
...
...
08:08
Saat ini upacara penutupan tengah di laksanakan. Semua siswa berbaris dengan rapi sesuai dengan kelompoknya.
"Ok. Terima kasih atas partisipasi kalian dalam melaksanakan kemah ini. Yaa ... walaupun hanya satu malam saja ..." ucap Kak Danil Andirama XI Ipa 1 selaku ketua kemah, "... jujur, setelah saya amati dan lihat data-datanya dari tahun ke tahun, kemah ini yang paling semangat, yang paling meriah karena tahun ini datengin Dinar Candy, yang biasanya cuma ngadain band dan api unggun,"
"Juga yang paling lucu, karena para siswanya yang mungkin pada jago ngelawak kali, yaa?" semua siswa di sana sontak langsung tertawa, "... bukan lucu sih, lebih tepatnya unik-unik. Di saat semua adik kelas pada tegang kalau ngomong sama kakelnya, tapi kalian malah ngomong kayak sama temen sendiri, asik, santuy lah, kayak udah kenal lama gitu,"
"Tapi harus tahu batasannya juga. Ok, upacara penutupan kali ini selesai, dan kalian bisa maju kedepan nyusul Kakak pembina kalian masing-masing buat ngasih kadonya,"
"Yang di mana nanti kita akan nunjukin kadonya sesama kakak pembina, dan kalian langsung boleh pulang. Jangan lupa setelah kalian pulang harus langsung istirahat jangan keluyuran, jangan alesan nggak berangkat sekolah karena nggak cukup istirahat."
"Ok, silahkan." semua siswa maju ke depan menyusul kakak pembinanya masing-masing.
Ava mendekatkan bibirnya pada telinga Alan dan berbisik. "Nanti kalau udah di buka Kak Risa, pas gue ngitung sampe tiga kita kabur." Alan mengangguk pelan.
...
...
...(Ava)...
Alan membawa kotak ukuran sedang dan memberikan kadonya secara bersama-sama dengan Ava.
"Waah, apa nih? Cantik banget!" tanya Kak Risa kagum, ia tidak tahu saja apa isinya.
Ava mulai ngengisyaratkan berhitung sampai tiga. Ava memegang erat tangan Alan dan bersiap untuk kabur.
Kak Risa membuka kotak tersebut, semua siswa sontak terkejut melihat isi dari kotak kado itu yang berisi banyak sekali bikini, cd, dan pembalut.
"Tiga, lari!" Ava langsung menyeret Alan pergi dari kerumunan itu.
Kak Risa menghela nafas kasar, lalu berteriak kesal sekeras-kerasnya. "Alan!!"
...
...
...(Alan)...
Sedangkan yang di panggil itu tengah berlari sambil tersenyum ke arah Ava.
"Ada apa, Sa?" tanya Kak Irwan ingin tahu.
"Nggak papa." Kak Risa langsung menutup kotaknya lalu mencengis.
"Ini gimana nanti gue nunjukinnya?" batin Kak Risa.
***
Ava yang kini berdiri di depan gerbang sekolah untuk menunggu Ana, Agnes, dan Safira keluar.
"Lama banget sih, pada ngesot kali, yaa?"
"Va, lo nggak pulang?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang entah dari mana.
"Loh, kok lo belum pulang?" bukannya menjawab Ava malah balik bertanya pada Alan.
Iya, cowo itu Alan.
Tadi setelah Alan dan Ava keluar bersama, Alan lupa memasukkan hp ke dalam tas, dan sepertinya tertinggal di meja kelas XI Bahasa saat pengembalian hp setelah selesai bersih bersih tadi
"Iya tadi ketemu kak Risa dulu, terus di marahin deh,"
Ava tertawa renyah. "Beneran? Kasian banget, lo,"
Alan tersenyum. "Mau pulang? Gue anterin!"
"Nggak ah, lo nggak bawa motor. Lagian, nanti gue pulang bareng sama Ana, Agnes sama Safira," tolak Ava secara halus, takut menyakiti hati Alan.
