Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 64 ~ Apa, Mulai Goyah?


__ADS_3

...Ayo absen dulu sini kalian darimana asalnya?...


...Baca cerita ini jam berapa?...


...Siapa yang kangen sama AvLan (Ava & Alan)?...


...Mau berending apa? Sad? Atau Happy? Kalau bisa sih, Aku mau dua-duanya. Maruk banget kayaknya? Emang iya, wkwkwkwkwk....


...Tapi Aku nggak mau ngerubah ending yang udah Aku tulis sih, cuma tanya aja gitu. Awokawokawok....


...Banyak bacot lo ah! Hehehe maap, kalau bikin kalian nggak nyaman....


...***...


...



...


"Lepasin dia atau lo semua nerima akibatnya?!"


Kini pusat perhatian para gadis itu ada di belakang Dinda. Orang itu mendekat kemudian menarik tangan Ava untuk bersembunyi di belakangnya, bahkan Denise dan Ambro pun ikut bersembunyi di balik Dinda. Memang, kalau sudah berurusan dengan sang ketua Molyvdos mereka akan angkat tangan dan tidak mau ikut campur lagi, urusan ini akan sepenuhnya mereka serahkan pada ketua geng mereka.


Pengecut dan penakut? Iya memang. Tidak tahu kenapa Dinda memilih mereka berdua. Alasannya cukup simple, yaitu mereka bisa diajak bekerja sama, gampang disuruh-suruh, dan sangat penurut.


Hal itu membuat kemarahan Dinda semakin memuncak. Gadis itu sangat tidak terima Ava diperlakukan spesial oleh orang banyak. Memangnya, apa sih yang menjadikan Ava begitu populer dan disukai banyak orang? Padahalkan perbandingannya kalau dilihat secara kasat mata Ava sangat jauh sekali dari Dinda dari segi apapun itu.


"Apaan sih lo, Ras?! Kok lo malah belain dia, sih?!" Dinda membanting lipstiknya ke sembarang arah. Untung hanya lipstik dan bukan kedua temannya yang dibanting.


"Ya iyalah gue belain dia! Karena dia pun juga nggak salah dan nggak ada masalah sama lo!" Suara laki-laki itu meninggi, Dinda dkk juga sedikit terkejut dengan hal itu.


Menyerah? Itu bukan kata-kata yang cocok untuk Dinda.


Dinda maju mendekati Aras. Gadis itu memang tidak ada rasa kapok dan takut saat berurusan dengan Aras. "Ya jelaslah dia salah! Dia itu udah ngerebut hati lo dari gue! Dan dia juga yang udah bikin lo jauh sama gue, Aras! Dia juga ganjen banget sama cowok-cowok di sekolah!"


Aras tertawa menanggapi pernyataan konyol dari mulut Dinda, sepertinya gadis di depannya ini belum pernah merasakan disiram pake saus cabai yang pedas dan panas.


"Dengar ya, Din! Dari dulu, lo nggak pernah sedikit pun ngedapetin hati gue atau pun gue sendiri. Gue udah minta lo menjauh, tapi lo terus aja ngedekatin gue dan ngeganggu siapa aja yang dekat atau yang gue pilih buat jadi pacar gue. Harusnya itu, lo tahu dan sadar diri, kalau apa yang lo lakuin ke gue selama ini itu bikin gue, mau mati!" Aras menekankan dua kata terakhir. Dinda tersentak mendengar jawaban Aras.


Apakah memang benar seperti itu yang dirasakan Aras selama ini?


Cowok itu sangat lelah dengan sikap Dinda, selama kurang lebih tiga tahun yang mengatur dan mengekang hidupnya. Aras mungkin berpikir kalau Dinda mempunyai kelainan jiwa. Jahat memang, tapi itulah yang cocok untuk menggambarkan remaja perempuan tersebut.


"Harusnya, lo tuh udah puas, Din, selama ini. Lo udah jadi remaja tercantik di sekolah selama tiga tahun. Semua sifat asli lo nggak diketahui banyak orang di sekolah, kalaupun ada yang tahu, gue juga yang akan ngasih peringatan sama mereka untuk nggak nyebarin. Lo disukai semua cowok di sekolah dan gue juga masih nganggap lo sebagai teman, walaupun gue juga tahu sikap lo itu buruk. Apa itu masih kurang buat, lo?"


Dinda tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana sekarang, karena semua yang dikatakan Aras itu memang benar. Tapi, di lain sisi, hatinya juga sangat sakit saat Aras berulang kali membela Ava, tanpa mau mendengar dan masuk lebih dalam ke dunianya.


Ava yang mendengar itu sedikit iba dengan Dinda. Walaupun gadis itu terlihat baik, di sukai banyak orang, dan sangat bahagia, tapi yang Ava lihat justru seorang gadis yang tidak memiliki teman, seorang gadis yang hanya haus akan kekuasaan, dan seorang gadis yang kurang akan belaian perhatian serta kasih sayang.


Tidak kunjung mendapat jawaban, Aras lantas menggandeng tangan Ava untuk menjauhi Dinda dkk. Ia tidak mau lebih lama lagi berurusan dengan gadis gila itu.


