Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 95 ~ Everything Is Change


__ADS_3

...Genre cerita yang kalian sukai apa? Kalau genre utama Aku tuh teenfiction karena sesuai sama Aku yang sekarang, humor, dan kayak sejenis mystery gitu supaya Aku juga bisa menebak teka-tekinya....


...Tapi sekarang Aku udah jarang baca kecuali baca cerita dan penulis favorit Aku, karena sibuk sama naskah di platform lain....


...***...


...



...


Hari ini adalah hari terakhir Mid Semester. Bagus dan Agnes belum ada perkembangan untuk sekedar berbaikan, sedangkan semenjak kejadian di halaman depan rumah Ava, gadis itu sudah tidak pernah berbicara, berpapasan, dan bertemu dengan Aras, seolah cowok itu menjauhinya. Sejujurnya, hal itu sangat menyiksa Ava, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Agnes menyimpan semua dan hanya diam tanpa mengatakan apapun yang sebenarnya terjadi. Ia tipe orang yang kalau sudah, ya, sudah, tidak perlu dibahas atau diungkit lagi, dan membiarkan semua orang berkomentar atau berasumsi apa pun sesuka hati mereka. Sangat berbeda sekali dengan Ava, gadis itu akan terus mengungkit dan membahas apa yang membuat dirinya sakit hati, dan tidak akan berhenti sebelum masalah itu selesai.


Agnes duduk di atas meja dan kakinya ditumpukan di atas kursi, menghadap Syarifa yang tengah memakan kuaci yang diletakkan di atas meja.


"Eh, lo udah nonton drama Legend Of The Blue Sea belum? Bagus dan keren banget. Itu tuh salah satu drama terfavorit gue, dijamin nggak bakal nyesel kalau nonton."


"Benar bagus? Bikin baper nggak? Siapa tahu lo cuma melebih-lebihkan doang?"


"Dih, nggak percaya. Beneran bagus tahu, sedikit sih tapi."


"Nes," panggil Bagus yang duduk di belakangi oleh Agnes.


"Apa? Putus?" tebak Agnes cepat, bahkan sebelum Bagus mengatakan niatnya.


"Iya. Gue mau selingkuh, dari pada nanti lo sakit hati, jadi lebih baik putus."


"Ya udah." Agnes berbalik, kembali tertawa dan berbincang-bincang dengan Syarifa.


Sedangkan Bagus sendiri juga kembali mengobrol dengan kakak kelas perempuan yang duduk di depan kursi guru.


Sudah dan sesimpel itu? Begitu saja putusnya?


Iya, begitu saja, sangat simple dan mudah. Ke duanya sudah sama-sama lelah dan rasa suka itu hilang secara tiba-tiba. Rasa kepercayaan yang mereka bangun pun langsung hancur dan runtuh seketika. Bukankah cinta juga seperti itu? Datangnya tiba-tiba, perginya juga tiba-tiba.


***


Sudah sekitar dua bulan lebih ini Ava sering pergi ke kelas X Ips 3 sekedar untuk menatap atau melihat wajah Alan dan meninggalkan Safira bermain dengan Revan serta Dino, Ava sangat rindu dengan segala sesuatu tentang Alan, persis seperti pengagum rahasia.


Tanpa Ava sadari, apa yang ia lakukan ke Alan itu sama seperti apa yang Games lakukan padanya, benar bukan?


Dan asal kalian tahu saja, kalau Natalie masih mengejar cinta Alan, tapi Alan nya terlihat menolak dan tak jarang memarahi gadis itu.


Semanjak Ava memutuskan hanya menatap Alan dari jauh, Ava lebih sering mendengarkan lagu menggunakan earphone sambil membaca koleksi novelnya yang belum ia baca. Baik saat senggang, di kelas, di rumah, atau saat nongkrong, pokoknya ke mana-mana benda bernama earphone itu selalu Ava bawa.


