Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 35 ~ Kancing Copot


__ADS_3

...



...


Ava mengangkat kepalannya. "Ish! Awas dong, Games!"


Saat mendengar suara langkah kaki dari dalam, gadis itu langsung berlari secepat kentut hilang. Aneh, seharusnyakan Games yang marah karena ditabraknya, tapi ini malah Ava yang marah.


Maudi dkk keluar dari kamar mandi dengan raut wajah merah padam. Tangannya terkepal kuat, tak sabar ingin memberi pelajaran pada gadis yang sudah membuat make upnya luntur.


"Mana tu orang?!" Maudi celingukan ke sana dan kemari. Di lihatnya Games yang malah tetap berdiri di depannya, membuat rasa curiga yang mulai timbul, "... lo, lihat Ava?"


"Lari ke sana." sarkas Games asal menunjuk ke arah taman depan.


"Thanks ..." balasnya datar tanpa senyuman, kemudian menatap anak buahnya, "... cabut!"


Sedangkan cowok itu hanya tersenyum. Menatap ke arah kantin yang di mana sang gadis berlari ke arah sana sebelu benar-benar pergi.



...(Ngakak banget ekspresinya. Humor gue cuma sebatas itu, ya, Tuhan!)...


***


Ava berjalan menghampiri teman-temannya yang sudah ada di kantin. Gadis itu mendesah berat saat mereka semua nampak sudah selesai dengan segala hidangan di atas meja.


"Kok nggak tungguin gue, sih?" kesalnya.


Sembari yang lainnya menyelesaikan kegiatan makan-memakan, Alan yang sedari tadi sudah selesai dan bermain ponsel mendongak ke atas. Mulut cowok itu megap-megap dan melirik kanan dan kiri. Berusaha memastika kalau hanya ia yang melihat hal itu.


Alan yang tidak berniat menjadikan sang gadis sebagai tontonan berdiri di depannya. Menghalangi seragam Ava yang kancingnya terbuka.


"Lo, ngapain?" tanya Ava kebingungan akan tingkah aneh sang pujaan hati yang begitu gusar.


Sontak yang ada di sana langsung menatap cowok di depan mereka aneh, bingung, sekaligus bertanya-tanya.


Tanpa menjawab pertanyaan sang gadis lebih dulu, Alan langsung membawa Ava pergi dari sana dan memposisikan sang gadis agar tetap berjalan di belakangnya.


"Mood gue hilang mau minta maaf sama Ava," pungkas Dino dengan wajah yang sengaja di sendu-sendukan.


...



...


...(Dino)...


"Iya, gue juga," tambah Revan ikut-ikutan.


Safira berdecak. "Dih! Kayak punya perasaan aja lo? Nyawa masih nyewa aja blagu!"


...



...


...(Safira)...


Revan menatap sinis. "Dih! Nyewa lebih baik karena di bayar lunas walaupun sebentar, lah lo? Nyawa masih kredit aja gaya banget!"


...



...


...(Revan)...


"Udah deh! Sama-sama blagu itu nggak usah berantem! Nanti meninggal! Mau?" celetuk Dino yang mulai lelah akan pertengkaran kedua remaja itu.


"Belum pernah di gampar, kah?" Tangan Safira bersiap di layangkan.


"Belum pernah disiram sama kuah bakso yang panas dan pedas, kah?" Revan mengangkat kuah bakso miliknya, bersiap menyiram.


Dino menunduk kikuk seraya menyatukan kedua tangan "Ampun kanjeng ratu dan baginda raja, saya khilaf."


***


Ava saat ini ada di balik pintu masuk toilet perempuan. Menunggu Alan datang ke sini lagi untuk menyelamatkannya. Kan, tidak mungkin kalau ia berjalan ke sana- sini dalan keadaan seragam terbuka.


Dari dalam kamar mandi gadis itu sibuk memandangi dan mencengkram seragam bagian dada agar yang ada di dalam tidak terlihat.


Saat sampai di sana, bukannya segera memberikan kedua benda tersebut pada sang gadis, Alan bahkan sempat-sempatnya tersenyum tipis.


...

__ADS_1



...


...(Alan)...


Tok


Tok


Tok


Di ketuknya pintu itu beberapa kali sebelum akhirnya memejamkan mata dan menghadap ke arah yang berlawanan.


Jangan tanyakan bagaimana tergodanya cowok itu saat ini. Mati-matian Alan menahan hawa nafsu saat sedari tadi melihat sedikit belahan dada sang gadis. Karena sealim-alimnya cowok, pasti akan tergoda dengan hal itu. Itu adalah salah satu bahasan yang mempersatukan rakyat. Benar, bukan?


Alan tentu saja bisa menerobos masuk dan memaksa sang gadis melakukannya. Tapi, ia cukup waras dan sadar akan perbuatan yang merusak iman tersebut. Ia harus bisa menjaga, bukan malah merusak. Toh, itu hanya keinginan semata, dan jika itu kebutuhan pun masih sangat lama.


Kepala Ava menyembul dengan sangat menggemaskan dari balik pintu. Andai saja kalau Alan melihat itu, cowok itu pasti akan tertawa dan tersenyum.


