Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 47 ~ Jumpscare


__ADS_3

...Syelamat pagi semuanya! Aku balik lagi buat membawa kebahagiaan sekaligus kesengsaraan, canda zeyeng....


...Udah hampir satu minggu ini Aku sakit tahu, doakan semoga sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa....


...***...


...



...


09:15


Saat ini Agnes, Syarifa, dan Bagus ada di kelas, tengah bercanda ria bersama-sama.


"Kamu itu seperti garam di lautan, tidak terlihat namun akan selalu ada untuk selamanya." Itulah gombalan Bagus yang di tujukan untuk Agnes. Selalu untuk gadis itu.


"Eak!" sorak Syarifa dan Agnes bersamaan.


"Kalo seumpama gue mau jadiin lo pacar gue, kira-kira lo mau nggak?" tanya Bagus tiba-tiba, nadanya terdengar serius memang, tapi ada candanya juga karena diiringi tawa.


Agnes pura-pura berpikir sejenak, kemudian menggeleleng. "Nggak."


Raut wajah Bagus langsung berubah, yang tadinya tertawa kini menjadi sedikit kaku. "Nggak usah cepat-cepatlah jawabnya. Dipikirin aja dulu, frontal banget lo jadi orang!" cibir Bagus kembali ke sifat seperti semula.


Yah walaupun Agnes merasa ada yang sedikit mengganjal.


Ketiga orang itu lantas langsung bercanda lagi. Agnes, Syarifa, dan Bagus memang terbilang cukup dekat di banding siswa dan siswi yang lainnya. Ketiga remaja itu sering sekali menghabiskan waktu bersama.


Agnes membuka WhatsApp nya untuk memberi pesan pada Iqbal. Tiba-tiba saja dirinya rindu dengan cowok itu. Padahal kemarin Agnes baru saja menonton Iqbal latihan silat di lapangan.


^^^Agnes^^^


^^^Bal, lo di mana?^^^


Tak lama kemudian, Agnes langsung mendapat jawaban dari cowok yang dicintainya itu.


Iqbal


Di luar kelas. Ada apa emangnya?


Agnes langsung berlari keluar kelas. Syarifa sama sekali tidak terkejut akan sifat Agnes yang seperti itu, karena ia sudah tahu kedekatan antara Iqbal dan sahabatnya Agnes yang dimulai sejak acara kemah penyambutan kelas X. Lebih tepatnya saat Iqbal iseng membekap kepala Agnes dengan sarung Iqbal, padahal saat itu mereka belum saling kenal, dan hanya tahu namanya saja. Itupun karena Iqbal adalah ketua dari kelompok sembilan saat itu.


Sedangkan Bagus? Cowok itu tentu saja sedikit heran dan juga penasaran, karena dirinya tidak pernah melihat Agnes tersenyum selebar itu. Yang Bagus sering lihat itu Agnes tersenyum tanpa memperlihatkan deretan gigi-giginya, itupun jarang dan hanya sebentar.


***


"Woi!" teriak Agnes sembari mendongak saat ia melihat Iqbal bersama dengan satu teman laki-lakinya yang berdiri di depan pembatas kelas.


Iqbal menundukkan kepala mendapati Agnes yang tengak melambai ke arahnya. "Eh, hai!"


Karena mereka berdua terlalu malas untuk sekedar bertemu, jadilah keduanya hanya bisa mengobrol lewat pesan suara atau ketikan yang tersusun menjadi sebuah kalimat. Selain itu juga karena Agnes dan Iqbal tidak pernah berduaan di sekolah, mereka akan saling bertemu setelah sekolah dibubarkan.


***


Entah ini perasaan Ava saja atau karena dirinya yang terlalu bermimpi, Maudi menjadi sedikit ramah kepadanya. Yang awalnya kalau bertemu atau berpapasan suka melirik-lirik sinis, kini cuma melirik datar saja, yang awalnya suka ngata-ngatain kalau ketemu kini hanya diam saja, dan yang awalnya suka ngajak ribut kini menjadi ribut mulut tanpa fisik.


Ava berharap, bahwa sikap Maudi menjadi semakin baik kedepannya. Kejadian kemarin membuktikan bahwa Maudi masih punya hati dan tidak jahat-jahat amat gitu. Selain itu juga Ava tidak berani lagi berbuat jahil, karena Maudi, 'kan, sudah membantunya.


Sekarang hanya tinggal satu orang yang belum berubah, yaitu sikap capernya Games. Lama-kelamaan jika sifat Games yang seperti bisa membuat Ava semakin risih tidak karuan.


Ava sebenarnya ingin menceritakan semuanya pada Safira dan Alan soal kejadian kemarin. Dirinya mulai sadar bahwa itu bukan lah nomor salah kirim, tapi itu adalah sebuah teror seseorang yang tak suka kepadanya. Mana mungkin ada salah kirim sampai beberapa kali. Benar, bukan?