Tangan Dinda mengepal kuat, ia serasa ingin memukul sesuatu saat melihat Aras menggandeng tangan Ava. Air mata yang ia tahan dari sedari tadi pun juga mengalir deras. Gadis itu membencinya, membenci semua yang berurusan dengannya, termasuk Ava.

__ADS_1


"Iya! Itu masih kurang buat gue saat gue belum sepenuhnya gedapetin lo, Aras." Suara Dinda memelan, tapi cowok itu masih bisa mendengarnya. Sebab itulah Aras berhenti tanpa menoleh untuk mendengarkan apa yang akan Dinda katakan selanjutnya.


"Kalau gue nggak bisa ngedapetin lo, semua cewek pun juga nggak akan bisa milikin lo!"


Aras menoleh ke samping sambil tersenyum samar. "Kalau lo nggak berubah, gue nggak akan pernah bisa membuka hati gue buat lo, Din. Dan gue harap lo nggak sungguh-sungguh atas perkataan lo tadi." Aras langsung menjauh dari sana untuk mengantar Ava ke kelasnya.


Dinda menatap ke pergian Aras dan Ava yang mulai menjauh sampai tidak terlihat dari pandangan matanya.


Ambro dan Denise mendekat lalu memeluk sambil menepuk punggung Dinda pelan untuk memberikan gadis itu sedikit kekuatan.


"Yang sabar ya, Din. Lo jangan dengerin apa yang Aras omongin tadi."


"Iya, lo yang sabar, kita akan selalu ada di sisi lo kok. Kapan dan di manapun lo butuh bantuan kita. Lo tinggal bilang aja."


Denise mengangguk setuju menyetujui ucapan Ambro.


Itulah salah satu alasan kenapa Dinda memilih Ambro dan Denise, mereka selalu ada di sisi Dinda, mereka selalu membantu dan menghibur Dinda, mereka juga selalu baik walaupun kadang Dinda bersikap jahat dan jahil pada keduanya.


***


"Udah, lo masuk sana. Lo nggak perlu khawatir, gue bakal nepatin janji gue kalau gue nggak akan ngeganggu hubungan lo sama Alan." Setelah mengatakan itu Aras beranjak pergi dari sana.


Tapi sebelum Aras pergi, Ava keburu mencekal tangan laki-laki itu. "Kak, makasih, ya, lo udah nolongin gue tadi. Gue jadi nggak enak sama lo."


Aras tersnyum lalu mengecak rambut gadis itu pelan. "Apapun itu, lo bisa minta bantuan sama gue. Nanti kalau Alan liat dia bisa marah." Sembari melepas cekalan tangannya dari tangan Ava.


"M-maaf Kak."


"Iya, gue pergi dulu yah, bye." Aras berlari pergi dari sana.


Ava tersenyum kecut mengingat masalahnya dengan Alan yang semakin hari semakin kacau. Andai saja masalah ini tidak terjadi dan Ava menyadari lebih awal, mungkin saat ini Ava masih bermesraan bersama Alan dengan ke uwuan yang mereka ciptakan sendiri, persis seperti sebelumnya. Tapi, apa yang harus Ava sadari lebih awal?


Gadis itu tersenyum mengingat semua kebersamaannya bersama Alan. Apa yang Alan lakukan, apa yang Alan katakan, dan apa yang Alan perlihatkan selalu menjadi kenangan indah untuknya. Dan seburuk apapun situasi hubungannya saat ini Ava tidak akan melupakan kejadian manis itu, karena hal itu Ava jadikan sebagai salah satu penyemangat untuk dirinya agar tetap kuat dan berusaha.


Di sisi lain, ada dua orang yang dari tadi melihat dan menyaksikan Ava berinteraksi dengan Aras dari arah pintu kelas, siapa lagi kalau bukan Alan dan Natalie. Gadis itu semakin hari juga semakin dekat dengan Alan. Sekarang ini, kemanapun Alan berada pasti ada Natalie di sampingnya.


Natalie mengusap lembut bahu Alan. "Lo yang sabar aja, ya, Lan, mungkin Ava orangnya emang gitu."


Rahang cowok itu mengeras, tangannya mengepal dengan kuat. Alan tahu kalau perasaannya berubah, tapi di sisi lain Alan juga tidak terima Ava dekat dengan laki-laki lain. Daripada melihat Ava yang tengah senyum-senyum sendiri dan membuat ia semakin marah, jadi ia putuskan untuk masuk ke dalam kelas saja.


Nah, kalau beginikan Natalie jadi semakin bisa mengendalikan Alan dengan ucapan dan kata-katanya yang manis tapi bersifat memprofokasi. Tak akan lama Alan pun akan tunduk dan menjadi miliknya.


Pelan-pelan saja asalkan rencananya berhasil tanpa meninggalkan jejak. Ia cukup mengandalkan sikap manis dan strategi yang sudah ia buat dan siapkan jauh-jauh hari. Mereka semua juga tidak perlu khawatir karena mereka juga akan ikut bermain.