Seperti di hari pertama masuk sekolah dan seperti biasanya, Games masih tetap menatap dan mencari perhatian Ava. Cowok itu masih berharap lebih, jadi tak jarang kalau Games suka mengganggu atau mengomentari apa yang Ava lakukan. Lama-kelamaan Ava membiarkan hal itu dan tak menjadikannya masalah serius karena sudah terbiasa.


Tanpa disangka, ternyata Aras menepati janjinya, cowo itu bahkan tidak lagi menemui atau bertegur sapa, seolah Aras benar-benar menjauh dan sudah melupakannya. Dan tanpa Ava tahu, Aras bahkan memendam rasa rindu dan rasa sakit yang sangat teramat sakit, sendirian.


Hubungan Revan dan Safira masih tetap biasa saja seperti sebelumnya, walau mereka terlihat suka bertengkar dan berdebat, di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam ada sebuah rasa yang terpendam.


Hubungan Dino dan Maudi sampai sekarang pun masih tidak diketahui oleh publik, mereka pintar menutupi dan menjaga rahasia rapat-rapat sampai waktunya tiba nanti. Kalau mereka senggang, keduanya saling bertemu, tentunya dengan sembunyi-sembunyi dan menyamar sebagai orang lain.


Semenjak saat itu juga hubungan Ava, Ana, dan Agnes dengan Alan, Justin, dan Bagus perlahan-lahan mulai merenggang dan tidak sedekat dulu. Komunikasi masih terjalin, tapi tak sebanyak dulu sebelum mereka bubar satu-persatu.


Dinda dan Sintia? Dua minggu setelah Mid Semester selesai, mereka langsung pindah ke sekolah lain, dengan alasan orang tua mereka yang pekerjaannya dominan di daerah masing-masing, tak lupa pula berpamitan dengan seluruh siswa dan siswi serta sahabat yang selalu ada di sisi mereka.


Perlahan-lahan dan secara tiba-tiba kehidupan sekolah mulai berubah seiring berjalannya waktu. Ava juga berharap kalau perasaannya terhadap Alan juga berubah. Sekali lagi, itu tak semudah yang dibayangkan.


Tanpa disadari, karena tujuh hari selama Mid Semester itu yang menyebabkan kerenggangan satu sama lain di antara mereka semua sampai ada benteng kokoh yang selalu terpasang di sekeliling orang-orang tersebut.


Ruangnya terbatas, tak boleh ada yang masuk dan keluar begitu saja, karena sekarang sudah ada aturannya.


***


"Lo kenapa lagi, sih?" tanya Ana saat Agnes datang dengan raut wajah super jutek, tidak seperti biasanya yang kalem-kalem tenang.

__ADS_1


Agnes bangkit dan berjalan mendekati stand tanpa menjawab pertanyaan teman-temannya.


Mereka semua sekarang ada di kantin dan duduk seperti biasa, di bagian pojok kiri. Kali ini, hanya para gadis yang berkumpul.


"Kenapa?" Giliran Ava yang bertanya pada Syarifa.


"Jadi gini ..."


Flashback On


Saat ini siswa dan siswi kelas X Ips 3 sedang ada pelajaran agama, tentunya ada Farishka karena gadis itu yang mengajar.


Farishka menyuruh para siswanya untuk menghafalkan surat Q.S. An-Nur (24) ayat 2 beserta artinya dalam waktu dua puluh menit. Gadis itu berjalan mengelilingi kelas untuk mengintip anak didiknya bahwa mereka benar-benar hafalan.


"Ayo hafalan," tegurnya pada Bagus saat cowok itu bermain hp di kelas.


Bagus terkekeh sembari memasukkan ponselnya ke laci. "Iya, Kak."


"Kakak lihat dan amati, beberapa bulan ini kamu sama Agnes jarang ngobrol, lagi break, ya?"


"Udah putus."


"Hah? Kenapa?"


