
...
...
Paginya, Ava langsung pulang lagi ke apartementnya yang ada di Yogyakarta. Karena ini bukan musim liburan, jadi Ava harus sudah pulang dalam waktu tiga hari dan mengurus pelajaran yang tertinggal serta tugas-tugas yang belum dikumpulkan.
Sebelum itu juga gadis itu sudah berpamitan dengan teman dan sahabatnya yang juga ikut mengantar sampai bandara.
Kejadian dramatis sih tentu saja ada. Saat ada empat remaja yang menangis menahannya untuk pergi dan menyuruh Ava pindah Universitas di Jakarta saja. Siapa lagi kalau bukan Maudi, Revan, Dino, dan Safira yang hanya terpaksa pura-pura menangis karena dipaksa sang pacar.
Jujur di dalam lubuk hati yang paling dalam, sangat berat rasanya meninggalkan mereka semua dalam waktu yang cukup lama. Terlebih lagi pada kenangan yang pernah terjadi di kota Jakarta yang dibangun oleh kedua belah pihak yang sekarang sudah berdiri menuju jalannya masing-masing.
Dada rasanya sesak, mata ingin terus mengeluarkan air mata, dan hati yang masih belum sembuh sepenuhnya. Itu adalah beban terberat yang sekarang dijalani.
***
19:03
Malam ini ...
Malam ini terasa sangat menyejukkan hati, ditambah dengan hembusan angin dan turunnya rintik-rintik hujan yang membasahi sebagian kecil bumi beserta isinya.
Tidak ada bintang yang menemani bulan, bukannya tidak ada bintang, tapi ... lebih tepatnya bintang-bintang itu terhalang oleh adanya awan hitam yang menghiasi sebagian langit malam.
Gadis cantik dengan surai rambut sebahu yang sengaja dibuat bergelombang duduk di tepi balkon apartementnya. Sambil membaca sebuah novel dan secangkir teh hangat yang ia buat sendiri tadi.
...
...
Sudah puluhan kali gadis itu membaca novel yang tengah ia baca sekarang. Terkadang, ia membacanya sambil tersenyum, malu-malu, kesal, murung, marah, benci, kecewa, sesak, perih, sakit hati, bahagia, gembira, semangat, ceria, dan tentu saja dihiasi canda, dan tawa akan para pemain yang ikut andil mengambil peran dalam kisahnya.
Ia sama sekali tidak pernah bosan membaca novel itu, karena dirinya selalu berharap orang yang ada di sana juga membaca novel itu, di saat dan waktu yang sama.
Hanya satu kata yang gadis itu pikirkan, yaitu "Tidak akan terbaca".
Kenapa seperti itu?
Akan kujawab semua pertanyaan kalian, dengar dan ingat jawabanku ini, "Karena Dia yang ada di sana, tidak suka membaca", itulah mengapa Aku berkata seperti itu.
Saat sampai di akhir bab, gadis itu tersenyum sangat manis, kemudian beralih membaca sebuah sajak yang mungkin ditujukan untuk orang yang ada di sana.
<<<<|>>>>
Lampu alam sudah padam, namun ... mengapa rindu ini tak pernah sedikit pun padam? Bahkan semakin terang, melebihi terangnya bulan dan bintang yang menghiasi malam.
Di saat seperti inilah waktu yang pas untuk memikirkan rinduku, walaupun ... tak akan bisa kusalurkan untukmu ...
Sampai akhirnya terbawa kedalam alam mimpi dan membuatku kembali memikirkannya di pagi hari saat bangun tidur.
Jika kamu, sang penguasa alam rinduku membaca ini, bolehkah Aku mengucapkan selamat malam dan selamat tidur?
Aku berharap selalu memimpikanmu, dan kuharap kau juga selalu memimpikanku, walaupun itu mustahil terjadi.
Dari Aku untukmu sang penguasa malamku.
Wanita berselimut bayangmu ...
Itu, Aku.
^^^<<<<|>>>>^^^
__ADS_1
Itulah sajaknya jika kalian ingin tahu. Gadis itu menatap lurus ke depan, kemudian berdiri tepat di depan pagar besi pembatas balkon.
...
...
Ternyata rintik-rintik hujannya sudah berhenti, hanya menyisakan angin yang berhembus kencang, dan aroma debu yang khas saat terkena air hujan tadi sedikit tercium.
Merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar, setelah itu menghirup udara sebanyak mungkin, karena tiba-tiba dadanya terasa sesak dan pasokan udaranya menipis.
Ting
Ting
Itu suara nontifikasi dari ponsel miliknya, tapi tidak ada tanda-tanda gadis itu akan melihat atau bahkan mengambil benda pipih tersebut.
Sedetik kemudian, gadis itu menoleh karena rasa penasaran yang membara, menatap ponsel yang ia letakkan di atas meja tepat di samping teh hangat.
Terlihat ada nomor tak dikenal yang masuk, tidak tahu apa isi pesan tersebut, tapi yang pasti gadis itu belum mau membukanya.
Kalian harus ingat ini bahwa, "Gadis itu hanya menatap ponselnya."
