
...
...
16:04
Ava, Alan, Justin, Ana, Bagus, dan Agnes saat ini ada di sebuah kedai tongkrongan anak muda yang menjual berbagai macam camilan, tapi di sini minumannya hanya ada jus dan es serut cup saja. Tak apalah yang penting nongkrong saja gitu.
Untungnya di sini hanya ada mereka berenam. Ava, Ana, dan Agnes sudah kenal dekat dengan sang pemilik kedai, karena saat SD dan SMP sebelum pindah ke luar negri mereka suka mampir ke sini.
Alan terlihat ragu-ragu untuk berbicara, suaranya tertahan dan tidak bisa keluar, sampai akhirnya cowok itu hanya bisa berteriak memanggil nama gadis itu.
"Ava!"
Yang ada di sana sontak langsung menoleh termasuk Ava yang menatap Alan kebingungan, dan tidak terkecuali Pak Makrup sang pemilik kedai.
Sang gadis yang dipanggil menggeser duduknya mendekati Alan. "Apa?"
Cowok itu terdiam sambil menatap mata Ava, dan hal itu sangat membuat sang gadis ketakutan setengah mati.
Bibir Alan mulai komat-kamit tidak jelas, tapi pada akhirnya Alan berbicara, "G-gue mau ..."
"Mau apa sih, Lan?" Ava menggoyang-goyangkan lengan Alan agar cowok itu cepat bicara, karena Ava sangat penasaran akan apa yang akan dilontarkan sang pacar sampai berteriak memanggilnya seperti itu.
"Gue, mau minta maaf sama lo."
Ava menghembuskan nafas kasar sambil mengusap dadanya lega. Untung saja apa yang ia takutkan tidak terjadi.
Sang gadis menatap Alan lagi. "Soal apa? Lo, 'kan, nggak salah apa-apa sama gue."
"Gue salah, Va. Gue salah karena tadi pas di kantin udah ngebentak lo di depan anak-ana."
Ava mengembangkan senyumnya. "Oh, kalau itu sih nggak masalah buat gue," Memegang tangan Alan, "... karena gue tahu lo nggak bermaksud gitu."
Cowok di samping Ava akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah Ava mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa. Alan tadi pagi juga sempat takut saat dirinya membantu Natalie, tapi ternyata Ava sama sekali tidak marah ataupun cemburu.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya. "Foto berdua yuk buat koleksi."
Alan mengangguk kemudian mendekatkan kepalanya ke arah Ava.
Alan menatap Ava sambil tersenyum sedangkan Ava menatap lensa kamera. Keduanya sama-sama tersenyum dan itu terlihat sangat manis.
Cekrek
Ava melirik Bagus yang tidak cukup sibuk karena cowok itu hanya membersihkan kuku jarinya yang mulai terlihat menghitam.
"Gus, fotoin dong cepetan!" suruh Ava.
Tanpa protes, Bagus berdiri dan langsung mengambil alih benda pipih milik Ava.
Alan bergaya cute dengan pose dua jari di samping pipi sedangkan Ava masih tetap mengembangkan senyumnya sambil memeluk Alan erat.
Cekrek
"Ganti pose."
Alan dan Ava sama-sama berpose tanpa tersenyum dan yang terlihat hanya wajah datar yang terlihat sangat elegan dan berwibawa.
Cekrek
"Ganti pose."
Alan dan Ava saling bertatapan satu sama lain, tak lupa pula sebuah senyuman yang sama-sama mengembang sangat lebar.
Cekrek
"Satu lagi, ya!" pinta Alan lagi, dan hal itu membuat Ava semakin senang.
Alan hanya ingin mempunyai banyak foto kenangan dengan Ava.
Gadis itu memeluk Alan dengan sangat erat, sedangkan cowok itu sendiri juga melakukan hal yang sama. Jadi keduanya sama-sama memeluk dengan sangat erat.
