Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 65 ~ Dia Kalah?


__ADS_3

...



...


Ava masih ada di kelasnya sambil menggigit kuku jari dengan raut wajah gelisah.


Ting


Ting


+62 8966 ×××× ××××


Cepatlah! Kau akan kehabisan waktu. Jika kau gagal, kau tak akan pernah lagi mendapat kesempatan menemukanku dan kau juga tak akan pernah menemukanku.


Gadis itu mendesak otaknya untuk berpikir lebih cepat dari biasanya. Ava mengulang kalimat petunjuk itu berkali-kali dan mencoba mengerti akan apa yang dimaksud.


Datanglah ke tempat semua para siswa berkumpul dan saling bersaut-sautan untuk menuju ke tempat atau bangunan selanjutnya.


Detik berikutnya Ava membulatkan mata sambil menjentikkan jarinya. Gadis itu sudah tahu jawabannya.


"Parkiran sekolah!" ucapnya frontal.


Maudi yang mendengar itu langsung menoleh. Ia heran apa yang dipikirkan Ava. "Dasar aneh." Memasukkan hp nya ke dalam tas setelah sang supir berhasil dihubungi lalu bergegas turun ke bawah.


Ava berlari menuruni anak tangga satu-persatu dengan cepat. "Dasar ogeb lo, Ava! Bisa-bisanya lo telat mikir! Teka-teki segampang itu aja nggak bisa?!" Di saat seperti ini pun gadis itu masih sempat mengumpat dan memukul kepalanya.


Tapi, Ava juga yakin sampai di sana pun ia tidak akan dengan mudah menemukan pelaku teror tersebut. Ava yang harus memecahkan dan menerka-nerka sendiri siapa pelakunya, tapi sialnya saat Ava melakukan itu ia selalu salah sasaran.


***


...



...


Saat sampai di parkiran sekolah Ava melebarkan pandangannya ke penjuru dan sudut parkiran. Entah kenapa, baru kali ini Ava merasa kalau parkiran sepi seperti ini rasanya sangat menyeramkan, tidak tahu juga kalau Ava hanya merasa takut saja akan sesuatu.


Terdengar samar-samar suara ada orang yang tengah berbicara di sudut kiri parkiran. Kaki gadis itu melangkah mengarah ke sana secara perlahan-lahan sambil terus menoleh kanan kiri mencoba melihat situasi.


Ava bersembunyi di balik pilar lalu menolehkan kepalanya perlahan-lahan ke arah sumber suara. Sedetik kemudian gadis itu membelalak mematung di tempat, tiba-tiba saja pasokan udaranya menipis sehingga membuat dada gadis itu terasa sesak. Ava menggigit bibirnya agar air mata yang ia tahan tidak mengalir membasahi pipi.


Rasanya seperti ditusuk belati berkali-kali tanpa henti saat melihat Alan menbonceng Natalie. Iya, Alan membonceng Natalie. Gadis itu bahkan memeluk Alan dengan sangat erat. Alan pun juga terlihat begitu bahagia karena buktinya cowok itu tersenyum sangat manis.


"Alan!" Ava berlari mengejar Alan saat cowok itu melajukan motornya dengan kecepatan penuh keluar dari parkiran.


Senyum smirk Natalie kini mengembang sempurna, ia semakin mengeratkan kedua tangannya di perut cowok di depannya. Sengaja ia tidak menoleh karena pasti nanti Ava akan sangat curiga kepadanya kalau ia sangat sengaja melakukan hal itu.


Gue udah bilangkan Ava, kalau lo pasti akan kalah dari gue. Loser.


Gadis itu berhenti mengejar Alan karena percuma saja ia tak akan bisa menyusul cowok itu. Ava berjongkok menelungkupkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya sambil sesegukan.


Ava tidak tahu jalan pikiran Alan saat ini. Sebenarnya apa sih mau Alan sampai tega menyakiti dirinya? Toh, jika Ava salah ia akan meminta maaf dan mengaku salah. Tidak perlu sampai seperti itu. Ava bahkan tidak tahu apa alasannya.


