Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 41 ~ First Kiss


__ADS_3

...



...


...Siapin jantung dan hati kalian agar selalu di dalam kulkas supaya tidak meleleh dan supaya tidak jejeritan di kamar sambil senyum-senyum sendiri. Nanti ada yang nyusul....


...Happy reading man-teman semua!...


...***...


Cowok itu menurunkan topi agar wajahnya sedikit tidak terlihat oleh sebagian besar pengunjung berjenis kelamin perempuan yang sibuk menatapnya. Alan sama sekali tidak suka keramaian dan hanya suka ketenangan.


Bagaimana ia tidak malu saat toko ice cream ini bahkan bernuansa dan berdominan warna pink.


...



...


Ava sendiri tidak terlalu suka nuansa di toko ice cream ini, tapi karena riview menu di sini enak-enak, jadi gadis itu memutuskan untuk tinggal sebentar.


Ava dan Alan sama-sama memesan coffè latte dengan marsmellow di atasnya, macaron warna-warni, rainbow cake milik Alan dan ice cream rasa alpukat milik Ava. Tapi, apa yang cowok itu pesan bahkan belum tersentuh sedikit pun.


...



...


...



...


...



...


...



...


Kata Alan, "Gue nggak perlu makanan atau minuman yang manis, karena gue udah cukup manis dan mempermanis." Dan saat itu juga Ava ingin sekali menggunting mulut cowok di depannya yang kelewat percaya diri, tapi memang benar sih.


Mereka sama-sama sibuk dengan ponsel masing-masing. Alan yang kini tengah sibuk bermain game sedangkan Ava bermain media sosial seperti Instagram, twitter, dan WhatsApp.


Gadis itu lumayan cukup senang berada di sini, karena bisa di bilang tempatnya sangat instagramable dan banyak orang yang berbisik-bisik memperhatikannya dengan Alan.


"Enak ya kalau punya pacar kayak cowok itu, mau di ajak kemana-mana sama ceweknya. Apalagi tempat kayak gini, 'kan, terbilang dominan buat perempuan."


"Kok, gue iri deh sama dia. Pacarnya manis banget, keren, dan kharismatik gitu."


"Ya ampun! Ganteng dan manis banget tu cowok, jadi pengen bungkus bawa pulang."


"Enak, ya, jadi cewek itu, punya pacar yang sangat-sangat perfect. Tapi, yang cowok juga beruntung sih karena dapetin cewek itu yang juga cantik."


Mungkin seperti itu bisikan-bisikan yang bisa Ava tangkap dengan indra pendengarannya dari awal masuk sampai kedua remaja itu duduk. Kesimpulannya, para kaum hawa itu hanya merujuk pada visual luarnya saja tanpa mau melihat lebih dalam lagi, eh jangan ... daripada nanti jatuh hati.


Karena kerongkongannya sedikit kering, jadi tanpa ambil pusing Alan mengambil coffè latte miliknya di meja kemudian meminumnya. "Aaarrgghh! Manis banget!" Menjauhkan gelas tersebut dari bibir.


Dan hal itu langsung membuat seluruh pengunjung beserta staf yang ada di sana menoleh cepat ke arah cowok yang tadi berteriak tidak sopan.


Alan meneguk ludahnya susah payah saat mendapat plototan tajam dari gadis di depannya. "Diam. Jangan banyak komentar."


"Spontan," jawab Alan dengan sangat enteng. Sesaat setelah membuat sedikit kerusuhan pun cowok itu masih bisa bermain game dengan asyik.


Ava mengulum senyum saat ia melihat video yang penampakkan seorang laki-laki berlutut di hadapan seorang gadis yang dicintainya, kemudian menyodorkan sebuket bunga mawar dan boneka beruang berukuran besar.


Ava majukan kursinya. "Alan, lihat ini deh. Mau nggak kayak gini?"


Sedangkan cowok yang dipanggil mendongak kemudian menatap ponsel sang gadis.