"Apa?"


Saat mendengar suara sang gadis. Alan menyodorkan benang berwarna putih berserta jarum yang sempat ia pinjam dari teman satu kelasnya bernama, Famia.


Ava menerimanya dengan senang hati. "Makasih." ucapnya lembut sebelum benar-benar menutup pintu dan memperbaikinya di dalam sana.


Alan melangkah kakinya kemudian menyandarkan punggungnya di pilar depan kamar mandi. Menatap lurus ke depan dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


"Belahan ..." gumamnya saat mengingat kejadian tersebut di kantin tadi. Cowok itu gusar. Ia mengacak rambutnya frustasi, "... kok, gue jadi kurang ajar gini, sih?" Satu tangannya mengelus dagu, "... spa nggak berat bawa dua?"


Seseorang menepuk pundak Alan pelan. "Berat banget, Bro. Apalagi kalau besar-besar gitu."


Sedangkan yang diajak bicara hanya mengangguk-ngangguk saja, tidak berniat membalas. Tapi, beberapa detik setelahnya, Alan menoleh ke belakang, samping kiri, dan samping kanan untuk memastikan siapa orang yang tahu isi pikiran seraya menepuk pundaknya. Sayangnya, tak ada siapa-siapa yang lewat di lorong itu. Sepi dan hanya dirinya saja.


Alan berdiri di tengah lorong kamar mandi dengan wajah super datar dan sedikit bergidik.


"Lah? Tadi, siapa?"


***


Ava dan Alan saat ini ada di rooftop untuk kelas X. Menikmati pemandangan luas nya sekolah yang saat ini mereka tempati.


...



...


"Kok, lo inisiatif banget buat ngerekam?"


...



...


(Ava)


Paham dan tahu arah bicara sang gadis, Alan asal menjawab, "Iseng aja. Siapa tahu berguna."


Kedua telinga Alan tersumpal earphone yang ia pinjam dari Ava. Walau begitu, cowok itu masih bisa mendengar sang gadis bicara sembari mendengarkan lantunan lagu yang tengah terputar.


Ava menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Alan. "Kak Aras, suka ngancam, lo?"


"Nggak juga. Lo ingat saat gue bilang akan ada yang ngelabrak, lo?"


Gadis di sampingnya sontak menganguk. Sedikit penasaran akan penjelasan itu. "Iya. Ingat,"


Alan menatap ke arah Ava sejenak, sebelum akhirnya menatap ke depan lagi. "Itu kak Dinda. Nggak tahu apa motifnya, tapi yang pasti dia nggak suka kalau lo dekat dengan kak Aras,"


"Pantas. Setiap gue lewat, tatapan kak Dinda kayak nggak enak gitu,"


"Wajar aja sih, 'kan, kak Dinda udah naksir berat sama kak Aras,"


"Kak Aras?" gumam gadis itu dalam hati.


Hah? Kenapa tiba-tiba saja ia jadi teringat akan cowok itu. Cowok yang sudah ditolaknya mentah-mentah sehingga menjadikan ia dibenci satu gadis sesekolah.


Ava menepuk-nepuk kedua pipinya. Menyadarkan diri kalau sekarang ia tidak boleh seperti itu. "Sadar, Ava! Sekarang lo udah milih, Alan! Jadi, jangan mikirin cowok lain lagi!"


"Kenapa?" tanya cowok di samping Ava yang sadar akan tingkah aneh gadisnya.


"Nggak papa kok. Nggak penting juga."


Alan tersenyum dalam hati saat melihat Ava sudah memakai gelang yang dibeli kemarin bersamanya saat di mal.


Jantung gadis itu berpacu lebih cepat dan berdebar ridak karuan saat sadar kalau Alan terus mendekat ke Arahnya. Gadis itu menahan nafas dan badannya panas dingin. Apa yang akan Alan lakukan padanya? Oh, tidak! Jika cowok itu memintan hal itu sekarang, ia tidak bisa memberikannya hal itu, karena keduanya masih sangat terlalu dini melakukan hal tersebut.


Tangan kanan Alan perlahan terulur menyelipkan rambut panjang Ava bagian kanan ke belakang telinga. Sang gadis menggigit bibir bawahnya khawatir. Bahkan, dengan sangat kurang ajarnya, cowok itu dengan berani menatap kedua manik mata Ava terang-terangan. Tak bisa dideskripsikan apa artinya, yang bisa Ava mengerti sekarang adalah dadanya yang berdebar menimbulkan dentuman tak bernama.

__ADS_1


Oh, Tuhan! Siapa saja tolong gadis ini. Mungkin saja, jika bagian dadanya dibuka, akan ada ratusan ... Tidak! Bahkan ribuan kupu-kupu berwarna warni yang keluar karena merasa sesak di dalam sana.


Tangan Alan yang satunya mencopot earpohone sebelah kiri, kemudian memasangkankannya tepat di telinga kanan Ava. Berbagi satu benda dengan lantunan musik yang terdengar dari benda berwarna putih tersebut.


"Lo, nggak mikir macam-macam, 'kan?"