"Dia nya selingkuh," balas Bagus dengan suara yang agak keras sehingga semua siwa di sana lantas langsung menoleh ke arahnya, tak terkecuali Syarifa dan Agnes sendiri.


Agnes yang melihat itu langsung mendengus sembari mengelus dadanya. "Sabar, Nes jadi orang. Jangan kepancing emosi."


Syarifa yang merasa khawatir sontak bertanya pada sang sahabat, "Lo nggak papa?"


"Nggak papa, biarin aja. Terserah dia mau ngomong dan ngapain aja, gue nggak perduli." Menyorot lks yang ada di depannya, kembali melanjutkan hafalan.


Flashback Off


"Jahat banget sih," celetuk Ava setelah mendengar cerita Syarifa


"Kenapa Agnes nggak jelasin dan cerita yang sebenarnya terjadi? Supaya mereka putusnya juga baik-baik." ucap Safira


"Kalau gue jadi Agnes sih pasti gue langsung marah banget. Siapa yang nggak marah coba saat dipermaluin tepat di depan kakak pembimbing dan didengar siswa-siswi di kelas?" geram Ava menggebu-gebu, ia juga tidak habis pikir dengan Bagus yang bisa mengatakan hal itu tanpa ada halangan layaknya jalan tol.


"Yang sabar, ya, Nes," tutur Ana dibuat-buat saat Agnes datang membawa bakso dan juga jus jeruk kemudian duduk di kursinya.


"Sabar kenapa? Gue nggak papa kali, malah jauh lebih tenang dan lega dari sebelumnya." Memasukkan satu bakso ke dalam mulut.


Saat semua temannya mulai makan, Ava justru diam mengagumi sesuatu, menatap Agnes yang makan sambil tertawa dengan teman lainnya.


Gue kagum sama lo, Nes. Lo bisa dengan tenang ngadepin masalah yang lo hadapi tanpa mau mendengar dan membiarkan apa yang orang lain katakan tentang, lo. Gue harap, gue juga mempunyai sifat seperti itu.


***


Malam ini semua teman seangkatan dan teman dekat Okta diundang ke pesta ulang tahunnya yang ke enam belas. Tak terkecuali, ketiga gadis yang tengah berdiri di depan cermin kamar Ana, mereka sudah siap dan juga diundang ke pesta Okta.


Ava secara spesial memakai dress simple warna pink karena Alan pernah mengatakan kalau cowok itu suka warna pink saat Alan memakai jaket warna pink. Masih ingat?


"Biasanya kalau acara ginian ada gandengan, tapi sekarang udah nggak ada," gumam Ava sedikit tidak semangat.


"Iya, dapatnya di waktu yang hampir sama, perginya juga di waktu yang hampir sama, tapi dengan alasan yang berbeda-beda," sambung Ana.


"Dan, paling parahnya gue. Baru aja jadian, udah dicampakkan gitu aja," gerutu Ava.


"Iya, yang paling baik sih pas Ana. Soalnya dia bubarnya baik-baik tanpa paksaan dan sepakat satu sama lain," tambah Agnes.


Secara bersamaan ketiga gadis itu membalikkan badan, menyenderkan (maaf) pantatnya di bibir meja rias.


"Udah, kita nikmatin aja malam ini. Itung-itung buat ngelupain kejadian-kejadian legend itu. Tapi, gue nggak menyesal sama sekali sih. Hal itu cukup sebagai pengalaman aja," tutur Agnes.


Kedua sahabatnya mengangguk, mereka semua turun ke bawah dan masuk ke mobil. Seperti biasa, Agnes yang menyetir karena yang paling jago di antara mereka.


***

__ADS_1


Pestanya cukup mewah dan sangat ramai, karena Okta pun juga anak dari orang kaya, semua terlihat rapi dan elegan dengan cara serta pakaiannya masing-masing.


