Hanya Sebuah Cerita

Hanya Sebuah Cerita
Chapter 82 ~ Terbongkar


__ADS_3

...



...


Akibat dari kejadian di kantin beberapa waktu yang lalu, sekarang banyak yang menghina dan mencela diri Ava dengan berbagai macam umpatan kasar.


Bahkan Maudi pun sekarang sudah berani dan semakin gencar mengerjai Ava, mulai dari meletakkan ember berisi air di atas pintu agar nanti seragam Ava basah, mencoret-coret meja Ava dengan correction tape sehingga ia yang harus mendapat omelan dari guru, menjagalnya, sering adu mulut, mengambil alat tulis Ava secara paksa, melempar sesuatu seperti kertas, penghapus white board, bolpoin, dan barang-barang kecil lainnya.


Tentu, gadis itu bisa melawan Maudi dkk, tapi untuk sekarang mungkin biarkan saja karena semakin ke sini koneksi Maudi semakin banyak. Sedangkan Safira? Iya, gadis itu hanya diam karena disuruh Ava, dan teman-teman yang lainnya? Mereka pun juga sama, Ava hanya perlu bersabar supaya tragedi di kantin itu mereda, yang Ava fokuskan saat ini adalah menemukan sang peneror.


Bel istirahat berbunyi, seperti biasa semua siswa pergi mengisi kekosongan perut mereka ke kantin, dan untuk sementara waktu juga, Ava tidak pergi ke kantin dan menyuruh Safira membelikan apa yang ia mau.


"Lo pesan apa?"


"Seperti biasa. Siomay dan jus alpukat sedikit gula banyak susunya tapi jangan terlalu manis."


"Revan! Dino! Jagain Ava!"


Ke dua cowok yang disebut namanya langsung mengacungkan jempol tanpa menatap yang bicara.


Safira mengangguk lalu pergi dari sana, tidak lupa dengan senyum penyemangat bagi Ava yang selalu menghiasai wajah gadis itu. Safira bernafas lega saat ia tak di laporkan Natalie ke BK, jadinyakan Ava tidak tahu akan apa yang telah ia perbuat kepada cowok bernama, Alan.


Sebagian siswa masih berada di sana termasuk Revan dan Dino yang selalu mabar, ada Maudi dkk, serta ada juga Games yang entah hanya memainkan ponselnya.


Sejak tadi pagi sewaktu Ava duduk di kursinya ia merasa ada yang janggal, dan sampai sekarang pun masih terasa janggal, sebab itulah ia duduknya juga tidak nyaman.


Kerena sudah sangat tidak nyaman gadis itu langsung berdiri untuk ke kamar mandi sekedar membasuh wajahnya karena sedikit mengantuk, tapi saat Ava berdiri, ada sesuatu yang terjadi dengan roknya.


Kreek


Rok gadis itu sobek dan sisanya masih tertempel di kursi, dan saat itu juga tawa siswa seisi kelas langsung pecah di sana. Dino dan Revan menahan tawanya, sedangkan yang benar-benar tidak tertawa adalah Games.


"Bahahahahah!!"


Ava hanya diam dan menarik nafas dalam-dalam, untung saja dia membawa celana jeans pendek dan membawa hoodie miliknya sendiri yang berwarna kuning kunyit. Hoodie itu ia ikatkan di pinggang lalu menyusul pelaku yang tawanya paling keras dari yang lain, sambil membawa buku paket yang sangat tebal.


Stop! Kini kesabarannya telah di ujung tanduk, kali ini ia akan memberi pelajaran pada Maudi dkk sama seperti sebelumnya saat ia selalu ditindas oleh tujuh gadis tersebut.


"Wah! Gebetan lo mati tuh nanti. Nyari gara-gara terus sih," bisik Revan tepat di telinga Dino.


Sedangkan Dino? Ia masih tenang dan santai saja, toh ia juga tidak suka-suka banget sama Maudi, mungkin.


Ava menatap datar ke tujuh gadis yang juga menatapnya sambil tertawa kecil.


"Mau apa lo?" tanya Maudi berniat meledek.


Bugh


Buhg

__ADS_1


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


Ava memukulkan secara cepat buku paket tersebut ke arah enam ciwi-ciwi tersebut sehingga membuat mereka meringis kesakitan, pukulannya tidak main-main. Maudi tidak dipukul tapi gadis itu diseret Ava menuju suatu tempat, meletakkan buku paketnya di atas meja guru.


"Dino! Ikut, gue!"


Cowok itu langsung mengekor, ia juga takut kalau nanti terjadi apa-apa dengan kedua gadis tersebut, siapa tahu ia berguna di sana.


Karena tidak mau, Maudi terus memberontak dan mengeluarkan berbagai macam umpatan kasar, sayangnya jika sedang marah seperti ini kekuatan Ava tak akan goyah jika disandingkan dengan gadis lain. Jadi, kalau dengan laki-laki Ava masih bisa kalah gitu.


Selama perjalanan tak sedikit yang menatap. Dino? Bodo amat. Ava? Ia juga bodo amat. Maudi? Gadis itu tentu malu karena diseret-seret bak hewan peliharaan.


