Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 87 ~ Kepikiran


__ADS_3

...Mau tanya nih, sebenarnya Aku tuh lagi sebel banget dari semalam, tapi kali ini ditahan dulu karenakan puasa, nanti pas buka kesalnya balik lagi....


...Pendapat kalian tentang anak santri yang mulutnya lemes, ember bocor, sok, dan suka ngomongin orang itu gimana? Soalnya saat tarawih semalam Aku nemu beberapa yang sejenis kayak gitu....


...Bacanya pelan-pelan aja. Kalau mau dan ada sih sambil mendengarkan lagu Mungkin Hari Ini Esok Atau Nanti - Anneth supaya tambah nikmat dan tambah dugun-dugun....


...***...


...



...


Ava terlonjak kaget saat Alan menepis bekal yang ia sodorkan sehingga isinya tumpah berserakan di atas paving, itu roti dengan selai coklat yang dibuat penuh cinta dan kasih sayang.


"Maksud lo apa ngelabrak Natalie saat nggak ada orang? Mau jadi orang yang sok berkuasa? Atau mau terlihat keren?" sinis Alan dengan wajah datar, nada bicara datar, dan sorot mata penuh kekecewaan.


"Bu-bukan gitu maksud gu-"


"Bukan maksud lo apa?!" Mengambil hp lalu memutarkan rekaman suara yang dikirim Natalie semalam, kemudian memasukkan kembali ke dalam saku setelah gadis di depannya mendengar.


Ava yang mendengar itu semakin dibuat panik, karena ternyata Natalie merekam perbincangan mereka kemarin.


"Dengerin pejelasan gue dulu, Lan-" Ava tetap berusaha memegang tangan Alan walau selalu ditepis cowok itu.


"Nyesel gue mengasihani lo selama ini," gerah Alan menepis tangan Ava yang memegang tangannya.


"Maksud lo apa mengasihani?


"Iya. Lo pikir selama ini gue mengizinkan lo deketin gue karena gue suka sama lo dan ingin membuka hati lagi buat, lo? Enggak sama sekali! Gue cuma kasihan aja sama lo karena lo terlalu dan selalu mengemis perhatian dari gue," Cowo itu berdecak.


"Tapi sekarang, lo menyia-nyiakan kesempatan itu. Kalau gue nggak melakukan itu, mungkin sekarang lo udah seperti gadis murahan yang ngejar-ngejar cowok tanpa rasa malu," cibir Alan menohok sampai masuk menghancurkan tulang rusuk.


Deg


Saat Alan mengatakan itu tubuhnya langsung melemas, kristal bening pun sedari tadi sudah meluncur bebas tidak karuan. Kali, ini benar-benar seperti tamparan keras baginya, ditambah Alan mengatakan kalau ia adalah gadis murahan yang tidak tahu malu.


"Kalau lo nggam cinta sama gue, kenapa lo mau menerima semua pemberian, gue? Kenapa sikap lo ke gue dan ke Natalie berbeda?" todong Ava, demakin terisak akan tangisnya.


Lagi-lagi Alan berdecak. "Emang gue nerima pemberian, lo? Gue nggak akan memperlakukan orang sama, karena orang yang gue cintai pun nggak sama. Jadi, gue minta sekarang lo jauhi dan nggak usah ngeganggu kebahagiaan gue."


Iya, Ava tahu itu. Alan tak pernah menerima pemberiannya, dan yang sekarang Alan cintai itu Natalie, bukan dirinya. Selama ini ia terlalu berharap dan berekspektasi terlalu tinggi sampai ia lupa kalau itu hanya sebuah angan-angan yang tak pernah terwujud.


Melihat Ava yang terus-terusan menangis membuat Alan sesak, cowo itu lantas pergi meniggalkan Ava yang masih terisak.


