Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 105 ~ Masih Berjalan


__ADS_3

...Assalamualaikum! Selamat pagi semua! Buat yang masih sekolah, kerja, kuliah, dan yang hanya rebahan aja semangat, ya, untuk awal bulan ini! Semoga kedepannya makin berkah dan lebih baik!...


...***...


...



...


Beberapa hari setelahnya tepat pada malam hari di depan gerbang rumah Ava sendiri, saat Adrean ingin mengajaknya jalan-jalan gadis itu langsung memutuskan hubungan secara sepihak dengan cowok alay tersebut. Tentu, tanpa menoleh ke belakang dan langsung masuk ke dalam rumah, membiarkan Adrean berteriak dan merengek layaknya bayi memanggil-manggil nama Ava.


Padahalkan Adrean sudah sangat tampil dengan maksimal karena nantinya akan dipamerkan dengan teman sekelasnya kalau ia berhasil menaklukan sang gadis dan untuk pertama kalinya ia juga berkencan dengan Ava. Sayangnya, harapan itu kini kandas seketika.


Dengan alasan bahwa Adrean adalah cowok yang alay, masih sangat kecil saat umurnya baru menginjak 14 tahun, terlalu agresif, serta sering telat dalam melakukan sesuatu. Alasan yang cukup banyak dan terbilang rasional, bukan? Dengan begitu, Ava bisa mencari mangsa lagi tanpa bayang-bayang Adrean.


Tidak berhenti begitu saja, Ava masih ada belasan list lagi yang belum ia cicipi sama sekali. Setiap beberapa mingu ia akan berganti pasangan sesuai dengan urutan listnya tanpa memperdulikan komentar negatif dari masyarakat sekitar, bahkan dari teman dan sahabatnya sendiri.


Perlu diingat jika Ava mengatakan kata, "putus" diakhir kalimat ia akan mengatakan, "Tenang, kalau jodoh pasti kita akan ketemu lagi dalam cara apa pun dan kapan pun", jtulah yang ia katakan, dengan begitu Ava tak lagi memikirkan bayang-bayang mantannya dari berbagai usia. Semua kelemahan laki-laki itu yang akan Ava buat sebagai alasan ini dan itu hubungannya putus tanpa sequel.


Ava egois? Iya, saat ini ia tega untuk egois hanya demi dirinya sendiri.


Ava jahat? Iya, saat ini ia sangat jahat ketika hanya memanfaatkan kelemahan orang lain.


Ava keras kepala? Iya, saat ini ia sama sekali tidak mau mendengarkan atau didengarkan oleh orang lain termasuk sahabat dan temannya sendiri.


Ya seperti itulah Ava saat ini, dengan julukan baru sebagai "Male Conqueror" semakin membuat namanya bersinar terang dan kariernya dibidang musik semakin lancar. Gadis itu sekarang bisa di bilang menjadi penyanyi yang diundang di berbagai acara baik formal maupun nonformal, acara kecil maupun acara besar. Semuanya ia ambil sesuai dengan julukan pertama yang disematkan di diri gadis itu. Masih ingat kah kalian?


Iya, Lucky Girl.


Semua teman dan sahabat Ava terutama Safira sudah angkat tangan dengan hal itu, seolah olah apa yang Ava lakukan saat ini bukanlah hal yang mengejutkan dan tabu untuk dilihat dan didengar masyarakat sekitar. Masih dengan pertanyaan yang sama tapi juga tetap dengan jawaban yang sama pula.