"Lepasin! Dasar ogeb lo, ya!"


"Lepasin nggak! Udah gila lo, ya?"


"Woi! Dasar budeg!"


Ava masih tidak goyah dan terus berjalan menyeret Maudi, dino hanya diam karena tidak mau mengusik. Tapi, ada sedikit rasa kasihan saat Ava menyeret Maudi karena ia yakin kalau Ava mencekal lengan Maudi dengan sangat kuat, buktinya gadis itu terus meringis mencoba melepaskan cekalan tangannya.


"Lo pantas ditinggalin Alan!"


Maudi meringis saat Ava mengeratkan cekalannya. "Kalau lo nggak diam, gue jamin setelah ini tangan lo bakalan patah," berucap dengan nada datar tanpa ekspresi.


Maudi sadar kalau Ava tidak main-main sekarang, jadi mau tidak mau ia menuruti dan tidak memberontak lagi.


***


Maudi memegang pergelangan tangannya yang memerah sekaligus berbekas jemari Ava.


"Tutup pintunya rapat-rapat dan jangan biarin dia kabur!"


Dino langsung menutup pintu taman belakang sekolah. Ia tak mau ikut campur dan cukup menonton pertunjukan yang ia yakin akan seru nantinya di pojok kanan taman kecil.


Perlahan tapi pasti Ava mendekati Maudi, sedangkan gadis itu masih berdiri di tempat tanpa goyah.


"Salah gue apa sama lo?" Masih sabar dan dengan nada biasa.


Maudi diam, dan hal itu semakin membuat Ava kesal. "Gue tanya! Salah gue apa sama lo?! Sampai lo ngerjain dan ngebully gue habis-habisan?!"


Maudi melengos lalu menatap Ava dengan berani, ada sorot kemarahan juga di sana.


Tapi beberapa detik kemudian sorot mata Maudi berubah sendu. "Dari awal masuk sekolah sampai sekarang, lo selalu dikelilingi banyak teman dan sahabat, semua siswa dan siswi memuja dan suka sama lo, apapun yang lo lakuin selalu benar di mata mereka." Menunjuk dirinya sendiri, dan baru kali ini juga Ava melihat Maudi menitihkan air mata. Dino yang melihat itu langsung merasa ikut sedih dan iba.


"Sedangkan gue? Memiliki satu teman pun nggak ada, karena gue orang yang susah bergaul, anak tunggal dari keluarga kaya yang orang tuanya lebih mementingkan uang dan kerja daripada anaknya nggak menjamin gue punya banyak teman, justru gue semakin banyak musuh."

__ADS_1


"Awalnya ... gue ingin bergabung sama kalian semua, karena kalian terlihat saling menghormati dan menyayangi tanpa memandang apapun itu. Selalu tertawa dan saling menghibur, tapi ... setelah gue amati beberapa kali, seperti tidak ada celah buat gue di sana, dan daripada gue menjadi orang asing di antara kalian, lebih baik gue menjauh."


Tangis Maudi langsung pecah di sana, bibir gadis itu juga bergetar, perlahan-lahan juga kemarahan Ava berkurang. "Tapi tiba-tiba ada enam gadis yang ngedeketin gue. Ke enam gadis yang selalu ada didekat gue itu bukan teman gue, mereka justru budak-budak gue, karena apapun yang gue suruh selagi gue bayar, mereka mau. Gue tahu dan gue sadar kalau mereka memanfaatkan gue karena harta gue banyak."


"It's okay asalkan gue punya teman. Gue yang selalu membayar apapun yang mereka beli dan nganterin mereka pulang, yang bahkan ... sekalipun mereka nggak pernah mau dan selalu menyela saat gue ingin bercerita semua keluh kesah gue. Tentu, sebagai manusia biasa gue punya naluri untuk bercerita, dan tentu juga mempunyai banyak masalah lainnya."


"Hari itu, gue mencoba kabur dari kantin dan melihat apakah mereka mau membayar apa yang mereka pesan dengan uang mereka sendiri tanpa mengendalkan uang gue. Tentu dengan harapan mereka akan berubah menghargai dan berteman tanpa mengharap imbalan apapun. Tapi, harapan itu hilang saat mereka justru mengejar dan menyeret gue untuk mebayar pesanan mereka, yang bahkan mereka melakukan itu di depan Dino."


Saat Maudi menjelaskan hal itu, pertanyaan yang ada di otak Dino selama ini perlahan-lahan terkuak. "Jadi ... itu alasannya sampai Maudi nabrak gue dan diseret paksa gadis-gadis itu?"


"Semua. Semuanya yang mereka beli gue yang bayar dengan tabungan uang saku yang udah gue kumpulin dari SMP kelas satu sampai sekarang. Uang yang nantinya akan gue gunakan untuk usaha sendiri supaya menjadi gadis mandiri tanpa perlu meminta sama kedua orang tua gue lagi."