"Lo bakalan kalah."


Ava mendongak dan menatap orang yang tadi bicara. "Maksud, lo?" Masih menangis sesegukan.


Orang itu balas menatap Ava. "Iya, Natalie lebih cantik dari lo, Natalie lebih baik lembut dari lo, Natalie lebih body goals dari lo, dan Natalie lebih menyenangkan dari lo," ungkapnya.


Ava kesal bercampur tangis karena ia tidak terima dengan perkataan Maudi. Ia sudah marah, kesal, kecewa, ya, pokoknya campur aduk karena Alan, dan ini Maudi masih menambah beban kekesalannya. Ava tak akan memberi ampun gadis itu.


Ava berdiri di depan Maudi dengan sorot mata tajam menakutkan. "Maksud lo apa hah ngomong kayak gitu?!" Mencengkram kuat kerah seragam Maudi. Sudah tidak ada air mata yang mengalir dan hanya menyisakan sembab di sana.


Sedangkan Maudi? Gadis itu terlihat tenang dan biasa-biasa saja. Apa kalian sadar kalau akhir-akhir ini Maudi sedikit lebih kalem dari biasanya yang brutal?

__ADS_1


Tak ada rasa takut atau kekhawatiran di wajah gadis itu. Maudi justru menyeringai sinis. "Lo bakalan tahu akhirnya." Melepas kasar cengkraman tangan Ava dari kerah seragamnya. Merapikan seragamnya dan mengusap-usap pelan seperti ada bekas noda di sana, "Lihat aja nanti." Ada penekanan di setiap katanya.


Gadis itu berjalan ke arah mobilnya yang sudah sampai di depan sekolah. Tapi sesaat sebelum Maudi masuk ke dalam mobil gadis itu sempat tersenyum penuh arti dan teka-teki. Ava tidak terlalu yakin akan hal itu, yang ia simpulkan senyuman Maudi tadi sangat misterius dan menakutkan.


Ting


Ting


Ava membuka WhatsApp nya lagi dan membaca pesan itu.


+62 8966 ×××× ××××


Sudah melihatnya? Itu yang inginku tunjukkan padamu. Melihatmu kecewa dan menangis membuatku bahagia. Mari lain kali kita bermain lagi, karena akan lebih seru tentunya.


Sayangnya kau tadi tidak melihatku, padahal tadi aku ada di sana, sama-sama bersembunyi di balik pilar sepertimu.


Aku tidak terlihat olehmu tapi aku juga tidak bersembunyi darimu. Aku bersembunyi tapi tidak sepenuhnya bersembunyi. Berdekatan dan mengenalmu jauh lebih dalam adalah misi dan kemauanku.


"Aaaarrggggghhhh!!" Mengacak rambutnya frustasi.


Karena terlalu marah akan Alan, Natalie, dan perkataan Maudi tadi, tanpa sadar Ava membanting ponselnya di atas paving sehingga sebagian kacanya retak.


...



...


Tapi saat menyadari apa yang ia lakukan, gadis itu berdecak kesal lalu berjongkok untuk memungut benda pipih miliknya lagi.


Menatap ponselnya yang kacanya sebagian retak. "Hp mahal gue! Lo kok emosian dan ogeb banget sih, Ava? Nanti kalau bukti dan apa-apanya di dalam hp hilang gimana?" Ava berdiri dan mencoba tenang dengan mengatur nafasnya. "Tenang Ava! Lo nggak bakal kalah sama mereka-mereka. Tunjukin kalau lo itu bisa!" Gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Ava berjanji apa yang dikatakan Maudi tidak akan terjadi padanya.