Cekrek
Bagus berdiri kemudian mengembalikan hp nya pada Ava. "Abis ini lo langsung transfer loh ya."
Alan tersenyum sedangkan Ava terkekeh.
__ADS_1
"Transfer mata lo!" Ava mengusap hidungnya.
Gadis itu mengamati setiap fotonya bersama dengan Alan. Di sana keduanya terlihat sangat bahagia.
Hubungan Alan dan Ava saat PDKT maupun saat pacaran tidak ada bedanya sama sekali. Itu permintaan Alan tadi malam.
"Gue nggak mau salah satu dari kita ada yang berubah, karena gue mau semuanya masih tetap sama."
Ava mengangguk pelan. "Iya, tapi lo juga harus janji nggak berubah sama sekali. Gue mau tetap ngelihat sifat lo yang sekarang."
Ava meletakkan ponselnya di atas meja tanpa keluar dari galeri dan layarnya pun masih menyala.
Ava bangkit dari duduk. "Lo mau apa minumnya?"
"Jus buah naga aja."
Ava mengangguk dan langsung masuk ke dalam kedai untuk memesan minuman miliknya dan milik Alan.
Karena penasaran, Alan lantas langsung mengambil hp gadisnya, kemudian menatap fotonya bersama Ava yang baru saja dijepret oleh Bagus.
Alan tersenyum memandangi foto-foto itu, tapi detik berikutnya senyum itu perlahan-lahan hilang.
Alan pindah ke album lain dengan jumlah foto yang lebih banyak dari album lainnya. Yaitu album dengan judul 'Sky'.
...
...
"Nes, ini Ava ngapain ngefoto awan sebanyak ini?"
Agnes menoleh. "Ava hobi ngefoto awan, setiap hari dia selalu bangun pagi-pagi buat ngelihat awan, dan anehnya, Ava hanya ngelakuin itu di pagi hari dan sore hari. Kalau ada awan yang dirasa keren dia langsung ngefoto. Tapi semenjak kenal sama lo, Ava udah nggak pernah gitu lagi." Agnes terkekeh. "Sibuk mikirin lo kayaknya dia."
Alan hanya mengangguk dan ber oh ria sebagai jawaban.
"Unik juga, ya, hobi Ava," tutur Justin.
"Iya, karena kata Ava itu bikin hatinya lebih tenang. Nggak tahu deh itu kata dia, kalau gue sih belum nyoba," Kali ini Ana yang angkat bicara.
Ava datang membawa satu jus alpukat dan satu jus buah naga. Saat melihat Alan memegang ponselnya, jantung gadis itu langsung dag-dig-dug tidak karuan. Ava lantas segera meletakkan jusnya di meja kemudian menyerobot benda pipih tersebut dari tangan Alan.
"Kenapa? Kok, lo kayak panik gitu?" Pertanyaan Alan membuat sekujur tubuh Ava langsung mati rasa.
"Aib?" Alan meminum jusnya.
Ava mengangguk dengan cepat. "Iya, aib. Foto-foto jelek gue maksudnya. Terkadang kalau gue bangun tidur langsung foto selfi di bawah pancaran sinar magic hour supaya estetik gitu deh."
Lagi-lagi cowok itu hanya mengangguk pelan. Tapi Alan juga sadar akan sesuatu yang disembunyiian Ava, karena bisa ia lihat Ava beberapa kali mengecek ponselnya.
Alan tidak mau ikut campur lebih dalam lagi, karena Alan yakin Ava juga punya privasi. Suatu saat Ava pasti akan bercerita dengannya.
Gadis itu menatap Alan yang tengah melamunkan sesuatu. Tidak, Alan tidak sedang melamunkan sesuatu.
Ava menatap dan melihat arah mata Alan, karena pandangan cowok itu mengarah pada bunga Dianthus caryophyllus dengan dua warna yaitu putih dan merah. Iya, Alan menatap bunga itu yang saat ini ada di antara bunga-bunga lainnya yang diletakkan di depan kedai.
