pilih? Gue mundur dan memberi kesempatan sama kak Aras? Atau, gue maju untuk mendapatkan cinta gue lagi?"
...***...
...Kalau kalian jadi Ava, apa yang bakal kalian pilih dan lakuin?...
...Kalian pasti akan memilih mundur dan memberi kesempatan sama Aras untuk mencoba lembaran baru. Tapi, kenyataannya juga tidak semudah itu untuk melupakan Alan. Sosok cowok yang selalu ada di hati dan pikiran Ava selain kedua orang tuanya....
...Bisa dibilang kalau memilih maju, Ava itu orangnya bodoh. Tapi, kalau memilih mundur, ia juga takut menyakiti hati orang lain. Terlihat egois, tapi sebenarnya tidak....
...***...
...Ditulis tanggal 10 Desember 2020...
...Dipublish tanggal 21 Mei 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....