
...Masih kuat nggak puasanya? Harus kuat dong!...
...Tadi kalian sahurnya pakai lauk apa?...
...***...
...
...
Justin dan Alan langsung berlari secepat kilat ke kelas X Ips 4.
Rasanya pegangan tangan Ava mulai melemah, ia sudah tidak kuat lagi menahan tubuhnya yang menggantung bebas di pagar pembatas kelas.
Mata gadis itu berkurang-kunang dan badannya sudah sangat lemas.
Setelah sampai di sana, Justin langsung mendorong Games yang tadi memegang kuat tangan Ava. "Minggir lo, sialan!"
Tapi, saat pegangan tangannya mulai melonggar, ada sepasang tangan yang tiba-tiba memegang kedua tangan Ava dengan sangat erat. Kedua orang itu lantas langsung menarik tubuh Ava ke atas dengan perlahan-lahan.
Justin mendorong bahu Games dengan kasar. "Hah! Maksud lo apa kayak gitu?! Lo mau bunuh, Ava?! Gue tahu lo suka Ava! Tapi saat cinta lo nggak terbalaskan, emang harus lo senekat ini?!"
Karena tidak terima Games juga mendorong kasar bahu justin. "Dengar, ya! Gue nggak sebodoh dan selicik itu untuk nyakitin orang yang gue suka! Lo kalau nggak tahu apa-apa mendingan diam aja!"
Jadilah mereka sekarang dorong-dorongan.
"Halah! Nggak usah banyak alasan dah lo! Kalau salah, ya, salah aja! Gue bakal laporin ini ke BK! Tunggu aja!"
Selagi Justin dan Games adu argumen, Alan mencoba menyadarkan Ava agar gadis itu tidak jadi pingsan.
Walaupun mata Ava berkurang-kunang dan hampir buram, tapi ia tahu dan sadar siapa orang yang saat ini mendekap, memanggil, dan menepuk pipinya pelan. Iya, orang itu adalah Alan.
"Ava, sadar," ucap cowok itu dengan nada yang sangat khawatir, Alan menempelkan punggung tangannya di dahi Ava. "Panas."
"Alan," panggil Ava dengan nada yang sangat pelan serta lirih, seperti tidak ada tenaga sama sekali.
Tapi sedetik kemudian mata gadis itu yang awalnya buram mulai gelap dan tak terlihat apa-apa. Ava pingsan di dekapan hangat Alan, sedangkan cowok itu langsung menggendong Ava ala Bridal Style, dan meninggalkan Justin dengan Games yang tengah sibuk adu mulut.
***
Dino menoel kasar tangan Safira dan Revan yang ada di sampingnya. "Itu! Alan sama Ava, 'kan?!"
Kedua temannya langsung menoleh. "Wah gila! Romantis banget!" Mulut Revan menganga lebar. "Digendong dong coy!"
Kenapa saat ini Revan dan Dino berubah? Terlihat seperti sudah tidak ada rasa suka pada Ava.
Apa jangan-jangan sudah ada yang mengisi kekosongan hati mereka masing-masing? Tapi, kira-kira siapa?
Perlombaan di lapangan lantas berhenti dan semua mata tertuju pada Alan yang tengah menggendong Ava di dalam dekapan hangatnya. Bagaimana semua siswa tidak melihat itu karena Alan berjalan di depan gedung kelas XI yang bersebrangan langsung dengan lapangan utama.
Terlihat sangat romantis bak pasangan idaman, sayangnya Alan tak merasa dan tak mau merasa seperti itu. Cowok itu sama sekali tidak menghiraukan sorak-sorak kegirangan dari para siswa dan guru yang ada di sana.
Sedangkan Safira sendiri diam tidak suka dengan hal itu, ia sudah memberi peringatan pada Alan untuk tidak dekat-dekat dengan Ava lagi. Gadis itu langsung berjalan mengekor jauh mengikuti Alan yang ingin ke uks.