Alan menyandarkan dirinya di dinding samping pintu masuk, dadanya berdesir tidak karuan. Padahal dia tidak berlari, tapi nafasnya tersenggal. "Gue nggak baik buat lo, Ava, maafin gue kalau selama ini gue selalu nyakitin hati lo. Tapi, kali ini lo nggak bisa kayak gini terus, gue sama sekali nggak ada niat untuk ngatain lo atau membela Natalie, gue cuma nggak mau memberi harapan yang bukan lagi milik lo."


***


Di sisi lain, karena sudah tidak kuat menahan tubuhnya, gadis itu duduk tertunduk dengan keadaan sangat kacau. Yang terdengar hanya suara isakan tangis yang tertahan, ia juga tidak percaya kenapa Alan bisa mengatakan hal itu kepadanya.


"Jadi, selama ini lo cuma kasihan sama, gue? Gue pikir, lo memberi kesempatan agar gue memperjuangkan lo, tapi itu salah." Gadis itu tertawa renyah dipaksakan, kemudian terisak lagi. "Apa yang lo omongin benar Lan, kalau gue gadis murahan yang nggak tahu malu. Bisa-bisanya gue membuat hidup lo sengsara dan hancur kayak gini."


Biasanya ada orang yang tiba-tiba datang menenangkan atau memberi sandaran saat Ava sedang rapuh seperti ini, tapi kali ini ia benar-benar sendirian, mungkin karena masih sangat pagi untuk datangnya para siswa dan siswinya ke sekolah.


***


Saat guru sedang menjelaskan pun Ava hanya bisa diam sambil melamun, kata-kata Alan tadi masih sangat terngiang-ngiang jelas di kepalanya. Saat Safira mengajak bicara pun tak jarang jawabannya berbeda, terkadang hanya mengatakan "Iya" atau "Tidak", bahkan tak jarang pula hanya menggeleng, diajak makan di kantin pun juga menolak.

__ADS_1


Dengan sikap Ava yang seperti itu membuat Safira bingung dan harus bertanya pada teman yang lain jika mereka tahu apa penyebabnya.


Teman yang lainnya pun tak kalah khawatir karena minggu depan akan diadakan Mid Semester, mereka takut kalau Ava tidak bisa karena tidak fokus belajar. Saat ditanya apa penyebabnya, hal itu malah membuat gadis itu terisak.


Setiap malamnya Ava selalu menangis tanpa suara, menghabiskan ratusan tisu yang sudah berserakan di lantai. Kamarnya selalu dikunci, dan kalau makan pun cuma diantar di depan pintu, tidak tahu dimakan atau tidak. Beberapa hari ini Ava selalu seperti itu. Separah itu efek atas perlakuan, Alan? Iya, sampai seperti itu. Pasti akan sangat lama sembuhnya, dan itu juga bisa membuat Ava gila. Mungkin.


Ini sudah hari ke enam Ava bersikap layaknya orang depresi, guru-guru pun sampai angkat tangan. Rencananya para guru malah akan mengabari orang tua Ava, tapi Agnes dan Ana mencegah sekaligus menolak dengan alasan takut kalau nanti orang tua Ava syok dan membawa Ava pergi dari Indonesia. Kedua gadis itu juga berjanji akan mencari solusi sekaligus menjaga Ava.


Dan, mereka pun sepakat kalau berita ini tidak akan meneyebar baik di seluruh sekolah maupun sekolah lain.


Ana, Agnes, Dino, Syarifa, Revan, Safira, Aras, Uki, Gilang serta Games mengelilingi meja Ava, menatap gadis itu bingung harus melakukan apa lagi. Seragamnya tidak disetrika, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya kusam, tak lupa pula kantung mata yang mengendor dan mata yang sembab ikut menghiasi. Pandangannya juga lurus kedepan dan sama sekali bak orang linglung yang tah tahu harus ke mengarah dan berjalan ke mana.