Apakah Alan akan memberikan bunga itu pada Ava? Tapi sepertinya tidak karena tadi malam Alan baru saja memberikan sebuket bunga tersebut.
Ava menatap semua teman-temannya. "Eh-eh! Kalian ada yang udah pernah nonton gituan nggak, sih?"
Semuanya mengangguk setuju dan tahu apa yang di maksud Ava. Alan yang mendengar itu pun mengalihkan pandangan ke arah gadis di sampingnya.
"Pernahlah ya kali nggak pernah apalagi kita, 'kan, cowok. Ya wajarlah, bahkan kadang-kadang ada cowok yang pendiam itu lebih brutal dan berbahaya. Tahu-tahu udah ngehamilin anak orang aja gitu." Itu suara Bagus yang sangat menggelegar.
Semuanya tertawa. Pembahasan yang sama sekali tidak berguna tapi pembahasan ini lah yang paling diminati dan didengarkan banyak orang. Tak akan ada yang tahan menahan godaan untuk tidak mendengarkan pembahasan seperti itu. Bahakan yang dapat mempersatukan rakyat Indonesa bahkah dunia sekalipun.
Benar, bukan?
Ava mengusap wajahnya sambil menahan tawa. "Ya Allah, gue aja baru beberapa kali, itupun nontonnya nggak ada yang tahu." Menatap ke arah Alan. "Kalau lo berapa kali, Lan?"
"Wah dia mah tiap hari kayaknya," sahut Justin dengan bangganya.
"Benar, Lan?" tanya Ava lagi untuk memastikan.
"Nggak, ya, gue palingan satu minggu sekali," Dengan sangat santai sambil tertawa saat Alan mengatakan itu.
Dan hal itu membuat semua yang ada di sana tertawa. Ava saja sampai memukul-mukul meja beberapa kali, bibir gadis iti juga rasanya pegal.
"Kalau gue sih belum pernah, ya, terlihat jijik gitu rasanya kalau nonton." Itu pengakuan Agnes dan Ava sangat percaya karena gadis itu yang paling alim dari ketiganya.
__ADS_1
Setahu Ava, Ana juga belum pernah menonton. Tapi Ava yakin setelah mendengar pembahasan ini kedua sahabatnya akan langsung menonton karena penasaran.
"Eh jangan bilang jijik gitu! Nanti kalau lo udah punya suami, lo juga bakal suka. Malah bakalan nagih mulu tiap malam kayaknya! Kalau berjodoh, misalnya sama gue gitu!" Tawa Bagus lagi-lagi pecah di sana.
Agnes menabok pipi cowok di sampingnya pelan. "Eh belum tentu juga kita langeng, ya!"
Kadang tawa seseorang yang sangat seru dan menggelegar itu yang malah sangat menular. Dan di buktikan sekarang bahwa ke lima orang itu tengah tertawa terpingkal-pingkal. Di tambah dengan pukulan meja yang ada di depan mereka dan hal itu malah semakin menambah keriuhan di kedai tersebut.
"Dulu, kalau gue nonton itu saat gue ingat, jadi kalau nggak ingat, ya, nggak nonton. Tapi sekarang udah nggak pernah soalnya kayak ada berbagai halangan gitu. Misalnya takut jadi bodoh karena nggak konek, nggak naik kelas, rangking turun, kecelakaan, dan lain-lain deh pokoknya." Ava juga sangat semangat membahasnya karena gadis itu sepertinya juga terlahir dengan otak ****** (mesum).
Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lah kenapa jadi bahas giniah, dah?"
"Nggak papa sekalian untuk pengetahuan nanti kalau kita nikah. Nanti kalau lo nggak tahu caranyakan berabe dan malah nggak seru. Yakali dijelasin dan nonton tutorialnya dulu, nanti malah suamimu ini tidak terpuaskan," jawab Justin diiringi tawa candaan dan langsung mendapat tonyoran dari Ana.