Tak terkecuali dengan Natalie yang saat ini berdiri tak percaya, meremas camilan di tangannya. "Sialan, ya, lo, pada!" umpat gadis itu tak terima dengan sorot mata berapi-api.
***
Di area yang sama tapi di sisi yang berbeda, lebih tepatnya di depan ruang TU, Dinda yang duduk bersebelahan dengan Aras tersenyum sinis.
"Itu yang masih lo tunggu? Gue, 'kan, udah bilang kalau gue nggak bisa dapetin lo, maka lo juga nggak bisa dapetin Ava."
Aras yang tadi menatap tidak suka ke arah Alan dan Ava beralih menatap Dinda sengit. "Mendingan lo diam dan tutup mulut lo rapat-rapat." Menekankan kata perkata.
Dinda mengelus pelan bahu Aras lalu tersenyum samar. "Ok. Kita liat aja nanti endingnya gimana." Gadis itu langsung beranjak pergi bersama Ambro dan Denise. "Ayo kita pergi, gue haus."
Lo udah janji sama Ava untuk nggak ngeganggu mereka, Aras!
Untuk menenangkan sekaligus menepati setiap janjinya.
__ADS_1
***
Alan menidurkan Ava di atas ranjang uks, dilihatnya gadis di depannya ini masih dengan wajah datar. Sesaat sebelum pergi dari sana, ada sebuah tangan lembut yang memegang tangan Alan, sehingga mau tak mau hal itu membuat si cowok menoleh.
Wajah gadis itu terlihat sangat pucat dan bibir yang biasanya terlihat merah merona menjadi agak sedikit kering, serta sorot mata dan raut wajah yang biasanya memancarkan keceriaan dan semangat membara kiri berubah sayu.
Alan baru sadar bahwa Ava lebih cantik jika tertidur seperti ini, terlihat sangat damai dan tenang walau Alan tak tahu kedaan asli gadis itu seperti apa.
Dilihatnya Ava yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca, sangat sayang bahwa iris mata indah warna coklat itu dibuat menangis terus.
"Kalau lo benci dan nggak suka sama gue, kenapa lo mau nolongin, gue?"
"Gue nggak sejahat dan sebodoh itu untuk ngebiarin orang mati." Alan memalingkan wajahnya lurus ke depan. "Lagian, bukan cuma gue yang nolongin, lo."
Iya, itu adalah jawaban yang sangat masuk akal
"Jangan pergi, gue mau lo tetap di sini nemenin gue, Alan. Gue rindu sama lo, semua tentang lo, dan apapun yang ada di diri lo. Termasuk wangi parfum manis yang membalut tubuh lo, gue juga rindu sentuhan hangat dan menenangkan yang lo kasih."
Saat itu juga pintu uks terbuka dan menampakkan Safira dengan raut wajah tidak bersahabat menatap Alan.
"Ada dia yang nemenin." Alan melepas cekalan tangan Ava lalu pergi dari sana.
Setelah menutup pintu, Safira duduk di samping Ava. "Ava, lo kenapa sih? Kok bisa sampai kayak gini?"
Ava mencoba bangkit pelan-pelan untuk duduk dibantu Safira juga, gadis lemah itu menatap wajah sahabat yang khawatir setengah mati.
Flashback On
Ava keluar kelas lalu duduk bergelantung di atas pembatas kelas. Gadis itu menatap langit yang hari ini bersih tanpa adanya awan putih yang menghiasi, seolah awan biru itu adalah dirinya dan Alan awan putih yang saat ini tak ada di sisinya.
Ava menatap kakinya yang menggantung. "Harusnya ada empat kaki yang menggantung di sini."
"Kalau gitu, gue dua kakinya," ucap orang yang tiba-tiba sudah ada di belakang dengan kedua tangannya dilipat di depan dada.