Ava terdiam sejenak, ragu ingin membuka pesan yang terkirim dari sana, tapi hatinya justru berkhianat karena mendorong dirinya agar membuka pesan itu.
Perlahan tapi pasti, Ava mengambil kemudian melihat siapa yang mengirim pesan.
Dinding pertahanan yang selama ini ia bangun sekuat tenaga dan jiwa raga runtuh seketika saat pesan dengan kode 'It's Me' itu terlihat di pop-up pesan paling terakhir.
Kakinya melemas seketika, sehingga meluruh ke bawah menyentuh ubin apartement yang dingin, bebarengan dengan datangnya angin yang menyeruak menyerbu seluruh tubuh tanpa terkecuali.
Lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi dadanya terasa sangat sesak tidak karuan. Seolah sekarang ada yang menindih badannya begitu kuat. Bibir dan lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengucapkan satu kata saja. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa mati rasa. Seharusnya cairan bening dari kelopak matanya tidak keluar, tapi ia bisa apa saat hal itu terjadi secara alami?
"Kenapa lo malah datang lagi setelah gue udah bangun dinding kokoh untuk melupakan lo? Apa, karena lo udah baca surat itu?" monolognya sembari menyeka air mata yang tak henti-hentinya keluar.
Berkali-kali ia mengecek ke arah layar benda pipih tersebut. Ingin menjawab tapi takut berakhir nanti gagal move on, tapi kalau tidak dijawab juga penasaran dan ingin menyampaikan sebuah rasa rindu. Gadis itu sangat bimbang. Kenapa di saat seperti ini Ava malah jadi serba salah?
"Aaaarrrggghhh!" erangnya menggebu-gebu, saking kesalnya, gadis itu bahkan tidak sadar kalau ia membuang ponsel mahal yang baru dibelikan Millica beberapa bulan yang lalu.
Ava berhenti merengek karena menyadari sesuatu yang tadi di genggamnya tidak ada. Ia menatap ke bawah balkon yang menampakkan jalanan serta bangunan di bawahnya.
"Lah? Apel kroak tiga belas, gue?!" kejer gadis itu menyesal seraya memukul-mukul kepalanya beberapa kali dengan kedua tangan. "Habis dah nanti kalau Bunda tahu! Itu, 'kan, hadiah kelulusan."
Ting
Tong
Ava menoleh tajam dan was-was tepat ke arah pintu, menghela nafas panjang setelah itu berkata, "Siapa sih malam-malam gini ganggu aja?! Nggak tahu apa kalau gue lagi stres gini?!"
Kedua tangan gadis itu menengadah ke atas seolah berdoa. "Ya Tuhan, semoga itu bukan, Bunda. Amin ...."
Ting
Tong
"Iya, sabar!" geram Ava sembari bangkit dari duduk ngesotnya.
Berjalan ke arah pintu dengan sangat tidak sabar, ke dua kakinya dihentak-hentakkan sampai terasa bangunan itu sedikit tergetar. Membuka pintunya pun juga tidak sabaran, persis seperti orang kesetanan.
"Sia- Lan?" tertegun, mematung di tempat tanpa bergerak sedikit pun.
Seluruh tubuh beserta organ gadis itu menegang kuat, dadanya berdegup sangat kencang, kakinya kembali terasa lemas, dan hawanya tiba-tiba saja menjadi sangat horror di lorong apartement yang sepi.
Ava menelan ludahnya dengan sangat susah payah saat ada seorang manusia yang kini berdiri di depannya.
__ADS_1
Dia ...
Dia datang ke sini. Benar-benar di sini dan berdiri tepat di hadapan gadis itu sembari membawa sebuah buku.
...***...
...Hanya Sebuah Cerita...
...[Balas dendam dengan cara yang menyenangkan]...
...[Itulah caraku berterima kasih padamu]...
...|[<~End~>]|...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...~<|*|>~...
...|[<~Sekarang, benar-benar udah ending~>]|...
...***...
...Gimana sama epilognya? Suka? Nggak suka? Puas? Nggak puas? Sesuai ekspektasi? Nggak sesuai ekspektasi? Setuju sama endingnya? Nggak setuju sama endingnya? Sesuai dengan keinginan dan tebakan kalian? Nggak sesuai dengan keinginan dan tebakan kalian? Atau, malah ada yang salah semua?...
...Mohon maaf banget jika ending dan epilognya sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi, harapan, dan keinginan kalian semua....
...Tapi, Aku senang berlipat-lipat ganda banget loh, karena sesuai dengan ekspektasi, harapan, dan keinginan Aku dari awal rencana pembuatan cerita ini. Awokawokawok....
...Hahahahahha. Ketawa jahat. Auto ditaboklah sama kalian semua karena bahagia di atas penderitaan readers....
...***...
...Keep smile...
...Stay save...
...Stay healthy...
...***...
...Salam sayang dari istrinya Doh Kyung-soo yang cuek, pacarnya Doyoung yang julid, dan selingkuhannya Zong Chenle yang kiyawah....
...{Maruk banget Aku mau semuanya}...
...***...
...Ditulis tanggal 01 April 2020...
...Dipublish tanggal 04 Juni 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....