
...Dua hari yang lalu Aku beli parfum yang biasanya Aku beli, tapi kali ini Aku belinya yang varian Cotton Dream yang katanya bau itu manis gulali karena Aku, 'kan, emang suka bau parfum yang manis. Pas Aku nyoba semprot Bapak Aku bilang kalau itu wanginya kayak aki-aki gitu, terus pas Aku ciumi lagi ternyata emang kayak rada gitu sih. Gajelas banget....
...Terus kemarin Aku langsung beli lagi yang varian Green Mirage, dan untungnya baunya enak, seger, bau apelnya juga kecium....
...Rekomendasiin Aku parfum yang baunya manis gitu dong!...
...***...
...
...
09:20
"Lo kalau tuh jalan liat-liat dong!" teriak Ava saat jus mangga milik Maudi tertumpah ke seragamnya.
"Ya ... 'kan gue nggak sengaja," jawab Maudi halus yang dibuat-buat, sedikitpun tak ada raut wajah bersalah di sana.
"Jujur aja! Lo emang sengaja ngelakuin itu ke, gue!" tukas Ava menatap Maudi penuh amarah, tapi gadis di hadapannya ini malah menyeringai.
Maudi maju satu langkah mendekati Ava. "Emang. Lihat seluruh kantin." Ava lantas menatap seluruh penjuru dan sudut kantin, semua siswa menatapnya aneh. "Sekarang di mata mereka, udah nggak ada Ava yang ramah lagi."
"Mau lo apa sih sebenarnya? Kok lo jadi berubah jahat lagi?" Kali ini Ava berbicara agak pelan, ia hanya takut ada orang yang terganggu atau mendengar apa yang ia ucapkan.
"Gue mau main sama lo. Lo harus tahu kalau gue nggak pernah berubah sedikitpun, dan gue cuma menunggu. Menunggu sang pangeran pergi, nggak ada yang bisa jagain lo sekarang." Setelah mengatakan itu Maudi langsung meninggalkan Ava yang berdiri sendirian di tengah kantin.
***
Gadis itu pergi menuju toilet untuk membersihkan sisa-sisa kotoran jus mangga di seragamnya. Niat ingin membelikan Alan makanan malah gagal karena nenek lampir itu.
Bruk
Ava lantas mendongak karena ia tidak sengaja menabrak seseorang karena saking sibuknya membersihkan seragam. "Maaf, Kak! Gue nggak sengaja."
"Iya, nggak papa kok." Menatap bagian dada Ava. "Seragam lo kenapa?"
(Bukan karena mesum loh ya, tapi karena basah)
Ava menatap seragamnya sekilas lalu menatap Aras. "Aah ohh, ini tadi nggak sengaja ketumpahan jus."
Satu tangan Aras yang tadinya dimasukkan ke dalam saku mengambil sesuatu di saku celana. "Nih, buat ngelap seragam lo supaya nggak terlalu basah." Aras menyodorkan sapu tangan kecil dengan motif kotak-kotak.
...
...
Beberapa detik gadis itu merasa sangat ragu untuk menerimanya, ia masih sangat tidak enak dan ada rasa canggung, tapi saat Aras menyodorkannya lagi mau tak mau Ava mengambilnya.
"Gue dengar, lo udah putus, ya, sama, Alan?"
Bukannya menjawab Ava malah menundukkan kepala, lidah gadis itu rasanya kelu untuk menjawab, dan saat ini ia yakin bahwa dalam hati Aras akan menertawakannya.
"Nggak papa kalau lo nggak mau jawab." Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana lagi, lalu pergi dari sana meninggalkan Ava yang tertunduk di depan kamar mandi.
"Kak Aras!" panggil Ava.
Yang dipanggil menoleh dengan santai.
"Makasih, Kak!"
Aras tersenyum sambil mengangguk. "Gue yang akan gantiin posisi Alan, Ava. Tapi dari jauh, karena gue bakal kasih lo waktu untuk melupakan dan gue bakal selalu nunggu." Kali ini Aras benar-benar pergi dari sana.
Apa sih istimewanya Ava sampai Aras yang gantengnya di atas rata-rata bisa susah move on dan mau menuggu Ava? Padahalkan kalau Aras mau ia bisa mendapat yang lebih baik dari Ava, hanya tinggal pilih pula. Dan, apa yang sudah Ava lakukan sampai membuat Aras berubah tiga ratus enam puluh derajat derajat dari sebelumnya?
__ADS_1
Semua itu tentu pasti akan terjawab pada waktu dan suasana yang tepat. Sebagai pembaca, pendengar, dan penikmat kalian hanya tinggal menunggu.
Sedangkan Ava, ia sibuk menatap sapu tangan yang baru saja Aras berikan untuknya, gadis itu tersenyum sekilas lalu masuk ke dalam kamar mandi.
***
Kemarin malam Ava sudah bercerita pada teman-temannya lewat grup bernama 'Bobrok', yang mereka buat tanpa ada Alan, kalau Ava akan memperjuangkan cowok itu dan sebelum benar-benar lelah dan bosan, gadis itu tidak akan pernah menyerah.