Maudi yang beberapa hari ini mengamati perilaku Ava yang seperti itu ikut prihatin, jadi untuk sementara ini ia tak mau mengganggu Ava. Gadis itu sudah seperti tidak ingin hidup, tak ada niat ke sekolah, dan tak ada jiwa.


***


Dino serta Revan yang sudah mulai geram pun mencoba menemui Alan, karena kata Agnes perubahan sikap Ava di mulai semenjak bertemu Alan di belakang sekolah.


Alan tidak ada di kelas, tidak ada di kantin, tidak ada di toilet cowok, tidak ada di belakang sekolah, dan tidak ada di lapangan. "Ke mana lo, Connard?!" Terus berjalan, sampai akhirnya kedua cowok itu menemukan Alan ada di taman bersama dengan Natalie.


"Lo sembunyi di sana ternyata. Enfoiré, Alan!" umpat Dino yang sudah sangat dirundung amarah, cowok itu berlari menghampiri sang mangsa dan meninggalkan Revan yang masih di belakang.


"Dino sabar, Din!" teriak Revan menyusul.


***


"Lo ikut, gue!" paksa Dino langsung menyeret Alan bersama Revan.


Alan yang terkejut itupun lantas langsung memberontak, tapi cekalan kedua lelaki itu semakin kuat saja.


"Apa-apaa sih kalian berdua?!"


"Lepasin! Kalian gila, ya?"


Bugh


Bogeman Dino langsung membuat Alan tersungkur, cowo itu menyentuh bibirnya yang mengeluarkan darah segar


"Dino!" sentak Revan memegangi tubuh Dino agar tidak kehilangan kendali lagi.


"Alan!!" jerit Natalie yang langsung membantu cowok itu berdiri.


Tanpa mau kalah, Alan lantas lansung membalas tonjokan Dino di tempat yang sama.


Keduanya sama-sama diselimuti emosi. Saat keduanya akan saling adu jotos, Revan langsung berdiri di paling tengah untuk memisahkan.


"Stop! Berantem nggaj akan menyelesaikan masalah! Malah kalian yang akan mendapat masalah!"


Keduanya saling menatap sengit, kalau bukan karena ucapan Revan pun mungkin saat ini kedua remaja laki-laki itu sudah saling adu jotos dan dibuat tontonan para siswa dan siswi.


"Kalau bukan dia duluan, gue nggak akan ngelakuin ini!" bela Alan yang masih mengatur nafasnya.


Dino maju mendekati Alan, tapi ditahan oleh Revan. "Justru lo yang mulai masalah duluan! Lo apain Ava sampai dia terlihat gila kayak gitu?! Lo malah enak-enakan pacaran sementara Ava menderita karena lo! Dia emang masih bernafas, tapi dia nggaj ada jiwa! Entah jiwanya ke mana?!" Cowok itu mundur, menendang bangku taman di sampingnya.


Revan menatap Alan sengit tapi masih kuat menahan emosi. "Lo harus bertanggung jawab atas perbuatan lo, kalau lo nggak mau, kita bisa laporin lo ke BK dan lo bisa dikeluarin dari sekolah karena lo secara nggak langsung udah bikin Ava depresi. Siapa tahu dengan datangnya lo di sana, Ava akan sadar."


Alan berpikir sejenak, tapi beberapa detik kemudian mengangguk.


"Lo tunggu di sini! Espèce de voyou! Dasar, *****!" titah Dino sembari mengumpat saat Natalie berniat mengekor.

__ADS_1


Gadis itu mencebikkan bibir. "Sialan!"


Natalie mendudukkan dirinya di bangku yang tadi ditendang Dino. "Ada apa sih sebenarnya? Apa Ava benar-benar gila? Kalau sampai itu terjadi, nama gue juga bisa ikut keseret. Itu cinta atau sebuah obsesi belaka?"


***


Sampai di sana, Alan langsung dihadiahi berbagai macam tatapan membunuh, terutama dari Aras, cowok itu seakan menjadi malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut jantung Alan secara perlahan agar Alan merasa tersiksa.


