Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 101 ~ Untukku Atau Untuknya?


__ADS_3

...



...


"Semangat! Ayo semangat!"


"Semangat, Ava!"


"Tampilin yang terbaik!"


Itulah sorak dari para sahabat serta teman yang selalu ada dan mendukung apapun yang Ava lakukan.


Ava naik ke atas panggung dibantu MC perempuan tersebut, berjalan menuju kursi diiringi kegugupan haqiqi saat semua mata para hadirin mengarah padanya, sedangkan MC perempuan itu kembali duduk di atas panggung bagian belakang.


Ava mengambil lalu memangku gitar yang tadi disandarkan di samping kursi yang saat ini ia duduki. Gadis itu nampak terlihat gugup, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.


***


Di bangunan kelas XI ada sekitar satu dan enam siswi lainnya yang sedari tadi sibuk membicarakan sang peran dan bintang utama. Ah, tidak! Lebih tepatnya mereka menghina Ava dengan hinaan dan celaan yang sama sekali tidak mereka ketahui.


"Itu beneran bisa nyanyi atau cuma lip sync doang?"


"Palingan suaranya juga jelek. Gaya banget sok-sokan nyanyi!"


"Maklumlah. Gadis itu, 'kan, pengen caper ke cowok-cowok!"


Satu gadis lainnya yang lama-lama geram menatap ke enam teman fake- nya tersebut. "Ssshhh. Kalian bisa diam nggak sih? Kita lihat aja nanti gimana suaranya. Malu dilihatin yang lain kalau kalian ngomong terus," semprot Maudi yang pada akhirnya membuat ke enam gadis remaja tersebut terlonjak.


"Kok, lo kesannya kayak ngebela Ava sih?" sinis Naima curiga.


Maudi menoleh. "Ngebela? Jangan ngimpi deh. Gue ngomong kayak gitu karena ucapan kalian yang terlalu keras. Coba lihat ke sekeliling kalian."


Mereka semua menurut lalu diam tanpa bicara lagi saat semua siswa dan siswi di sekitar mereka menatap ke enam gadis tersebut dengan tatapan super sinis.


"Jelaslah gue ngebela, Ava, 'kan, teman gue. Sedangkan kalian? Bikin malu aja bisanya, batin Maudi murka seraya melipat kedua tangan di dada.


***


Di sisi yang lainnya pula, tepatnya di bagian koperasi, ada tiga cowok remaja yang juga tengah menatap ke arah panggung, menatap ke arah seorang gadis cantik yang tengah memangku gitar.


"Noh, mantan pacar lo yang lo sia-siain!" ledek Bagus tanpa dosa.


"Di tampar pakai prestasi dong lo. Nyesel nggak tuh?"


"Biasa aja," jawab Alan seraya melipat tangan di depan dada. Cowok itu tidak merasakan apapun kecuali rasa bangga saat Ava mau mengasah kemampuan terpendam miliknya yang sama sekali tidak Alan ketahui, ia juga sedikit terkejut sebelumnya.


***


Bukannya duduk di kursinya, seorang cowok tampan yang masih memakai seragam wisudanya kini tengah berdiri di bagian paling belakang kursi para hadirin sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah kardus bertuliskan "Semangat gadis cantik! Jangan gugup! Di sini aja gue!"


Karena tahu kalau Ava nanti akan gugup saat di atas panggung, jadi tadi malam Aras menyempatkan membuat tulisan penyemangat untuk Ava.


Sang gadis yang melihat itu pun lantas langsung tersenyum penuh haru. Bukan hanya Ava saja, namun semua teman yang menunggu Ava di samping panggung dan yang menyaksikan kejadian itu pun juga terkejut sekaligus tersenyum penuh ke kaguman.


"Aaaa! Mau dong digituin!" iri Safira untuk pertama kalinya ia merasa sangat lebay.


Revan menonyor kepala gadis itu dari belakang. "Apaan sih? Biasa aja."


Safira tidak tinggal diam, gadis itu lebih keras menonyor kepala Revan dari depan sehingga membuat cowok itu hampir terjungkal. "Sirik aja lo!"

__ADS_1


"Kak Aras sweet banget! Nggak pernah nyerah untuk mendapatkan hati Ava!" kagum Agnes.


"Wah! Kalau gini caranya sih gue setuju Ava sama, Kak Aras!" tambah Ana.


***


Bagus yang melihat itu juga sontak menepuk-nepuk kasar pundak Alan. "Woi! Woi! Woi! Diperjuangin dong?! Wah! Keren sekali Kak Aras ini!"


