Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 43 ~ Ketika 'Dia' Bercerita


__ADS_3

...



...


Alan menepuk punggung gadis itu kemudian mendekapnya penuh kehangatan dan kasih sayang agar Ava juga lebih tenang dan leluasa untuk bercerita.


"Lo bisa cerita semuanya ke, gue."


"Teman SD gue ngajak reunian minggu depan."


Alan melepas pelukannya, dan saat itulah ia mendapati gadisnya sudah berderai air mata.


"Sebelum bercerita, gue mau tanya satu pertanyaan ke lo. Boleh?"


Cowok berhodie itu mengangguk lemah. "Boleh."


"Apa tanggapan lo tentang pembullyan?"


"Nggak berperikemanusiaan, jahat, tega, dan sama sekali nggak terpuji."


"Hanya itu? Nggak mau ditambahin?"


"Iya, hanya itu."


"Ok. Gue akan mulai bercerita." Ava mengusap air matanya. Ia hanya tidak ingin Alan melihatnya menangis, karena ini sungguh memalukan. "Tapi, saat gue bercerita lo nggak boleh bicara, bertanya, ataupun menyela. Deal?"


Cowok itu mengangguk, kemudian menjabat tangan Ava yang ada di depannya. "Deal."


Gadis itu tersenyum samar, mencoba menahan dan menguatkan dirinya sendiri. Saat ingatan itu kembali, luka yang belum sembuh itu terbuka lebar yang membuat darah itu perlahan keluar, seolah luka belum pernah disembuhkan sebelumnya. Perasaan itu, masih terasa sangat nyata di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


"Banyak yang bilang, kalau masa paling indah itu saat kita kecil. Saat di mana kita belum mengenal yang namanya cinta, belum tahu apa-apa, dan cuma tahu satu hal, yaitu main. Anehnya, itu semua nggak berlaku untuk kita bertiga, yaitu gue, Ana, dan Agnes."


"Kenapa gitu?" tanya Alan mulai penasaran dan lupa akan perjanjiannya.

__ADS_1


Cowok itu tersenyum kikuk setelah mendapat pelototan tajam dari gadisnya. "Lupa. Lanjut."


"Dulu waktu SD, tepatnya saat kelas lima, kita bertiga suka dibully sama tiga teman cowok di kelas. Nggak tahu kenapa mereka ngebully? Mungkin, karena saat itu kita selalu ngelawan, ngebantah, dan nggak mau nurut sama mereka. Selain itu, mungkin karena kita yang gampang di bodohin, gadis jelek, anak orang kurang mampu, dan menjijikkan yang sama sekali bodo amat dan nggak pernah ngerawat diri maupun penampilan."


Mata gadis itu kembali berkaca-kaca, tak kuasa menahan hal tersebut. Luka lama yang selama ini ia dan kedua sahabatnya kubur dalam-dalam muncul kembali ke permukaan. Rasa sakit itu terasa amat sangat menyiksa. Sedangkan Alan masih setia mendengar dan menunggu Ava bercerita. Mencoba membiarkan gadis itu meluapkan semuanya.


"Di bully secara lahir dan batin. Mulai dari dihina dan dicela sana sini, dilemparin sama jajanan bekas mereka, dijambak, ditendang, dicakar, sampai yang paling sering itu ditonjok. Saat kita bertiga mencoba melawan untuk membela diri, semua barang-barang kita yang mereka lihat langsung dibuang terus diludahin. Abis itu, mereka langsung pergi, dan kita hanya bisa nangis akan kelakuan mereka. Sebenarnya sih mulai dari kelas tiga udah ada yang ngebully, tapi itu masih sangat sedikit dan belum terlihat."


Kini, air mata Ava sudah tidak bisa terbendung lagi, bibirnya bergetar, dan air matanya terus mengalir dengan sangat deras. Alan memberikan sandaran untuk sang gadis, agar Ava sedikit ada kekuatan untuk kembali bercerita.


"Saat itu kita hanya mikir kalau, 'Kenakalan kayak gini tuh biasa aja dalam sebuah pertemanan. Nanti juga pasti akan akur dan berteman lagi seperti semula', jadi kita sama sekali nggak bilang sama orang tua ataupun sama guru. Sampai suatu hari, kita kayak udah nggak tahan sama perlakuan ke tiga cowok itu karena tiap pulang sekolah pasti nangis, dan kita buat perjanjian kalau setiap di pertengahan jalan, kita akan usap air mata kita masing-masing sampai kering. Kan, jarak antara sekolah sama rumah kita itu dekat, jadi jalan aja gitu nggak perlu pakai kendaraan. Jadi, kalau udah sampai di rumah nggak ada yang namanya nangis atau bekas air mata yang kelihatan dan tetap baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya."


