Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 67 ~ Bukan Waktu Yang Tepat


__ADS_3

...



...


Alan terdiam di tempat, bibir cowok itu membisu dan lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Ava. Alan ingin menyudahi semua sandiwaranya selama ini.


Jujur, ia hanya penasaran dan tak ada rasa sama sekali pada Ava. Selain Alan tidak bisa bermain game dengan leluasa karena Ava yang terus bersikap manja, Alan juga tahu kalau Ava tidak suka anak gamers. Tentu Alan akan sangat dengan mudah melepas gadis itu tanpa beban apapun.


Cowok itu pasti akan memilih gamenya ketimbang Ava, karena sudah dengan susah payah berjuang dari nol agar Alan bisa masuk ke dalam komunitas profesional gamers se- Jakarta, itu sangat tidak mudah tentunya. Alan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Walaupun Ana, Safira, Agnes, Justin, dan Bagus tidak bisa mendengar dengan jelas tapi tentu mereka melihat Ava menangis sesegukan di tengah lapangan. Karena sudah sangat geram melihat Ava yang sedari tadi menangis, akhirnya mereka semua menyusul Ava.


Safira menepuk pundak Ava pelan, sehingga mau tak mau  membuat sang empu menoleh ke samping. Mereka semua berdiri di sisi kanan dan kiri Ava. Siap membantu dan menopang Ava kapan dan di manapun, itu gunanya memiliki sahabat dan teman.


Wajah Safira terlihat merah padam. Sorot matanya tidak lagi memancarkan aura persahabatan. "Dasar jabingan lo, ya, Lan!! Buat apa lo datang kalau cuma mau mainin dan nyakitin, Ava, doang?!"


Agnes berdecak lalu memutar bola matanya malas. "Awalnya gue pikir lo baik dan sungguh-sungguh sama Ava, tapi ternyata lo malah nyakitin dia. Nyesel banget gue pernah temenan dan kenal sama lo, Alan!"


"Lo bukan teman yang cukup baik ternyata!" tambah Bagus.


Sama halnya dengan Safira, Bagus, dan Agnes. Ana juga sudah tersulut emosi sedari tadi. "Lo harusnya tahu diri jadi orang. Ava rela ninggalin kak Aras yang perfect demi lo yang ngga ada apa-apa nya. Lo harusnya mulai sekarang belajar bersyukur dengan apa yang udah lo punya dan dapat!"


Justin menoel lengan Ana pelan lalu berbisik. "Lo semua pada udah ngomong. Gue harus ngomong apa sekarang?" Keadaan sangat tegang begini Justin malah sempat-sempat nya melawak.


Ada apa sebenarnya dengan cowok ini?


Ana mendekatkan bibirnya ke telinga Justin. "Nggak usah ngomong, nanti Alan jadi marah sama lo." Justin mengangguk pelan lalu memberikan jari jempolnya.


Tangan Alan mengepal dengan sangat kuat, rahangnya mengeras, dan otot tangan serta leher cowok itu juga terlihat. Cowok itu emosi, bahkan sangat emosi. Alan juga tidak suka jika ada orang yang ikut campur urusannya.


Alan sangat sadar bahwa orang yang bicara padanya itu seorang wanita dan mungkin Justin juga memihak mereka. Maka dari itu sebisa mungkin Alan menenangkan dirinya karena semarah dan sekesal apapun itu, ia pantang memukul seorang wanita.


"Kenapa?! Nggak bisa jawab?!" Suara Safira masih meninggi, sama seperti sebelumnya. Sepertinya dalam waktu dekat Safira akan terkena penyakit darah tinggi.


Alan menarik dan menghembuskan nafas pelan. Setelah dirasa sedikit tenang, cowok itu menoleh ke belakang. "Kalian terlalu banyak bicara. Ava, cinta nggak bisa jadi ajang untuk mencoba-coba. Karena dia datangnya dari hati, bisa di mana dan kapan aja." Alan berbalik kemudian berjalan santai meninggalkan mereka semua, termasuk Justin, sahabatnya sendiri.


Cowok itu sama sekali tidak mendengarkan sumpah serapah dan umpatan-umpatan yang dilontarkan Ana, Agnes, Bagus, dan Safira untuknya. Ia sama sekali tidak perduli dengan hal itu. Alan juga kecewa pada Justin karena tidak memihak dan membelanya, walaupun Alan tahu kalau dirinya jahat dan kejam sekarang.


Ava menyeka air matanya kemudian berbalik menatap semua teman-temannya. "Makasih kalian udah bantu dan belain gue, tapi gue mau sendiri dulu di sini. Kalian bisa pulang duluan." Tanpa meminta persetujuan semua temannya pun gadis itu langsung menjauh dari sana.


Safira berniat mengejar Ava untuk menemani gadis itu namun dicegah Agnes.


"Safira, Ava butuh waktu sendiri untuk nenangin hatinya. Kalau dia udah siap, sebagai sahabat barunya yang paling dia sayang, lo orang pertama yang bakal dia kasih tahu semuanya."