"Lo, 'kan, belum nembak gue tuh, jadi ini referensi yang cukup bagus. Iya, 'kan?"


Mata Alan mengerjab beberapa kali saat gadis di sampingnya mengatakan hal tersebut. "Gue bukan tipe cowok yang seperti itu."


"Sekali-sekali. Mau, yah?!" rengek Ava berusaha membujuk, tak lupa pula puppy eyes ia sertakan.


"Mau ke taman dan ke Zoo?"


"Ngapain? Gue, 'kan, maunya bunga sama boneka beruang besar," ketus gadis itu sembari mencebikkan bibir beberapa senti.


"Di taman, 'kan, bisa lihat berbagai macam bunga dan kalau di Zoo, lo bisa lihat beruang yang asli."


"Nggak mau yang itu, maunya yang dari lo langsung."


Cowok di depan Ava menggeleng pelan sebagai tanda penolakan. "Enggak."

__ADS_1


Hanya satu kata tapi berhasil membuat Ava begitu murka. "Katanya lo mau nurutin gue?"


"Iya, tapi, 'kan, nurutinnya kemanapun lo mau pergi, bukan apa pun yang lo mau. Itu dua hal yang berbeda," jelas Alan dengan nada halus mencoba memberi pengertian.


Gadis itu terdiam sejenak, cowok itu memang jagonya ngeles. "Emang, tadi lo bilang gitu?"


"Iya."


"Gimana kalau kita bikin slowmo aja? Kebangetan kalau lo masih nolak!" pinta gadis itu sudah kehabisan akal dan pasrah saja.


Yang ditanyai melirik ke arah sekitar, sepertinya aman karena para pengunjung kembali fokus dengan kegiatan masing-masing. Alan mengangguk. "Ok."


Ava bangkit dari duduknya kemudian berpindah ke tempat duduk di samping Alan. Gadis itu membuka aplikasi slow motion kemudian memencet tombol tengah untuk mulai merekam.


Pada awalnya Ava dan Alan saling tersenyum ke arah kamera. Cowok itu mengedipkan salah satu mata yang kemudian membuat gadis di sampingnya tertawa.


Gue senang saat lihat lo tertawa, Ava.


Gadis itu menoleh kemudian menatap cowok di sampingnya yang juga tengah menatapnya. "Kenapa?"


Alan menggeleng. "Nggak papa. Lo baik."


"Itu pasti." Menekan tombol tengah berwarna merah.


"Udah?" tanya Alan tanpa mengalihkan pandangan.


Ava mengangguk. "Udah."


"Sekarang senang?"


"Iya, senang banget."


Cowok itu menatap benda pipih yang ada di genggaman gadisnya. "Nggak lo posting?"


"Ngapain? Nggak penting."


"Mau dipamerin ke teman atau ke publik?"


"Nggak perlu. Terkadang nggak semua hal itu harus diketahui dan dikonsumsi publik. Cukup dua orang yang menyimpan kenangan itu dan mengingatnya selalu. Atau, lo pengen?"


Cowok di samping Ava tersenyum kemudian mengacak rambut sang gadis gemas. "Enggak. Lebih baik jangan. Lo tahu nggak?"


"Apa?"


"Gue beruntung bisa memiliki dan mendapatkan lo. Terima kasih udah mau memilih gue."


Ava tersenyum kemudian menggeleng pelan. "Enggak. Gue yang harusnya berterima kasih sama lo karena lo udah selalu mau nunggu gue dan ada buat gue, Alan."


Tangan kanan cowok itu bahkan terulur untuk meletakkan kepala Ava di pundaknya. Nggak akan selalu, Ava.


***


Kedua remaja bernama Alan dan Ava kini tengah ada di sebuah pantai di Jakarta. Siapa lagi kalau bukan Ava yang mengajak. Gadis itu ingin sedikit beromantisan dengan cara melihat sunset bersama di bibir pantai. Karena Ava tahu kalau Alan tidak suka keramaian, jadi ia membawa cowok itu ke pantai yang agak sepi atau juga bisa di kategorikan sangat sepi.