Bagusnya yang semakin bisa melancarkan misinya itu saat para pria tahu kalau Ava adalah gadis yang suka cepat bosan, mereka semua bukan mundur tapi malah semakin gencar untuk mendapatkan gadis itu. Bagaimana dengan Alan? Ah kalian tentu tahu bagaimana sifatnya, cowo itu seakan akan menghilang layaknya hantu saat ditanya segala sesuatu tentang Ava. Kalau pun ia ada, Alan akan diam tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Udah ah! Kita putus aja! Gue capek sama lo yang malu-malu gitu. Gue maunya dijagain, bukan ngejagain!" tekan Ava pada kakak kelasnya yang bernama Renaldi tepat di kelas XI Ips 4. Sudah sedari tadi gadis itu beragumen dengan Renaldi tanpa memperdulikan lalu lalang para siswa yang menatap mereka.


Safira hanya menonton dan mendengar dari dalam kelas bersama teman-teman yang lainnya. Ada Ana, Agnes, dan Syarifa juga yang mampir. Respon mereka? Hanya menonton dan sesekali menghela nafas pasrah. Itu saja? Iya, hanya itu.


"Tapi, gue masih sayang sama lo, Ava!"


Sang gadis menarik kepala ke belakang seraya melipat tangan di depan dada. "Nah loh, itu lo ngebentak gue! Satu lagi, gue nggak suka cowok yang sukanya ngebentak."


"Bu-bukan gitu maksud gue-"


"Silahkan pergi! Kalau nggak mau pergi gue panggil pasukan lue loh. Gimana? Pilih yang mana?"


Sebelum pergi, cowok bermata sipit nan berkaca mata itu sempat memelototi Ava kemudian mendesah berat, sang gadis hanya menatap punggung Renaldi dari jauh. Sangat miris.


Ava masuk ke dalam kelas kemudian duduk di kursinya, ia mengambil note book berisi list mangsa-mangsanya. Gadis itu mencoret nama Renaldi Arviandi di urutan nomor tiga belas.


Revan dan Dino sama sekali todak perduli akan hal itu karena saat ini mereka tengah bermain game, justru mereka lah yang mendukung Ava untuk menjadi play girl sejati. Maklumlah, saat pembagian otak mereka keluyuran dan kebagian hanya secuil.


Safira mengintip ke samping. "Yang ke berapa?"


Ava menoleh. "Yang ke tiga belas. Kenapa?"


"Sampai kapan lo akan kayak gini?"


Ava kembali menyimpan note book itu ke dalam laci. "Nanti pasti selesai kok."


Ana dan Agnes sama-sama berdecak sebal. "Nyesel gue nulisin list cowok-cowok itu kalau pada akhirnya lo sakitin mereka."

__ADS_1


Ava sama sekali tidak menganggapi ucapan Ana serius, gadis itu malah tersenyum. "Gue nggak sakitin mereka, Ana. Gue memang gagal dan payah dalam hal percintaan, tapi gue tentu bisa bedain mana orang benar-benar sayang sama gue dan orang-orang yang hanya mau memanfaatkan ketenaran gue. Lagian, mereka juga akan kena getahnya saat publik mengenal mereka sebagai mantan gue. Saya tidak sebodoh itu. Benar, bukan?"


Jawaban singkat tapi selalu berhasil membuat semua temannya bungkam seketika.


"Seperti kak Aras yang tulus sayang sama lo?" tanya Agnes.


Ava diam sebentar. "Iya, seperti kak Aras."


Syarifa terkekeh. "Seorang kak Aras aja sampai sekarang masih lo gantungin karena ada bayang-bayang Alan, apalagi orang-orang itu."


"Yaa, pelan-pelan lah, Fa. Itu butuh proses, nggak langsung gitu aja."


Ava diam sejenak, ia jadi teringat dengan Aras yang masih digantung tanpa kepastian dan bertanya-tanya bagaimana Alan selama ini.


***


Ava saat ini ada di restaurant yang dulunya tempat ia mengerjai Sintia saat gadis itu dinner dengan Aras. Ia menunggu seseorang datang dan akan mengatakan apa niatnya.


Kring


Kring


Suara lonceng pintu berbunyi diiringi seseorang masuk ke dalam restaurant tersebut. Cowok blasteran Australia-Jawa dengan model rambut layaknya idol korea itu mendekati Ava kemudian duduk di depan gadis itu, namanya Clay Marino kelas XI Bahasa.


