
...
...
Sedari tadi Ava sibuk memandangi Alan yang kadang tengah menggingit dan menjilati ice cream stick yang ada di tangan kanan cowok itu. Terlihat serius namun juga terlihat sangat menggemaskan dari caranya memakan.
Ava saja terkadang hampir tersedak dan harus menahan tawa. Biasanya laki-laki itu suka makan kalau tidak ice cream bucket ya ice cream cone. Kalau selain kedua jenis itu sepertinya kaum mereka menolak. Entah karena apa bisa seperti itu.
Dan, rasa penasaran akan penampakan laki-laki yang memakan ice cream stick terbayarkan sudah karena, Alan.
"Lo lucu banget kalau makan ice cream stick. Belum pernah makan yang jenis kayak gitu? Kenapa sih para cowok pada nggak mau?"
Cowok yang ditanyai menoleh. "Ya malu lah,"
"Malu kenapa? Kalau jawab jangan setengah-setengah dong, nanggung. Banyakan dikit jangan terlalu pelit," tutur Ava ingin sang pangeran lebih sedikit menambah kosa kata.
"Yaudah. Ya malu karena harus menjilat-jilat kayak gitu dari atas sampai bawah karena menjaga ice cream itu supaya tetesannya nggak jatuh ke bawah. Kalau perempuan makan ice cream ginian itu masih wajar dan nggak terlihat aneh, tapi kalau untuk para kaum adam kayaknya bakal aneh dan terkesan gimana gitu kalau di lihat,"
Ava mengangguk seraya menggigit pinggir cone. "Tapi, gue sangat puas melihat dan mengerjai lo kayak gini," Alan dan Ava kompak terkekeh
Gadis di samping Alan menoleh lagi. "Mau gue foto supaya lo bisa lihat rupa lo sendiri?"
"Nggak. Tidak usah repot-repot."
Perbincangan mereka tentu tak sampai di situ saja. Sampai ice cream mereka habis pun masih berlanjut. Mulai dari membahas mata pelajaran yang paling di sukai dan yang tidak, perencanaan memiliki anak dan akan diberi nama bertema Yunani, brand, dan bahkan tentang galaksi beserta isinya baik bulan, bumi, dan bintang.
***
Alan kembali duduk di samping sang gadis setelah membuang bungkus ice cream di tempat sampah yang jaraknya hanya beberapa langkah dari bangku taman. Ava menatap sang pujaan hati sambil tersenyum manis. Bahkan lebih manis dari ice cream yang mereka makan tadi.
Tapi tiba-tiba saja Alan mendekatkan tubuh beserta wajahnya ke arah gadis si sampingnya. Sedangkan Ava sendiri berusaha menjauhkan wajah dan juga tubuhnya dari Alan sedikit demi sedikit.
Tidak tahu apa yang akan dilakukan cowok itu terhadapnya.
Raut wajah Ava terlihat semakin khawatir. "Lan, lo mau ngapain? Jangan kayak gini deh, nggak lucu. Lo, nggak kesurupan setan pohon ini, 'kan?"
Tak ada sahutan sama sekali dari cowok di depannya. Justru Alan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ava dengan kurang ajarnya tanpa memperdulikan peringatan dari sang gadis.
Kedua siku Ava di buat sebagai tumpuan agar tidak jatuh dari bangku. Lama-kelamaan ruang bergerak gadis itu jadi semakin sedikit dan terasa sempit. Kini dirinya tidak bisa apa-apa kecuali Tuhan yang menghendaki.
Jangankan ruang bergerak. Ruang bernafas pun juga rasanya semakin susah.
Jantung Ava meronta-ronta minta di keluarkan dari dalam sana saking gugupnya. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba melihat ada orang apa tidak untuk di mintai pertolongan jika cowok di depan nya benar-benar kesurupan. Ternyata di sini sudah sepi dan hanya ada mereka berdua. Tubuh gadis itu pun jadi semakin tidak terkendali tidak karuan.
Oh, shit! Jadi, ini rencana Alan membawa Ava kesini?
"Alan jangan gini ..." peringat Ava masih dengan nada lembut.
Dan kini, jarak antara keduanya hanya terpaut beberapa senti saja. Cowok itu memang berniat mengikis jarak habis-habisan.
Karena jantung dan hatinya berdebar cukup kuat, jadi Ava memilik memejamkan mata tanpa memberi celah sedikit pun, mengatup kan bibirnya rapat-rapat, dan menolehkan kepalanya ke kanan untuk menghindari serangan yang mungkin bisa jadi Alan lakukan. Gadis itu takut sekaligus panik akan sesuatu yang akan terjadi nanti, ia hanya berdoa dan berharap pada Tuhan kalau sesuatu yang tidak ingin ia lihat dan lakukan tidak akan terjadi.
Apa hanya ini kemampuan Ava menahan debaran jantung nya?