Sebenarnya Safira tidak setuju akan hal itu, ia hanya takut Ava akan sakit hati dua kali, tapi karena sang gadis memaksa dan meyakinkan gadis itu, akhirnya Safira setuju walau setengah hati. Selain itu juga Safira tahu kalau Ava itu orangnya keras kepala, tidak pantang menyerah, dan kalau sudah sayang sama orang itu akan sayang banget. Bahkan, akan sangat susah move on- nya.
Kalian percaya itu? Mau tidak mau walau kalian semua tidak percaya, sebuah fakta pasti akan memperlihatkan dunia yang sebenarnya.
Gadis itu berjalan dengan sangat gembira dan riang, ia yakin bahwa peta yang ia buatkan untuk Alan akan diterima cowok itu dengan senang hati. Ava berharap kali ini nasib petanya tidak sama seperti nasib nasi gorengnya kemarin.
Tanpa rasa ragu Ava mendekati Alan yang tengah bermain game bersama Justin, tapi ada Natalie juga di depan Alan, hal itu tentu tak akan membuat Ava mengurungkan niatnya. Karena tadi malam setelah mengerjakan tugas Matematika dan Bahasa Ingris, Ava lembur sampai jam dua belas malam hanya untuk membuat peta.
Natalie menatap Ava tidak suka, begitupun sebaliknya, Ava juga menatap Natalie tak kalah sengit.
"Ada apa, Ava?" Saat Ava sampai di sana, Justin langsung melotarkan pertanyaan. Alan masih tidak menoleh, cowok itu masih fokus dengan benda pipih di genggamannya.
Ava memberi kode pada Justin dengan arah mata Ava yang diarahkan ke Alan.
"Alan nya lagi sibuk tuh nggak bisa digangu!" sahut Natalie tanpa sadar berusaha mengusir Ava dari sana.
Menyerah begitu saja? Tentu tidak, karena itu bukanlah sifat Ava.
"Lo mendingan diam deh!" tegas Justin membela Ava, Natalie mendesis pelan. "Alan itu dipangil Ava." Justin menyenggol siku Alan.
Yang disenggol menoleh. "Apaan, sih?"
"Alan." Ava menyodorkan kertas manila yang sudah digulung panjang, di tengah ada karet gelang agar gulungannya tidak terlepas. "Ini gue buatin untuk lo, karena kata Justin, lo nggak bisa buat."
"Caper banget jadi orang!" celetuk Natalie, gadis itu kembali mendesis saat Justin melemparkan tatapan tajamnya. Ia tentu tidak bisa melawan Justin dengan mudah karena status cowok itu adalah sahabat Alan, belum lagi Justin memihak pada Ava.
"Taruh aja di meja," balas Alan yang tentu saja dengan nada dan wajah datar.
Ava langsung meletakkannya di meja Alan, lalu memeletkan lidahnya pada Natalie yang iri melihat itu.
"Senang banget kayaknya, Va?" ejek Agnes yang duduk di tempatnya ditemani Syarifa dan Bagus yang juga tersenyum ke arahnya.
Ava mengedipkan sebelah mata. "Yoi dong!" Pergi keluar kelas sambil menari-nari tidak jelas.
***
"Gimana? Gimana?" Safira pura-pura penasaran supaya Ava senang dan semangat melakukan misinya saat ini.
Gadis cantik nan galak itu memberikan senyum dan satu jari jempol. "Sukses dong."
***
"Coba mana liat hp, lo?" pinta Bagus pada Agnes yang sedari tadi senyum-senyum sendiri. Bagus sedikit curiga akan hal itu.
"Nggak ah mau ngapain? Gangu aja lo lagi baca cerita," jawab Agnes acuh tak acuh dengan Bagus yang sedikit kesal.
"Udah sih siniin aja! Lo takut karena ada apa-apanya, 'kan? Atau lo chat- an sama cowok lain?" tukas bagus. Hal itu tentu membuat Agnes tersinggung.
Gadis itu berdiri sambil menatap Bagus sengit. "Apaan sih lo? Kok malah nuduh? Nih liat pake mata!" Agnes memperlihatkan hp nya tepat di depan mata Bagus karena saking geramnya.
"Puas?!" Setelah itu pergi keluar kelas menyusul Safira dan Ava yang mengobrol santai di depan pembatas kelas.
"Kenapa lo? Datang-datang langsung bete gitu?" tanya Safira
"Itu, si Bagus nuduh gue selingkuh, padahalkan enggak. Dia juga tahu pasrword hp gue dan dia juga ngebatesin gue buat chat atau dekat sama cowok lain. Gue lakuin dan gue turutin, tapi dianya malah gitu! Nggak tahu gue jalan pikiran dia?!"
"Ya udah, mungkin dia takut lo beneran selingkuh," tutur Safira menjawab jawaban paling aman dan netral. "Kan, lo juga masih belum bilang sama Iqbal soal ko yang jadian sama, Bagus."
Agnes mengangguk pasrah, ia tidak tega jika mengatakan itu ke Iqbal, selain itu juga Agnes takut kalau Iqbal membencinya. Tapi, bukankah lebih baik jika tahu dari mulut Agnes sendiri daripada tahu dari orang lain?