Tumben sekali Dino dan Revan bermain bersama dan sangat akur di pojokan. Tidak lagi mengganggu ketentraman Safira dan Ava, karena keduanya tengah bertanding game. Terlihat sangat seru dan menggemaskan, sedangkan Safira kini memainkan game di aplikasi online shop.

__ADS_1


Tapi juga Ava penasaran apakah Games masih menatapnya atau tidak, jadilah gadis itu sering melirik ke arah Games untuk memastikan itu semua.


Sama yang dilakukan Ava sebelumnya, dirinya tengah berniat menatap Games yang kini tengah berkumpul dengan gerombolannya di depan bagian pojok kiri, cowok itu tengah memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian, entah merasa atau tidak, Games tiba-tiba saja langsung menatap Ava, jadilah gadis itu tercyduk menatap ke arahnya.


Buru-buru Ava langsung memakai earphone, kemudian memutar lagu acak sesuai yang tersimpan di playlist.


Tiba-tiba saja ada pesan masuk dari WhatsApp, dan setelah Ava lihat ternyata itu pesan yang sama dari si nomor tidak dikenal.


+62 8966 ×××× ××××


Nggak usah dipikirin. Slow aja, permainan pasti nanti akan kumainkan.


Jantung gadis itu bergemuruh dan berdetak lebih cepat. Bahkan, lebih cepat daripada menahan malu saat bersama Alan. Ada rasa takut yang ia rasakan. Ia takut karena tidak tahu siapa orang dan sang pemilik nomor. Selain itu Ava juga takut kalau orang itu bisa jadi ada di sekitar atau mengenalnya, karena terlihat dari pesan yang dikirim.


Dan, bagaimana orang itu bisa tahu kalau Ava tengah memikirkan hal itu? Sebenarnya gadis itu memikirkan beberapa nama orang yang mungkin dirasa membencinya. Ava mengamati sekitar kelasnya, dan melihat siapa yang saat itu tengah memainkan ponsel.


Maudi, Lia, Dino, Revan, Safira, dan ... batin Ava setelah mengamati satu-persatu, Games.


Saat Ava menatap Games, tiba-tiba saja cowok menatapnya sambil tersenyum smirk.


Deg


Jantung gadis itu serasa ingin copot dari tempatnya. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan juga punggung. Sekujur tubuh Ava rasanya gemetaran, nafasnya naik turun.


Senyum itu ...


Ava pikir senyum itu sangat mengerikan, layaknya psikopat saja. Buru-buru ia menghadap lurus ke depan lagi.


Apa dia? Ava mengerjabkan matanya beberapa kali.


Bola mata gadis itu tidak berhenti bergerak, terus berkeliaran ke segala arah. Ava mengulum bibirnya yang tiba-tiba saja kering.


Safira menoleh ke arah Ava saat melihat gadis itu seperti ketakutan. "Ava, lo kenapa?"


"Beneran nggak papa? Wajah lo kayak ketakutan gitu, sih?"


Ava mengangguk cepat, tidak mau membuat sahabat kesayangannya ini khawatir. "Iya, nggak papa kok."


Safira kembali fokus menatap benda pipih yang ia pegang. Lebih tepatnya ke arah soft case baru yang dipasangnya tadi pagi, campuran dari warna biru dan ungu.


Safira menatap layar ponselnya kemudian beralih ke Ava lagi. Dasar, gumamnya dalam hati sambil tersenyum samar.


Ava mengurungkan niat untuk bercerita, karena takut jika ia bercerita sahabat dan teman-temannya nanti malah terjadi apa-apa. Selain itu juga Ava tidak mau menyusahkan orang lain. Walaupun takut, tapi ia harus melawan rasa takutnya.


Alan dan Justin lewat di depan kelas X Ips 4 karena bel sudah berbunyi, diiringi Natalie yang ada di belakang mereka.


Natalie berhenti di depan jendela Ava yang membuat sang empu terkejut bukan main.


Natalie berucap, "Terima kasih." Tanpa suara sambil tersenyum, kemudian melambaikan tangannya setelah itu pergi. Ava tahu apa yang di maksud Natalie barusan, tapi sepertinya Ava melihat sesuatu yang menempel di ponsel Natalie tadi saat melambaikan tangan kanannya.


Itu terlihat seperti ...


Sticker kupu-kupu berwarna ungu dan biru.


***


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Lagi dan lagi Safira sudah dijemput supirnya, Ana dan Agnes sudah pulang duluan. Hanya tinggal Ava seorang di koridor kelas X ini, menunggu Alan kembali menghampirinya. Katanya tadi Alan ada urusan dan menyuruh Ava menunggu di koridor sebentar.


Tadi pagi cowok itu menjemput Ava lagi, jadilah gadis itu pergi dan pulang bersama Alan.


Jujur saja Ava merasa takut, bahkan sangat takut, mengingat ada pesan teror tadi pagi yang dikirim khusus di tujukan untuknya.


Mulai saat ini dan seterusnya, gadis itu akan mulai berhati-hati, mengamati sekitar, dan mawas diri.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba saja ia merasa merinding di sekujur tubuhnya. Ava merasa ada yang mengawasinya dari jauh, jantungnya lagi dan lagi berdegup kencang tidak karuan.