"Ngapain lo di sini?!" tanya Ava tanpa ada nada keramahan di dalamnya.
"Yaa ... diam aja sih. Emang lo nggak takut kalau duduk di atas, gitu?"
Gadis itu tiba-tiba saja teringat akan ucapan dan siasat Millica tadi malam tentang Games.
Flashback On
Ava mendongak, memperlihatkan wajah tidak suka. "Games? Kenapa bahas dia?"
"Ya ... 'kan, katanya kamu nggak suka sama dia dan kamu risih serta nggak nyaman kalau digituin?"
Ava kembali menyandarkan kepalanya di dada Millica. "Iya, Bunda. Ava udah nunjukin ke nggak sukaan Ava sama Games dengan semua penolakan, memasang wajah datar, tidak menjawab apapun yang Games katakan, dan selalu membantah, tapi Games nya tetap mendekat. Ava juga nggak mau kalau anak-anak kelas menyimpulkan bahwa Ava diistimewakan oleh dia atau diisukan punya hubungan yang special sama Games."
"Kamu coba beri dia kesempatan untuk dia mendekat ke kamu."
Ava melepas pelukan Millica. "Kan, Ava udah bilang kalau Ava nggak suka sama dia, kok Bunda malah nyuruh Ava ngasih kesempatan sama Games supaya mendekat?"
Dalam hati gadis itu berucap, "Mungkin, ini bukan waktu yang tepat."
Flashback Off
Ava berdecak tidak suka, Games selau ingin tahu urusan Ava. "Pergi lo, sana!"
"Ha! Ha! Hayo!" Games menakut nakuti Ava dengan kedua tangannya seperti ingin mendorong Ava agar jatuh dari belakang.
"Diem lo ah! Pergi deh sana!" sentak Ava yang mulai habis kesabaran.
Bukannya menjauh, Games malah terus saja melakukan itu. Jaraknya semakin dan semakin dekat dengan Ava.
"Hayo loh!" Games melakukan gerakan tadi berulang ulang.
"Aaaaaaaaaaa!!"
Ava yang semakin takut dan mulai hilang keseimbangan itu pun lantas terjatuh dari duduk lalu menggelantung di pembatas kelas, jika Ava tak sigap dalam memegang bibir pembatas itu mungkin saat ini tubuh gadis itu sudah rengkuk dan patah karena jatuh dari lantai tiga.
Games yang sadar akan apa yang ia lakukan bisa membuat orang meregang nyawa lantas memegang kuat-kuat tangan Ava, tapi sayangnya, ia tak punya cukup tenaga untuk menarik tubuh Ava ke atas lagi. "Bertahan Ava! Jangan sampai jatuh, gue bakal tarik lo ke atas."
__ADS_1
Karena saking takutnya Ava sampai menangis dan berpikiran aneh-aneh kalau dirinya akan dijemput Sang Maha Kuasa sekarang juga. Perlahan-lahan tenaganya mulai habis, tubuhnya terasa lemas dan matanya mulai berkunang kunang.
Tapi, tiba- tiba sebelum Ava terjatuh, ada dua tangan yang memegang lalu menarik tubuhbya kembali ke atas. Yang Ava lihat pertama kali adalah wajah rupawan Alan yang memanggil, menepuk, dan mendekap Ava di dalam pelukannya.
Dalam hati gadis itu tersenyum bahagia. "Alan."
Sayangnya itu hanya sesaat, karena penglihatan Ava semakin buram, tidak terlihat apa-apa lalu pingsan.
Flashback Off
Safira mengangguk pelan setelah mendapat penjelasan panjang dari Ava. Safira sudah salah menilai Alan, ternyata cowok itu hanya ingin menolong Ava. Walau begitu Safira tak akan mau minta maaf pada cowok itu, toh Alan juga tidak mengetahui kalau Safira menuduh yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Ya udah, sekarang lo istirahat aja dulu. Lo masih syok, nanti gue ijinin lo ke guru dan mengantar lo pulang. Okay?"