Justin menatap Alan yang sama sekali tidak terkejut ataupun memperlihatkan raut wajah cemburu. "Lo, nggak cemburu Ava digituin sama, Kak Aras?"


Alan menggeleng. "Enggak. Buat apa gue cemburu?"


Justin tidak menjawab, kembali fokus ke depan. Mungkin memang benar kalau hati Alan sudah mati untuk Ava, cowok itu kembali bersikap normal sebelum Ava datang di kehidupan cowok itu.


***


Saat Aras menurunkan kardus itu, Ava menarik nafas dalam-dalam. Bersiap memetik gitar dan mengeluarkan suara indah miliknya yang selama ini terpendam jauh. Ia tidak akan mengecewakan Aras yang telah banyak sekali membantunya.


Gadis itu mendekatkan MIC ke bibirnya. "Lagu ini saya persembahkan untuk laki-laki di belakang sana yang sudah sangat banyak membantu saya. Terima kasih untuk semuanya." Ava menunjuk ke belakang yang membuat para hadirin sontak menoleh ke belakang.


"Aras?" gumam pak Matrio mengerutkan dahi- papa kandung Aras, donatur terbesar di SMAN Tri Bakti.


Ada Aras di sana yang tengah tersenyum lebar. "Gue di sini! Dan akan selalu di sini, Ava!"


"Woa!" sorak-sorakan serta ribuan tepuk tangan mengiringi suara Aras tadi.


Ava mulai memetik gitarnya sesuai dengan nada dan lagu yang akan ia nyanyikan saat ini.


Ini adalah lagu yang sedari dulu ingin ia nyanyikan jika seandainya ia bisa bernyanyi. Ava juga saat itu pernah mengatakannya pada Agnes saat gadis itu menonton drakor di kamarnya. Masih ingatkah kalian lagu apa itu?


...O.When - How Do You Say (어떻게 말할까) (OST Suspicious Partner Part.2)...


Baru saja Ava menyanyikan satu bait lagu tersebut, seluruh hadirin yang datang langsung menyoraki dan bertepuk tangan untuk Ava karena suara gadis itu yang sangat bagus serta sangat lembut.


"Tutup mulut kalian. Nggak sopan dilihat para tamu kalau kalian nganga nggak jelas gitu," sinis Maudi pada anak buahnya yang tengah terkejut bukan main.


Gadis itu tersenyum samar sebagai rasa senangnya karena Ava mau bangkit dan mengobati keterpurukannya akibat semua luka yang didapat termasuk luka yang dulu Maudi beri.


Ava menatap dan tersenyum ke arah Aras di belakang barisan kursi. Sebagai balasan, Aras melambaikan tangannya kemudian memberikan dua jempol yang membuat Ava semakin tersenyum lebar dibuatnya.


Di sisi lain ada Alan yang juga tertegun dan terkejut bukan main saat mendengar suara yang terdengar lembut serta khas dari mulut gadis bernama Ava itu, seulas senyuman walaupun samar terukir di wajah cowokbperawakan manis tersebut.


"Ava, suara lo keren banget!" teriak Syarifa dan Agnes kompak.


"Waw! Teman gue tuh teman gue!" timpal Dino, cowok itu memang tidak tahu diri.


"Ava semangat! Suara lo halus dan bagus banget!" tambah Ana.


Safira hanya tersenyum sebagai reaksinya. Revan yang melihat Safira tersenyum pun juga ikut tersenyum, mereka bangga saat Ava memilih dan mau untuk bangkit dari keterpurukannya.


Ava menatap ke belakang. Bukan Aras, tapi cowok di belakang Aras yang juga tengah menyaksikan dirinya, itu Alan.


Dadanya kembali terasa sakit dan sesak saat mengingat kejadian sembilan bulan yang lalu saat Alan memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Ava di lapangan ini.


Mata gadis itu memanas dan terasa perih, buliran air mata pun mulai menetes dari kelopak mata gadis itu. Entah ini saking karena perasaannya atau karena ia yang terlalu menghayati lagunya?


Aras berlari menuju samping panggung, bergabung dengan semua teman dan sahabat Ava. Walau tidak tahu arti lagu tersebut, tapi pembawaan lagu tersebut sangat keren sehingga bisa masuk sampai ke hati para pendengar.


Jangan nangis, Va. Gue sakit kalau lihat lo nangis, ucap Aras dalam hati saat menyadari kalau Ava menangis.


Bukan hanya Aras saja yang sakit, tapi juga semua orang yang mengetahui kisah itu pasti juga akan merasa sakit.

