Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 79 ~ My Best Friend


__ADS_3

...Selamat pagi semuanya! Semoga selalu sehat-sehat, yah! Lebaran sebentar lagi nih....


...***...


...



...


Saat ini ada gadis cantik yang tengah menyisir rambutnya yang dibiarkan terurai panjang, rencananya ia akan pergi ke rumah sahabatnya.


Ana dan Agnes masih terlelap di kamar Ana, tadi malam Ava membangunkan Ana dan Agnes sebentar untuk memberi mereka berdua segelas air putih yang di dalamnya sudah tercampur obat tidur dengan dosis yang bisa di bilang rendah. Ava melakukan itu karena harap-harap Ana dan Agnes melupakan kejadian semalam dan menganggap bahwa itu hanyalah mimpi dan tidak akan ingat kejadian tersebut.


Aras juga belum memberi kabar apapun sampai sekarang. Mungkin cowok itu juga masih mencari informasi sedikit-demi sedikit.


Setelah selesai, Ava langsung pergi menunggangi kuda besinya menuju rumah Safira, dan tak lupa pula menutup jendela dan mengunci pintu dari luar. Ana dan Agnes juga tidak perlu khawatir karena mereka berdua tahu kalau Ava masih punya kunci cadangan yang ia letakkan di pojok kamar mandi.


***


Safira langsung duduk di belakang Ava saat gadis itu sampai di depan rumahnya.


"Tante! Om! Kami pergi dulu yah!" pamit Ava jika ada orang tua Safira di rumah, menjalankan motornya dengan kecepatan cukup tinggi.


"Orang tua gue nggak di rumah, tadi pagi baru aja pergi ke rumah sakit jengukin tetangga."


"Kok lo nggak ikut?"


Safira menabok helm yang dipakai Ava. "Ya, 'kan, gue nggak bisa batalin janji sama lo, ogeb! Eh, tapi tumben pakai helm sendiri? Udah nggak pakai helm punya, si gamers?"


"Iya enggak, kemarin abis di cuci terus langsung disimpan di lemari. Siapa tahu nanti yang punya minta balik dan biar dalam keadaan bersih."


Setelah itu tak ada yang bicara lagi, keduanya sibuk dengan imaginasi masing-masing.


***


"Assalamualaikum," salam Ava dan Safira secara bebarengan saat mereka ada di rumah berlantai dua dengan dominan warna putih tersebut.


"Ini rumah siapa sih, Va?" tanya Safira, matanya tak bisa diam dan terus mengamati rumah tersebut.


"Udah, lo diam aja. Nanti juga tahu." Tepat setelah mengatakan hal itu, ada seorang gadis cantik, manis, nan tinggi membukakan pintu.


"Ava!" girang gadis cantik itu super semangat dengan dua lesung di pipitnya yang dalam.


"Aaaaaaaa kangen!!" seru keduanya sangat semangat, seolah mereka sudah lama tidak bertemu, itu memang benar.


Beberapa menit berpelukan, gadis berlesung itu baru sadar ada gadis lain yang berdiri di samping Ava.


Seolah tahu tatapan arti tatapan sang gadis berlesung, Ava lantas langsung mengenalkan keduanya secara bergantian.


"Safira, ini namanya Sara, dia sahabat gue dari masuk SMP kelas satu. Dia sekolahnya SMK, makanya kita jarang banget ketemu karena sibuk sama urusan masing-masing." Tersenyum bergantian ke arah keduanya. "Dan Sara, ini namanya Safira, dia sahabat gue yang baru gue rekrut pas masuk sekolah SMA ini."


Sara tersenyum manis ke arah Safira, begitupun sebaliknya, keduanya saling berjabat tangan sebagai perkenalan untuk pertama kalinya.


"Gue Sara."


"Gue Safira."