Alan tersenyum melihat reaksi gadis di depannya yang seperti itu. Bisa ia lihat dengan jelas kalau saat ini deru nafas Ava semakin cepat dan tidak seperti biasanya. Alan sempat berfikir, apakah reaksi ini wajar di tunjukkan seorang wanita? Mungkin juga karena saat ini gadis itu tengah gugup maka dari itu menunjuk reaksi seperti itu?
Alan kembali menatap wajah Ava, gadis itu masih menutup matanya rapat-rapat tanpa ingin membukanya. Padahalkan Alan sudah menjauhkan tubuh beserta wajahnya.
Kening cowok itu berkerut saat melihat ada satu bulir cairan bening yang turun membahasahi pipi kiri Ava. Apa gadis itu juga sedang bercanda saat Alan juga saat ini tengah bercanda?
Ok, stop! Jangan lakukan ini lagi. Bukan reaksi seperti itu yang Alan inginkan dari sang gadis. Ia hanya ingin melihat dan mendengar debaran jantung Ava saat gadis itu tengah gugup saat jarak keduanya sedekat ini.
__ADS_1
Jujur, bukan hanya itu saja niat Alan melakukan hal tersebut. Ia juga ingin melihat pipi Ava bersemu merah seperti kemarin saat di rooftop. Selain itu juga karena Alan ingin Ava mengira kalau ia akan mencium gadis itu dan membuatnya sangat percaya diri, padahal tidak begitu. Persis seperti film fiksi remaja yang pernah ia tonton bersama teman satu kelas saat salah satu guru perempuan memutarkan film tersebut.
Tapi ini? Ini malah jauh dari ekspektasinya.
"Va ..." panggil Alan pelan, "... lo, nggak papa?"
Perlahan tapi pasti, Ava mulai membuka kelopak mata. Gadis itu mengusap air mata yang sempat mengalir di salah satu pipi. Dilihatnya Alan yang sudah menjauh darinya. Dengan segera, Ava pergi dari sana menjauh dari cowok tersebut.
Tak tinggal diam begitu saja, dengan secepat kilat Alan mengejar gadisnya. Meraih tangan Ava cepat saat tubuhnya mulai sejajar dengan tubuh Ava.
Ava menghempaskan tangan cowok di sampingnya dengan kasar. Isakan tangis gadis itu pun semakin terdengar di telinga Alan.
"Lepasin! Gue mau pulang sendiri! Jangan ngalangin gue!" bentak Ava masih terisak dalam tangis.
Tak pantang menyerah, bukannya mundur atau takut Alan justru meraih tangan sang gadis kemudian di genggamnya dengan sangat erat. "Maafin gue, Ava. Maafin gue. Gue nggak bermaksud gitu ke lo ..."
Lagi dan lagi, karena terlalu marah dan kesal gadis itu menghempaskan tangan Alan kasar. "Gue mau pulang!"
Setelah mengatakan itu, Ava pergi dari hadapan Alan dengan perasaan yang amat sangat campur aduk. Dongkol, marah, kesal, takut, khawatir, pokoknya semua ada.
Sedangkan Alan? Cowok itu sibuk meratapi perbuatannya seraya mengacak rambut frustasi. Dirinya merasa sangat menyesal. "Apa yang udah gue lakuin?!"
Apa yang akan Agnes dan Ana lakukan pada nya jika Ava pulang dalam keadaan menangis? Terlebih, jika mereka tahu kalau yang membuat Ava menangis adalah Alan sendiri.
"Ava!" Cowok itu berlari secepat kilat saat melihat tubuh sang gadis sempoyongan dan hampir saja kehilangan keseimbangan.
Tepat saat sampai di sana, Alan berhasil menangkap tubuh Ava yang meluruh lemas.
"Ava, bangun ..." cicit Alan sembari menepuk pipi chubby gadisnya pelan.
"Jangan kayak gini, Ava. Nggak lucu tahu nggak kalau lo mau membalas perbuatan gue,"
"Maaf. Gue janji ngga kakan kayak gini lagi, tapi plis lo bangun ..."
"Apa sampai kayak gini efek ketakutan atas perbuatan gue?"
Cowok itu mengecek denyut nadi gadisnya, beruntungnya denyut nadi gadis itu masih normal-normal saja. Kan, bisa gawat kalau ia membawa Ava pulang dalam keadaan tidak bernyawa.
Sialnya, saat Alan ingin meminta pertolongan, keadaan taman itu malah sudah sangat sepi akan lalu lalangnya pengunjung atau anak-anak yang biasa main di sana. Tetap tidak menyerah, cowo kitu menelusuk lebih luas ke sekeliking taman. Ia hanya berharap ada satu orang yang datang untuk menolongnya.
Ava membuka matanya sedikit sekedar hanya ingin tahu bagaimanan panik dan khawatirnya Alan. Leher dan pelipis cowok itu bahkan mengeluarkan keringat.
Gadis itu tertawa lepas saat sudah tidak bisa menahan tawa lebih lama tatkala melihat wajah Alan yang menurutnya sangat menggemaskan. "Bhaks! Hahahahahahahahaha! Ngakak banget, sih!"
Cowok yang sedang memangku kepala Ava sontak menundukkan kepala dan mendapati sang gadis malah tertawa puas menontok kepanikannya.