"Tapi, ada satu hari di mana kita bertiga nangis saat pulang sekolah, dan kalau nggak salah saat itu rambut Ana dijambak, Agnes ditonjok bahunya, dan buku sama tempat alat tulis gue diludahin sama salah satu dari mereka. Masing-masing Ibu kita langsung kaget dan tanya-tanya kenapa kita pulang sekolah nangis karena biasanya enggak. Dan, mau nggak mau saat itu kita cerita semuanya dari awal sampai akhir, dari kelas tiga sampai kelas 6 Masing-masing Ibu dari kita langsung ke sekolah karena mau ngaduin ke kepala sekolah atas perlakuan pembullyan itu dan membawa kita juga sebagai saksi."


"Tapi sialnya, ada salah satu anak yang ngebully kita malah lewat di depan rumah sama Papa nya yang juga guru di sekolah itu. Saat sampai di sekolah, masing-masing Ibu kita ngadu di sana dan kita juga sambil nangis saat menjelaskan hal tersebut dengan sangat tidak detail dan Pak kepala sekolah memutuskan akan bertindak cepat untuk menangani hal itu. Pagi harinya, Pak kepala sekolah manggil mereka bertiga. Kita sama sekali nggak tahu di sana mereka di apain, tapi semenjak hari itu mereka jadi jarang ngebully kita."


"Tapi, bukan berarti berhenti sampai di situ doang, pembullyan secara fisik udah jarang, tapi pembullyan secara lisan belum selesai, dan tambah menjadi-jadi malahan. Anak cowok yang ngelihat kita ke sekolah malah ngaduin hal itu ke teman cowok satu kelas, karena dengan lancang dan berani kita bertiga ngaduin mereka ke guru. Sampai berita itu tersebar ke mana-mana dan kita hanya bisa diam duduk di kelas tanpa memberi keterangan apapun."


Alan masih tetap diam tanpa mau memotong cerita gadis itu. Tak lupa pula menatap Ava yang saat ini mengalirkan cairan bening dari pelupuk matanya dengan deras. Tak bisa dipungkiri, kalau ia cukup sedih dan miris mendengarnya.


"Teman-teman yang perempuan pasti nggak beranilah dekat-dekat sama kita bertiga, karena takut dijauhi dan dibully juga. Dan, tentu kita nggak akan pernah melupakan orang-orang yang masih tetap baik sama kita dan nggak ikut menjauhi atau membully di saat keadaan seperti itu, sampai kapanpun nggak akan pernah. Bahkan, kalau bisa dan mampu di saat gue udah sukses nanti, gue akan menemui mereka satu persatu untuk mengucapkan rasa terima kasih secara langsung. Gue punya harapan besar untuk itu"


"Terus juga, saat kita kelas enam SD ada kesalahpahaman yang terjadi. Waktu itu, kita bertiga lagi ngegosip di kelas saat jam istirahat berlangsung, Ana nggak sengaja ngucap nama seseorang yang di mana nama itu adalah nama seseorang yang tinggal di sekitar rumah kita yang julidnya minta ampun. Sialnya, ada teman satu kelas kita di sekolah yang namanya samaan, terus teman perempuan kita yang ngedenger itu otomatis langsung ngadu dong ke mereka-mereka dan orang tersebut."


"Dalam pertemanan pasti ada yang namanya provokator sebagai si pembuat naskah drama dan membuat drama itu semakin keren, yang baik dan yang buruk. Nah, kebetulan ada cewek yang sifatnya kayak gitu di kelas kita, dan endingnya kita dimusuhin sama teman cewek satu kelas karena mereka percaya sama si pengarang naskah drama itu. Kita nggak dapat yang baik dan malah dapat yang buruk. Dalam artian yang percayalah sama kita dan yang tetap mau berteman sama kita dalam keadaan apapun itu."


"Jadinya, teman cowok kita udah pada benci sama kita, ditambah teman cewek yang selama ini kita junjung tinggi-tinggi untuk jadi penyelamat malah jauhin kita ... Nggak! Sebenarnya, mereka nggak jadi penyelamat kita, tapi justru diri kita sendiri dan kami bertiga yang jadi penyelamat karena saling menguatkan dan bertahan dalam keadaan seburuk apapun. Gini loh maksudnya, saat mereka ada masalah pasti kita bantu sebisa dan semampu kita, saat mereka ada yang ngebenci karena sifat mereka yang nggak disukai yang lainnya kita juga ngebela mereka dengan tetap ada di sisi mereka karena kita percaya sama dia."


"Tapi kok, saat kita dalam keadaan kayak gitu malah nggak ada yang percaya dan jauhin kita bertiga. Emang sih, para cewek ngejauhinnya nggak lama, kayaknya sekitar sebulanan gitu, tapi bukan masalah lama atau enggaknya. Masalahnya itu rasa sakit yang mereka kasih udah terlalu dalam. Saat mereka pada senang-senang jajan di kantin sambil bercanda ria, main sama-sama, kita cuma bisa duduk diam di kelas sambil bengong dan mikir "Salah kita tuh apa sih sebenarnya?""


"Kenangan indah sih pasti ada ya, tapi mungkin ... nggak terlalu banyak dari anak-anak lain seusia kita, lebih banyak kenangan pahit. Makanya kalau disuruh milih, gue nggak mau balik ke masa itu lagi karena gue udah muak. Mungkin gue mau, tapi hanya untuk melawan siksaan mereka."