Ava merangkul kedua sahabatnya dengan hangat. "Gue harap, dengan pertemuan dan perkenalan ini, kalian berdua bisa akur satu sama lain sebagai kedua sahabat gue. Yang perlu kalian tahu, gue itu memperlakukan kalian sama tanpa ada salah satu yang diistimewakan, adil. Gue hanya mau kalian lebih dekat dan lebih kenal satu sama lain."


"Pasti kok, Va," sahut Sara yang pada akhirnya tersenyum ke arah Safira.


"Iya, lo tenang aja," tambah Safira yang juga tersenyum ke arah Sara.

__ADS_1


Mereka bertiga lantas masuk ke dalam rumah Sara, menikmati secangkir teh hangat, camilan kering, kacang asin, dan cookies coklat di balkon kamarnya Sara. Udara yang segar serta angin sejuk yang sepoi-sepoi membuat kehangatan di antara mereka semakin terasa.


***


Aras mengundang pamannya yang berprofesi sebagai detektif ke rumahnya untuk memeriksa pisau yang ia bawa tadi malam dari rumah Ava, namanya Robert Nuki, tapi Aras biasanya memanggil dengan nama, Om Nuki.


Di jaman sekarang ternyata masih ada loh profesi tersebut, sayangnya Nuki tidak bekerja di Indonesia, melainkan bekerja di Prancis, Jerman, dan Inggris. Beberapa hari yang lalu Nuki pulang ke kampung halamannya Indonesia di karenakan beristirahat sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan yang identik dengan mencari atau memecahkan sesuatu.


Di negara-negara yang sudah disebutkan tadi, profesi detektif lah yang paling dicari-cari setelah para polisi tidak bisa menemukan pelaku atau memecahkan sebuah teka-teki, bisa dibilang juga pekerjaan itu sangat menguntungkan, tapi tentu harus memiliki IQ yang tinggi supaya dapat mengerti clue sekecil apapun itu, karena di sini siapapun bisa menjadi pelaku utamanya.


"Ini nggak ada sidik jarinya, bersih malahan. Yang ada itu hanya sidik jari kamu di ujung gagang pisau," ungkap sang paman sambil menatap keponakan kesayangannya setelah memeriksa beberap kali dengan berbagai alat yang bahkan Aras tak tahu apa namanya.


"Masa nggak ada sama sekali sih, Om?"


"Nggak ada, mungkin yang megang pakai sarung tangan atau apa gitu sehingga nggak ada sidik jarinya. Memangnya kenapa? Kok kamu kayak terkejut dan tegang gitu?"


"Ah nggak papa kok, cuma tanya aja. Soalnya yang megang pisau itu teman aku, dan aku cuma mau ngetes ada sidik jari dia apa enggak, karena ya ... itu tadi dia pakai sarung tangan," jelas Aras berbohong, ia cukup mempunyai alibi yang kuat untuk membodohi pamannya.


Dan, harap-harap saja pamannya tidak tahu dan tidak curiga kalau ia berbohong.


"Yaudah, Om mau menyusul Papa kamu di belakang."


"Iya, silahkan, Om."


Setelah pamannya pergi, Aras mendudukkan dirinya di kursi yang tadi diduduki sang paman sambil menatap pisau di meja. Untung saja tadi malam Aras sudah membersihkan darah hewan di pisau tersebut, sehingga pamannya tidak akan bisa menemukan bekas darah itu. Kalau adakan nanti ia bisa mati karena dicurigai dan dituduh yang macam-macam.


Entah sadar atau tidak akan apa yang Aras lakukan semalam, mencuci pisau tersebut tentu dapat menghilangkan bukti-bukti yang ada di benda itu. Sabar saja sih kalau cowok itu otaknya udah agak ngeblank.


"Emang licik dan pintar banget itu orang," gumamnya dengan tangan yang mengepal sangat kuat, rahangnya mengeras sehingga urat lehernya pada terlihat. "Liat aja, gue bakal nemuin lo dan nggak akan ngebiarin lo nyakitin, Ava."