__ADS_1


Semua para hadirin yang datang hanyut dalam lagu yang dinyanyikan oleh Ava, rasa dari lagu yang gadis itu bawakan sangat tersampaikan pada para pendengar. Yang tahu lagu itu pun juga samar-samar ikut bernyanyi dan merasakan sensasinya. Banyak yang tahu karena ost lagu tersebut dari drama korea yang sangat terkenal dan disukai berbagai kalangan pada masanya bahkan sampai sekarang.


Semua yang ada di sana berdiri lalu memberikan tepuk tangan semeriah dan sekencang mungkin saat Ava selesai menyanyikan lagu tersebut.


Ava menutup mulutnya tidak percaya saat semua orang menatapnya sambil tersenyum.


Secepat kilat, gadis itu langsung menghadap ke belakang kemudian menghapus air matanya sampai kering tak tersisa.


"Waw! Walaupun saya dan para hadirin tidak tahu arti lagu tersebut apa, tapi lagu yang kamu bawakan sangat kena dan terasa sangat menyat hati. Kenapa kamu tadi sampai menangis?"


"Terima kasih. Mungkin ..." gadis yang ditanyai menjeda kalimatnya, "... mungkin karena saya terlalu menghayati dan menikmati lagunya."


"Owh. Iya juga, ya? Kalau boleh tahu, kamu bisa nyanyi dari kapan? Dan, siapa yang mengajari kamu?"


"Saya belajar nyanyi sudah sekitar delapan bulan yang lalu, dan yang mengajari saya bermain gitar sampai saya bisa seperti sekarang adalah anak dari Bapak Matrio dan Ibu Carry, yaitu Aras."


Pak Matrio dan Ibu Carry yang duduk di paling depan bersama dan disebut namanya pun juga ikut tersenyum.


"Wah! Beruntung sekali, ya, kamu ini. Berarti lagu itu khusus untuk anak Pak Matrio?"


Ava diam sejenak.


Lagu itu bukan sepenuhnya untuk Kak Aras, tapi lagu itu juga khusus untuk orang yang saat ini duduk menatap saya di paling belakang.


Ava menoleh ke arah Aras di samping panggung yang juga tengah menatanya. "Iya, lagu itu saya bawakan khusus untuk anak Pak Matrio." Menatap ke depan. "Tidak apa-apa, 'kan, Pak?"


Pak Matrio terkeheh. "Ah, tidak papa. Itu malah bagus."


"Okay! Lagu kedua ini kamu persembahkan untuk siapa?"


Ava menatap seluruh kakak kelasnya, ia jadi teringat dengan Dinda dan Sinta yang sekarang tidak bersekolah di sini lagi.  "Lagu ke dua ini, saya persembahkan untuk kakak kelas saya yang tercinta."


"Oh! Okay! Silahkah duduk kembali, dan tampilkan yang terbaik lagi!" MC perempuan itu menyingkir dari atas panggung.


Ava kembali duduk di kursi, memudian mengatur suaranya sebentar dan mulai memetik gitar di pangkuannya.


Gue tahu Ava, kalau lagu itu sebenarnya bukan untuk gue, tapi sepenuhnya untuk Alan, it's okay. Lain kali, gue bakal pastiin kalau lo bakal nyanyi sepenuhnya untuk gue, batin Aras masih tersenyum baik-baik saja menatap sang gadis.


Safira menepuk pundak Aras. "Kak, makasih udah bantuin Ava. Gue harap, lo masih tetap ada di sisinya walaupun lo tahu kalau dia belum bisa berdiri di sisi lo."


Aras menoleh dan mengangguk. "Harusnya gue yang bilang makasih ke lo, karena lo gue jadi bisa dekat dengan Ava lagi. Gue janji akan selalu di samping dia, dan gue akan menunggu dia sampai dia siap."


Safira akhirnya bernafas lega dengan pengungkapan Aras. Ia hanya berharap bahwa Ava cepat sembuh dan menerima laki-laki lain yang kini selalu menunggu dan menjadi bayangan di belakang gadis itu.


Keduanya sama-sama menatap ke arah Ava yang tengah bernyanyi dengan indah sembari memetik gitar sesuai nada lagu.


...Sampai Jumpa - Endank Soekamti....


Itu lah lagu yang kini tengah Ava nyanyikan dengan nada yang lebih seru, gadis itu nampak bahagia bercampur haru.


Ia sama sekali tidak menyangka kalau responnya begitu baik dan gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum sambil dalam hati mengucap syukur.


...***...


...Pendapat kalian tentang Aras, Alan, dan Ava dong!...


...***...


...Ditulis tanggal 24 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 28 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2