...



...


Tanpa menoleh dan menatap lurus ke depan, Alan memanggil nama gadis yang kini tengah duduk di sampingnya


Yang di panggil menoleh. "Apa?"


"Apa lo tahu kalau mengepalkan tangan saat memeras santan dalam gerakan pramuka bisa menjadi bentuk yang sangat indah?"


Gadis itu berpura-pura berfikir. "Enggak. Memang, bentuk seindah apa yang bisa dihasilkan?"


Alan menggenggam tangan layaknya memeras santan dalam geraka pramuka. "Ikutin gue, tapi lo harus pakai tangan kiri."


Mau tidak mau jika ingin hal ini berhasil, Ava juga harus mau melakukan dan bisa di ajak kerja sama. "Kayak gini?"


"Iya."


Alan menginstruksi agar gadisnya itu menempelkan genggaman tangan. Menyatukan kedua jempol satu sama lain, kemudian dengan perlahan jempol itu ditarik ke bawah bersamaan sehingga membentuk sebuah lambang cinta dan kasih sayang.


Gadis itu tersenyum saat tahu bentuk tersebut. Dirinya sama sekali tidak menyangka kalau Alan bisa melakukan hal seromantis itu. Memang terlihat alay dan menjijikan, namun itu terlihat berbeda bagi Ava yang sedang jatuh cinta saat cowok di sampingnya ini yang terkenal cuek, dingin, dan jutek mau melakukan hal tersebut.


"Apaan sih? Nggak jelas!" celetuk Ava yang mulai salah tingkah dibuatnya. Gadis itu bahkan tak segan menabok lengan kiri Alan.


Kedua remaja itu saling melepas tautan tangan secara bersamaan.


"Nggak perlu apa pun agar bisa melihat lo tersenyum. Nyatanya, hal semudah dan sesederhana ini bisa bikin lo salah tingkah. Benar, bukan?"


"Iya, Alan."


"Bentuk itu nggak akan bisa berhasil kalau hanya satu orang yang bekerja sama, tapi hanya perlu dua orang saja agar terlihat sempurna."


"Tapi, pakai tangan sendiri, 'kan, bisa karena kita diciptakan dengan dua tangan."


Alam tersenyum manis. "Nggak semua orang di dunia ini diciptakan memiliki dua tangan yang lengkap. Dan kalau dibentuk dengan tangan sendiri pun itu nggak akan terlihat istimewa."


Beberapa detik keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing sambil memandangi langit yang mulai menampakkan cahaya berwarna orange yang sangat indah.


Ava bangkit dari duduknya. Alan mendongak. "Main kejar-kejaran yuk?"

__ADS_1


Alan juga ikut bangkit. "Hadiahnya apa kalau lo ketangkap?"


Sang gadis yang ditanyai pun tersenyum malu-malu. Kakinya di main-mainkan dengan pasir. "Eum ... kalau cium, lo mau?"


Cowok itu termangu sekaligus terkejut saat dengan berani Ava berani menggoda dan menantangnya. "Benar?"


Yang di tanyai hanya membalas dengan tatapan mata yang Alan simpulkan sebagai persetujuan. Saat Ava mulai berlari, Alan pun juga sama berlarinya untuk mengejar sang gadis.


"Lo nggak akan bisa nangkap gue!" Menjulurkan lidah kemudian berlari dan bersembunyi di balik pohon kelapa.


Beberapa menit pun berlalu, Akhirnya dengan tenaga yang tersisa Alan berhasil menangkap gadisnya.


"Jadi, gue boleh minta hadiahnya?" Cowok itu membalikkan badan Ava yang tadi membelakanginya.


Gadis itu tersenyum kemudian menjawab dengan yakin, "Boleh."


"Tutup mata!" suruh Alan.