Saat memasuki rumah, ketiga gadis itu langsung berpencar menyusul teman mereka masing-masing. Saat melihat Safira yang melambaikan tangannya, Ava langsung menyusul tiga orang yang tengah berdiri taman belakang, tepatnya di bawah pohon.


"Waw, Safira sangat cantik sekali hari ini," ledek Ava yang menatap Safira dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Yang diledek mendengus kesal. "Nggka usah ngeledek lo. Kalau nggak karena menghormati dan menghargai teman, gue nggak akan mau make dress yang ribetnya minta ampun kayak gini."


"Iya. Btw, warnanya senada loh kalian, sama-sama warna hitam," celetuk Dino yang membandingkan pakaian Revan dan Safira. "Berjodoh sekali kalian ini, ya?"


Revan menunjuk Safira yang berdiri di sampingnya. "Dia yang ngikutin gue! Kayak nggak ada warna lain aja?"


Safira yang geram, mendorong tubuh Revan sehingga cowok itu sedikit saja hampir tercebur ke dalam kolam.


"Woi! Gila lo? Hampir aja nyebur tadi!" Revan mengelus dadanya lega.


"Makanya kalau ngomong itu dijaga, nggak ada filternya sih."


"Ah, iya. Bawel lo ah. Mau dandan secantik apapun juga kelakuan lo tetap brutal-brutal aja, nggak ada bedanya."


Safira mendekatkan wajahnya ke wajah Revan. "Lo mau gue ceburin beneran? Dandan secantik apapun? Berarti gue cantik dong?"


Revan yang menatap wajah Safira sedekat ini jadi grogi sendiri, tiba-tiba saja dadanya berdegup kencang.


Safira cantik juga kalau dandan kayak gini dan dilihat dari dekat. Revan! Lo apaan sih? Sadar, dia itu bukan cewek!


Revan langsung menggelengkan kepala lalu menonyor dahi Safira agar wajah gadis itu menjauh dari wajahnya. "Enggak, lo tetap aja biasa. Nggak cantik dan nggak jelek. Standar untuk cewek brutal seperti lo."


"Dih, bilang aja gue cantik. Jujur aja kali!"


Lihat mereka berdua, gue jadi pengen sama Maudi.


Dino menggelengkan kepala.


Jangan egois Dino. Selesaiin misi dulu, setelah itu bebas mau sama Maudi.


Selagi kedua orang itu saling bertengkar dan Dino sebagai penengahnya. Ava sibuk mencari keberadaan Alan, ia memperluas pandangannya.


Gadis itu langsung tersenyum senang saat menemukan Alan di samping kolam ikan tanpa ditemani teman dan sahabatnya, ikut dan mencoba berbaur dengan yang lainnnya.


Sesekali saat ia berbicara dengan ketiga temannya, Ava melirik atau sekedar menatap Alan, dan beberapa kali juga sempat kepergok kalau ia menatap Alan.


Beberapa detik kemudian, senyum gadis itu langsung hilang saat ada Natalie yang datang menggelendot sok manja di lengan Alan.


Alan menatap Ava yang juga menatapnya, kemudian menatap Natalie yang menggelendot di lengannya. "Ikut gue." Menarik tangan Natalie menjauhi kerumuman.


"Mau ke mana mereka?" Ikut mengikuti kedua orang tersebut.


"Ava, mau ke mana?" teriak Safira.


"Nanti gue balik lagi," jawab Ava tanpa menoleh sedikit pun.


"Ayo kita ikutin, Ava," tutur Safira pada kedua cowok di depannya.


***


"Mau ngapain sih, Lan?" tanya Natalie manja saat keduanya ada di belakang rumah Okta, sisi lain kerumunan pesta tersebut.


Tak, ada jawaban dari Alan, cowok itu malah sibuk melirik ke sekitar.


...***...


...Saatnya kita main tebak-tebakan! Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya?...


...***...


...Ditulis tanggal 12 Desember 2020...


...Dipublish tanggal 22 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2