Mungkin apa yang dikatakan Agnes ada benarnya juga. Rasa sakit itu tidak akan dengan mudah sembuh, butuh waktu yang sangat lama agar bisa benar-benar sembuh.


***


Cuma satu tujuannya, yaitu taman belakang sekolah. Itu adalah tempat ternyaman dan tempat yang paling bisa menenangkan dirinya selain di kamar mandi kamarnya.

__ADS_1


Di sini, saat ini, dan di kursi ini, Ava meluapkan semua rasa-rasa yang ia rasakan waktu itu, kemarin, dan sekarang. Gadis itu menagis terisak sejadi-jadinya dengan keadaan menelungkupkan kepala di antara lutut sambil menutup kedua wajah dengan kedua tangan.


Gadis itu sangat butuh pelampiasan untuk meredam sedikit rasa sakit yang ia rasakan, jadi Ava mengambil botol-botol kaca yang ada di bawah pohon lalu melemparkan ke dinding sambil berteriak penuh penekanan. Ia tidak perduli akan pecahan beling yang berserakan di belakang sekolah, toh jika Ava dipanggil ia akan datang untuk membersihkan kekacauan yang ia buat sendiri.


"Aaaaaaarrrrrgggggghhhhhh!!" Melemparkan botol kaca terakhir yang ia pegang.


Setelah beberapa kali melakukannya Ava terduduk lemas di bawah pohon dengan posisi memeluk kedua lututnya. Penampilan Ava sekarang sangat berantakan, rok dan sepatunya kotor, seragam tidak rapi, serta rambut yang sudah acak-acakan tidak karuan.


"Kenapa lo jahat sama gue, Lan? Apa cuma itu alasan lo ninggalin, gue? Kemana janji yang selalu lo bilang selama ini ke, gue? Satu pun belum ada yang lo tepatin? Apa benar ini akhir dari semuanya?"


Ava mendongak ke atas seolah meminta doa dan penjelasan dari Yang Maha Kuasa. "Tuhan! Kenapa Kau jauhkan dia dariku? Apa salahku sehingga Kau berlaku seperti ini, Tuhan? Banyak yang bilang kalau Kau selalu adil antara umat yang itu dan umat yang lainnya! Tapi aku justru tidak mendapat keadilan ini dari- Mu, Tuhan!!"


Ava kembali menunduk dan menangis sesegukan, selain marah, hanya menangis yang bisa ia lakukan saat ini.


Tapi, tiba-tiba ada tangan yang mengelus lembut puncuk kepala Ava. Gadis itu mendongak dan mendapati seorang laki-laki yang tak ia sukai tersenyum tulus ke arahnya.


"Lo-nga-nga-pain-di-di si-ni?" tanya Ava terbata-bata karena menangis sesegukan.


"Gue tadi duduk di balik gazebo dan gue dengar semua apa yang lo omongin dari awal sampai akhir sama Alan," jawab Games masih dengan nada lembut yang tidak dibuat-buat. Cowok itu sepertinya mengerti kondisi dan rasa sakit yang gadis itu rasakan saat ini.


For you information kalau kalian ingin tahu, di pinggir lapangan memang ada gazebo berukuran cukup besar yang mengarah ke arah timur.


Ava memalingkan wajah nya ke arah lain. "Kalau lo kesini hanya mau ngetawain gue, silahkan!"


Games tersenyum tulus, lalu duduk tepat di samping Ava. "Kalau lo mau nangis dan butuh penopang, lo bisa gunain bahu gue dan nangis sepuas yang lo mau." Menepuk bahu kirinya.


Beberapa detik Ava merasa ragu, tapi karena ia tidak bisa menahan tangisnya dan memang apa yang dikatakan Games benar, jadilah tanpa sadar Ava menyandarkan kepalanya ke bahu Games. Ada sedikit rasa tenang yang Ava rasakan, mungkin karena ada yang sedikit memberikan penopang untuknya kali ini saat Alan tidak ada di sisinya.


Sedangkan Games? Cowok itu tersenyum senang sekaligus sedih. Senangnya Ava perlahan-lahan sudah tidak membencinya, dan sedihnya ia tidak suka melihat Ava menangis karena cowok yang sama sekali tidak sayang dan mencintai Ava.


***


Karena tadi menangis terlalu banyak, air mata Ava kini sama sekali tidak bisa keluar. Karena keadaan seperti itu, tak sedikit para pengendara yang memperhatikan Ava heran dan mengira sedang bertengkar dengan pacarnya, siapa lagi yang mengira kalau bukan Games. Sedangkan Ava sendiri tidak perduli akan hal itu, karena saat ini ia hanya memikirkan bagaimana perasaannye ke depan.


Ava juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Di sisi lain ini adalah hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tapi di sisi lain hari ini juga hari di mana Alan meninggalkannya.


Menurut kalian bagaimana?


Ava turun dari motor Games sambil menenteng topinya. "Makasih yah." Gadis itu tetap berjalan lurus, masuk menuju rumah tanpa menatap ke arah Games.