"Siapa sih, yang mau dibully dan dijauhi sama orang yang udah kita anggap teman? Yang mungkin sekiranya udah kita percaya menjadi tempat bercerita semua hal. Kita sama sekali nggak dendam sama mereka semua, akan tetapi rasa sakit itu masih sangat dalam dan terasa menyesakkan dada. Kita udah ngelakuin segala cara yang kita bisa, tapi semua usaha yang kita lakuin gagal dan sia sia."


"Rasa sakit itu seakan-akan udah menyatu sama diri kita sendiri. Rasa sakit itu masih sama sakitnya saat mereka ngelakuin itu semua ke kita, dan nggak pernah sedikit pun berubah, berpindah, atau menghilang dari tempatnya, seolah mereka mempunyai ruang tersendiri di dalam sana. Ruangan yang gelap tanpa cahaya, penuh jebakan berbahaya, dan suasana yang menyeramkan serta mencekam." Sorot mata gadis itu sayu dan sendu sembari menatap pohon yang bergoyang-goyang akibat diterpa angin sore.

__ADS_1


"Sampai saat kita masuk di SMP, kita jadi anak yang terbilang cukup famous karena pada ngira kalau kita itu anak kembar, padahal bukan. Beruntung banget kita sekolah di sana, karena nggak ada yang namanya ngebully atau pun ngehina, semua orang pada baik banget sama kita, menghargai, menerima apa adanya kita, perhatian, dan pada asik. Pokoknya, saat di SMP itu kita hanya ngerasain rasa senang, dan perlahan-lahan rasa sakit itu mulai terkubur dalam-dalam. Ya ... nggak semua rasa senang sih, ada dukanya juga. Saat pertengahan kelas sembilan, kita mulai belajar untuk merawat diri menjadi yang lebih baik. Dan ... jadilah Ava, Ana, dan Agnes yang sekarang dilihat semua orang."


Ava mendongak ke atas. Menatap awan putih dengan baground langit yang cerah berwarna biru muda. "Dan ternyata, rasanya dibully itu kayak gitu, sangat tidak enak. Saat udah remaja atau dewasa, gue baru tahu dan baru sadar kalau itulah yang namanya 'Pembullyan'. Gue merasakan betapa tersiksa dan sakitnya dibully, kesepian tanpa seorang teman. Gue merasakan bagaimana proses bully itu di depan mata gue sendiri, dan itu bukan hanya cerita di novel-novel atau sekedar fiksi belaka. Itu, ada di dunia nyata."


"Maka dari itu, setiap diajak reunian kita bertiga nggak pernah hadir di tengah-tengah mereka karena gue juga tahu kalau itu bakalan sangat canggung dan nggak nyaman. Gue akan lebih membenci mereka saat gue tahu kalau mereka tertawa dan bercanda ria saat itu juga, seolah mereka semua nggak pernah sadar dan melakukan hal itu ke kita bertiga. Dibanding kita bertiga, gue lah yang paling susah memaafkan, melupakan, dan nggak akan pernah merasa ikhlas."


Ava menatap Alan yang sudah sedari tadi menatapnya, gadis itu sedikit malu karena dirinya menangis di depan cowok itu. "Lo boleh ngomong sekarang."


"Kalau lo gitu, pasti mereka semua akan membicarakan kalian bertiga tanpa tahu kebenarannya."


Gadis yang ditanyai tersenyum simpul kemudian menggeleng. "Gue nggak perduli dan bodo amat. Selagi gue nggak mendengar apa yang mereka katakan dan selagi mereka nggak ngomong itu di depan kita bertiga, gue yakin kalau kita akan tetap baik-baik saja walaupun justru itu kebalikannya."


Tangan kanan Alan menolehkan kepala Ava agar menatapnya. "Gue nggak bisa berbuat apa-apa, selagi lo belum bisa berdamai dengan hati lo, berarti lo juga belum bisa berdamai dengan mereka semua. Kalau lo bilang lo udah usaha untuk melupakan mereka, tapi tetap nggak bisa dan mereka masih tetap ada di pikiran lo, itu artinya rasa sakit yang lo rasakan udah berada di tahap trauma. Hal itu bukan hal yang mudah untuk sembuh."


Gadis itu terdiam sejenak dalam kesunyian. "Menurut lo, gue salah kalau belum bisa menghilangkan rasa sakit itu sepenuhnya?"


...***...


...Di sini ada yang udah pernah ngalamin pembullyan kayak, Ava?...


...Atau, justru kalian lah yang menjadi tersangka?...


...***...


...Aku ada kabar baik nih buat kalian semua. Mulai bulan April 2021 ini Aku bakalan update setiap hari, tapi update-nya cuma satu karena hemat juga. Lagipula, words setiap partnya juga, 'kan, panjang tuh....


...***...


...Ditulis tanggal 10 Agustus 2020...


...Dipublish tanggal 02 Maret 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2