
...
...
19:45
Malam pun tiba. Ava kini tengah memakan kacang asin di kamarnya. Lebih tepatnya duduk di sofa depan meja dengan semua camilan, minuman, dan makanan yang diberikan Alan. Tentu saja sendirian, Ava tidak akan membagi apa pun untuk kedua sahabatnya.
...
...
...(Ava)...
Besok, gadis itu sudah tidak sabar untuk sekolah, karena rencananya ia akan mengutarakan semua perasaan yang sesungguhnya dan mengeluarkan semua isi hatinya pada Aras. Ia sangat siap untuk itu.
Ting
Hp nya berbunyi. Ternyata ada pesan dari Aras. Kebetulan sekali, bukan?
Aras
Ava, besok lo berangkat nggak? Kalau berangkat, gue udah siapin sesuatu buat lo. Ini emang kelihatan berlebihan, tapi bagi gue enggak karena ini juga sebagai permintaan maaf gue ke lo malam itu,
^^^Ava^^^
^^^Iya, gue udah masuk besok. Dan, kebetulan juga besok gue mau ngomong sama lo. Sebelumnya maaf kalau gue udah cuekin lo,^^^
Aras
Iya, Ava. Lagian, itu juga salah gue, jadi itu wajar-wajar aja kalau lo marah sama gue,
^^^Ava^^^
^^^Yaudah. See you besok, Kak,^^^
Aras
Iya, tidur yang nyenyak, ya.
'Read'
Ava tersenyum. Melanjutkan acara memakan kacang asinnya. Jujur, Ava sangat tidak sabar untuk besok.
***
09:15
Hari yang ditunggu Ava pun tiba. Setelah meninggalkan sekolah selama satu hari, rasanya terasa lama sekali. Ia bahkan sangat merindukan sekolahnya. Lebih tepatnya kepada sahabat dan teman-temannya.
Ava yang di antar Safira pergi ke kelas X Ips 3 untuk mengembalikan topi sekolah Alan. Karena saat itu Ava belum sempat mengembalikan topi tersebut pada sang pemilik.
Gadis itu mengintip dari jendela. Mencoba melihat apakah orang yang ia cari ada di dalam. Karena ini jam istirahat, takutnya Alan sudah pergi bersama teman-teman lainnya ke kantin.
Hanya ada beberapa anak di kelas X Ips 3 termasuk Alan sendiri. Cowok itu keluar setelah memasuk kan buku-bukunya ke dalam laci.
Ava menghadang Alan di depan pintu. "Mau kemana?"
...
...
...(Alan)...
Tak ada respon dari cowok di depan nya selain memasang wajah datar dengan kedua tangan yang selalu di tenggelamkan ke dalam saku.
Alan pikir, setelah kejadian kemarin dirinya dan Ava akan sangat canggung karena ia dengan berani mengutarakan perasaannya pada sang gadis. Tapi setelah melihat respon Ava saat ini, sepertinya apa yang Alan pikir dan takutkan tidak terjadi. Syukurlah kalau begitu.
"Ke kantin," jawab Alan singkat.
"Ini ..." Menyodorkan topi sekolah pada cowok di depannya. "... makasih karena lo udah perhatian banget sama, gue,"
Alan mengangguk pelan. Menerima sodoran topi dari gadis di depannya ini. Dalam hati ia tersenyum bahagia.
"Ada banyak nyamuk, ya?" celetuk Safira menyindir. Sedari tadi menepuk kedua tangan seolah memang ada nyamuk yang mengelilinginya.
...
__ADS_1
...
...(Safira)...
Ava memutar bola matanya malas. "Apaan sih? Orang nggak ada juga!"
Tiba-tiba saja seluruh siswa dan siswi mulai berhamburan keluar kelas. Yang sepertinya mereka menuju lapangan basket utama. Ava, Safira, dan Alan saling tatap. Mereka bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Selang beberapa detik kemudian, ada cowok yang tidak mereka kenal datang menghampiri Ava dengan nafas tersenggal sehabis berlari.
"Lo Ava, 'kan?" tanya cowok itu masih mengatur deru nafas.
Ava mengangguk pelan. "Iya, kenapa?
"Aras nunggu lo di lapangan basket,"
Gadis itu tersenyum lebar. "Ini pasti kejutan yang di maksud kak Aras tadi malam."
Ava menatap Safira dan Alan secara bergantian.