Ava langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa memperdulikan panggilan dari sang Bunda yang tengah menonton tv. Saat ini Ava hanya ingin sendiri sambil meratapi nasibnya tanpa mau diganggu siapapun. Buru-buru Ava mengunci pintu, menutup gorden jendela, dan mematikan daya hp nya.


Ava merebahkan dirinya di atas bad kasur sambil memeluk boneka beruang besar dengan hoodie navy yang masih terpasang rapi. Ava lantas langsung melepas lalu membuang hoodie itu ke sembarang arah.


"Dasar Alan jabingan!" umpatnya sambik menangis, matanya sudah mulai memproduksi air mata lagi.


Sampai saat ini pun ia masih tidak percaya kalau Alan memutuskannya, padahalkan mereka baru saja berpacaran beberapa hari yang lalu, tapi kini Ava malah yang jadi korban akan permainan dan rasa penasaran Alan. Cowok itu memang tidak tahu diri dan sangat biadab! Canda, nggak sampai kayak gitu kok, awokawokawok.


"Nggak tahu kenapa rasa nggak suka gue berubah jadi benci ke lo, Games!"


Tentu apa yang Games pikirkan tadi justru berbanding terbalik dengan apa yang Ava rasakan, dan cowok itu akan sangat kecewa jika mendengar pengakuan dari Ava.

__ADS_1


Mungkin, karena lo datang di waktu yang tidak tepat. Lo datang sebagai pahlawan saat Alan ninggalin gue nangis sendirian sampai sesegukan, selain itu dari awal gue juga udah nggak suka sama kelakuan, lo, anjutnya dalam hati.


Tubuh Ava meluruh ke bawah, gadis itu memeluk lututnya seraya menenggelamkan wajahnya.


Gadis itu menatap ke arah lemari berwarna putih yang berdiri di antara rak koleksi novelnya dan lemari pakaiaan.


Harusnya, sejak awal gue nggak beli lemari itu dan buang barang-barang lo. Gue benci sama lo, Alan. Sangat teramat benci, karena lo udah tega mainin perasaan gue saat gue udah sungguh-sungguh sayang sama lo.


***


Sudah hampir delapan jam lamanya Ava mengurung diri tanpa keluar sekalipun dari kamar, tanpa makan siang pula.


Karena khawatir dengan anaknya, Millica akhirnya berniat membujuk Ava, karena kalau menyuruh Ana dan Agnes juga tidak akan mempan.


Tok


Tok


Tok


Setelah beberapa kali mengetuk pintu masih tak ada jawaban dari dalam, tapi Millica tahu kalau anaknya tidak sedang tidur. Ia paling tahu tentang Ava, jadi Millica tebak saat ini gadis itu pasti tengah menangis tanpa suara.


Sedangkan di dalam sana apa yang Millica tebak itu ternyata benar. Ava saat ini tengah menangis tanpa suara. Kamar gadis cantik itu seperti kapal pecah, barang-barangnya berserakan di mana-mana, ditambah dengan ratusan tisu yang membuat kesan mengerikan di kamar dominan warna biru itu.


"Ava, mama mau bicara sebentar sama kamu."


Mendengar suara Bunda nya dari luar, Ava langsung ragu untuk membukakan pintu, tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan Bunda nya itu. Dengan langkah gontai tanpa semangat akhirnya Ava membuka pintu dan menampakkan Millica yang tengah tersenyum ke arahnya.


Setelah keduanya masuk, Ana dan Agnes yang sedari tadi mengintip dari kamarnya masing-masing langsung berjongkok di depan pintu kamar Ava sambil mendekatkan daun telinga ke pintu, karena mereka berniat menguping.


Millica duduk di samping Ava yang duduk di atas bad kasur. Ia sama sekali tidak heran dengan kamar anaknya yang sangat berantakan. Dari dulu jika Ava merasa sakit hati, ia akan bersikap seperti ini, menangis tanpa suara, memberantakan kamarnya, dan mengunci diri di kamar, itulah pilihan gadis itu.


"Bunda kalau mau ngomong pelan-pelan aja di luar ada yang nguping." Gadis itu berbicara sedikit keras dan menekankan setiap kata.


Ava sudah tahu kebiasaan dan kelakuan kedua sahabatnya dari dulu, mereka akan sangat ingin tahu apa yang akan dibicarakan seseorang pada Ava jika keadaan gadis itu sedang tidak baik.


Sedangkan orang yang dimaksud Ava saat ini tengah mendengus kesal lalu kembali ke kamarnya masing-masing.


...***...


...Pendapat kalian tentang sahabat dan devinisi kalian tentang sahabat gimana, sih?...


...Aku nggak muluk-muluk kok, cukup mengerti dan pengertian tanpa harus dijelaskan lebih dulu....


...Sahabat itu nggak harus sama-sama dari kecil atau udah bertahun-tahun lamanya, karena waktu itu nggak menentukan hal tersebut. Percaya nggak percaya tapi itu benar, 'kan?...


...***...


...Ditulis tanggal 18 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 25 April 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2