"Apaan sih lo?! Nggak jelas tahu nggak!" balas Ana tak bisa menyembunyikan semburat malu dan tawanya yang ditahan.
Tertawa, tertawa, dan tertawa. Hal itu mungkin tidak cukup untuk menggambarkan kegembiraan hari ini yang begitu sempurna hanya membahas hal seperti itu.
Tapi melihat Alan yang tertawa lepas seperti itu membuat sifat cuek Alan sama sekali tidak terlihat. Selain itu juga karena Ava bisa mengulur waktu karena dengan itu untuk pertama kalinya Alan tertawa sangat lepas dan terlihat bebas.
Gadis itu jadi ikut tersenyum dan tertawa dibuatnya. Andai saja Ava tidak membahas hal itu mungkin di kedai ini tidak akan seramai ini padahal hanya ada enam orang saja. Para pengendara yang melihat itu juga kebingungan sekaligus penasaran.
Mungkin yang di pikirkan orang-orang itu adalah, Apa yang dibahas di sana sehingga membuat tawanya sampai terpingkal-pingkal dan terlihat begitu seru serta menyenangkan? Mungkin seperti itu.
***
Ana dan Agnes saat ini ada di dalam kamar mandi yang terletak di samping dapur.
"Nyarinya gimana?" tanya Agnes yang saat ini memegang ponsel
"Ya, tinggal ketik aja gitu."
"Ya, ketik apa dong? Jangan ngawur."
"Gue pernah dengar dari anak-anak kelas kalau kodenya itu XXX. Tapi, nggak tahu itu benar apa enggak, coba aja."
Agnes menyodorkan ponselnya pada Ana yang duduk di atas kloset. "Nih, lo aja. Gue nggak berani."
"Lo aja, gue juga nggak berani soalnya."
"Lha terus kalau pada nggak berani siapa yang bakal nyari?" protes Ana dengan nada yang mulai meninggi.
"Kan, tadi lo bilang kodenya XXX, jadi mendingan lo aja."
Ana menarik kepala ke belakang. "Lah? Itu lo juga tahu kodenya, jadi mendingan lo aja. Selain itu, lo juga yang bawa hp."
Kening Agnes berkerut. "Lah? Bukannya tadi lo nyeret gue ke sini karena pengen memastikan dan membuktikan keseruannya?"
Ana tersenyum kecut bersamaan dengan Agnes yang bersedekap dada. "Iya juga sih, tapi, 'kan, lo nya juga mau gue ajak."
Agnes menurunkan kedua tangannya. "Tapi, kira-kira nanti bakal ada imbasnya nggak, ya?"
"Iya nih, gue jadi takut sendiri. Terus, ini jadi nggak?"
Agnes menghembuskan nafas kasar. "Nggak jadi aja deh, tapi pengen ...."
"Gimana, kalau kita suruh nyariin, Ava aja?"
"Jangan! Mau taruh di mana wajah kita kalau Ava tahu? Lagian kita, 'kan, udah bilang tadi sama dia dan yang lainnya kalau kita nggak akan mau nonton."
"Ya udahlah, nggak jadi aja."
Kedua remaja perempuan yang dirundung penasaran dan kegelisahan itupun keluar dari kamar mandi, serta menganggap hal itu tidak pernah terjadi.
Betapa terkejutnya mereka berdua saat sudah ada Ava yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi dengan seringai yang cukup menyeramkan.
"Hayo? Kalian ngapain tadi? Bahas apa sih sampai harus berdua di sana?"
Ana dan Agnes saling tatap, setelahnya mereka terkekeh kikuk karena sudah tertangkap basah di depan pakarnya sendiri.
...***...
...Pasti di sini ada dedek-dedek di bawah umur, ya? Silahkan tunjuk tangannya!...
...***...
...Ditulis tanggal 05 Oktober 2020...
...Dipublish tanggal 18 April 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....