"Siapapun lo, apapun lo, dan entah itu lo di mana, siap-siap aja kena bogeman gue saat lo nyakitin, Ava."


***


Sara hanya bisa tertawa renyah saat Ava selesai bercerita dari awal sampai akhir tentang dirinya dan Alan. Sedangkan Safira? Jangan tanyakan gadis itu, karena pasti Safira akan memasang wajah super datar.


"Aaaahhh udahlah! Nggak usah bahas itu dulu, nanti gue kepikiran tahu."


"Jadi, belum move on nih ceritanya?"


"Ya, iya lah belum. Gimana mau move on kalau gue aja masih sayang sama dia, dan belum lagi selalu ketemu di sekolah. Terus tiap hari juga nonton kemesraan Natalie sama Alan yang makin hari makin menggila," curhat Ava panjang lebar.


"Gue tahu gimana caranya lo bisa move on," celetuk Safira dengan sangat semangat, setelah Ava mendekat barulah Safira berkata. "Lo bunuh dia aja gimana? Pasti nggak bakal ketemu dan bisa move on."


Sara dan Ava sama-sama melempari Safira dengan kulit kacang. "Loh, benerkan nggak bakal ketemu lagi?"


Ava menggaruk tengkuk lehernya. "Ya iya sih nggak bakal ketemu lagi, tapi nantikan gue di penjara terus si hantui sama arwahnya."


"Yaa nyewa pembunuh bayaran dari situs dark web, 'kan, banyak tuh, lo tinggal pilih mau yang mana, dan dijamin nggak bakal ada yang tahu atau nemuin mereka."


Ava memutar bola matanya malas. "Yah, mana berani gue masuk situsnya, bisa-bisa nyawa gue terancam dan malah jadi buronan para pembunuh bayaran. Lagian kalau udah masuk tuh nggak bakal bisa balik lagi, mereka juga bisa dengan mudahnya melacak kita, soalnya di sana itu kayak pusat segala sesuatu yang bersifat keren, menakutkan, dan misterius gitu loh. Anonymous ...."


"Eh. Bentar, kita ngomongin si gamers itu di sana lidah dia bakalan ke gigit terus loh," tutur Sara yang membuat Ava dan Safira mengangguk membenarkan.


"Eh, iya juga ya apa kata lo, Sara."


Safira, 'kan, jadinya tertawa jahat karena sangat berharap kalau apa yang dikatakan Sara benar terjadi.


"Pasti kalau makan kegigit mulu dianya. Kasiah tahu, yaudah ih jangan ngomongin lagi, entar lidahnya abis karena kegigit terus."


Ava bahagia karena kedua sahabatnya bisa langsung akur tanpa rasa canggung sedikit pun, ditambah mereka yang mulai saling menerima satu sama lain.


***

__ADS_1


Di tempat yang berbeda jauh sana, ada Alan yang main ke rumah Justin untuk mengajak cowok itu mabar. Sejenak Alan bisalah menenangkan pikirannya sebentar dari semua masalah yang selama ini menerjang. Mereka berdua duduk lesehan di depan bad kasur Justin.


Dan, ini itu sudah pertandingan yang ke sekian, tentu saja Alan yang menang terus, secara dia, 'kan, udah gamers akut.


"Alasan lo apa sih sebenaranya ninggalin Ava dan milih sama Natalie?" tanyanya masih fokus dengan permainan.


"Kan, gue udah cerita panjang lebar sama lo kemarin. Telinga lo di dalam jantung, yah?"


"Emang, alasan lo cuma itu dan niat lo emang itu doang?"


"Iya, lah. Lagian, gue nggak mau Ava semakin sakit hati nantinya, jadi lebih baik gue akhiri."


"Gue sih sebenarnya nggak setuju sama rencana lo, tapi ... gue pun juga nggak bisa berbuat apa-apa karena ini hidup dan masalah lo, keputusan juga ada di tangan lo. Ya, gue berharap kalau nantinya Ava tahu alasan lo ngelakuin ini semua, dia nggak akan semakin sakit hati kayak sekarang ini. Rencananya, kapan lo bakal mengakhiri ini?"