Alan menatap Ava. "Gue bawa motor diam-diam, karena gue nggak ada yang jemput dan males naik kendaraan umum,"
"Mana motor, lo?" Alan menunjuk sebuah toko dari sebrang jalan yang tidak jauh dari sekolahnya. Bagian bagasi ada motor dan helm Alan yang bertengger manis disana.
Ava beralih ke Alan seolah bertanya bagaimana bisa alan melakukannya. "Gue bayar seratus ribu buat jagain tu motor," Ava ber oh ria mendengar jawaban Alan.
"Ava, lo belum pulang?" tanya Aras yang tiba-tiba datang memecah obrolan Ava dan Alan.
__ADS_1
...
...
...(Aras)...
"Eeh iya, Kak!" tiba tiba sikap Ava jadi malu dan terlihat sangat mani. Alan yang melihatnya heran dan sangat tidak suka.
"Gue anterin pulang aja gimana?" tawar Aras, berharap semoga Ava mau menerima ajakannya.
Ava menatap Alan sebentar lalu beralih ke Aras lagi. "Nggak deh Kak, lagi nungguin teman,"
"Udah nggak papa kok, gue nggak sibuk," pinta Aras tak mau menyerah.
"Siapa coba yang nanya sibuk apa enggak?" gumam Alan sangat pelan, hanya dirinya yang bisa mendengar.
"Nggak usah, beneran deh, Kak,"
"Udah nggak pap-"
"Ras! Itu lo di panggil Irwan, lo urus panggungnya biar cepat di angkut." sahut teman cewe Aras yang tiba-tiba datang memotong ucapannya.
"Tuh, yang katanya nggak sibuk?" sindir Alan tanpa ragu. Aras menatap Alan sengit, lalu kembali berbicara dengan temannya.
"Eeh, gue punya utang deh kayaknya sama, Kak Aras?" gumam Ava pelan sambil mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru.
Ava menyuruh Alan mendekat ke arahnya. "Lan, nanti kalau gue bilang lari lo bawa gue ke tempat motor lo, ya?" Alan mengangguk mengerti dan paham apa yang akan Ava lakukan.
"Bentar. Kak Aras," panggil Ava pelan.
Aras menoleh. "Iya, ada apa, Va?"
Dengan gerakan secepat kilat Ava lansung memasukkan uang itu ke saku baju Aras. "Lari!" teriak Ava, sesuai rencana tadi. Alan menggandeng Ava dan membawa Ava ke tempat motornya.
Aras yang terkejut lalu memeriksa saku bajunya. Aras diam menatap uang yang di berikan Ava tadi. Setelah itu pergi bersama temannya. "Yuk!"
***
"Lan, gue pulang bareng lo, ya? Gue takut kalau nanti kak Aras nyusul kesini, terus balikin uangnya,"
"Gue nggak mau utang budi sama orang," Alan mengangguk, dengan senang hati Alan mau mengantarkan Ava.
"Sahabat-sahabat lo gimana?" tanya Alan mengingatkan.
"Udah, mereka udah gede, nggak akan nyasar kok. Lagian, mereka bisa naik apa aja, atau di anterin gebetannya juga bisa," jelas Ava, Alan terkekeh pelan.
Alan membuka jok motornya, disana ada helm berwarna merah. Alan memberikannya pada Ava. "Pake,"
"Lo, pake apa?" tanya Ava. Alan menunjukkan helm berwarna abu-abu yang biasa di pakainya.
Alan memang menaruh satu helm di jok motor untuk berjaga-jaga. Siapa tahu nanti ada cewek yang memakainya?
Ava duduk manis di belakang Alan, dan Ava bisa melihat Alan tersenyum padanya dari kaca sepion. "Ngapain lo senyum-senyum?"
"Pengen aja." Alan menjalankan motornya menembus jalanan yang saat ini ramai karena hari libur.
***
Tak ada yang bicara satupun selama perjalanan pulang dan sibuk dengan pemikiran masing-masing sambil menikmati AC alami.
"Va," panggil Alan.
"Iya, kenapa?" sahut Ava cepat.
"Lo, mau makan nggak, gue lapar? Gue yang traktir deh," Ava terlihat berpikir sebentar.
"Bukannya, tadi pagi udah, ya?"