"Saat Mama dan Papa gue melihat tabungan gue menipis, mereka tanya uang itu buat apa karena mereka pun nggak pernah lihat gue membeli sesuatu sampai benar-benar barang itu gue perlukan. Gue menjawab dengan jujur kalau uang itu gue pakai untuk membelanjakan teman-teman gue, sedangkan mobilnya gue pakai untuk antar jemput mereka, dan sebagai hukumannya, gue pun nggak boleh bawa mobil sendiri sekarang."


"Nggak papa tabungan gue habis, nggak papa gue dimarin orangtua, dan nggak papa kalau fasilitas gue dicabut, asalkan ada mereka berenam yang selalu ada di sisi gue. Sayangnya, itu cuma angan-angan gue aja, setelah mereka tahu semua fasilitas gue dicabut dan segala sesuatu dibatasin, perlahan-lahan mereka mulai menjauh dan mencari mangsa lain lagi yang lebih kaya dari gue."


Jahat? Iya memang, tapi di dunia tentu ada yang seperti itu, nyata.


Maudi menyeka air matanya, ia juga sebenarnya malu dan tepaksa mengatakan ini semua, itu ia lakukan karena sudah tidak kuat membendung semua apa yang ia rasakan selama ini. "Saat itu ada Dino yang tiba-tiba datang nawarin untuk ngantsr gue pulang, hal itu terjadi beberapa kali. Semakin lama seperti ada perasaan aneh yang timbul di hati, gue yakin dan percaya kalau Dino datang dikirim oleh Tuhan untuk menjadi satu-satunya teman gue, yang bisa gue percaya tentunya."


"Tapi, nggak lama kemudian, perasaan dan kepercayaan itu gue tampik karena nggak mungkin Dino suka sama gadis seperti gue. Selain itu, beberapa hari kemudian juga dia udah nggak ngedeketin gue lagi dan Dino tetap bersikap biasa saja, jadi gue pikir rasa penasaran dia udah terjawabkan. Gue juga takut kalau gue jatuh cinta, Dino bakalan ninggalin gue kayak Alan ninggalin lo karena rasa penasaran dia udah hilang. Gue nggak mau terlalu berharap, cara gue nutupin rasa sakit itu cuma dengan nyakitin dan menggangu orang lain, supaya gue terlihat tidak apa-apa, baik-baik saja, dan selalu bahagia di mata orang lain yang melihat itu."


Tangan Ava yang tadinya mengepal kuat mulai merenggang, dan ikut merasakan sesak di dadanya. Sedangkan Dino? Cowok itu terkejut sekaligus tidak percaya akan fakta yang Maudi ucapkan tentangnya.


"Saat ke enam gadis itu udah mulai curiga kalau gue suka sama Dino, mereka semua melarang keras hal itu, dan kalau gue sampai melanggar, mereka nggak mau dan bakal ninggalin gue sendirian. Siapa sih yang mau sendirian terus? Maka dari itu, saat itu juga gue mengubur dalam-dalam perasaan gue terhadap Dino. Terlebih, kemarin lo nepis kasar tangan gue saat gue dengan tulus ingin membantu lo, hal itu membuat gue semakin sakit hati dan memendam kebencian. Bahkan merembet ke kalian semua yang berhubungan sama lo, Ava."


Dadanya semakin terasa sesak, tapi untungnya juga beban yang ia pikul sendiri selama ini perlahan-lahan mulai berkurang. "Gue orang yang kaku, nggak asik, suka ngambek, keras kepala, dan pemarah. Maka dari itu, nggak sedikit orang yang mau berteman sama gue karena harta. Selama ini gue selalu sendirian tanpa teman yang bisa gue ajak ke mana-mana, bercerita, ketawa-tawa bareng, dan main bareng."


",Gue cuma ingin teman, satu teman saja pun nggak papa, itu udah lebih dari cukup, asalkan yang tidak memandang apapun. Tapi, mungkin Tuhan udah nakdirin gue sendirian." Maudi berbalik menuju pintu keluar. "Terserah kalau setelah ini lo bakal menghina gue, mencela, dan membully gue, karena ... gue sama sekali nggak keberatan dan nggak perduli dengan hal itu. Terbiasa sendiri, membuat gue menjadi orang yang acuh terhadap lingkungan. Anggap aja nggak terjadi apa-apa setelah ini dan gue nggak pernah cerita ini semua ke, lo."


Penjelasan dan pengungkapan panjang dari Maudi membuat Ava tidak bisa berkata-kata, gadis itu bungkam dan mematung di tempat. Ia hanya menahan tangis sambil menunduk karena ada rasa sesak di dada yang tiba-tiba saja muncul ke permukaan


Ternyata, ada orang lain yang masalahnya juga lebih besar darinya, tapi ... Ava bahkan selalu ingin menyerah dan menggerutu. Harusnya ia lebih bisa kuat dan tegar dibandingkan dengan Maudi yang bahkan jauh dari kata bahagia


"Gimana kalau gue memang mau menjadi teman lo, Maudi?"


...***...


...Keppo, ya, sama kelanjutan ceritanya?...


...Adakah yang terkejoed?...


...***...


...Ditulis tanggal 16 November 2020...


...Dipublish tanggal 09 Mei 2021...


...***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....

__ADS_1


__ADS_2