Pastinya ada rasa kecewa di hati Alan saat mendengar hal itu. Bisa ia tebak kegaduhan tadi disebabkan oleh Aras, sang kakak kelas. Ia tidak tahu apa yang akan Aras lakukan tehadap Ava sampai seperti ini. Tapi, ia juga yakin ini adalah hal besar yang akan terjadi pada keduanya.
Ava menarik tangan Alan. Tapi, cowok itu tetap tidak bergeming dari tempatnya. "Mau ngapain?"
Ava menatap cowok di depannya tajam. "Lo, iku gue untuk jadi saksi." Setelah mengatakan itu, Ava langsung menarik tangan sang cowok dengan sekuat tenaga.
Sedangkan Safira dan cowok yang di utus untuk menyampaikan pesan Aras terhadap Ava mengekor dari belakang.
***
...
...
Ava berhenti di depan pintu lapangan basket utama saat melihat ratusan bahkan ribuan pasang mata menatapnya penuh arti. Di sana juga ada teman dan sahabatnya yang juga berada di samping lapangan basket ikut menyaksikan. Ana dan Agnes tersenyum penuh arti. Seolah mereka mendukung dan senang akan yang terjadi saat ini.
Raut wajah gadis itu tampak murung dan tatapannya sendu. Bukankah harusnya gadis itu tersenyum senang saat apa yang ia impikan selama ini menjadi kenyataan.
Ava menatap lurus ke dalam lapangan basket. Di sana sudah ada Aras, sang cowok impian yang saat ini berdiri di tengah lapangan. Menyembunyikan sebuket bunga di balik punggungnya. Di belakang cowok itu juga ada para sahabat serta beberapa teman sepergengannya.
...
...
Ava menatap Alan yang tetap tenang dan bersikap biasa saja. Walaupun ini menyakitkan, tapi Ava harus melakukannya. Kali ini ia akan sangat tega.
Gadis itu menarik tangan Alan untuk tetap berada di sampingnya. Sampai Ava berdiri di hadapan Aras pun Alan tetap setia di samping sang gadis. Sangat terlihat jelas dari tatapan Aras yang memperlihatkan ketidak sukaannya terhadap cowok yang berdiri tepat di samping Ava.
Semua siswa kebingungan dan saling bertanya-tanya. Kenapa Ava membawa serta Alan ke dalam lapangan basket? Ada apa dengan mereka berdua?
Safira menyusul Agnes, Ana, Syarifa, Revan, Dino, Justin, Bagus, dan teman-teman lainnya.
...
...
...(Agnes)...
...
...
...(Ana)...
...
...
...(Revan)...
...
...
__ADS_1
...(Dino)...
...
...
...(Justin)...
...
...
...(Bagus)...
"Ava ngapain bawa Alan juga? Kak Aras bisa marah nanti. Gimana kalau nanti Ava yang bakal kena getahnya?" sambar Ana pada Safira saat gadis itu baru datang.
"Tadi, gue sempat dengar obrolan mereka pas di koridor kelas. Ava mau jadiin Alan saksi katanya."
Jantung Agnes sontak berpacu lebih cepat dari biasanya saat mendengar penjelasan Safira. "Bisa mati nih Alan kalau gini caranya!"
Raut wajah khawatir dari teman serta sahabat Ava terpasang dan terlihat sangat jelas.
Aras melangkahkan kakinya mendekati sang gadis pujaan hati. Sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Alan di samping sang gadis dan menganggap seolah cowo tersebut tidak ada di sana. Aras berlutut tepat di depan Ava seraya menyodorkan sebuket bunga mawar dan coklat berukuran besar berbentuk love.
...
...
...
...
Jeritan demi jerita kini terdengar dan menggema diseluruh sekolah. Melihat adegan sang ketua Molyvdos pertama kali melakukan hal seromantis itu kepada seporang wanita di depan umum dan di depan seluruh siswa dan siswi SMAN Tri Bakti. Itu sungguh hal yang langka dan hal yang sangat tidak biasa terjadi.
"Ava, di sini gue mau ngungkapin perasaan gue ke lo. Pertama kali gue lihat lo di sekolah dan nama lo juga udah dikenal di sekolah ini, gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama lo. Mungkin, lo yang nggak sadar atau mungkin nggak tahu,"
Semua siswa dan siswi yang ada di sana tak berkutik sama sekali saat mendengar pernyataan Aras. Entah karena sakit hati atau terkejut, Ava pun juga hanyut dalam perkataan cowok di depannya.