"Belum kenyang, masih lapar," Ava mengangguk dan akhirnya mengiyakan ajakan cowok itu.
"Iya deh."
Mereka berhenti di sebuah kedai makan pinggir jalan yang cukup ramai. "Lo mau, 'kan, makan di sini?"
Ava menatap Alan sengit, merasa terhina dengan ucapan cowo itu. "Eeh, lo pikir gue sejijik itu gitu makan di pinggir jalan?"
"Gue suka makan. Mau makan di mana aja yang penting bisa makan." seru Ava yang membuat Alan tersenyum manis
Mereka duduk saling berhadapan. "Mau pesan apa, Mbak? Mas?" tanya pelayan cewek yang datang menghampiri mereka.
"Saya sate ayam, sama bakso terus minumnya jus buah naga, jangan lupa pedes semua, yaa,"
"Kalau, Mbak, nya mau pesen apa?" tanya pelayan itu.
"Samain aja Mbak, tapi jusnya alpukat yaa, sedikit gula, banyak susunya, tapi jangan terlalu manis," ujar Ava. Pelayan itu hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Cowoknya kok manis banget, ya? Bikin diabetes." gumam pelayan itu sambil berjalan pergi.
Ava yang mendengarnya langsung tersenyum. Sedangkan Alan mengalihkan perhatiannya dan berpura-pura tidak mendengar semua itu.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan mereka datang. Tanpa ada yang bicara mereka lansung memakan makanannya.
...
...
...
...
...
...
Tak baik bukan berbicara sambil makan?
***
Setelah selesai makan. Alan langsung mengantarkan Ava pulang sesuai dengan petunjuk yang Ava berikan.
Ava turun dari atas motor Alan sambil tersenyum. "Makasih yaa, udah di anterin pulang sama di jajanin,"
"Iya, santai aja kok," Alan senang. Terbukti saat ini ia tengah tersenyum lebar dan terlihat benar-benar manis.
Ava melenggang pergi meninggalkan Alan. "Ava!" panggil Alan spontan.
Ava menoleh. "Iya, ada apa?"
"Lo ... suka yaa sama, Aras?" tanya Alan to the point, tanpa mau berbasa-basi lagi.
Ava berpikir sebentar, mungkin ini ide yang bagus. Jika di lihat Alan orangnya nyambung. "Eeumm ... " Ava berbalik dan berjalan beberapa langkah, lalu menoleh ke arah Alan lagi dengan ragu-ragu, "... bisa di bilang gitu,"
Alan menunduk sebentar. Ava berbalik dan berjalan lagi mendekati pintu rumahnya. Alan mengangkat kepalanya dan menatap Ava sambil tersenyum.
"Helmnya lo simpan aja!" teriak Alan langsung menjalankan motornya menjauhi pekarangan rumah Ava.
Ava sontak memegang kepalanya. "Aaah iya, helmnya masih gue pake!" Ava langsung berlari untuk melihat siapa tahu Alan masih dekat dengan rumahnya.
"Alan!" panggil Ava berteriak. Tapi Alan nya malah sudah jauh sekali dari rumah Ava.
Ava berbalik lalu berjalan menuju rumahnya. tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan dua cewek yang tengah menatap Ava sambil tersenyum penuh selidik seperti meminta penjelasan.
...
...
...(Ana)...
Ternyata Ana dan Agnes sudah pulang. Ava hanya mencengis tak berdosa.
...
...
...(Agnes)...
"Jangan-jangan dari tadi mereka ngintipin gue sama Alan dari jendela?" batin Ava bertanya-tanya.
...***...
...Woi! Woi! Aku sampe nggak sadar nih kalau udah sampai di chapter 10, karena kerasa cepet banget....
...Ini awalnya, 'kan, Aku nulis sekitar 1500 words, terus kalau nanti setiap chapter wordsnya nambah, gimana? Pada setuju atau enggak? Tapi, penambahannya ngga sampe 2000 words, cuma mentok sampe sekitar 1900 words aja. Tolong jawab di kolom komentar yah, karena Aku butuh pendapat kalian!...
...***...
...Ditulis tanggal 22 April 2020...
...Dipublish tanggal 16 Februari 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
__ADS_1