"Kok, lo hidup?"
Masih dalam keadaan tertawa, Ava bangkit kemudian menatap sang pujaan hati. "Panik, yah? Kasihan. Makanya jangan suka ngerjain orang, sekarang kalau gue yang kerjain, kapok nggaj lo?"
Bukannya menjawap pertanyaan dari gadis di depannya, Alan justru memegang kedua lengan Ava sangat erat. "Bercanda lo nggak lucu. Jangan gitu lagi ..."
Ava berhenti tertawa karena raut kepanikan yang belum hilang dari wajah Alan. Kini, Ava yang jadi merasa bersalah pada cowok itu.
Alan menarik Ava ke dalam pelukannya. Mengelus rambut Ava pelan penuh dengan kasih sayang. "Janji nggak akan gitu lagi?"
Ava membalas pelukan Alan, tangannya juga terulur untuk mengelus punggung cowok cuek tersebut. "Iya, janji. Tapi, lo juga harus janji jangan kayak gitu lagi, karena tadi gue benar-benar takut. Gue juga nggak suka bercanda lo yang kurang ajar kayak gitu,"
Alan mengangguk cepat mengiyakan. "Iya, tapi lo kenapa takut? Gue nggak benar-benar akan melakukan hal itu,"
Sang gadis mendongak. Menatap cowok di depannya, kemudian memeluknya semakin erat. "Nggak tahu, takut aja rasanya. Gue sangat takut dan nggak suka kalau lo kayak gitu. Jadi, benar-benar jangan ngelakuin hal itu lagi, ya?"
Alan mengangguk untuk kesekian kalinya. "Iya. Janji, nggak akan kayak gitu lagi." Cowok itu memeluk gadis di pelukannya semakin erat sampai ia ingin waktu saat ini juga berhenti. Bukannya apa-apa, tapi Alan hanya ingin lebih lama bersama Ava.
__ADS_1
***
Kini, gadis itu sudah berada di depan rumahnya. Di lihatnya motor Ava yang sudah terparkir di garasi.
Ava turun dari motor Alan tanpa membuka helm. "Nanti kalau udah sampai rumah, kasih kabar. Okay?
Alan menatap gadis si depannya tanpa mematikan mesin motornya. "Gue lebih suka ngomong langsung daripada dari media lainnya. Gue pasti baik-baik aja. Besok gue akan kasih tahu. Okay?"
Aca mencebikkan bibir layaknya anak kecil yang tidak di beri permen. "Tapi, 'kan, gue hanya ingin tahu keadaan lo setelah pulang dari sini."
Alan mengangguk pelan. "Yaudah, iya. Sama masuk, gue mau pulang."
Sebelum Ava benar-benar masuk ke dalam rumah dan mengunci gerbang. Dirinya tersenyum manis kepada sang pujaan hati dan ditambah dengan lambaian tangan juga.
Setelah Alan membalas senyuman beserta lambaian tangan Ava, barulah gadis itu bisa dengan tenang masuk ke dalam rumah.
Sore ini adalah sore yang penuh drama. Mereka berdua sepakat untuk tidak memberi tahu orang lain, dan yang berhak tahu hanya mereka berdua saja. Seolah itu adalah rahasia besar yang tidak boleh diketahui siapapun selain kedua remaja tersebut.
***
18:46
Ketiga gadis remaja itu kini tengah makan di ruang makan dan tak ada yang bicara satu sama lain. Hanya terdengar dentuman alat makan yang saling bersentuhan satu sama lain.
Ting
Ting
Hp Ava yang ia taruh di sampingnya berbunyi. Gadis itu bahkan sudah mengganti nada deringnya karena menurut Ana dan Agnes terlalu berisik.
Ava pikir itu dari Alan, tapi di pesan terakhir tidak ada kode, 'It's Me' yang biasa cowok itu pakai.
+62 8966 ×××× ××××
Are you ready?
Ana yang menyadari raut wajah Ava berubah bertanya, "Ada apa?"
Gadis itu menggeleng pelan. Meletakkan ponselnya di meja dan sama sekali tidak memperdulikan pesan tersebut. "Salah sambung kayaknya."
Ana dan Agnes hanya saling tatap, tapi kemudian kembali melanjutkan acara makan mereka. Begitupun dengan Ava, gadis itu tidak hobi memperbesar hal sepele seperti itu.
...***...
...Kira-kira siapa yang kirim pesan, nya?...
...Aku mulai menabur beling-beling kecil loh. Di chapter sebelum nya sih beling nya udah Aku tabur, tapi hanya sesekali saja....
...Siapkan jantung, mata, bibir, badan, dan hati kalian karena setelah chapter ini akan ada kejutan yang ngga ada henti-henti nya....
...Dan yang pasti bikin iri dan hati kalian cenat-cenut....
...🎶Kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu .......
...Tapi bohong. Kyaaaa!...
...***...
...Ditulis tanggal 15 Juli 2020...
...Dipublish tanggal 20 Maret 2021...
...**...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....