"Dari sekian banyaknya cewek yang pernah dekat atau pacaran sama gue. Jujur, lo itu cewek yang paling istimewa bagi gue. Kepribadian lo yang pengertian, ramah, halus, tidak suka banyak bicara, dan suka tertawa, itu udah jadi candu bagi gue. Bahkan, lo sangat jauh lebih baik dari Dinda dari segi apa pun dan manapun,"
Sedangkan yang namanya di sebut Aras tadi, yaitu Dinda bersama dengan kedua sahabatnya Denise dan Ambro di sudut lapangan basket, kini langsung jadi bahan sorotan siswa dan siswi yang mendengar serta menyaksikan kejadian itu.
"Kurang ajar lo, Ras. Lo dengan berani ngehina hina gue di depan anak-anak demi cewek baru itu setelah gue kasih tahu informasi yang nggak lo ketahui? Dasar nggak tahu terima kasih!" murka Dinda tidak terima. Sekarang gadis itu merasa kalau dirinya sebagai most wanted girl kini di gantikan karena keberadaan Ava, "... gue, nggak akan tinggal diam."
"Terkadang, gue sering ingin marah sama lo, karena lo terlihat lebih dekat dengan bocah ingusan yang berdiri tanpa dosa di samping lo. Tapi, sedikit pun ternyata gue nggak bisa marah sama lo,"
Ava menatap Alan yang masih tetap tenang berdiri di sampingnya. Cowok itu lebih memilih menatap ke arah lain daripada menyaksikan kejadian tersebut. Telinganya pun juga di buat seolah-olah tuli agar tidak mendengar apa yang Aras katakan dan jawaban yang Ava berikan nanti.
"Gue ngerasa, lo itu di takdirkan cuma untuk gue. Bukan untuk orang lain. Gue sangat ngerasa nyaman dan suka sama lo. Jadi, gue cuma mau bilang ..." Aras tersenyum menjeda kalimatnya, kemudian berkata, " ... lo mau nggak jadi pacar gue? Kalau lo mau, lo boleh ambil coklat dan bunga ini. Tapi, kalau lo nolak, sebagai tanda lo boleh buang atau berbalik arah."
Saat Aras mengatakan itu semua para siswa dan siswi yang menyaksikan kejadian itu, baik yang ada di sana sendiri atau pun yang menyaksikan di gedung kelas yang mengelilingi lapangan basket menjerit tanpa henti. Khususnya para kaum hawa yang saat ini tengah merintih kesakitan di bagian dada yang paling dalam.
Ava tersenyum setelah mendengar semua pengakuan panjang yang di katakan Aras
Sedangkan Alan? Saat ini cowok itu tengah menguatkan hati. Mencoba untuk tidak mengacaukan kebahagiaan dan impian Ava selama ini.
"Bahkan, lo terlihat sangat bahagia dan menikmati setiap kalimat pengakuan yang di ucapkan Aras untuk lo ..." Alan menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sangat sakit seolah ada pisau yang menusuk semakin dalam di bagian dada, "... lo juga ngajak gue kesini karena lo mau gue jadi saksi dalam kisah percintaan kalian berdua supaya gue nggak ngeganggu kalian. Ternyata, gue udah salah karena mengharapkan lo untuk jadi pacar gue." Melepas tautan tangan Ava dari tangannya.
Ava menatap ke arah teman-temannya. Terutama kepada Agnes yang saat ini tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Syarifa, Dino serta Revan yang saling merangkul untuk menguatkan satu sama lain. Justin juga Bagus yang menatap Ava penuh kekecewaan yang mendalam. Dan, yang terakhir menatap Safira serta Ana yang saat ini tengah tersenyum mencoba menguatkan dan mendukung apa yang akan Ava pilih nantinya.
Sebelum gadis itu menatap cowok di depannya, ia sempat menatap cowok lain yang berdiri tepat di sampingnya seraya berkata lirih, "Maaf ..." Gadis itu beralih menatap Aras yang sedari tadi sudah menyodorkan sebuket bunga serta coklat berukuran besar. "Kak Aras, gue ..."
...***...
...Penasaran yah apa jawaban, Ava?...
...Yuk tungguin kisah mereka selanjutnya!...
...***...
...Ditulis tanggal 1 Juni 2020...
...Dipublish tanggal 6 Maret 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1