Tanpa bantahan sedikit pun, Ava langsung menutup kedua matanya secara bersamaan. Dada gadis itu terasa sangat sesak dan seperti akan ada sesuatu yang meledak sekarang. Jantungnya berdebar sangat cepat dan tak memberikan jeda sedikit pun. Pikirannya juga melayang kemana-mana.


Sedangkan Alan? Cowok itu pun juga sama menutup mata kemudian mengarahkan wajahnya lebih dekat dengan wajah gadis di depannya.


Tepat sebelum bibir mereka berdua saling bersentuhan, telapak tangan kanan Alan di biarkan menutup bibir sang gadis yang kemudian membuat Alan mengecup punggung tangannya sendiri.


Ava membuka mata setelah cowok di depannya melakukan hal tersebut. Mata gadis itu bahkan hampir copot saat matanya dan mata Alan bertemu dengan keadaan sedekat ini, hanya berjarak beberapa senti saja.


Mulut Ava yang ada di balik telapak tangan Alan juga sedikit menganga.


Bersamaan dengan cowok itu yang melepas tangannya dari bibir Ava seraya menjauhkan wajah, gadis itu mengerjab kemudian mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Kenapa? Kok ditutup? Bukannya lebih enak langsung? Lo nggak mau menerima itu dari gue?" tanya Ava dengan polosnya sembari memasang wajah cengo.


"Gue ingin, tapi gue juga harus menjaga. Menjaga agar ciuman pertama lo dimilikin oleh suami lo nanti."


"Tapi, yang nanti jadi suami gue, 'kan, lo."


"Belum tentu, karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan "


"Tapi, gue ingin itu sekarang. Gue lihat di drama Korea, itu sangat mudah, terlihat romantis dan manis."


"Kalau lo ingin itu, maka mulai sekarang ciptakan drama dan cerita lo sendiri."


Ava memeluk Alan sangat erat. "Akan gue ciptakan cerita itu bersama dengan lo."


***


Setelah selesai melihat dan menikmati sunset, kedua remaja itu memutuskan untuk makan malam di kedai terdekat. Memakan berbagai macam olahan seafood asalkan yang tidak berbau udang, karena Ava alergi terhadap makanan itu.


...



...


***


Ava kini tengah ada di kamarnya, kejadian di pantai saat Alan mengatakan hal itu terngiang-ngiang sangat jelas di kepalanya sampai sekarang.


Alan bukan cuma pacar yang Ava idamkan, tapi juga pacar yang bertanggung jawab dan tidak mau merusak wanitanya hanya karena hawa nafsu.


Di pantai itu tidak ada orang sama sekali, hanya ada mereka berdua. Kalau Alan mau, cowok itu bahkan bisa berbuat sesukanya di sana. Tapi, Alan bahkan tidak melakukan hal itu, jangankan melakukannya, memegang tangan Ava pun juga cowok itu izin lebih dulu.


Gadis itu menyentuh bibir kemudian beralih ke dahinya.


Flashback On


"Gue akan ciptakan drama itu bersama dengan lo."


"Jangan."


Ava mendongak, melepas pelukannya. "Kenapa jangan? lo nggak mau?"


"Sangat mau, tapi jangan hanya berdua. Undanglah beberapa teman lo untuk ikut bermain bersama."


"Kalau itu mau lo, gue akan lakukan supaya drama ini tidak terlihat membosankan. Lo juga undang teman lo untuk bermain. Lebih banyak lebih baik dan gue yang akan menjadi pemeran utamanya."


Alan menatap gadisnya kemudian mencium kening Ava sekilas.


Gadis itu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya Alan mendekat tubuh mungil miliknya dengan sangat erat.


Flashback Off


Ava menggebrakkan kedua kakinya secara bergantian di atas bad kasur.


"Aaaarrrggghhh! Jangan bikin gue gila, Alan!" Tubuhnya diguling-gulingkan beberapa kali saking bahagianya.


...***...


...Gimana?...


...***...


...Ditulis tanggal 31 Juli 2020...


...Dipublish tanggal 29 Maret 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2