Ava menengok kanan dan kiri, siapa tahu memang benar ada yang mengawasi bukan hanya perasaannya saja.


Ponsel gadis itu mati karena baterainya habis.


"Kenapa Alan nggak datang-datang, sih?" gumamnya mulai ketakutan setengah mati.


"Kok hidup gue sekarang nggak kisah romantis SMA lagi, sih? Malah kayak jadi horror? Apa, emak gue bosen, ya, nulis ke uwu-an mulu?" Ava memegang leher sekaligus mengusap keringat yang mulai membasahi dahi, leher, dan juga punggungnya.


Tanpa pikir panjang lagi gadis mungil itu langsung meninggalkan koridor. Tega sekali Alan meninggalkan Ava sendirian dengan rasa takut.


Dengan langkah kaki yang lebar serta cepat Ava melewati kelas perkelas, anak tangga satu persatu sampai akhirnya keluar dari bangunan tersebut. Tapi  tentu tidak sampai di situ, karena Ava merasa di belakangnya masih ada sosok hitam yang mengikuti.


Ava tentu tidak berani menoleh, gadis itu masih berjalan cepat setengah berlari, sesekali menutup matanya, ia hanya ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin, sampai akhirnya ada tangan yang menempel di bahunya.


"Aaaaaaaaaa!!" teriak gadis itu menepis tangan tersebut dari bahunya kemudian berniat menghindari orang itu dengan cara berlari.


Merasa sangat sadar kalau gadis di depannya ini ketakutan, orang itu lantas mendekapnya dengan sangat erat sampai detak jantungnya bisa terdengar oleh orang yang ia peluk itu.


Ava mendongak kemudian menatap orang itu. Dirinya bisa bernafas lega sekarang karena tadi yang menyentuh bahunya adalah Alan yang memakai hoodie warna hitam. Gadis itu lantas membalas pelukan cowok itu, tapi degup jantungnya masih tidak karuan.


Ava melepas pelukan Alan kemudian menatapnya dengan sengit. "Lo ke mana aja, sih? Gue nungguin lo lama tahu nggak!"


"Maaf, ya ... tadi gue nyariin justin di parkiran udah pulang apa belum," jawab cowok itu sangat lembut.


Ava mengusap dahinya karena berkeringat.


Alan menatap sang gadis yang terlihat khawatir. Pasalnya, saat Alan memeluk Ava tadi, seragam bagian belakang gadis itu sedikit basah. "Lo kenapa, kok ketakutan, gitu?"


Ava tidak mungkin menceritakan kalau dirinya merasa ada yang mengawasi dan mendapat pesan teror, karena pasti Alan akan sangat khawatir dengan hal itu.


Gadis itu menggeleng pelan, menatap Alan dengan matanya yang sayu. "Nggak papa kok. Udah, ayo antar gue pulang aja. Gue capek dan mau istirahat."


Tanpa mau membebani Ava dengan pertanyaan yang masih ingin Alan tanyakan. Mungkin, lebih baik menuruti apa ucapan gadisnya, lagi pula jika cowok itu menolak maka malah akan memperburuk mood Ava.


Keduanya sama-sama menuju parkiran. Ava tidak mau menggandeng tangan Alan karena masih kesal dengannya. Alan pun juga sebaliknya, tidak mau menggandeng tangan Ava, karena Alan juga tahu waktunya tidak tepat untuk memperlihatkan ke uwuan itu.


***


Di sisi lain, tepatnya di area gedung kelas X, ada dua gadis yang saat ini tengah bergembira dan saling bertos ria karena mereka berhasil membuat Ava takut setengah mati.


"Ini belum seberapa, lihat aja nanti," ujar gadis dengan rambut gelombang.


"Kuy cabut!" ajak gadis yang rambutnya dicurly.


Ke dua gadis remaja itu langsung buru-buru pergi dari sana, karena takut jika ada yang melihat mereka. Keduanya cukup pintar karena mereka memilih tempat yang tidak terjangkau oleh cctv sekolah. Karena dengan begitu, tidak ada yang tahu dan tidak ada yang curiga atas rencana dan gerak-gerik mereka.


Setelah ini pasti akan lebih seru, dan sangat menyenangkan karena gadis itu sudah masuk ke dalam permainan dan jebakan. Tentu saja, permainan ini tidak akan selesai dengan sangat mudah begitu saja.


...***...


...Ayo tebak! Kira-kira siapa dalang dari semua ini?...


...Part kali ini juga lebih banyak deskripsi daripada dialognya. Tapi nggak papa kok, tenang aja, part selanjutnya akan lebih seru lagi....


...Gimana? Udah bisa bikin dugun-dugun nggak? Kali ini ke uwu-annya dikurangin dulu yah. Kita senam jantung dulu biar makin sehat....


...***...


...Ditulis tanggal 28 Agustus 2020...


...Dipublish tanggal 06 April 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2