Clay duduk dengan gaya sok cool sambil melipat tangan di depan dada. "Gue mau putus."


Ava mendekatkan kursinya maju ke depan. "Oya?"


Clay langsung menyeringat saat Ava memasang wajah terkejut, Ia yakin bahwa setelah ini Ava akan mengemis sambil bersujud di hadapannya untuk mengejak balikan lagi, dan ia juga yakin kalau Ava tak akan bisa melupakan dirinya. "Kenapa? Lo nggak mau, ya, kita putus?"


Ava tertawa renyah sampai ada beberapa pengunjung menatap ke arahnya. "Hah? Gue ke sini malah mau ngajak lo putus tahu. Dan, sekarang kalau lo maunya juga gitu, ya, gue setuju sih."


Wajah Clay langsung berubah terkejut sekaligus cengo mendengar pernyataan gadis di depannya yang jauh dari ekspektasi Clay. Lebih parah dari ekspresi Ava tadi.


"Ngapain? Nggak penting juga. Lagian, gue bukan pengemis jadi nggak perlu minta-minta dan mohon-mohon gitu ke lo." Ava meminum jus alpukat di depannya.


Clay berdiri seraya mendorong kursinya dengan kasar. "Wah! benar-benar lo, ya!"


Saat itu juga para pengunjung serta pegawai langsung menatap ke arah Clay dan Ava.


"Lha? Kenapa Lo marah? Kan kita berdua, 'kan, sama-sama pengen putus."


Clay tambah tidak percaya dengan apa yang ia dengan saat Ava mengatakan hal itu sangat santai. "Harusnya, 'kan, lo ngemis ke gue! Dan, lo juga harusnya jadiin gue sebagai orang yang paling nggak bisa lo lupain!"


"Kenapa harus gitu? Dan, ngapain juga? Kalau udah, mendingan lo pergi aja! Gue masih harus ketemuan sama cowok gue di sini."


"Dasar, *****!" umpat Clay kemudian pergi dari sana dengan keadaan masih sangat frustasi, ia tidak percaya akan apa yang dilakukan Ava padanya. Padahal, 'kan, sebelumnya Clay itu dikenal sebagai cowok yang tidak pernah ditolak dan tidak pernah dilupain sama mantan-mantannya. Tapi, kenapa saat dengan Ava berbeda?


***


Aras menatap sekaligus menoleh saat ada laki-laki blasteran yang melewatinya di depan reataurant sambil marah dan menggerutu tidak jelas. Ia sudah bisa menebak siapa orang tersebut jika dilihat cowok itu yang keluar dari dalam restaurant karena gadisnya juga ada di sini.


"Dasar gadis sialan!"


"Nyesel gue pernah pacaran sama lo! Harga diri gue di mana lagi?"


"Gue bakal balas lo!"


"Mau membalas? Nggak tahu aja dia milik siapa." gumam Aras terkekeh sampai akhir ya memutuskan masuk ke dalam restaurant.


***

__ADS_1


Aras duduk di tempat duduk Clay tadi, tanpa berlama-lama langsung mengangkat tangan ke atas kemudian memanggil pelayan di sana.


Pelayan itu menghampiri Aras. "Mau pesan apa, Mas?"


"Saya pesan nasi goreng dan jus jeruk." Karena ini masih pagi dan belum sarapan, jadi Aras tidak mau pesan yang aneh-aneh.


Pelanyan itu mengangguk. "Mohon ditunggu." Pergi dari sana.


"Itu tadi mangsa yang baru lo putusih yah? Marah-marah nggak jelas tadi gue denga."


Ava menggeleng cepat. "Dia yang mutusin gue tadi tapi dia yang malah marah-marah. Terus juga katanya gue disuruh ngemis balikan sama dia."