***


Ana, Agnes, Safira beserta teman-teman lainnya sudah pulang lebih dulu karena Ava yang menyuruhnya. Ia berdiri di depan pembatas kelasnya untuk sekedar menikmati dan menenangkan pikiran dengan cara menatap tiga gunung yang terlihat dari atas, serta awan yang ikut menghiasi.


Di dalam kelas masih ada Maudi yang tengah mengepel karena hari senin adalah jadwal piketnya. Maudi tidak membersihkan kelas sendirian, ada sekitar empat orang lagi tapi Maudi kebagian mengepel kelas dan yang lainnya sudah pada pulang.


Saat Maudi mengepel di tempat Dino dan Revan, gadis itu menemukan kertas dan bolpoin di meja Dino. Karena penasaran, ya, Maudi mengambil untuk melihatnya.


Seketika mata gadis itu membelalak dan mulutnya mengaga. Ia terkejut dan tidak menyangka sama sekali, di kertas itu ada gambar karikatur dirinya yang tengah cemberut dengan bagian bibir ditebal dan dibesarkan.

__ADS_1


Maudi berdecak pelan, bibirnya memang agak tebal, tapikan tidak setebal dan sedower itu. Gadis itu yakin bahwa Dino sengaja menggambar dan meninggalkannya di kelas, karena cowok itu tahu kalau Maudi bertugas di hari senin. Tapi, sedetik kemudian gadis itu tersenyum kemudian meletakkan gambar beserta bolpoinnya kembali ke meja Dino, dan akan berpura-pura tidak melihatnya.


"Dasar. Dino sialan." Maudi kembali melanjutkan tugasnya. "Awas aja lo, gue bakal ngasih balasan atas kelakuan lo ke gue. Balas dendam dengan cara yang menyenangkan."


Entah ini aneh atau apa, tapi sepertinya Maudi merasakan sesuatu di hatinya. Ia kurang yakin dengan hal itu, semuanya campur aduk antara rasa marah, kesal, senang, kecewa, dan ... rasa cinta?


Maudi memukul kepalanya.


Ah, enggak, Maudi! Apaan, sih? Lo kok jadi gila kayak gini?


Cepat-cepat Maudi menggelengkan kepalanya, ia tidak mau merasakan sekaligus membayangkan hal itu. Tidak, ia tidak mungkin menyukai orang seperti Dino yang kelakuannya sangat bobrok. Maudi pastikan ia akan membuang jauh-jauh bayangan Dino dari otaknya. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang.


Setelah selesai, Maudi meletakkan ember beserta alat pelnya di pojokan pintu kelas. Gadis itu mengambil ponselnya dari dalam tas untuk mengabari sang supir untuk menjemputnya, karena Maudi tidak mau menunggu lebih lama lagi.


"Kenapa Ava masih di sini? Nungguin gue? Ah, nggak mungkin kalau dia nungguin gue."


"Ingin rasanya mendekat dan menepuk pundak lo saat gue tahu kalau lo sedang tidak baik-baik saja. Seperti mimpi, terasa dan ada, namun tidak bisa dilihat ataupun digapai. Gue hanya bisa diam sambil memandang dari kejauhan. Kapan lo akan melirik ke arah gue?"


***


Saat Ava sedang melamunkan sesuatu tiba-tiba ponselnya yang ia letakkan di saku seragam berbunyi sekaligus bergetar. Gadis itu segera mengeceknya karena takut kalau itu dari Bunda yang menyuruhnya pulang.


Tidak. Itu bukan pesan dari Bunda nya atau teman-temannya, melainkan itu pesan dari sang peneror.


+62 8966 ×××× ××××


Sepertinya sudah lama kita tidak berbicara satu sama lain. Sengaja kulakukan itu agar Kau bisa beristirahat sejenak.


Akanku beri kesempatan untuk bermain. Datanglah ke tempat semua para siswa berkumpul dan saling bersaut-sautan untuk menuju ke tempat atau bangunan selanjutnya. Karena Aku ada di sana, jadi segera temukan Aku sebelum Aku pergi dari sana.


Dari awal rasanya perasaan Ava tidak berubah sama sekali saat dirinya mendapat pesan dari sang peneror itu. Takut, jantung berdegup kencang, was-was, pikiran berlarian kesana kemari, otak susah berpikir, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya, itu juga yang Ava rasakan saat ini.


...***...


...Awokawokawok. Hai! Apa kabar kalian semua? Aduh, tiba-tiba Aku kangen banget sama kalian....


...Kalian juga boleh nebak dan menjawab cluenya kok....


...Kalian pada sadar nggak sih kalau makin lama ini wordsnya makin panjang di setiap babnya?...


...Soalnya Aku selalu mentokin wordsnya sampai 2000 loh. Banyak, 'kan?...


...Kenapa gitu? Karena Aku nggak mau kebanyakan chapter dan sekalian nggak usah nanggung-nanggung segala. Soalnya Aku juga kalau kebanyakan chapter gitu malas bacanya karena nggak selesai-selesai....


...Lebih baik naskahnya panjang tapi chapternya sedikit, daripada naskahnya sedikit tapi chapternya banyak, itu menurut Aku....


...***...


...Ditulis tangggal 15 Oktober 2020...


...Dipublish tanggal 22 April 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2