__ADS_1
"Apa lo liat-liat?! Belum pernah kesawet handuk tukang becak kayaknya?!" ejek Ava tidak santai sambil melotot saat Maudi dkk datang akan masuk ke dalam kelas.
"Cih! dasar cewek galak!" cibir Maudi kemudian masuk ke kelas bersama teman-temannya.
Dari kelas X Ips 3 Ava bisa melihat dari arah pintu ada Natalie yang menggandeng lengan Alan. Selalu saja seperti itu. Apa Alan tidak jijik dan risih?
"Naega neoege jeojuleul geol ttae naleul bwa." Ava memicingkan matanya tidak suka ke arah Natalie. "Neoleul jug-il teni ij-ji ma."
Sedangkan yang ditatap pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar nyanyian Ava.
Agnes menoel lengan Ava. "Itu bukannya lagu yang dinyanyiin Eun Bong Hee?"
"Emang iya," jawab Ava dengan sangat enteng.
"Artinya, apa?" Safira ikut penasaran.
"Lihat aku, aku akan mengutukmu. Jangan lupa aku akan melenyapkanmu."
Yang pernah nonton dramanya dan memperhatikan pasti tahu nada dari lagu tersebut.
***
15:15
Ava menunggu Alan di luar kelas cowok itu, berniat akan mengajak jalan dan makan bersama. Semoga saja Alan mau dan ada waktu untuk itu.
Ava cukup yakin dan percaya diri dengan apa yang ia lakukan mulai sekarang, karena diingat tadi pagi Alan mau menerima apa yang ia berikan.
"Alan!" panggil Ava semangat saat Alan keluar, tidak lupa pula ada Natalie yang mengekor di belakang. "Jalan bareng yuk! Gue yang teraktir deh!"
"Nggak."
Jawaban ketus nan dingin dari Alan tak akan membuat Ava patah semangat, justru ia akan berusaha lebih keras lagi untuk itu.
"Nggak usah deh ngedeketin Alan lagi!" Setelah mengatakan itu Natalie mengajak Alan kembali berjalan.
"Alan, jalan yuk! Gue pengen makan berdua sama lo." Natalie berbicara lebih keras supaya Ava mendengar.
Alan mengangguk. "Iya."
"Semoga aja kepeleset, jatoh guling-guling terus mati dan nggak bisa hidup lagi," celetuk Safira asal dengan sengaja saat Alan dan Natalie lewat. "Apa? Merasa itu buat lo? Bagus deh kalau lo dan kalian berdua sadar," lanjut Safira saat mendengar Natalie mendesis pelan.
Ava yang mendengar itu cukup merasa sesak dan ada sesuatu yang menjanggal di dadanya. Gadis itu menghembuskan nafas kasar.
"Gue yang ngajak Alan nya nggak mau, tapi kalau giliran yang ngajak Natalie langsung mau."
Ava melipat tangan di depan dada. "Maunya apa sih lo, Lan? Minta dikejar? Maaf, tapi gue lagi pakai sandal jepit, gampang putus."
Saat Ava akan menyusul Safira yang sudah melambai di samping anak tangga, lebih tepatnya di depan kelas X Bahasa, arah pandangan Ava mengarah ke arah tempat sampah yang ada di depan lorong kelas X Ips 3, mata gadis itu langsung berkaca-kaca, dadanya kembali terasa semakin sesak.
Gadis itu mendekati tempat sampah tersebut kemudian mengambil kertas berwarna putih yang sudah hampir berbentuk bulat. Tentu kalian bisa menebaknya dengan mudah. Iya, itu kertas manila dengan gambar peta yang Ava buat sampai malam hanya untuk Alan, dan cowok itu membuangnya dengan sangat gampang.
Ava menoleh karena ada yang menepuk bahunya. "Maafin gue, Va," kata orang itu dengan nada lirih.
Ava menyeka air mata yang bersiap mengalir membasahi pipi. "Nggak papa kok, Justin. Itu ... bukan salah lo atau salah siapa pun. Tentu gue nggak akan nyerah hanya karena ini." Ava berbicara seperti hal itu adalah hal biasa yang sudah biasa ia terima sejak lama. Padahalkan dalam hati rasanya sangat sakit dan sesak.
Dari jauh Safira mengamati, ia langsung paham saat Ava memegang kertas tersebut. Sebenarnya Safira ingin memberi pelajaran pada Alan yang tidak tahu cara menghargai orang, tapi hal itu tentu ia urungkan karena jika Ava tahu gadis itu akan marah. Belum lagi Alan nantinya akan semakin jauh dan membenci Ava.
"Kalian nggak perlu marah, kesal, atau dendam sama Alan akan apa yang dia lakuin ke gue nantinya. Gue cuma perlu dukungan dan bantuan dari kalian semua."
Kata-kata Ava tadi malam saat di grup terngiang-ngiang dengan jelas di pikiran Safira, bahkan di pikiran teman-teman yang lainnya juga.
...***...
...Ditulis tanggal 30 Oktober 2020...
...Dipublish tanggal 01 Mei 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....