"Dan, lo mau?"


Ava menggeleng lagi. "Ya enggalah. Gue masih punya otak dan waras sampai mau mengemis ke dia."


"Semua mangsa lo kayak gitu saat lo putusin? Gue dengar, lo mutusin mereka dengan cara yang sedikit agak kejam tapi dengan alasannya yang juga rasional."


"Nggak semua marah. Ada yang ngerengek, ada yang pasrah, ada juga yang hampir mau mukul."


Aras langsung membelalak sempurna saat mendengar hal itu dari mulut sang gadis. "Siapa yang berani mukul lo? Biar gue kasih pelajaran! Nggak tahu aja dia bakal berurusan sama siapa!"


"Eh, jangan! Nggak usah sampai kayak gitu. Lagian, saat cowok itu mau mukul gue, ada salah satu anak buat lo yang langsung nyekal tangannya kuat-kuat."


Aras langsung mengelus dadanya lega. "Oh, syukur deh. Kirain lo jadi dipukul sama tu cowok."


Ava kembali meminum jus alpukatnya. "Enggak lah. Lo budek, 'kan, tadi gue juga udah bilang hampir."


Semakin beranjak dewasa, Ava semakin berani menentang dan meminta ini itu ke pada Aras. Bukan harta namun sebuah janji yang harus Aras tepati saat gadis itu membutuhkannya. Barang-barang yang Ava letakkan di dalam kardus kembali gadis itu pajang dan simpan. Kan, sayang kalau hanya dibiarkan usang penuh debu atau dibuang, karena itu belinya juga pakai uang.


Terkadang Ava memakainya dan hal itu membuat Aras tertawa saat cowok itu kembali mengingat sifatnya yang sangat kekanak-kanakan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Tidak apa-apa, toh itu dulu. Aras yang sekarang sangat jauh lebih baik, dan lebih pengertian pada sang gadis.


"Ya, 'kan, gue kaget. Udah selesai belum sih misinya?"


"Udah selelesai kok. Itu tadi mangsa terakhir yang ke delapan belas dengan usia gue yang juga sekarang udah delapan belas tahun. Tiga bulan lagi udah mau UN, jadi gue harus lebih fokus ke sana."


Aras mengangguk mengiyakan sebagai jawaban. Jika saat ini usia Ava delapan belas tahun, berarti usia Aras sekarang dua puluh satu tahun. Kedua umur orang itu hanya berjarak tiga tahun.


Tak bisa dipungkiri kalau dalam hati Aras ingin menjerit rasanya saat misi Ava sudah selesai. Ia tak sabar meresmikan hubungannya, tapi cowok itu juga harus bisa melihat kondisi dan kenyamanan Ava saat ini. Cukup lama menunggu gadis itu siap, dan Aras berharap kalau itu tak akan lama lagi.


"Ini Mas, pesanannya," ucap pelayan tadi sembari meletakkan makanan serta minuman yang Aras pesan di meja. "Silahkan dinikmati," kata pelayan tersebut sebelum pergi dari sana.


Aras yang melihat Ava bermain hp pun menyempatkan bertanya pada sang gadis. "Udah makan belum?"


Ava mendongak kemudian mengangguk. "Udah." Kembali fokus pada benda pipih di genggamannya.


"Udah berapa yang baca?" tanya Aras lagi setelah cowok itu berhasil memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


...***...


...Gimana tanggapan kalian tentang hubungan kedua orang itu?...


...Alan dan Maudi? Ah, tidak tahu....


...Buat yang nggak sesuai ekspektasi alur ceritanya saya mohon maaf, karena memang alurnya saya buat sesuai keinginan saya sendiri. Kalau ada yang mau stay, ya, alhamdulillah. Tapi kalau ada yang pergi, ya, nggak papa juga karena masing-masing manusia punya hak dan seleranya masing-masing....


...***...


...Ditulis tanggal 27 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 1 Juni 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2