Entah itu Ava sadar atau tidak, teka-teki yang ia dapat bukan mengarahkannya dirinya kepada si peneror tersebut, tapi justru memperlihatkan kejadian-kejadian tak terduga dari teman atau orang yang ia sayangi untuk menghancurkannya. Itu adalah sebuah alibi agar peneror tersebut tidak di ketahui identitasnya dan malah menuduh teman-temannya yang bahkan bisa berakhir menjauhkan serta menghancurkan pertemanan mereka semua.


Peneror itu juga sepertinya mengawasi dan memperhatikan gerak-gerik teman dan sahabatnya dari jarak yang cukup dekat jika dilihat bahwa clue yang di berikan berupa pesan atau benda-benda yang terlihat atau benda yang memiliki arti sama dengan benda milik teman atau sahabatnya. Ia sungguh sangat bodoh ketika harus menuduh teman dan sahabatnya yang bahkan selalu menjaga dan melindunginya.


Berdoa saja semoga dengan segera Ava bisa menemukan pelaku teror tersebut.


***


"Mau ke mana, Ava?" tanya Millica saat Ava beranjak pergi.


Gadis itu menoleh dengan wajah lesu. "Mau ke kamar, Bunda. Ava capek mau istirahat."


Millica mengangguk pelan. "Ya udah, tapi nanti jangan lupa gosok gigi."


Ava mengangguk mengiyakan dan langsung menaiki anak tangga satu-persatu lalu masuk ke kamarnya.


"Tumben? Biasanya nonton tv dulu." Itu suara Agnes yang memasukkan satu potongan daging sup ayam terakhir ke dalam mulutnya.


"Mungkin Ava lelah?" Ana berkata sangat lebay dan dramatis.


Millica berdiri sambil mengambil gelas dan piring kosong. "Udah, mendingan bantuin, Mama Mill, beresin dan nyuci piring."


Ana dan Agnes tentu langsung melaksanakan tugas karena mereka berdua tidak mau membantah Millica.


***


Setelah mengunci pintu kamar, Ava merebahkan tubuhnya di atas bad kasur sambil menatap langit-langit kamarnya.


...



...


Tadi, tepat saat gadis itu mandi tiba-tiba ada darah yang menetes mengenai lantai kamar mandi, gadis itu ternyata sudah waktunya haid untuk bulan ini.

__ADS_1


Ava mendudukkan dirinya lalu mengambil kunci lemari di dalam laci.


Gadis itu berjalan mendekati lemari kecil berwarna putih yang letaknya tepat di samping rak novel dan buku.


Perlahan-lahan gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Dan dengan hati dan niat Ava membuka lemari tersebut.


Ava menatap semua barang barang yang Alan berikan dan yang ia beli bersama Alan. Tak terkecuali dua minuman isotonic dan dua mie samyang yang masih utuh belum tersentuh. Ava masih ingat kalau itu pemberian Alan saat datang menjenguk Ava, pada akhirnya saat itu Alan mengutarakan niat dan perasaannya pada Ava.


Di dalam lemari khusus itu ada helm berwarna merah yang Alan beri, topi berwarna biru muda yang Alan pilihkan, hoodie navy, dan tiga hoodie lainnya, gantungan kunci lambang Konoha yang Ava beli bersama Alan, serta coklat berbentuk love yang Alan beri saat menembaknya beberapa saat yang lalu.


Kemana bunga yang Alan beri? Ingat, itu sudah dibuang di tempat sampah.


Gadis itu tersenyum kecut dengan mata berkaca-kaca. Ava beralih menatap hoodie warna navy yang ia letakkan di rak paling atas. Sedangkan hoodie lainnya ia letakkan di rak nomor tiga. Kenapa seperti itu? Alasannya cukup sederhana, karena itu adalah barang pertama yang di berikan Alan padanya sekaligus menolong Ava saat roknya ada bekas bercak darah haid.


Untung saja Ava belum terlalu jauh, dan belum ada yang menyadari itu. Alan melepas hoodie navy yang ia kenakan lalu mengikatnya di pingul Ava dari belakang dengan cepat.