Pipi gadis itu sontak memerah layaknya tomat saat pertanyaan itu terdengar dari mulut cowok di depannya.


"Enggak! Mikir apa emang?" elak keras sang gadis yang mulai salah tingkah.


"Bagus. Tapi, kenapa pipi lo merah banget?" Menatap ke arah lain.


Ava menutup kedua pipi dengan kedua tangannya. "Eng-enggak kok! Ini Blash On nya ketebelan!"


"Emang, lo pakai Blash On?"


Gadis itu menatap ke arah lain. Matanya memejam dan bibirnya megap-megap. "Andai gue bisa ngilang, gue bakal ngilang sekarang juga dari bumi!"


"Ava ..."


Gadis yang dipanggil menoleh.


Dengan gerakan spontan dan cepat, Alan menahan tubuh gadis itu agar tidak terjengkang ke belakang dengan tangannya karena terkejut.


Saat itu juga, detik itu juga, dan menit itu juga jantung Ava serasa berhenti berdetak dan nyawanya keluar dari raga. Tubuhnya menegang sangat kuat saat wajah Alan hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Hidung mancung kedua remaja itu saja hampir bersentuhan.


Nafas gadis itu tercekat sampai tidak bisa bernafas sama sekali dan badannya sangat kaku saat ia merasakan nafas hangat Alan yang mengenai wajahnya.


Layaknya candu akan wangi parfum yang tercium sangat manis dari tubuh Alan, mungkin juga nafas cowok itu yang tidak berbau akan menjadi candu kedua bagi Ava.


Sialan! Apakah cowok itu sengaja ingin membuatnya mati kutu seperti ini? Sudah dua kali lagi!


"Lo, nggak papa?" tanya Alan dengan raut wajah super khawatir.


"Nggak papa mata lo buta! Anak orang mau lo bikin mati, Alan!" jerit Ava gugup dalam hati.


***


Di dalam kamar sendirian sambil senyum-senyum sendiri, Ava mengamati seragamnya yang sudah ia perbaiki di bagian kancingnya. Gadis itu meletakkan gunting, jarum yang ditancapkan ke benang putih ke dalam laci di paling bawah.


Mata Ava tak kunjung teralihkan dengan hal lain, seolah kancing seragam itu yang saat ini menjadi pusat bumi. Senyum lebar pun juga tak kunjung hilang dari wajahnya. Kejadian soal Alan yang mencarikan benang dan jarum untuknya masih terngiang-ngiang dengan jelas.


Beberapa saat kemudian, ia jadi teringat akan kejadian gila yang dialaminya selama Alan tidak ada.


Flashback On


Aroma manis yang saat ini berpusat pada seragam bagian depan terus Ava ciumi tanpa henti.


"Bekas parfum Alan nempel banget. Pakai parfum jenis apa sih, kok wanginya enak dan nggak hilang-hilang, yah?"


Dari luar kamar mandi ada yang menggedor-gedor pintu kamar mandi yang Ava pakai, gadis itu geram karena terlalu berisik dan tidak bisa tenang.


"Buka woi! Dari tadi nggak keluar-keluar! Penuh, nih!" teriak seorang gadis dengan perawakan tomboy, karena rambutnya yang dipotong seperti laki-laki.


"Berisik! Pakai kamar mandi lain!" teriak Ava lebih keras.


"Lo siapa ngatur-ngatur gue? Terserah dong mau pakai kamar mandi yang mana!"


Gigi Ava saling bergemerlatuk karena geram. "Lo mau pergi atau gue siram pakai, pop?"


"Siram gih siram! Gue nggak takut!"


Mata gadis yang ada di kamar mandi itu membelalak sempurna. "Wah! Nantang lo?"


"Kalau iya emang kenapa?" tantang gadis tomboy tersebut sembari berkacak pinggang.


Ava menatap ke sekeliling kamar mandi. Di bagian pojok kanan ada kulit pisang, dan di bagian pojok kiri ada gayung. Gadis itu lantas mengambil kemudian menyuir-nyuir kulit pisang tersebut menjadi kecil dan dimasukkan ke dalam keloset. Tampa berlama-lama lagi Ava mengambil gayung kemudian mengaduk-ngaduknya sampai air yang ada di kloset menjadi keruh.


Diambilnya air tersebut kemudian disiramkan lewat atas agar mengenai gadis yang banyak bicara tersebut sembari berujar, "Tuh! Makan tuh pop!"


Byur


Maga gadis tomboy itu membulat sempurna dan mulutnya menganga super lebar tatkala melihat ada benda berwarna kuning menempel pada rambut, pundak, dan hidungnya.


"Aaaaaaaaaaa!" gadis itu sontak keluar berlari tunggang langgang entah kemana.


Hal itu langsung disambut gelak tawa oleh Ava yang ada di kamar mandi. "Bhaks! Hahahahahahah! Makan tuh pop pisang! Nantangin sih jadi orang!"


Flashback Off


...***...


...Maaf banget karena up chapter ini sangat sedikit. Biasanya 2000 kata, tapi ini cuma sekitar 1600an kata....


...***...


...Ditulis tanggal 28 Juni 2020...


...Dipublish tanggal 16 Maret 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2