"Para guru aja nggak bisa ngatasi ini, apalagi cecenguk itu!" murka Ana saking tak tahan untuk mengumpat.


"Masuk. Ava ada di dalam!" perintah Safira sangat sinis serta ketus, gadis itu juga sedang menahan emosi.


Di sana juga sudah ada Bagus dan Justin, mereka memberi jarak. Justin sih biasa aja, tapi Bagusnya yang sangat tidak biasa, sebab di sana juga ada Agnes, mereka juga ikut prihatin pada kondisi Ava.


Kalau Ava tahu alasan Alan ninggalin dia, pasti Ava akan semakin sakit hati. Lebih baik gue nggak berbicara apapun, dan nunggu waktu yang tepat supaya semuanya tenang, batin Justin yang mulai khawatir.


Saat Aras ingin kehilangan kendali, ada Revan yang langsung menghadang. "Kak Aras harus tenang, setidaknya kalau bukan karena kami, itu karena Ava."


Di saat seperti ini Revan bisa menjadi orang yang sangat normal dan bijaksana. Safira yang melihat itu pun juga sedikit merasa terpesona dan kagum.


***


Alan cukup syok saat melihat keadaan Ava yang hanya duduk diam termenung, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Sama persis dengan penjelasan Dino di taman, kalau gadis itu seperti sudah tidak bernyawa.


Tepat saat Alan duduk di samping Ava, gadis itu langsung menyandarkan kepalanya di pundak Alan seolah ia sadar dan tahu kalau cowok itu datang untuknya. Alan dan teman-teman lainnya yang menyaksikan itu ikut terkejut, sangat terlihat bahwa seolah-olah selama ini obat yang bisa menyembuhkan Ava hanya Alan.


Hati Games dan Aras sedikit teriris melihat itu, tidak apa-apa, toh ini demi Ava.


Sebelum Alan berniat menggeser tubuhnya, ucapan Ava lebih dulu menghentikannya, "Sebentar aja, untuk mengobati rasa rindu dan sakit hati gue."


"Iya." Mulut Alan terlihat komat-kamit, ia hendak berbicara, namun suaranya seperti tertahan. "Ma-maafin gue karena udah ngomong kasar sama lo kemarin. Gue cuma nggak mau lo berharap lebih banyak lagi ke gue."


"Iya, gue tahu kok. Gue juga udah maafin lo, bahkan sebelum lo minta maaf. Gue cuma mau kayak gini sebentar sebelum gue benar-benar melepas dan melupakan lo." Ava mengangkat kepala lalu menatap Alan sendu, matanya berkaca-kaca. "Setelah ini, gue nggak akan menganggu hidup lo lagi. Lo bisa bahagia sama Natalie tanpa harus terganggu bayang-bayang gue." Gadis itu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Alan.


Gue bahkan sama sekali nggak mencintai Natalie, Va.


Kini, mereka semua tahu bagaimana cintanya Ava pada Alan, sehingga hanya dengan cowoj itu Ava mau berbicara normal, sadar akan lamunannya, dan berhenti menangis.


Dan, tak bisa dipungkiri kalau hati Alan ikut terasa sakit dan sesak melihat Ava dalam keadaan seperti ini, ia juga merasa sangat bersalah sekaligus tidak percaya kalau apa yang ia ucapkan waktu itu akan berdampak sangat besar bagi gadis itu.


"Lan."


"Iya, Va?"


...***...


...Haduh! Gimana otak kalian? Hati kalian? Jantung kalian? Dan, fisik kalian? Pada sehat-sehatkan, setelah baca chapter ini?...


...Kali ini Aku gemes banget sama sikap Alan yang udah kelewat batas....


...Jangan lupa tulis pendapat kalian di kolom komentar tentang chapter ini....


...***...


...Ditulis tanggal 26 November 2020...


...Dipublish tanggal 14 Mei 2021...


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2