Ava yang terkejut langsung menoleh kebelakang. "Lo, ke kamar mandi. Jangan banyak gerak nanti keluarnya banyak, tunggu di sana nanti gue ke sana," jelas Alan panjang lebar, lalu pergi meninggalkan Ava.


Ava mengambil hoodie navy itu kemudian menutup lemarinya lagi.


Gadis itu memakaikan hoodie over size tersebut ke boneka beruang besar yang selalu tidur di sampingnya untuk menemaninya. Memeluk boneka tersebut dengan erat sambil menangis dalam diam tanpa suara, karena Ava sudah tak bisa merasakan pelukan dari Alan jadi Ava gunakan boneka tersebut sebagai peraga Alan. Sangat miris.


Ava tersenyum dipaksakan. "It's okay, Ava."


"Lo jangan nangis kayak gini Ava, karena Alan nggak suka lihat lo nangis." Mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


"Lo tenang aja, Ava. Yakin kalau Alan akan balik ke yang dulu lagi."


"Apa yang lo duga dan takutin selama ini nggak akan pernah terjadi."


Ava menatap ponselnya di atas laci. "Kata Justin, Alan itu gamers, jadi mungkin saat ini dia sibuk ngegame dan nggak bisa diganggu, jadi Alan nggak ada waktu untuk ngasih kabar."


Ava sangat sadar dan tahu bahwa sudah beberapa hari ini ia sama sekali tidak mendapat kabar atau pesan dari Alan. Mulai saat pulang dari kedai pak Makrup. Ava melakukan ini juga untuk mengobati rasa sakit hati yang ia rasakan.


"Lo juga harus yakin, Ava, kalau Alan itu tadi cuma berniat nolong dan nganterin Natalie pulang. Mungkin tadi Alan juga nggak dengar karena dia pakai helm."


Gadis itu terisak pelan dalam pelukan boneka beruang tersebut. Gadis itu berharap tangisannya tidak akan terdengar oleh siapapun. Ava hanya ingin dirinya yang tahu bagaimana rasa sakit ini tanpa mau berbagi dengan orang lain, karena Ava pun juga sadar kalau dirinya sudah merepotkan orang banyak.


"Gue sangat rindu lo yang duduk di sisi gue, gue sangat rindu kebersamaan kita saat di pantai, gue sangat rindu saat lo mengkhawatirkan gue tentang insiden di taman yang sama sekali nggak diketahui oleh orang lain, gue rindu saat lo mengungkapkan perasaan lo di kamar ini, gue rindu pertemuan pertama kita saat di cafè, gue rindu dengan parkiran saat lo gendong gue, gue rindu mal yang di mana kita berjalan beriringan bersama-sama, gue rindu restaurant yang pernah kita junjungi sebelumnya, dan gue juga rindu aroma parfum lo yang sangat manis dan sangat gue sukai itu. Pokoknya, gue rindu semua tempat dan perhatian yang lo kasih ke gue, Alan."


Malam ini. Iya, malam ini Ava terus saja berdialog dengan dirinya sendiri hanya untuk mengenang, menyemangati, dan meyakinkan diri juga hatinya dari semua pikiran negatif yang saat ini memenuhi pikirannya.


...***...


...Tahu nggak kalau Aku tuh nangis kejer nulis part ini. Karena Aku kalau nulis, 'kan, suka dengerin lagu  pakai earphone, dan kalau nggak gitu rasanya kurang nikmat dan kurang dapat feelnya....


...Dari ratusan lagu yang udah keputer itu ada beberapa lagu yang menurut Aku sad banget....


...👇👇👇...


...1) Broken Angel - Arash (feat. Helena)...


...2) Stay With Me - Chanyeol EXO (Feat. Punch)...


...3) A Thousand Years - Christina Perri...


...4) Leo - **4 (Feat. Baekhyun EXO**)...


...5) Erase You - Catrien***...


...Tanggapan kalian buat chapter ini gimana? Komen di bawah....


...***...


...Ditulis tanggal 16 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 23 April 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2