Pertanyaan Justin membuat Alan gagal fokus dan akhirnya ia kalah bertanding dengan Justin, tiba-tiba saja pikirannya berkeliaran ke mana-mana.


Justin langsung bersorak kegirangan karena ini adalah kemenangan pertamanya saat tanding dengan sang sahabat, itupun karena tidak sengaja. "Huuuu!! Akhirnya Gue menang setelas sekian lama!!


Secepatnya, apapun bakal gue lakuin sampai Ava merasa lelah dan bosan, lalu berhenti, jawabnya dalam hati.


***


Setelah pulang dari rumah Sara dan mengantarkan Safira pulang kerumahnya, Ava langsung pulang ke rumah tanpa mampir-mampir lagi. Dilihatnya Ana dan Agnes yang tetap biasa saja menonton tv di ruang tamu, membuat Ava semakin lega dan bersyukur karena kedua sahabatnya itu lupa akan kejadian semalam.


Sebelum Ava melangkah kakinya ke kamar, Agnes yang baru sadar akan kedatangan Ava menyempatkan untuk bertanya.


"Habis darimana, Va?"


Ava menoleh dengan cepat." Habis main ke rumah Sara sama Safira tadi."


"Kok nggak ngajak-ngajak, sih?" Kedua sahabatnya merengek manja bak anak kecil.


"Ya ... 'kan, kalian berdua tidur, gue takut ganggu, jadi ya ... gue tinggal. Udah dulu yah, gue mau ke kamar ganti baju." Gadis itu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu sampai akhirnya hilang dari balik pintu.


Saat Ava akan merebahkan tubuhnya di bad kasur, ia menemukan kertas berwarna putih yang dilipat kecil. Gadis itu melirik ke sekeliking kamarnya untuk bejaga-jaga kalau ada sesuatu, dan setelah dirasa aman ia mengambil dan membuka kertas putih tersebut.


Woah! Kau menambah satu pemain lagi.


Iya, itulah yang tertulis di sana, bedanya kali ini menggunakan bolpoin biasa, bukan lagi memakai darah seperti waktu itu. Mungkin sang peneror sudah kehabisan darah?


Walau isi suratnya hanya seperti itu, tapi Ava langsung bisa tahu maksudnya.


Gadis itu lantas membanting tasnya ke lantai saking kesalnya. "Sialan!" umpat gadis itu semakin emosi, jika Ava bisa membanting sesuatu pun ia akan membanting apapun itu. Tapi, sayangnya di kamarnya hanya ada barang-barang yang ia pikir sangat berharga.


"Kapan, Tuhan, hamba bisa tenang? Hamba lelah dan takut!" erang Ava hampir putus asa dibuatnya.


Ternyata setelah melebarkan pandangannya mencari bukti lain, jendela kamarnya terbuka. Mungkin sang peneror itu lupa menutup jendela setelah masuk ke dalam kamar Ava, dan peneror itu juga mengikutinya ke manapun ia pergi. Segabut itukah dia sampai mengikuti, Ava?


"Oh. Mulai masuk lebih dalam lo, ya?!"


Untuk sekarang ini mungkin jalan ninjanya Ava untuk mendapatkan Alan akan dikesampingkan, ia harus lebih dulu dan fokus terhadap pencarian pelaku teror tersebut.


...***...


...Huhu. Siapa yang keppo sama alasan dan rencana, Alan? Kenapa kalau Justin sudah tahu semuanya, dia nggak kasih tahu ke, Ava?...


...Dan, setelah kalian baca chapter ini, apa ada yang pindah haluan? Ke Aras misalnya? Atau masih setia sama abang Alan?...


...***...


...Ditulis tanggal 10 November 2020...


...Dipublish tanggal 06 Mei 2021...

__ADS_1


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....


__ADS_2