Ava mengangguk pelan, mungkin apa yang dikatakan Safira ada benarnya. Kali ini gadis itu akan menurut dan tidak akan membantah, tenaganya sudah cukup teruras beberapa hari ini karena terlalu banyak berpikir, melamun, dan menangis. Ava sangat butuh istirahat saat ini dan seterusnya.
***
Ava kini ada di kamarnya sendirian, setelah beberapa menit yang lalu ditinggal Safira, Ana, Agnes, Revan, Dino, Bagus, dan Justin tadi juga ingin ijin untuk menemani Ava, tapi peraturan sekolah harus tetap ditaati, karena perlombaannya belum selesai jadinya mereka tidak boleh pulang. Ava juga mengatakan kalau tidak apa-apa ditinggal sendirian.
Ava beralih duduk di salah satu spot favoritnya sambil mendengarkan salah satu favoritnya lagu menggunalan earphone, di depan jendela kamar.
...🎶Don't Give Up On Me - Andy Grammar...
Iya, itu lagu yang saat ini tengah Ava putar untuk mengisi kekosongan dan kegabutan Ava yang menatap para pengendara di jalan dari kamarnya, sembari sesekali ikut melantunkan lagu tersebut.
"Apa ini adalah kode dari, Tuhan, kalau gue masih ada kesempatan dapetin Alan lagi?"
"Tapi, benar kata Alan, siapapun itu juga nggak akan ngebiarin orang mati."
"Tapi, pas gue pegang tangan Alan, dia nggak marah ataupun nepis?"
"Apa jangan-jangan, Alan sendiri yang ngasih kesempatan buat, gue?"
"Dunia itu penuh dengen pilihan Ava. Bersikap menyebalkan atau menyenangkan, kuat atau lemah, senyum atau murung, bahagia atau sengsara, berjuang atau menyerah, bukti atau tanpa bukti, diam atau mengejar, menetap atau pergi, melupakan atau mengingat, memaafkan atau memendam, dan ikhlas atau dendam."
Kata-kata dan nasehat Bunda nya tadi malam terus terngiang-ngiang dengan jelas di hati dan pikiran Ava.
"Berjuang atau menyerah," gumamnya sangat pelan menatap lurus ke depan.
Ava bermonolog dengan dirinya sendiri, bukannya istirahat untuk menenangkan pikirannya, Ava justru masih memikirkan Alan. Sekarang gadis itu tidak bisa tidak memikirkan Alan satu hari saja. Ava terlihat tidak kapok walau sudah berkali-kali disakiti, pokoknya hobinya saat ini adalah memikirkan Alan.
Titik! Tidak ada yang boleh nganggu gugat!
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu dari bawah cukup keras, sehingga Ava yang memakai earphone bisa mendengarnya.
Gadis itu meletakkan earphone dan juga hp nya di pinggir jendela lalu turun ke bawah. Siapa tahu itu Safira yang kembali lagi karena khawatir.
Setelah membuka pintu rumah, Ava langsung memundurkan kaki beberapa langkah dari pintu, matanya membulat sempurna, menganga tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat di depan pintu.
...***...
...Ayo tebak, apa yang dilihat Ava di depan pintu?...
...Enak banget jadi Ava, bisa diperebutkan empat orang. Padahal mah aslinya dia biasa-biasa aja gitu nggak terlalu menarik perhatian yang lain....
...Nggak tahu kenapa padahal nggak ada lucu-lucunya sama sekali, Aku rada ngagak ngebaca chapter ini....
...Maklum aja, Aku bobrok dan receh banget jadi orang. Jadi, sedikit hal apapun itu kadang bikin Aku ngakak nggak berhenti-berhenti....
...***...
...Ditulis tanggal 23 Oktober 2020...
...Dipublish tanggal 28 April 2021...
__ADS_1
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....